Alumni Universitas Ramadhan: Calon Ahli Surga


Setiap manusia merindukan kebahagiaan. Tidak ada kebahagian kecuali masuk surga. Dan Allah swt. telah memastikan di dalam Al-Qur’an bahwa di akhirat hanya ada dua pilihan: surga arau neraka. Dan sudah maklum bahwa surga adalah tempat kebahagiaan abadi, sebagaimana juga maklum bahwa neraka adalah tempat kesengsaraan abadi. Berdasarkan ini jelas bahwa setiap manusia sebenarnya bercita-cita mendapatkan surga. Apapun istilahnya, diakui atau tidak, surga tetap menjadi dambaan setiap insan. Silahkan anda tanyakan kepada pemeluk-pemluk agama lain tentang konsep kebahagiaan yang mereka rindukan, mereka akan segera menjawab bahwa mereka mencitakan surga, sekalipun dengan istilah yang berbeda.

Di dalam Islam, Allah swt. sangat jelas menggariskan jalan ke surga. Iman adalah pondasi, dan ibadah adalah bangunan. Gabungan keduanya adalah jalan ke surga. Siapa yang beribadah tanpa iman, tidak akan sampai ke surga. Begitu juga sebaliknya. Di antara ibadah utama dalam Islam adalah puasa Ramadhan. Ramadhan adalah sebuah kesempatan emas bagi setiap insan-insan beriman untuk mendekatkan diri kepada Allah, Tuhannya. Siapa yang mengabaikannya ia akan menyesal seumur hidupnya. Ramadhan ibarat kepompong bagi ulat, maka ulat yang berhasil menekuni kesunyiannya dalam kepompong ia kelak akan terbang menjadi kupu-kupu. Ramadhan adalah pom bensin bagi setiap musafir yang hendak bepergian jauh. Maka siapa yang mengisi bensin dengan penuh, ia akan merasa aman dalam perjalanan. Ramadhan adalah universitas, di dalamnya seorang muslim benar-benar membina diri. Bila ia benar-benar sukses mengikuti segala rangkaian ibadah di dalamnya maka ia terjamin istiqomah seumur hidupnya. Dari keistiqomahan inilah ia akan terhantar kelak ke surga.

Ada tiga macam manusia dalam menjalani Ramadhan:
  1. Seorang yang menganggap Ramadhan sama dengan hari-hari biasa. Bedanya hanya ia berpuasa menahan lapar dan haus di siang hari. Sementara akhlaknya tetap bejat. Ibadah lainnya tidak ditegakkan. Contohnya, banyak orang yang berpuasa sekalipun ia tidak pernah shalat. Bahkan juga banyak orang yang siang harinya berpuasa sementara malamnya berbuat dosa besar. Orang seperti ini tergolong yang disebutkan dalam hadits: “Tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan haus.” Dengan kata lain, secara fikih puasa orang ini sah tetapi tidak ada pahalanya, karena digerogoti oleh dosa-dosanya.
  2. Seorang yang memang tidak memiliki kebanggaan sama sekali dengan Ramadhan. Dan tidak punya niat sama sekali untuk melaksanakan puasa di dalamnya. Maka selama Ramadhan ia tidak pernah berpuasa. Bukan hanya itu, ibadah-ibadah wajib lainnya juga diabaikan. Namanya saja ia seorang muslim, sementara hakikatnya tidak mencerminkan sebagai seorang muslim. Dalam istilah popular, orang seperti ini dikenal sebagai muslim KTP. Di manakah tempat mereka kelak di alam akhirat? Di surga atau di neraka? Allah yang Maha Tahu. Jika memang di dalam hatinya tidak ada iman sama sekali, maka selamanya ia masuk neraka. Sebaliknya jika masih ada iman sekalipun sebasar dzarrah di dalam hatinya, maka ia akan diangkat dari api neraka setelah dibakar sesuai dengan dosanya.
  3. Seorang yang menyadari makna kehambaannya kepada Allah. Dan menyadari bahwa Ramadhan adalah tamu agung yang datang untuk membuka kesempatan berharga untuk meningkatkan iman. Maka dengan datangnya Ramadhan ia benar-benar bersiap-siap menyambutnya. Lalu selama Ramadhan ia benar-benar mengisi semua waktu dengan kebaikan dan ketaatan. Lalu setelah Ramadhan, ia tetap istiqomah menjalankan ibadah seperti dalam kondisi Ramadhan. Orang seperti ini adalah benar-benar mengikuti jejak Rasulullah saw. Inilah sebenarnya yang dimaksud dengan ungkapan meneladani Rasulullah dalam Ramadhan.

Alumni Ramadhan adalam pribadi muslim sejati. Muslim yang tidak hanya mengamalkan Islam di Ramadhan saja, tetapi ia mengamalkannya selama hidup. Alumni Ramadhan tidak kenal Islam musiman. Maksdunya semangat mengamalkan Islam di musim haji saja, di bulan Ramadhan saja dan lain sebagainya. Melainkan ia benar-benar muslim sepanjang masa dan di mana saja. Sampai ia kembali menghadap Allah swt. Inilah sebenarnya ajaran Islam seperti yang diwahyukan kepada Rasulullah saw. Yaitu Islam universal dan komprehensif. Bukan Islam tradisi atau Islam versi golongan tertentu. Kita kini sangat membutuhkan hadirnya Islam yang murni, seperti yang diwahyukan kepada Nabi saw. dan seperti yang dipahami oleh para sahabat. Yaitu Islam yang mencakup semua kehidupan bukan Islam parsial. Sebab hanya dengan pemahaman yang lengkap inilah, umat Islam pertama bangkit memimpin dunia, begitu juga hanya dengan pemahaman yang lengkap inilah, umat Islam kelak akan bangkit kembali dan menjadi pioner keselamatan bagi kemanusiaan di seluruh alam. Wallahu a’lam bishshawab.

Sumber : Dakwatuna

Rachmat Naimulloh

Ingin artikel seperti diatas langsung ke Email anda? Silahkan masukan alamat email anda untuk berlangganan.




0 komentar

Silahkan tinggalkan komentar Anda disini