• Posts
  • Comments
  • Email
  • Twitter
  • Facebook
  • Mobile

  • Home
  • TentangKu TentangKu | FacebookKu | TwitterKu | KontakKu
  • Tukeran Tukeran Banner/Link | Banner Sobat | Link Sobat
  • Serial Anis Matta Serial Kepahlawanan | Serial Cinta | Serial Pembelajaran
  • Download E Book | Murottal | Ceramah | Nasyid Harokah | Foto Kekejian Israel
  • Daftar Isi
Anda di : Home »


Terbunuhnya Sang Imam
Lokasi: Kairo, di distrik Al-Himliyah. Waktu: Pertengahan malam tanggal 12 Februari 1949. Kronologi: terdapat beberapa kendaraan polisi melaju di tengah keheningan malam, hingga mencapai pada salah satu jalan di distrik Al-Hilmiyah, Kairo, mereka bertugas menghentikan kendaraan yang melaju di jalan tersebut, beberapa tentara memblokade jalan dengan senjata lengkap,dan penjagaan diperketat terutama di sebuah rumah sederhana di yang ada di jalan tersebut, lalu sebuah mobil polisi melaju menuju rumah tersebut, satu barisan tentara memindahkan mayat dari mobil ke rumah tersebut dengan cepat, lalu mengetuk pintu yang ada di atasnya, seorang Syeikh berumur sembilan puluhan tahun membuka, lalu beberapa tentara masuk ke rumah tersebut sebelum mereka memasukkan tubuh yang sudah mati tersebut untuk mengkonfirmasi tidak ada orang lain di rumah tersebut, ultimatum yang keras disampaikan kepda syekh tersebut; tidak boleh ada suara, tidak boleh ada kegaduhan, dan bahkan tidak boleh ada seorangpun yang boleh mengurus mayat tersebut, cukup anda dan keluarta yang ada di rumah, dan tepat jam sembilan esok pagi beliau harus dimakamkan.

Adapun Syeikh tersebut adalah orang tua almarhum, meskipun ia terketut, sekalipun ia sudah tua, dirinya mampu memakamkan anaknya sendirian, beliau membersihkan darah anaknya yang terkena peluru dan mendarat di sekujur tubuhnya.

Pada pagi harinya, petugas datang tepat waktu, mereka berkata: bawa sini anakmu untuk segera dikubur. Maka syeikh yang sudah berumur 90 tahun tersebut berseloroh: bagaimana saya membawanya? Seharusnya sebagian prajurit ikut membawanya! Namun para prajurit menolak, dan responnya adalah hendaknya orang-orang rumah yang membawanya. Saat itu almarhum meninggalkan beberapa anak perempuan dan seorang anak laki-laki yang masih bayi.

Akhirnya tubuh yang sudah menjadi mayat dibawa oleh istrinya dan anak perempuannya dan dibantu oleh ayahnya, dan bagi siapa yang berani ikut membantunya maka akan ditangkap dan di penjara, akhirnya jenazah sampai ke masjid untuk di shalatkan, tidak ada yang ikut menyolatkannya kecuali ayahnya dan dibelakangnya anaknya (istri sang imam) dan anak-anak perempuan dari keturunannya, dan mereka juga yang turun ke kubur, lalu kembali ke rumah dengan penjagaan yang super ketat, demikian kronologi pembunuhan dan prosesi pemakaman As-Syahid Imam “Hassan al-Banna”, setelah itu banyak tetangganya yang ditangkap, tidak ada alasan lain kecuali hanya karena mengungkapkan takziah (belasungkawa) kepada keluarga yang ditinggal, dan blokade terus berlanjut tidak hanya di rumah karena khawatir banyak yang berdatangan untuk takziya, namun juga di sekitar kuburan sang imam, karena takut ada yang berani mengeluarkan mayatnya dan mengekspos kejahatan yang telah terjadi, bahkan banyak dari pihak kepolisian disebar di beberapa masjid; untuk segera ditutup kembali setelah ibadah shalat ditunaikan, karena takut ada seseorang yang berani menshalatkannya.

Di sisi lain seorang raja negara tersebut menunda dalam merayakan ulang tahun ke 11 Februari dari 12 Februari; untuk ikut merayakan bersama orang merayakan kematian sang imam, dan salah seorang intelektual menceritakan bahwa dirinya menyaksikan salah satu perayaan di sebuah hotel di Amerika Serikat, dan ketika diceritakan alasan perayaan ini, ia dapat mengetahui bahwa perayaan tersebut dilakukan untuk mengungkapkan kegembiraan karena kematian Imam As-Syahid Hasan Al-Banna. Jika kebenaran ada pada musuh, maka sesungguhnya pusat penelitian di Prancis dan Amerika ikut berpartisipasi dalam peletakan seratus orang yang paling terpengaruh di dunia pada abad kedua puluh, dua dari dunia Arab adalah: Imam As-Syahid “Hassan al-Banna”, dan yang lainnya adalah Gamal Abdul Nasser.

Buku-buku karangan Imam Hasan Al-Banna
Tidak ada yang dimiliki oleh Hassan al-Banna dari literatur buku atau karangan-karangannya kecuali berupa risalah, baik kumpulan dan cetakan dengan judul buku “Majmuah Rasail imam Hasan Al-Banna” sebagai referensi utama dalam memahami pemikiran dan manhaj Ikhwanul Muslimin secara umum. Beliau juga memiliki buku mudzakarah yang dicetak beberapa kali dengan judul “Mudzakirah da’wah wa da’iyah”, selain itu beliau juga memiliki majalah dan riset-riset kecil dalam jumlah yang besar, seluruhnya tersebar dalam koran-koran dan majalah Ikhwanul Muslimin yang dimuat pada tahun tiga puluh dan empatpuluhan tahun yang lalu.

[Tamat]
[Sebelumnya]

Sumber : Al-Ikhwan

Rachmat Naimulloh

Dalam sajak Aku, Chairil Anwar mengungkap sebuah obsesi tentang nafas dan stamina kehidupan, vitalitas, dinamika, dan yang jauh lebih penting: perlawanan. Dia ingin melawan ketidakmungkinan; dia ingin menembus masa; dia ingin mengabdi, maka dia berkata, “Aku mau hidup seribu tahun lagi.”

Akan tetapi, beberapa saat menjelang wafatnya, Chairil Anwar ternyata menyerah. Sakitnya parah. Ia mati muda. Namun, sebelumnya dia berkata, “Hidup hanya menunda kekalahan.”

Seorang pahlawan boleh salah, boleh gagal, boleh tertimpa musibah. Akan tetapi, dia tidak boleh kalah. Dia tidak boleh menyerah kepada kelemahannya; dia tidak boleh menyerah kepada tantangannya; dia tidak boleh menyerah kepada keterbatasannya. Dia harus tetap melawan, menembus gelap, supaya dia bisa menjemput fajar. Sebab, kepahlawanan adalah piala yang direbut, bukan kado yang dihadiahkan.

Di bawah godaan keterbatasan dan kelemahan, di bawah tekanan realitas tantangan yang sering terlihat seperti kabut tebal dari ketidakmungkinan, semangat perlawanan seorang pahlawan teruji. Maka di alam jiwa individu, selalu ada yang kalah, lalu ia menjadi pengkhianat: sebab dia mengkhianati cita-citanya. Maka, dalam sejarah sebuah bangsa, selalu ada noda yang diteteskan pengkhianat: ketika mereka menyerah kepada kodrat mereka sebagai bangsa yang lemah; ketika mereka merasa bangga bernaung di bawah ketiak bangsa-bangsa lain; ketika sekelompok pengkhianat dari bangsa itu melepaskan diri dari identitas dan harga diri bangsa, lalu menjual bangsanya, semata karena mereka kehilangan kepercayaan untuk melawan.

Perlawanan bukanlah keberanian, walaupun ia merupakan bagiannya terpenting. Keberanian adalah anugrah. Akan tetapi, perlawanan adalah keharusan. Ketika Hekmatyar bersama tiga puluh orang Mujahidin Afganistan dikepung tentara Uni Soviet, mereka memutuskan untuk tidak menyerah. Mereka tidak mau sia-sia. Mereka harus melawan tank-tank sadis itu, walaupun hanya dengan batu. Jihad pun dimulai, sampai empat belas tahun kemudian mereka menang, walaupun dengan dua syuhada. Uni Soviet pun puntuh.

Begitulah sejarah kepahlawanan ditulis dari perlawanan. Satu setengah juta orang Aljazair syahid untuk melawan penjajah Perancis. Adapun Bangsa Indonesia mengusir penjajah Belanda dan Jepang hanya dengan bambu runcing.

Akan tetapi, perlawanan bukanlah kenekatan. Tidak ada pertentangan antara perlawanan dengan realisme yang mengharuskan kita mempertimbangkan semua aspek secara utuh. Perlawanan adalah ruh dan jasadnya adalah realisme. Maka, ketika ruh itu hilang dalam diri kita, segeralah membuat keranda jenazah untuk mengubur mimpi kepahlawanan.

[Selanjutnya]
[Sebelumnya]
[SERIAL KEPAHLAWANAN]

Rachmat Naimulloh

Dalam semangat perpacuan itu, semua tantangan yang mereka temui hanya berfungsi melahirkan bakat-bakat baru, kecerdasan-kecerdasan baru, kehendak-kehendak baru.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Hidup adalah masa karya. Setiap kita diberi rentang waktu, yang kemudian kita sebut umur, untuk berkarya. Harga hidup kita, di mata kebenaran, ditentukan oleh kualitas karya kita. Maka sesungguhnya waktu yang berhak diklaim sebagai umur kita adalah sebatas waktu yang kita isi dengan karya dan amal. Selain itu, ia bukan milikmu.

Itulah undang-undang kebenaran tentang hakikat waktu. Kita bukan waktu yang kita miliki. Tapi kita adalah amal yang kita lakukan.

Dalam relung hakikat itulah Allah SWT menurunkan titahNya untuk ‘berpacu’ dan ‘berlomba’ dalam medan kehidupan (As-Sibaq). Hidup ini adalah jalan panjang yang harus kita lalui. Tak satupun diantara peserta kehidupan itu yang diberitahu dimana dan kapan ia harus berhenti. Sebab tempat perhentian pertama yang engkau tempati berhenti adalah ajalmu. Akhir masa karyamu.

Begitulah para sahabat dan semua manusia muslim yang agung dan besar yang pernah hadir di pelataran sejarah, memahami makna waktu dan hidup, serta melaluinya dengan semangat perpacuan yang tak pernah dapat digoda oleh kelelahan.

Apa yang mereka pakai adalah kendaraan jiwa yang seluruh muatannya adalah makna hidup itu sendiri, serta kehendak yang telah terwarnai oleh makna itu. Tak ada ruang kosong dalam kendaraan jiwa mereka yang tak terisi oleh kehendak dan azimah.

Perjuangan, bagi manusia-manusia agung itu, adalah sebuah instink yang sama kuatnya dengan instink lain dalam diri mereka. Sebab, kata sastrawan Mesir, Musthofa Shodiq Ar-Rofi’i, “Rupanya perjuangan itu mempunyai instink yang sanggup mengubah seluruh kehidupan ini menjadi kemenangan. Sebab setiap anak pikiran yang hinggap disitu, selalu langsung menjelma jadi pembunuh-pembunuh kekalahan.”

Mengeluh, dalam insting perjuangan mereka, hanyalah sepoi yang hendak merayu benteng obsesi mereka. Kelelahan, dalam tradisi keagungan mereka, bagai sebatang lilin yang ingin menghisap gelombang. Semua yang ada di permukaan bumi ini adalah tanah tempat kaki kebesarannya mengayuh derap langkah melewati hari-hari.

Dalam semangat perpacuan itu, semua tantangan yang mereka temui hanya berfungsi melahirkan bakat-bakat baru, kecerdasan-kecerdasan baru, kehendak-kehendak baru.

Inilah rahasia besar yang menyingkap tabir kebesaran sahabat, tabi’in serta ulama, zu’ama dan mujahidin besar yang pernah menggoreskan tinta emas dalam sejarah Islam kita. Banyak diantara mereka yang syahid dalam usia yang teramat muda. Imam al-Ghazali meninggal dalam usia 45 tahun, Umar bin Abdul Azis dalam usia 39 tahun, dan Hasan al Banna dalam usia 41 tahun. Tapi ‘usia’ mereka bagai memanjang mengikuti rentang panjang keabadian.

“Sebab ketika jiwa itu kosong, pikirannya akan lebih kosong. Ia akan terus mencari semua yang akan membuatnya lupa pada sang jiwa. Sedang manusia agung itu, hidup penuh sepenuh jiwanya,” kata Musthofa Shodiq Ar-Rofi’i.

Rachmat Naimulloh

Kebijaksanaan Ilahi adalah takdir dan suratan nasib yang membuat kita saling mencintai satu sama lain.
Karena takdir itulah setiap bagian dari dunia ini bertemu dengan pasangannya Dalam pandangan orang-orang bijak langit adalah laki-laki dan bumi adalah perempuan; bumi memupuk apa yang telah dijatuhkan oleh langit.
Jika bumi kekurangan panas maka langit mengirimkan panas kepadanya, jika bumi kehilangan kesegaran dan kelembaban, langit segera memulihkannya.
Langit memeyungi bumi layaknya seorang suami yang menafkahi istrinya; dan bumi pun sibuk dengan urusan rumah tangga; ia melahirkan dan menyusui segala yang telah ia lahirkan.

Erich Fromm mengutip syair Jalaluddin Rummi itu dalam bukunya, The Art of Loving. Cinta, kata Fromm, adalah kebutuhan eksitensial manusia untuk mengatasi masalah "keterpisahannya" sekaligus kerinduannya akan kesatuan. Tapi dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan, cinta bukan hanya kebutuhan biologis: hasrat kesatuan dari kutub-kutub maskulin dan feminim. Karena dalam diri laki-laki dan perempuan terkadang prinsip menerima dan penetrasi, baik atas hal material maupun spiritual, maka mereka menemukan kesatuan dalam dirinya hanya dalam kesatuan atas polaritas kelelakian dan keperempuanan. Polaritas inilah, kata Fromm, yang menjadi dasar dari segala kreativitas.

Tapi saat hubungan murni ini terganggu oleh tirani sosial yang melahirkan ketidaksetaraan laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sosial, tiba-tiba kaum Feminis membawa bias ini: harus ada perlawanan untuk merebut kesetaraan itu. Itu tafsir paling sentimentil atas fenomena kedzaliman dalam masyarkat. Kesetaraan itu mungkin saja tercapai. Tapi korbannya juga sadis: lubang keterpisahan itu makin menganga lebar, dan hidup berujung dalam kesendirian dan kesunyian yang menyiksa.

Cinta mengajarkan kita untuk memperoleh hak-hak kita dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban kita kepada orang-orang lain. Itulah yang mempertemukan dua kutub jiwa. Pertemuan itulah yang membuat kita genap menggenapi, dan saling menyempurnakan karya kehidupan. Dan persoalan kesetaraan menjadi tidak relevan di tengah hidup yang bergerak kreatif begitu menuju kesatuan dan kesempurnaan. Simaklah senandung Rumi kembali:

Tak ubahnya langit dan bumi dikaruniai kecerdasan; mengapa mereka bersanding seperti sepasang kekasih?

Sebagaimana Tuhan memberikan hasrat kepada laki-laki dan perempuan sehingga menjadi terpelihara oleh kesatuan mereka.

Tuhan juga menanamkan ke semua eksistensi, hasrat untuk mencari belahannya.

Masing-masing saling mencintai untuk menyempurnakan karya bersama mereka.


[Selanjutnya]
[Sebelumnya]
[SERIAL CINTA]

Rachmat Naimulloh

Sebagai manusia, setaip pahlawan pasti pernah dan selalu pernah melakukan kesalahan. Dalam diri mereka, bukan cuma ada nalar dan nurani, tetapi juga ada naluri. Dalam diri mereka, tidak hanya ada akal dan iman, namun juga ada syahwat. Mereka bukan hanya memiliki kekuatan, namun juga kelemahan. Mereka tidak menjadi malaikat manakala mereka menjadi pahlawan; mereka hanya menjadi sempurna secara relatif sebagai manusia.

Laiknya sebuah karya, demikian pula kesalahan: ada yang besar dan ada juga yang kecil. Para pahlawan sejati itu pasti pernah melakukan kesalahan, entah besar entah kecil. Namun, seseorang sampai disebut pahlawan karena kebaikannya lebih besar daripada kesalahannya; karena kekuatannya lebih menonjol daripada kelemahannya. Maka, kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh para pahlawan itu biasanya lebih banyak yang kecil, dan tidak sering terulang, serta umumnya tidak disengaja, kecuali kalau itu menjadi sumber kelemahannya.

Sebenarnya, kuantitas kesalahan tidaklah sepenting katagori kesalahan. Yang terakhir inilah sebenarnya yag menentukan peluang kepahlawanan seseorang. Kesalahan-kesalahan yang dilakukan para pahlawan umumnya tidak secara langsung menunjukkan karakter yang buruk, tetapi lebih banyak pada tingkat kematangan dalam profesi atau kepribadian yang dibentuk oleh ilmu pengetahuan, pendidikan, pengalaman, dan kesiapan dasarnya sebagai pahlawan.

Kesalahan-kesalahan itu biasanya lebih terkait pada masalah strategi dan teknis. Kendati demikian, kedua jenis kesalahan itu ― kepribadian atau profesi, tidak boleh bersifat fatal. Adapun ukuran kesalahan fatal itu adalah habisnya peluang untuk memperbaikinya. Misalnya, kesalahan fatal yang dilakukan oleh seorang politisi pada akhir karirnya sebagai politisi. Begitu pula tatkala seorang pebisnis, di usia senjanya, melakukan kesalahan fatal yang menghabiskan asset bisnisnya. Akan tetapi, kesalahan ijtihad yang dilakukan oleh seorang ulama, mungkin tidak akan mematikan namanya sebagai ulama. Andaikan ia melakukan kesalahan akhlak, mungkin hal itu lebih efektif mematikan peluangnya sebagai ulama.

Selain itu, ada pula masalah efek kesalahan: kepada pribadi atau kepada publik? Para pahlawan akan menutup peluang kepahlawanannya manakala ia melakukan kesalahan yang berefek kepada publik. Sebab, salah sat ukuran kepahlawanan adalah manfaat publik yang diberikan oleh pahlawan tersebut. Ketika Khalid bin Walid menikahi janda Malik bin Nuwairah, Umar bin Khattab meminta Abu Bakar untuk memecat Khalid. Malik bin Nuwairah yang mengaku Nabi itu tewas dibunuh Khalid pada Perang Riddah. Umar beralasan, Malik bin Nuwairah telah mengucapkan syahadat, namun Khalid tetap membunuhnya, kemudian malah menikahi jandanya.

Meski demikian, Abu Bakar tidak mengabulkannya. Entah karena Abu Bakar membenarkan ijtihad Khalid yang menganggap syahadat itu hanya karena terdesak, atau karena alasan lain. Yang pasti, seperti yang terlihat, efek kesalahan itu ― jika itu bisa disebut kesalahan ― tidak sampai kepada publik.

Di balik itu semua, yang jauh lebih penting dalam perspektif Islam adalah semangat bertaubat secara konstan. Sebab, taubat hakikatnya adalah proses perbaikan diri secara berkelanjutan. Dengan taubat itulah, seorang pahlawan mukmin sejati mengubah setiap kesalahan menjadi pelajaran mahal bagi kelanjutan langkah-langkah kepahlawanannya.

[Selanjutnya]
[Sebelumnya]
[SERIAL KEPAHLAWANAN]

Rachmat Naimulloh

Umar marah besar. "Siapa yang mengatakan Muhammad sudah mati", katanya saat mendengar berita kematian itu, "niscaya akan kupenggal lehernya." Ali terdiam tak sanggup bicara, Usman tergagap tak sanggup berkata. Hanya Abu Bakar yang masuk membuka kafan yang menutupi tubuh Muhammad. Setelah melihat wajahnya, Abu Bakar lantas mencium keningnya lalu berkata: "Alangkah baiknya kamu saat hidup dan saat wafat." Setelah itu keluarlah beliau sambil berkata: "Siapa yang menyembah Muhammad, maka Muhammad sudah mati. Dan siapa yang menyembah Allah, sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tak akan mati."

Sang Nabi telah wafat. Berita kematian itu segera mengguncang seluruh Madinah, jazirah Arab bahkan dunia. Tapi ada peristiwa yang jauh lebih penting dari itu: kematian Muhammad juga telah menjadi penutup mata rantai kenabian yang panjang yang telah mengisi lembar kehidupan umat manusia. Itu adalah kesedihan di atas kesedihan.

Selama ini kita hanya membaca 25 kisah nabi dan rasul dalam Al-Qur'an. Padahal jumlah nabi dan rasul jauh lebih banyak dari itu. Beberapa ulama bahkan menyebut angkanya sekitar 350 nabi dan rasul. Kehidupan manusia dimulai dari seorang lelaki, Adam, dan seorang perempuan, Hawa, yang kemudian membentuk keluarga. Keluarga itu kemudian beranak pinak dan secara perlahan membentuk suku. Lalu suku yang menjadi simpul besar keluarga berkembang makin banyak sampai pada suatu skala yang kemudian kita sebut bangsa. Bersamaan dengan itu wilayah bumi yang dihuni manusia juga makin luas.

Pada setiap tahapan pertumbuhan itu selalu ada nabi dan rasul yang datang membawa risalah yang sesuai dengan keadaan dan kondisi mereka. Pesan intinya adalah tauhid, tapi syariatnya yang disesuaikan dengan situasi mereka. Mereka adalah kafilah para pengajar yang datang membawa kitab suci. Ada guru ada kitab. Itulah inti dari semua proses pembelajaran. Tapi ketika Muhammad diutus, manusia telah sampai pada tahap kematangan akal yang memungkinkannya belajar melalui kitab tanpa kehadiran sang guru.

Maka menutup mata rantai kenabian setelah Muhammad adalah manifestasi kepercayaan Allah kepada kemampuan akal manusia untuk belajar melalui hanya narasi, tanpa narator. Itu sebabnya Allah berkata: "Sungguh telah Kami mudahkan Al-Qur'an ini, adakah yang mau memahami?"

[Selanjutnya]
[Sebelumnya]

[SERIAL PEMBELAJARAN]
Rachmat Naimulloh

Taman punya kita berdua
Tak lebar luas, kecil saja

Satu tak kelihatan lain dalamnya
Bagi kau dan aku cukuplah

Itu penggalan puisi Chairil Anwar, 1943, tentang rumahnya yang disebutnya taman. Taman hati. Taman hidup. Sempit ruangnya. Tapi cinta membuatnya jadi terasa cukup lapang dalam dada. Cinta membuatnya nyaman dihuni.

Kecil, penuh surya taman kita
Tempat merenggut dari dunia dan 'nusia

Kenyamanan. Itu rahasia jiwa yang diciptakan cinta: maka kita mampu bertahan memikul beban hidup, melintasi aral kehidupan, melampaui gelombang peristiwa, sambil tetap merasa nyaman dan teduh. Cinta menciptkan kenyamanan yang bekerja menyerap semua emosi negatif masuk ke dalam serat-serat jiwa melalui himpitan peristiwa kehidupan. Luka-luka emosi yang kita alami di sepanjang jalan kehidupan ini hanya meungkin dirawat di sana: dalam rumah cinta.

Dalam rumah cinta itu kita menemukan sistem perlindungan emosi yang ampuh. Mary Carolyn Davies mengungkapkannya dengan manis:

Ada sebuah tembok yang kuat
Di sekelilingku yang melindungiku
Dibangun dari kata-kata yang kau ucapkan padaku

Jiwa yang terlindung akan cepat bertumbuh dan berbuah. Sederhana saja. Karena hakikat cinta selamanya hanya satu: memberi. Memberi semua kebaikan yang tersimpan dalam jiwa. Melalui tatapan mata, kata atau tindakan. Jika kita terus menerus memberi maka kita akan terus menerus menerima. Pemberian jiwa itu menghidupkan kekuatan kebajikan yang sering tertidur dalam jiwa manusia. Seperti pohon: pada mulanya ia menyerap matahari dan air, untuk kemudian mengeluarkan semua kebajikan yang ada dalam dirinya: buahnya keindahan.

Dalam rumah yang penuh cinta itu kita menemukan rasa aman, kenyamanan dan kekuatan untuk terus bertumbuh. Itu sebabnya rumah yang begitu seperti menghadirkan surga dalam kehidupan kita. Rumah itu pasti utuh. Dan Abadi. Adakah doa cinta yang lebih agung daripada apa yang diajarkan sang Rasul kepada kita di malam pertama saat kita meletakkan dasar bangunan hubungan jiwa yang abadi? Letakkan tangan kananmu di atas ubun-ubun istrimu, lalu ucapka doa ini dengan lembut:

Ya Allah, aku mohon pada-Mu kebaikan perempuan ini
dan semua kebaikan yang tercipta
bersama penciptanya.

[Selanjutnya]
[Sebelumnya]
[SERIAL CINTA]

Rachmat Naimulloh
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Pencarian

    Loading...
  • Buku Tamu
  • Komentar
  • Kategori
  • Arsip
  • Februari (2)
  • Februari (2)
  • Januari (1)
  • Oktober (1)
  • September (2)
  • Agustus (6)
  • Juli (8)
  • Juni (7)
  • Mei (7)
  • April (8)
  • Maret (6)
  • Februari (9)
  • Januari (5)
  • Desember (12)
  • November (8)
  • Oktober (16)
  • September (11)
  • Agustus (16)
  • Juli (14)
  • Juni (11)
  • Mei (9)
  • April (13)
  • Maret (26)
  • Februari (22)
  • Januari (27)
  • Desember (13)
  • November (9)
  • Oktober (12)
  • September (10)
  • Agustus (7)
  • Juli (12)
  • Juni (23)
  • Mei (9)

Sahabat

    Follow this blog



    Personal Blogs
    Display Pagerank
    blog-indonesia.com
    Internet sehat


smadav antivirus indonesia
Topblogs @ iLuvislam



Designed by Simplex Design | Modified by Rachmat Naimulloh