Pengosongan Jiwa


Datanglah kepada teks dengan pikiran dan jiwa yang kosong. Itulah jalannya. Jika keangkuhan adalah kendalanya, maka jauh sebelum manusia mendatangi teks mereka harus terlebih dahulu belajar tentang kerendahan hati. Hanya dengan begitu teks akan menemukan tempatnya yang terhormat dalam jiwa kita. Dan hanya ketika ia menjadi terhormat maka ia akan dipandang secara utuh dan apa adanya.

Kerendahan hati sejatinya merupakan penampakan akhir dari iman. Sebab iman melahirkan pengakuan. Pengakuan membuahkan kepasrahan. Kepasrahan menampak dalam ketundukan. Ketundukan mengejawantah dalam kerendahan hati. Jadi kita menerima keabsahan teks dan keabsahan pembawa teks, kita menyiapkan jiwa kita untuk menerima semua makna yang mencerahkan kebenaran di balik teks tersebut.

Kerendahan hati itu dimanifestasikan dengan melepaskan teks berbicara apa adanya, membiarkan teks menampakkan diri dan maknanya tanpa berusaha membuat plot pada makna tertentu yang kita inginkan. Kita harus belajar melepaskan teks mengalir dalam akal dan jiwa kita seperti air mengaliri sungai, mengikuti arusnya, merasakan derasnya, mendengarkan bunyinya, menikmati gelombangnya, menatap beningnya, melepas pandang pada riaknya yang mungkin menyembunyikan gelora dari permukaan.

Kerendahan hati itu dimanifestasikan dengan membebaskan diri dari apa yang oleh Sayyid Qutb disebut sebagai muqorrarat fikriyah saabiqah atau pikiran-pikiran lama yang sebelumnya kita yakini secara aksiomatik. Karena pikiran-pikiran terlalu sering menjadi preferensi kita dalam memaknai teks. Padahal belum tentu teks tersebut terhubung kesana. Itu membuat teks masuk dalam perangkap pemaknaan kita yang sempit dan menghilangkan begitu banyak kemungkinan makna yang terkandung dalam teks tersebut.

Walaupun makna teks yang kita pahami kemudian tetap merupakan kebenaran subjektif, adalah penting untuk menyadari sejak awal bahawa karena iman merupakan pilihan keyakinan yang subjektif, maka kebenaran subjektif itu juga merupakan bagian dari proses penyatuan kita dengan teks yang tidak perlu dipertentangkan dengan keharusan menyisakan ruang bagi pemaknaan yang lain atas teks.

Masalahnya tidaklah terletak pada kemungkinan pemaknaan yang beragam. Sebab teksnya sendiri membuka ruang itu. Intinya adalah pada kerendahan hati yang membebaskan kita dari semua pretense pemaknaan yang memungkinkan teks lebih bebas dan lepas menampakkan diri bersama makna-maknanya secara apa adanya.





Rachmat Naimulloh

Ingin artikel seperti diatas langsung ke Email anda? Silahkan masukan alamat email anda untuk berlangganan.




0 komentar

Silahkan tinggalkan komentar Anda disini