Para Pembaharu


Mereka adalah kafilah cahaya yang tak kan pernah padam. Para ulama pewaris nabi itu akan selalu ada sejak generasi sahabat mewarisi ilu yang dibawa Rasulullah saw hingga hari kiamat kelak. Mereka adalah lampu jalan yang menerangi jalan sejarah umat kita. Dari kafilah cahaya itu Allah memilih orang-orang tertentu yang melakukan misi pembaharuan pada setiap awal kurun. Pembaharuan berkala seperti yang dijanjikan Rasulullah saw adalah fenomena sejarah yang terlalu unik dan hanya ada pada sejarah umat kita. Para pembarahu itu biasanya dibangkitkan sebagai individu seperti Umar Bin Abdul Aziz atau kelompok dan datang berkala di setiap awal abad.

Pembaharuan itu adalah bagian dari proses pembelajaran kita sebagai entitas peradaban yang menjelaskan mengapa umat kita bisa jatuh dan terpuruk suatu ketika dalam sejarah, tapi takkan pernah mati atau punah. Banyak entitas peradaban yang jatuh dan takkan pernah bisa bangkit kembali, karena mereka tidak punya mekanisme internal dari sumber nilai mereka sendiri untuk belajar dan bangkit kembali. Kebangkitan dan kejatuhan adalah hukum sejarah yang menimpa semua umat. Tapi beberapa kejatuhan menyebabkan kematian atau bahkan kepunahan. Tapi Allah menjaga umat kita dengan caraNya sendiri. Bukan dengan mengecualikan kita dari hukum kebangkitan dan kejatuhan itu, tapi dengan memberikan mekanisme pembelajaran peradaban melalui para pembaharu itu. Mereka bukan hanya datang membawa misi menjaga eksistensi peradaban kita dari kematian, tapi juga mengajar kita bagaimana bangkit kembali dari kejatuhan, serta meniupkan ruh baru yang memberi kita energi kebangkitan untuk dapat menaiki tangga sejarah.

Kejatuhan biasanya terjadi sebagai akumulasi dari berbagai kerusakan internal yang bersifat multidimensi dalam sebuah entitas peradaban. Akumulasi kerusakan itu menyebabkan terjadinya disorientasi kolektif dan selanjutnya menyebabkan kekacauan internal, disalokasi sumberdaya. Itu menyebabkan degradasi pada kekuatan dan konflik internal. Pada waktu yang sama, kelemahan seperti itu cepat sampai ke penciuman musuh. Itu membuat mereka bernafsu menyerang dan merebut sumberdaya kita.

Tapi kehadiran para pembaharu itu juga menjelaskan mengapa teks takkan tergantikan sebagai referensi pembelajaran kolektif kita sebagai entitas peradaban. Entitas peradaban yang jatuh dan tak bisa bangkit kembali adalah entitas yang tidak mewarisi teks kebenaran yang abadi. Atau jika mereka mewarisi teks, biasanya teksi itu sudah mengalami perubahan substansial. Tapi yang pasti mereka tidak punya pembaharu yang datang secara berkala memperbaharui pemahaman dan semangat mereka. Maka mereka tidak punya sumber pembelajaran, dan karenanya tidak punya sumber energi kebangkitan.



Rachmat Naimulloh

Ingin artikel seperti diatas langsung ke Email anda? Silahkan masukan alamat email anda untuk berlangganan.




2 komentar

  1. Brigadir Kopi mengatakan.... [Jawab]
    pada tanggal 16 Februari 2011 10.17

    kejatuahn terjadi karena manusia itu lalai , ketika sudah sampai di bangku atau titik perjuangan birokrasi .. rata rata mereka lupa, lupa dengan amanat .. lupa dengan pengkaderan suara ..

    sebuah kewajaran !!

    Perjuangan yang terlupakan ,dan pertanyaan tentang konsistensi !!!!

  2. Akhey mengatakan.... [Jawab]
    pada tanggal 17 Februari 2011 20.24

    Musibah menimpa karena kesalahan dan kelalaian manusia dan ummat ini sendiri. Kita punya kurikulum yang sama (Al-Quran) dan mentor yang sama (Rasulullah) tapi hasilnya berbeda.
    Maka seorang pembaharu akan lahir dari orang yang teguh memegang Al-Quran dan As-Sunnah...Ulama pewaris nabi.

Silahkan tinggalkan komentar Anda disini