Erich Fromm mengutip syair Jalaluddin Rummi itu dalam bukunya, The Art of Loving. Cinta, kata Fromm, adalah kebutuhan eksitensial manusia untuk mengatasi masalah "keterpisahannya" sekaligus kerinduannya akan kesatuan. Tapi dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan, cinta bukan hanya kebutuhan biologis: hasrat kesatuan dari kutub-kutub maskulin dan feminim. Karena dalam diri laki-laki dan perempuan terkadang prinsip menerima dan penetrasi, baik atas hal material maupun spiritual, maka mereka menemukan kesatuan dalam dirinya hanya dalam kesatuan atas polaritas kelelakian dan keperempuanan. Polaritas inilah, kata Fromm, yang menjadi dasar dari segala kreativitas.
Tapi saat hubungan murni ini terganggu oleh tirani sosial yang melahirkan ketidaksetaraan laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sosial, tiba-tiba kaum Feminis membawa bias ini: harus ada perlawanan untuk merebut kesetaraan itu. Itu tafsir paling sentimentil atas fenomena kedzaliman dalam masyarkat. Kesetaraan itu mungkin saja tercapai. Tapi korbannya juga sadis: lubang keterpisahan itu makin menganga lebar, dan hidup berujung dalam kesendirian dan kesunyian yang menyiksa.
Cinta mengajarkan kita untuk memperoleh hak-hak kita dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban kita kepada orang-orang lain. Itulah yang mempertemukan dua kutub jiwa. Pertemuan itulah yang membuat kita genap menggenapi, dan saling menyempurnakan karya kehidupan. Dan persoalan kesetaraan menjadi tidak relevan di tengah hidup yang bergerak kreatif begitu menuju kesatuan dan kesempurnaan. Simaklah senandung Rumi kembali:
Tak ubahnya langit dan bumi dikaruniai kecerdasan; mengapa mereka bersanding seperti sepasang kekasih?
Sebagaimana Tuhan memberikan hasrat kepada laki-laki dan perempuan sehingga menjadi terpelihara oleh kesatuan mereka.
Tuhan juga menanamkan ke semua eksistensi, hasrat untuk mencari belahannya.
Masing-masing saling mencintai untuk menyempurnakan karya bersama mereka. [Sebelumnya] 
0 komentar