
Cinta misi hanya bersemi pada nurani yang hidup. Tapi dari manakah nurani kita menemukan kehidupan? Dari cinta Allah dan cinta kebenaran. Inilah cintanya cinta. Denyut kehidupan nurani adalah tanda-tandanya. Cinta misi adalah buahnya.
Cerita-cerita keagungan yang kita warisi dari sejarah sesungguhnya merupakan menampakan cinta misi dari waktu ke waktu. Ia mengejahwantah pada karya-karya ilmiah para ulama, pada darah dan air mata syuhada, pada keadilan para pemimpin, pada kasih sayang para duat, pada kelembutan para guru. Tidak ada karya besar tanpa cinta misi. Itu yang membuat cinta ini jadi teramat agung. Sekaligus rumit. Karena seluruh isinya adalah karya. Adalah kerja. Adalah memberi. Tanpa pernah terpengaruh oleh penerimaan dan penolakan. Penerimaan mungkin menguatkannya. Tapi penolakan tidak mengendurkannya.
Pertanyaan kemudian muncul disini. Dari mana mereka menemukan energi itu? Apa yang membuat mereka sanggup berkarya dan memberi terus menerus, sementara kadang atau bahkan sering sekali mereka tidak dipahami atau terabaikan oleh orang-orang yang justru mereka cintai? Pasti ada rahasia hati yang mereka simpan dengan rapih. Tapi apakah rahasia hati itu?
Kelezatan ruhani. Itu rahasianya. Yang mereka cinta sesungguhnya adalah Allah, adalah kebenaran, adalah misi hidup mereka. Bukan orang, atau benda atau bentuk apapun. Yang mereka rindukan adalah surga yang abadi, adalah bidadari-bidadari yang kelak akan mengitari mereka, adalah pandangan mata pada cahaya wajah Allah. Bukan pujian dan penerimaan manusia. Manusia hanya medan karya tempat cinta mengejawantah. Kelelahan-kelelahan itu melahirkan kegembiraan ruhani, kelezatan yang melahirkan energi baru untuk terus mengejawantahkan cinta. Seperti orgasme yang kita rasakan pada setiap keintiman fisik, dan mengajak kita untuk mengulangi dan mengulangi, seperti itulah Allah memberi kelezatan ruhani setiap kali cinta pada-Nya mengejawantah pada cinta misi, setiap kali cinta yang vertikal itu mengejahwantah pada horizon kehidupan manusia. Kelezatan ruhani itulah sumber energinya. Disana makna-makna penerimaan, keberartian, keterhormatan, keberanian hati, merasuk ke serat-serat jiwa dan melapangkan serta meluaskannya sampai ia tampak sebagai karpet merah nan empuk ditengah gurun luas yang tersambung dengan kaki langit.
Itulah kelezatan ruhani yang dirasakan Khalid dari kecamuk perang, atau Utsman saat berinfak, atau Umar saat mengantar gandum ditengah malam pada rakyat miskin, atau Sayyid Quthub menjelang digantung. Kelezatan ruhani itu adalah ledakan kegembiraan yang mendengung di cakrawala kedaran batin kita. Orang-orang tidak menyaksikannya. Tapi mereka merasakan penampakannya. Maka seorang ahli ibadah mengatakan: “Seandainya para raja mengetahui kelezatan yang kita rasakan dalam ibadah ini mereka pasti akan menyiksa kita untuk merampas kelezatan itu.”
[Sebelumnya]

Menggunakan konteks untuk memaknai teks melalui proses rekonstruksi imajiner merupakan pintu yang membuka peluang pemaknaan yang luas. Dari sini lahir unsur analogi ketika teks akan dimaknai kembali pada konteks yang lain. Yaitu upaya menurunkan teks ke dalam dua atau tiga atau lebih konteks yang berbeda. Sebab walaupun sejarah kehidupan Rasulullah saw. merupakan konteks yang legitimate untuk memaknai teks secara akurat, tetap saja teks itu independen dan berdiri sendiri serta harus bisa menembus semua sekat ruang dan waktu.
Independensi teks itu perlu ditegaskan kembali. Karena itu terkait dengan doktrin tentang keabadian teks yang mengharuskannya terbebas dari kekhususan masa tertentu atau ruang tertentu atau apa yang kita sebut sebagai konteks. Jadi dalam kerangka pemaknaan itu konteks adalah salah satu alat bantu yang dapat mengikat makna tertentu pada teks tapi tidak membatasinya sampai disitu. Itu yang menjelaskan mengapa ruang pemaknaan menjadi lebih luas dan memungkinkan munculnya kebenaran dalam banyak wajah.
Ruang pemaknaan yang luas bukan saja lahir dari fakta bahwa konteks bukanlah alat bantu tunggal dalam memaknai teks, tapi juga lahir dari fakta bahwa teks itu sendiri mempunyai kemampuan menampung beragam makna atas dirinya sendiri. Dan semua makna itu menjadi benar karena berada dalam lingkaran ruang pemaknaan yang telah disediakan oleh teksnya sendiri. Ini juga ikut membenarkan mengapa kebenaran itu bisa muncul dalam wajah yang banyak dan beragam.
Dalam wajah kebenaran yang beragam itu kita dapat memahami kecenderungan sebagian ulama untuk memaknai teks dengan menggunakan akal murni sebagai salah satu alat bantu atau apa yang mereka sebut sebagai at tafsir bid diroyah. Inilah misalnya yang dilakukan oleh Al Zamakhsyari atau Abu Hayyan Al Tauhidi.
Disini kita menemukan fakta bagaimana teks dan rasio bertemu secara harmonis. Pertemuan itulah yang menjelaskan mengapa orang-orang yang memiliki kedalaman ilmu (al rosikhuun fil 'ilm), selalu memiliki kelapangan dada yang luar biasa pada waktu yang sama. Teks, rasio dan imajinasi semuanya menjadi alat bantu yang efektif untuk menemukan kebenaran dalam berbagai wajahnya. Itu menjadi mungkin karena ia dikelola dalam bingkai sikap jiwa yang rendah hati menerima kebenaran dan kesiapan melaksanakannya dalam kenyataan. Dengan sikap jiwa begitu mereka berburu makna-makna kebenaran tanpa dihantui oleh keharusan memenangkan satu makna atas makna yang lain.

TIDUR NELENTANG BISA MATI
Suatu malam, di sebuah villa di kawasan punca, para peserta dauroh (training) terlihat letih bersama Ustadz Rahmat Abdullah, berniat merebahkan tubuh mereka untuk beristirahat. Sang ustadz yang melihat mereka berbaring di atas lantai tak lupa berpesan, ”hei, kalian jangan tidur nelentang, ya. Kalian bisa mati nanti.”
Mendengar perkataan yang sepertinya serius itu, mereka buru-buru memperbaiki posisi tidur. Tapi nasehat ini terasa aneh, sehingga membuat mereka terdiam dan berfikir.
Salah seorang peserta memberanikan diri bertanya, ”lho, kok begitu, Ustadz?’
Sang ustadz yang ditanya diam tak berkomentar. Sementara yang lain sibuk memikirkan apa yang dimaksud ustadz sebenarnya. Tak lama kemudian, mereka semua tergelak tertawa, sebab ternyata yang dimaksud nelentang oleh sang ustadz bukanlah posisi terlentang seperti yang mereka sangka. Tetapi yang dimaksud adalah nelen tang.
Nelen biskuit sambil tiduran aja bisa keselek, apalagi nelen tang!
LAGU-LAGU TENTARA
Dalam suatu kegiatan i’tikaf di sebuah masjid, Ustadz Rahmat Abdullah mendapat kesempatan memberi ceramah subuh untuk para peserta. Namun, karena mereka sepanjang malam mengikuti qiyamul lail, sebagian peserta terlihat tak kuasa menahan kantuk.
Melihat kondisi itu, Ustadz Rahmat tidak kehabisan akal. Dalam ceramahnya ia sispkan humor yang menyindir kehidupan tentara. ”Yang namanya tentara itu di masing-masing pangkat punya lagu heroik sendiri-sendiri. Kalau masih bepangkat prajurit, lagunya:’Maju tak gentar, membela yang benar...,’” katanya sambil menyanyikan lagu itu dengan lantang. ”Tapi, kalo sudah jadi sersan lagunya:’Padamu negeri kami berjanji...,’” katanya meneruskan ceritanya. ”Nah, kalo sudah perwira lagunya lebih gembira:’Disini senang, disana senang, dimana-man hatiku senang.”
Jama’ah tertawa. Kantuk pun hilang.
KAMAA AMAR
Siang itu, di kawasan puncak, Ustadz Rahmat Abdullah dengan para pengurus Yayasan Iqro sedang istirahat dari acara rapat tahunan yayasan. Sambil duduk lesehan menghadapi hidangan makan siang, salah seorang meminta sang ustadz bercerita untuk menghibur mereka. Maklum, meskipun ustadz yang satu ini sering kelihatan serius, tapi ia punya segudang cerita yang bisa membuat tergelak orang yang mendengarnya.
Salah satu ceritanya yang membuat semua orang tertawa siang itu adalah, ”suatu Jum’at, naiklah seorang khatib menyampaikan khutbah. Di awal khutbah kedua, sang khatib membaca kalimat pembuka yang ada lafadz ‘kamaa amar’. Kebetulan waktu itu, salah seorang jama’ah ada orang Padang tulen bernama Amar. Mendengar khatib mengucapkan kalimat itu, jama’ah itu tiba-tiba berdiri dan berkata,”Ambo di siko, Pak Ustadz!”
Ternyata Amar berdiri karena menyangka dirinya sedang dicari pak khotib. Maklum, kamaa amar dalam bahasa Padang artinya ’kemana si Amar?’
KAKIKU KAU INJAK BUNG
”Dulu ada kesan orang Sumatera khususnya Sumatera Utara, terutama setelah kasus, PRRI, bahwa orang Jawa identik dengan tentara. Sehingga mereka sangat enggan dan sungkan bila bertemu orang Jawa,” cerita Ustadz suatu hari.
”Suatu hari, seorang laki-laki Batak terinjak kakinya oleh orang yang tampangnya kejawaan. Ia menatap wajah lelaki yang menginjaknya sambil bertanya,”Mas dari Jawa, ya?” dengan aksen Bataknya yang kental.
”Ya, saya dari Jawa.”
”Mas dari Jawa, ya?”
Dijawab kembali, ”ya.”
Merasa kaki orang itu tidak digeser, lelaki itu bertanya lagi,”Mas dari Jawa, ya?”
Dijawab sama, ”ya.”
Tiga kali ditanya dengan pertanyaan itu-itu saja, orang Jawa itu merasa heran. Ia pun bertanya, ”memangnya ada apa, Pak?”
Lelaki Batak itu balik bertanya, ”Mas tentara, ya?”
”Bukan, memangnya ada apa?”
“Kakiku kau injak, Bung!” sergahnya lebih berani.
GELAR M.M.
Ustadz Rahmat selalu memanggil istrinya, sumarni, dengan panggilan kesayangan, Nai. Suatu hari ia berujar, ”Nai, sebaiknya kamu kuliah lagi, supaya dapat gelar M.M.” Istrinya bertanya, ”M.M. papa,Bi?” Ustadz menjawab ringan, ”Marni Manyun.” Istrinya, yang awal menduga sang suami serius, akhirnya tak mampu menahan tawa.

Ukhti, kamu cantik sekali
Tapi hanya di mata manusia. Sedangkan yang Maha Kuasa tak pernah memandang rupa atau pun bentuk tubuh kita. Namun Ia melihat pada hati dan amal-amal yang dilakukan hamba-Nya.
Ukhti, kamu cantik sekali
Tapi cantik fisik tak akan pernah abadi. Saat ini para pesolek bisa berbangga dengan kemolekan wajah ataupun bentuk tubuhnya. Namun beberapa saat nanti, saat wajah telah keriput, rambut pun kusut dan berubah warna putih semua, tubuh tak lagi tegak, membungkuk termakan usia, tak akan ada lagi yang bisa dibanggakan. Lebih-lebih jika telah memasuki liang lahat, tentu tak akan ada manusia yang mau mendekat.
Ukhti, kamu cantik sekali
Tapi kecantikan hanyalah pemberian dan untuk apa dibangga-banggakan? Sepantasnya kecantikan disyukuri dengan cara yang benar. Mensyukuri kecantikan bukanlah dengan cara memamerkan, memajang gambar atau mengikuti bermacam ajang lomba guna membandingkan rupa, sedangkan hakekatnya wajah itu bukan miliknya.
Tidakkah engkau lengah bila banyak mata lelaki yang memandangi berhari-hari? Tidakkah engkau malu ketika wajahmu dinikmati tanpa permisi karena engkau sendiri yang memajang tanpa sungkan. Ataukah rasa malu itu telah punah musnah? Betapa sayangnya jika demikian sedangkan ia sebagian dari keimanan.
Ukhti, kamu cantik sekali
Tapi apa manfaat pujian dan kekaguman seseorang? Adakah ia akan menambah pahala dari-Nya? Adakah derajatmu akan meninggi di sisi Ilahi setelah dipuji? Tak ada yang menjamin wahai ukhti. Mungkin malah sebaliknya, wajah cantik itu menjadikanmu tak punya harga di hadapan-Nya, karena kamu tak mampu memelihara sesuai dengan ketentuan-Nya.
Ukhti, kamu cantik sekali
Kecantikan itu harta berharga bukan barang murah yang bisa dinikmati dengan mudah. Dimana nilainya jika setiap mata begitu leluasa memandang cantiknya rupa. Dimana harganya jika kecantikan telah diumbar, dipajang dengan ringan tanpa sungkan. Dimana kehormatan sebagai hamba Tuhan jika setiap orang, baik ia seorang kafir, musyrik atau munafik begitu mudah menikmati wajah para muslimah?
Ukhti, kamu cantik sekali
Alangkah indah jika kecantikan fisik itu dipadu dengan kecantikan hatimu. Apalah arti cantik rupawan bila tak memiliki keimanan. Apalah guna tubuh molek memikat bila tak ada rasa malu yang lekat. Cantikkan dirimu dengan cahaya-Nya. Cahaya yang bersinar dari hati benderang penuh keimanan. Hati yang taat senantiasa patuh pada syariat. Hati yang taqwa, yang selalu menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Hati yang sederhana, yang tak berlebihan dalam segala urusan dunia.
Ukhti, kamu cantik sekali
Maka tampillah cantik di hadapan Penciptamu karena itu lebih berarti dari pada menampilkan kecantikan pada manusia yang bukan muhrimmu.
Tampillah cantik di hadapan suamimu, karena itu adalah bagian dari jihadmu. Mengabdi pada manusia yang kamu kasihi demi keridhoan Ilahi.
Tampillah cantik, cantik iman, cantik batin, cantik hati, karena itu lebih abadi.
Sumber : Catatan Ahmad Sibawaihi
Tapi hanya di mata manusia. Sedangkan yang Maha Kuasa tak pernah memandang rupa atau pun bentuk tubuh kita. Namun Ia melihat pada hati dan amal-amal yang dilakukan hamba-Nya.
Ukhti, kamu cantik sekali
Tapi cantik fisik tak akan pernah abadi. Saat ini para pesolek bisa berbangga dengan kemolekan wajah ataupun bentuk tubuhnya. Namun beberapa saat nanti, saat wajah telah keriput, rambut pun kusut dan berubah warna putih semua, tubuh tak lagi tegak, membungkuk termakan usia, tak akan ada lagi yang bisa dibanggakan. Lebih-lebih jika telah memasuki liang lahat, tentu tak akan ada manusia yang mau mendekat.
Ukhti, kamu cantik sekali
Tapi kecantikan hanyalah pemberian dan untuk apa dibangga-banggakan? Sepantasnya kecantikan disyukuri dengan cara yang benar. Mensyukuri kecantikan bukanlah dengan cara memamerkan, memajang gambar atau mengikuti bermacam ajang lomba guna membandingkan rupa, sedangkan hakekatnya wajah itu bukan miliknya.
Tidakkah engkau lengah bila banyak mata lelaki yang memandangi berhari-hari? Tidakkah engkau malu ketika wajahmu dinikmati tanpa permisi karena engkau sendiri yang memajang tanpa sungkan. Ataukah rasa malu itu telah punah musnah? Betapa sayangnya jika demikian sedangkan ia sebagian dari keimanan.
Ukhti, kamu cantik sekali
Tapi apa manfaat pujian dan kekaguman seseorang? Adakah ia akan menambah pahala dari-Nya? Adakah derajatmu akan meninggi di sisi Ilahi setelah dipuji? Tak ada yang menjamin wahai ukhti. Mungkin malah sebaliknya, wajah cantik itu menjadikanmu tak punya harga di hadapan-Nya, karena kamu tak mampu memelihara sesuai dengan ketentuan-Nya.
Ukhti, kamu cantik sekali
Kecantikan itu harta berharga bukan barang murah yang bisa dinikmati dengan mudah. Dimana nilainya jika setiap mata begitu leluasa memandang cantiknya rupa. Dimana harganya jika kecantikan telah diumbar, dipajang dengan ringan tanpa sungkan. Dimana kehormatan sebagai hamba Tuhan jika setiap orang, baik ia seorang kafir, musyrik atau munafik begitu mudah menikmati wajah para muslimah?
Ukhti, kamu cantik sekali
Alangkah indah jika kecantikan fisik itu dipadu dengan kecantikan hatimu. Apalah arti cantik rupawan bila tak memiliki keimanan. Apalah guna tubuh molek memikat bila tak ada rasa malu yang lekat. Cantikkan dirimu dengan cahaya-Nya. Cahaya yang bersinar dari hati benderang penuh keimanan. Hati yang taat senantiasa patuh pada syariat. Hati yang taqwa, yang selalu menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Hati yang sederhana, yang tak berlebihan dalam segala urusan dunia.
Ukhti, kamu cantik sekali
Maka tampillah cantik di hadapan Penciptamu karena itu lebih berarti dari pada menampilkan kecantikan pada manusia yang bukan muhrimmu.
Tampillah cantik di hadapan suamimu, karena itu adalah bagian dari jihadmu. Mengabdi pada manusia yang kamu kasihi demi keridhoan Ilahi.
Tampillah cantik, cantik iman, cantik batin, cantik hati, karena itu lebih abadi.
Sumber : Catatan Ahmad Sibawaihi

Bentrokan terjadi antara remaja-remaja Palestina dan sepasukan militer Zionis di distrik Silwan, di Al-Quds (Jerusalem) yang dijajah, pada Rabu malam, 13 Oktober. Dua tentara dikabarkan luka-luka karena timpukan batu para remaja Palestina di kawasan itu, demikian PIC mengutip sebuah media Zionis Israel.
Militer Zionis membubarkan massa dengan menggunakan gas airmata dan peluru timah berlapis karet. Tak ada korban cedera dilaporkan dari pihak remaja Palestina. Bentrokan pecah sesudah diumumkannya keputusan Zionis Israel untuk menghancurkan 110 rumah warga Palestina di kawasan Silwan karena dianggap tak memiliki izin dan melanggar perencanaan tatakota.
Sementara itu, dikabarkan bahwa pagi tadi tentara Israel menangkap tiga orang Palestina, termasuk dua wartawan, dan membawa mereka ke pemukiman Karmi Tsur di utara Al-Khalil (Hebron) untuk diinterogasi. Mereka hendak meliput perusakan tanah dan properti warga Palestina di Beit Ummar untuk membangun permukiman baru Yahudi.
Ketiga orang yang ditawan itu adalah Mamoun Wazwaz dari Reuters, Hazem Badr dari AFP, dan aktivis Palestinian Solidarity Project Mohammed Ayyad Awad. Pada Kamis pagi ini pula, serdadu Zionis menangkap delapan warga Palestina di Tepi Barat yang, menurut pihak Zionis, termasuk dalam ‘daftar buronan.’ Mereka ditangkap di Qalqiliya, Ramallah, Bait Lahm (Betlehem), dan Al-Khalil.
Sumber : Republika
Seseorang bercerita, aku bermimpi suatu hari aku pergi ke surga dan seorang malaikat menemaniku serta menunjukkan keadaan di surga.
Memasuki suatu ruang kerja yang penuh dengan para malaikat. Malaikat yang mengantarku berhenti di depan ruang kerja pertama dan berkata,"Ini adalah Seksi Penerimaan. Disini, semua permintaan yang ditujukan pada Allah, diterima."
Aku melihat-lihat sekeliling tempat ini dan aku dapati tempat ini begitu sibuk dengan begitu banyak malaikat yang memilah-milah seluruh permohonan yang tertulis pada kertas dari manusia di seluruh dunia.
Kemudian,.... aku dan malaikat-ku berjalan lagi melalui koridor yang panjang. lalu sampailah kami pada ruang kerja kedua.
Malaikat-ku berkata, "Ini adalah Seksi Pengepakan dan Pengiriman. Disini, kemuliaan dan rahmat yang diminta manusia diproses dan dikirim ke manusia-manusia yang masih hidup yang memintanya".
Aku perhatikan lagi betapa sibuknya ruang kerja itu. Ada banyak malaikat yang bekerja begitu keras karena ada begitu banyaknya permohonan yang dimintakan dan sedang dipaketkan untuk dikirim ke bumi.
Kami melanjutkan perjalanan lagi hingga sampai pada ujung terjauh koridor panjang tersebut dan berhenti pada sebuah pintu ruang kerja yang sangat kecil.
Yang sangat mengejutkan aku, hanya ada satu malaikat yang duduk disana, hampir tidak melakukan apapun. "Ini adalah Seksi Pernyataan Terima Kasih", kata malaikatku pelan. Dia tampak malu.
"Bagaimana ini? Mengapa hampir tidak ada pekerjaan disini?", tanyaku.
"Menyedihkan", Malaikat-ku menghela napas. " Setelah manusia menerima rahmat yang mereka minta, sangat sedikit manusia yang mengirimkan pernyataan terima kasih".
"Bagaimana manusia menyatakan terima kasih atas Rahmat Tuhan?", tanyaku.
"Sederhana sekali", jawab Malaikat.
"Cukup berkata, 'ALHAMDULILLAHI RABBIL AALAMIIN, Terima kasih, Tuhan' ".
"Lalu, rahmat apa saja yang perlu kita syukuri?”, tanyaku.
Malaikat-ku menjawab, "Jika engkau mempunyai makanan di lemari es, Pakaian yang menutup tubuhmu, atap di atas kepalamu dan tempat untuk tidur, Maka engkau lebih kaya dari 75% penduduk dunia ini.”
"Jika engkau memiliki uang di bank, di dompetmu, dan uang-uang receh, maka engkau berada diantara 8% kesejahteraan dunia.”
"Dan jika engkau mendapatkan pesan ini di komputermu, engkau adalah bagian dari 1% di dunia yang memiliki kesempatan itu.”
“Juga.... Jika engkau bangun pagi ini dengan lebih banyak kesehatan daripada kesakitan ... engkau lebih dirahmati daripada begitu banyak orang di dunia ini yang tidak dapat bertahan hidup hingga hari ini.”
"Jika engkau tidak pernah mengalami ketakutan dalam perang, kesepian dalam penjara, kesengsaraan penyiksaan, atau kelaparan yang amat sangat ....Maka,engkau lebih beruntung dari 700 juta orang di dunia".
"Jika,........ engkau dapat menghadiri Masjid atau pertemuan religius tanpa ada ketakutan akan penyerangan, penangkapan, penyiksaan,atau kematian ... M a k a,....engkau lebih dirahmati daripada 3 milyar orang didunia.”
"Jika engkau dapat menegakkan kepala dan tersenyum, maka,..... engkau bukanlah seperti orang kebanyakan, engkau unik dibandingkan emua mereka yang berada dalam keraguan dan keputusasaan.”
"Jika,...engkau dapat membaca pesan ini, maka engkau menerima rahmat ganda yaitu bahwa seseorang yang mengirimkan ini padamu, berpikir bahwa engkau orang yang sangat istimewa baginya, dan bahwa, engkau lebih dirahmati daripada lebih dari 2 juta orang di dunia yang bahkan tidak dapat membaca sama sekali".
Nikmatilah hari-harimu, hitunglah rahmat yang telah Allah anugerahkan kepadamu.
Dan jika engkau berkenan, kirimkan pesan ini ke semua teman-temanmu untuk mengingatkan mereka betapa dirahmati-Nya kita semua.
"Dan ingatlah tatkala Tuhanmu menyatakan bahwa, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambahkan lebih banyak nikmat kepadamu' ". (QS:Ibrahim (14) :7 )
Sumber : Catatan Dodi Rosadi

Ada satu kesalahan yang sering kita lakukan ketika membaca biografi para pahlawan. Kita selalu membayangkan para pahlawan itu relatif berbeda dengan orang-orang biasa. Bayangan itu tidak sepenuhnya salah. Namun, biasanya anggapan itu mudah menjadi salah ketika sebuah karya sejarah kemudian dinisbatkan secara latah kepada satu orang pahlawan, padahal sebenarnya pahlawan yang kita elu-elukan itu mungkin hanya memberikan sentuhan akhir.
Dalam pembacaan seperti ini, ada banyak peran dan pelaku sejarah yang terlupakan, atau mengalami marginalisasi sejarah. Misalnya, ketika kita menempatkan Shalahuddin Al-Ayyubi sebagai tokoh kunci, yang relatif bersifat tunggal, dalam menghadapi Pasukan Salib. Padahal, Pasukan Salib telah menguasai Al-Quds selama sekitar 90 tahun, dan sepanjang tahun-tahun itu ada banyak perlawanan di sana sini. Ada banyak gerakan dakwah dan penyadaran sosial, ada banyak tokoh yang mengkondisikan situasi kemenangan, yang kemudian di selesaikan secara gemilang oleh Shalahuddin Al-Ayyubi. Yang disebut terakhir ini bahkan sebenarnya berasal dari Pasukan Mahmud Nuruddin Zanki, yang menguasai wilayah Syam, sebelum kemudian pindah ke Mesir dan memulai segalanya dari sana. Jadi, kemenangan dalam Perang Salib adalah karya beberapa generasi, bukan karya Shalahuddin AL-Ayyubi sendiri.
Perang ’Ain Jalut yang melegendakan Murzaffar Quthus karena berhasil merontokkan sekaligus menghancurkan serangan Pasukan Tartar, juga didahului oleh prakondisi sosial politik, yang memungkinkan kemenangan iut diraih. Ada ulama seberani Izzuddin bin Abdissalam yang mengkondisikan masyarakat Syam sebelum kemudian bergabung dengan pasukan Islam di Mesir dalam menghadapi Tartar. Beliau memang memenangkan pertempuran itu. Itu bukan hanya karya pribadinya. Itu merupakan karya bersama beberapa generasi.
Karya-karya sejarah yang besar, pada akhirnya, memang tidak dapat diselesaikan seorang pahlawan saja. Semua orang terlibat dalam proses. Akan tetapi, seorang pahlawan melegenda karena dalam proses itu ia memberikan kontribusi yang lebih besar daripada yang lainnya. Walaupun begitu, kontribusi yang besar tidak akan pernah dapat ia berikan ranpa kehadiran pahlawan-pahlawan lain, yang kadar kepahlawanannya mungkin lebih kecil dibanding dirinya.
Disini kita belajar tentang makna kepahlawanan kolektif. Peran-peran kepahlawanan terdistribusi dalam banyak bentuk. Begitulah misalnya kita menyaksikan Rasulullah saw. mendistribusikan kepahlawanan tersebut. Umar bin Khattab, misalnya, tidak pernah sekalipun ditunjuk menjadi komandan perang, sekalipun ia memenuhi semua kualifikasinya. Itu terlihat misalnya dalam surat-surat yang beliau kirim ke para komandan pasukan di berbagai front. Ia bukan hanya memberi petunjuk umum, tetapi memberi instruksi yang sangat detil. Bahkan, menurut Sa’ad bin Abi Waqqash, instruksi beliau menujukkan kalau beliau mengetahui medan ketimbang komandan pasukannya sendiri.
Hal ini disebabkan Rasulullah saw. mengetahui dengan pasti potensi dan kapasitas yang dimiliki Umar memungkinkannya memainkan peran yang jauh lebih strategis daripada sekedar memimpin sebuah pasukan perang. Itulah yang terjadi kemudian. Karena ternyata Umar bin Khattab adalah seorang negarawan besar.
[Sebelumnya]
[Sebelumnya]