
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنْ الْمُسْلِمِينَ . وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ . وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata:”Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. (Fushshilat: 33-35).
Ayat di atas merupakan bekal utama bagi para aktivis dakwah di jalan Allah (dai), agar selalu semangat dan istiqamah, tidak pernah gentar dan getir, senantiasa menjalankan tugasnya dengan tenang, tidak emosional dan seterusnya. Ayat tersebut diletakkan setelah sebelumnya di awal surat Fushshilat Allah menggambarkan sikap orang-orang yang tidak mau menerima ajaran Allah. “Mereka mengatakan: hati kami tertutup, (maka kami tidak bisa menerima) apa yang kamu serukan kepadanya, pun telinga kami tersumbat, lebih dari itu di antara kami dan kamu ada dinding pemisah.” (Fushshilat: 5). Bisa dibayangkan bagaimana beratnya tugas dakwah jika yang dihadapi adalah orang-orang yang tidak mau menerima kebenaran, tidak mau diajak kepada kebaikan, lebih dari itu ia menyerang, memusuhi dan melemparkan ancaman. Setiap disampaikan kepada mereka ajaran Allah, mereka menolaknya dengan segala cara, entah dengan menutup telinga, menutup mata, atau dengan mencari-cari alasan dan lain sebagainya.
Dakwah di jalan Allah adalah kebutuhan pokok manusia. Tanpa dakwah manusia akan tersesat jalan, jauh dari tujuan yang diinginkan Allah swt. Para rasul dan nabi yang Allah pilih dalam setiap fase adalah dalam rangka menegakkan risalah dakwah ini. Di dalam Al-Qur’an, Allah swt tidak pernah bosan mengulang-ulang seruan untuk bertakwa dan menjauhi jalan-jalan setan. Tetapi manusia tetap saja terlena dengan panggilan hawa nafsu. Terpedaya dengan indahnya dunia sehingga lupa kepada akhirat. Dalam surat Al-Infithaar ayat 6 Allah berfirman: yaa ayyuhal insaan maa gharraka birabbikal kariim? (wahai manusia apa yang membuat kamu terpedaya, sehingga kamu lupa terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah?)
Dalam ayat lain: kallaa bal tuhibbuunal aajilah watadzaruunal aakhirah (sekali-kali tidak, sungguh kamu masih mencintai dunia dan meninggalkan akhirat) (Al-Qiyaamah: 20-21). Perhatikan bagaimana pahit getir yang harus ditempuh para pejalan dakwah. Sampai kapan manusia harus terus terombang-ambing dalam gemerlap dunia yang menipu kalau tidak ada seorang pun yang bergerak untuk melakukan dakwah? Di sini tampak bahwa tugas dakwah pada hakikatnya bukan hanya tugas para dai, melainkan tugas semua manusia yang mengaku dirinya sebagai hamba Allah –tak perduli apa profesinya– lebih-lebih mereka yang telah meletakkan dirinya sebagai aktivis dakwah.
Karenanya, persoalan dakwah bukan persoalan nomor dua, melainkan persoalan pertama dan harus diutamakan di atas segala kepentingan. Bila kita mengaku mencintai Rasulullah saw., maka juga harus mengaku bahwa berjuang di jalan dakwah adalah segala-galanya. Karena Rasulullah dan sahabat-sahabatnya tidak saja mengorbankan segala waktu dan hartanya bahkan jiwa raganya untuk dakwah kepada Allah. Bagi mereka rumah dan harta yang telah mereka bangun sekian lama di kota Makkah memang merupakan bagian dari kehidupan yang sangat mahal dan berharga. Tetapi mempertahankan iman dan menegakkan ajaran Allah di bumi adalah di atas semua itu. Karenanya mereka tidak pikir-pikir lagi untuk berhijrah dengan meninggalkan segala apa yang mereka miliki. Mereka benar-benar paham bahwa iman dan dakwah pasti menuntut pengorbanan. Karenanya dalam berbagai pertempuran para sahabat berlomba untuk melibatkan dirinya. Mereka merasa berdosa jika tidak ikut terlibat aktif. Tidak sedikit dari mereka yang telah gugur di medan tempur. Semua ini menggambarkan kesungguhan dan kejujuran mereka dalam menegakkan risalah dakwah yang taruhannya bukan hanya harta benda melainkan juga nyawa.
Dakwah Adalah Tugas Yang Sangat Mulia
Ayat di atas dibuka dengan pernyataan: waman ahsanu qawlan. Ustadz Sayyid Qutb ketika menfasirkan ayat ini berkata: “Kalimat-kalimat dakwah yang diucapkan sang dai adalah paling baiknya kalimat, ia berada pada barisan pertama di antara kalimat-kalimat yang baik yang mendaki ke langit.” (lihat fii dzilaalil qur’an, oleh Sayyid Qutb, vol.5, h. 3121). Kata waman ahsanu Allah ulang di beberapa tempat dalam Al-Qur’an untuk menegaskan tingginya kualitas beberapa hal: Pada surat An-Nisa ayat 125 Allah berfirman: waman ahsanu diinan mim man aslama wajhahahuu lillaah (siapakah yang lebih bagus agamanya dari pada orang yang menyerahkan diri kepada Allah). Dalam Al Maidah ayat 50: waman ahsanu minallahi hukman (siapa yang lebih bagus ajarannya dari pada ajaran Allah). Dan pada ayat di atas: Siapakah yang lebih bagus perkataannya dari pada perkataan para dai di jalan Allah? Perhatikan semua ayat-ayat tersebut secara seksama, betapa tugas dakwah sangat Allah muliakan. Peringkatnya sangat tinggi, setara dengan kualitas hukum Allah dan penyerahan diri kepadaNya secara total.
Adalah suatu keharusan seorang dai, menyerahkan hidupnya kepada Allah swt. Ia tidak kenal lelah menjalani tugas-tugas dakwah. Pun ia tidak mengharapkan keuntungan duniawi di baliknya, kecuali hanyalah ridhaNya. Dalam Surat Yasiin ayat 21 Allah berfirman: “Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” Toh kalaupun Allah membuka jalan rezeki baginya melalui jalan-jalan tak terduga “fadzaalika khairun ‘alaa khair“. Yang penting jangan sampai seorang dai orientasinya dunia. Sebab, bila seorang dai juga berorientasi dunia, kepada apa dia mau berdakwah, bukankah tema utama dakwah adalah ajakan untuk mempersiapkan diri menuju akhirat?
Berdakwah Dengan Amal
Ayat selanjutnya menegaskan pentingnya amal shalih: wa amila shaalihaa. Mengapa? Apa hubungannya dengan dakwah? Bahwa seorang dai jangan hanya ngomong saja, sementara perbuatannya jauh atau bahkan bertentangan dengan apa yang disampaikannya. Benar, bahwa perkataan dakwah adalah paling baiknya perkataan, tetapi itu kalau diikuti dengan amal shalih. Jika tidak, maka perkataan itu akan menjadi bumerang yang akan menyerang sang dai itu sendiri. Dalam Ash Shaf ayat 3 Allah berfirman: “Amat besar kebencian Allah, bila kamu hanya mengatakan tanpa mengerjakannya.”
Karenanya Rasulullah saw. tidak hanya berbicara, melainkan lebih dari itu seluruh perbuatannya merupakan contoh amal shalih. Allah swt. memberikan rekomendasi yang luar biasa dalam surat Al-Qalam ayat 4: “Dan sesungguhnya kamu (Mumhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” Imam Ibn Katsir ketika menafsirkan ayat ini menyebutkan riwayat dari Aisyah ra.: bahwa akhlak Rasulullah saw. adalah Al-Qur’an (lihat Tafsir Ibn Katsir, vol.4, h.629). Dalam hadits-hadits yang diriwayatkan para ulama tidak semua berupa ucapan Rasulullah saw., melainkan banyak sekali yang berupa cerita para sahabat mengenai perilaku dan sikap Rasulullah saw. Banyak sekali hadits-hadits yang berupa ucapan pendek, to the point, tidak bertele-tele, mudah dihafalkan. Suatu gambaran betapa keberhasilan dakwah Rasulullah saw. adalah karena setiap yang diucapkannya langsung ada contohnya dalam bentuk amal nyata dari sikap dan akhlaknya yang sangat mulia.
Menampilkan Diri Sebagai Seorang Muslim Adalah DakwahDi antara ciri utama berdakwah kepada Allah, tidak saja mengamalkan ajaranNya dan menjauhi segala yang dilarang melainkan lebih dari itu menampilkan diri sebagai seorang Muslim di manapun ia berada, Allah berfirman pada ayat berikutnya: wa qaala innanii minal muslimiin. Dengan kata lain tidak cukup seorang mengamalkan Islam hanya dengan shalat, membayar zakat dan menjalankan haji, sementara dalam hidup sehari-harinya tidak mencerminkan Islam, misalnya ia tidak merasa berdosa dengan mempertontonkan auratnya di mana-mana, bergandengan tangan dengan wanita bukan istrinya di depan banyak orang, melakukan kemaksiatan, kezhaliman, korupsi, judi, perzinaan dengan terang-terangan. Anehnya, dia merasa malu untuk menampilkan Islam dengan sebenar-benarnya. Ia tidak merasa bangga sebagai seorang muslim. Bahkan Islam yang dipeluk digerogoti ajarannya sedikit demi sedikit, dengan sikap memperdebatkan prinsip-prinsipnya yang sudah baku, mencari-cari dalil untuk membangun keraguan terhadap kebenaran Islam.
Seorang aktivis dakwah sejati selalu bangga dengan identitasnya sebagai seorang muslim. Ia tidak takut menampilkan Islam sebagai pribadinya. Sungguh krisis umat Islam di mana-mana kini adalah krisis keberanian untuk menampilkan wajah Islam yang sebenarnya. Islam mengajarkan kedisiplinan, kebersihan, dan akhlak mulia, tetapi umat Islam di mana-mana selalu terkesan jorok, kotor dan beringas. Islam mengajarkan kejujuran, dan ketegasan dalam menegakkan hukum, tetapi penipuan dan korupsi justru merebak di tengah masyarakat yang mayoritasnya umat Islam. Mengapa ini semua terjadi? Bukankah orang-orang non-muslim sudah sedemikian jauh menampilkan dirinya sebagai bangsa yang bersih, disiplin dan lain sebagainya?
Benar, jika kemudian saya mendengar penyataan salah seorang muallaf : “Saya masuk Islam bukan karena umat Islam, melainkan karena kebenaran Islam. Seandainya umat Islam mampu menampilkan Islam dengan sebenar-benarnya, niscaya mereka akan berbondong-bondong masuk Islam.” Bahkan ada ungkapan yang sangat terkenal dan diulang-ulang hampir dalam setiap seminar di dalam di luar negeri: al-Islam mahjuubun bil muslimiin (kebenaran Islam terhalang oleh orang-orang-orang Islam sendiri). Perhatikan realitasnya, apa yang sedang berlangsung dalam diri umat Islam di mana-mana. Ya, kalau tidak berperang di antara mereka sendiri, mereka dizhalimi oleh pemimpinnya sendiri yang mengaku muslim.
Karenanya menampilkan Islam secara jujur dalam diri sebagai pribadi, dalam rumah tangga, dalam bermasyarakat dan dalam berbangsa dan bernegara adalah sebuah keniscayaan, dan menurut ayat di atas termasuk perbuatan yang sangat baik dan mulia. Oleh sebab itu pada ayat berikutnya Allah mengajarkan agar seorang dai selalu menyadari posisinya yang sangat mulia. Jangan sampai –karena suatu saat kelak menghadapi cobaan berupa munculnya orang-orang yang menolak dakwahnya dan lain sebagainya– ia kemudian emosional. Sehingga perkataannya lepas kontrol, lalu membalas cercaan mereka dengan cercaan. Atau lebih dari itu ia kemudian putus asa, lalu menjadi lesu dan patah arang. Akibatnya dakwah yang sangat Allah muliakan, ia lalaikan begitu saja.
Tidak, tidak demikian pribadi seorang aktivis dakwah. Seorang aktivis dakwah selalu menjiwai ayat ini: walaa tastawil hasanatu walas sayyi’ah. Benar, tidak akan pernah sama antara kebaikan dan keburukan. Kata-kata dakwah tetap lebih mulia dari kata-kata pencerca. Pertahankan kata-kata yang baik itu untuk terus menghiasi lidah sang dai. Jangan sampai terpengaruh emosi para pencerca lalu ditukar menjadi cercaan pula. Karenanya Allah ajarkan konsep: idfa’ billatii hiya ahsan, balaslah dengan ucapan yang lebih baik dan dengan cara yang lebih baik. Kata ahsan juga diulang pada ayat lain: wajadilhum billatii hiya ahsan, suatu sikap yang harus selalu menghiasi pribadi seorang dai setiap saat dan di manapun ia berada, lebih-lebih saat menghadapi penolakan, cercaan dan makian. Di saat seperti itu seorang dai, harus benar-benar tampil sempurna, bijak dan tenang. Mengapa? Sebab ia membawa misi Allah Yang Maha Perkasa. Maka ia harus selalu yakin dan percaya diri dengan posisinya. Tidak usah minder apalagi rendah diri.
Bahkan pada ayat selanjutnya Allah mengajarkan agar ia selalu tampil dengan penuh persahabatan, sekalipun mereka mencerca dengan penuh permusuhan. Perhatikan bagaimana Allah mengajarkan cara berdakwah yang efektif, di mana kemudian cara ini menjadi salah satu pilar utama dalam ilmu komunikasi modern. Setelah itu Allah menegaskan bahwa untuk itu semua seorang dai tidak cukup hanya dengan bermodal semangat, melainkan lebih dari itu harus mempunyai sifat sabar dan selalu memohon kepada Allah agar mendapatkan nasib yang baik, di dunia dan di akhirat. Tanpa sifat sabar dan doa untuk memperoleh nasib yang baik, segala proses akan menjadi sia-sia. Sebab segala kemenangan tidak akan pernah dicapai tanpa pertolongan-Nya.
وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Sumber : Dakwatuna

Pandu adalah kata yang digunakan sebagai istilah bagi orang yang memiliki karakter yang berporos pada kebaikan. Di negeri ini pandu disimbolkan dengan cikal kelapa yang bermakna proses pertumbuhan yang berkelanjutan di satu sisi,dimana ia dapat tumbuh dengan mudah sehingga bisa mempertahankan eksistensinya.
Di sisi lain bermakna manfaat yang dihasilkan oleh setiap aspek yang dimiliki, dari akar sampai ke buah. Di kebanyakan negeri-negeri lain, sebagaimana Pandu Keadilan, ia disimbolkan dengan bunga leli yang memiliki multi manfaat.
Selanjutnya kita akan membicarakan pandu yang berorientasi kepada kitabullah Al-Qur’an yang dalam bahasa da’wah disebut orang yang ‘shaalihun fii nafsihii naafi’un li ghairihii mujaahidun fillaah’. Pandu yang satu ini kita sebut sebagai ‘Pandu Qur’ani’. Pandu Qur’ani adalah imam bagi orang-orang bertaqwa dalam ketauladanan, pelayanan serta dakwah dan jihad.
Di sisi lain bermakna manfaat yang dihasilkan oleh setiap aspek yang dimiliki, dari akar sampai ke buah. Di kebanyakan negeri-negeri lain, sebagaimana Pandu Keadilan, ia disimbolkan dengan bunga leli yang memiliki multi manfaat.
Selanjutnya kita akan membicarakan pandu yang berorientasi kepada kitabullah Al-Qur’an yang dalam bahasa da’wah disebut orang yang ‘shaalihun fii nafsihii naafi’un li ghairihii mujaahidun fillaah’. Pandu yang satu ini kita sebut sebagai ‘Pandu Qur’ani’. Pandu Qur’ani adalah imam bagi orang-orang bertaqwa dalam ketauladanan, pelayanan serta dakwah dan jihad.
A.Ketauladanan Pandu Qur’ani
Al-Qur’an menggambarkan pandu sebagai orang saleh yang patut ditauladani.
Al-Qur’an menggambarkan pandu sebagai orang saleh yang patut ditauladani.
Firman Allah:
“Sungguh terdapat suri tauladan bagi kalian pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya ketika berkata kepada kaum mereka,‘sungguh kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah, kami ingkar terhadap kalian, dan telah nyata permusuhan dan kebencian antara kami dan kalian selamanya hingga kalian beriman kepada (mengilahkan) Allah semata’, kecuali perkataan Ibrahim kepada ayahnya,’akan saya mintakan ampunan untukmu, dan saya tidak memiliki apa-apa untuk (menyelamatkannmu) dari (adzab) Allah.Tuhan kami, kepadamu kami berserah diri, kepadamu kami bertobat, dan kepadamu kami akan kembali’.Tuhan kami jangan engkau biarkan kami dicelakai oleh orang-orang kafir, dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.Sungguh terdapat pada mereka suri tauladan bagi orang-orang yang menginginkan (rahmat) Allah dan (kebahagiaan) akhirat.” (QS Al-Mumtahanah,60 : 4-6)
“Sungguh pada diri Rasulullah terdapat suri tauladan bagi kalian yang menginginkan (rahmat) Allah dan (kebahagiaan) akhirat.” (QS Al-Ahzab,33 : 21)
Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam tauladan utama dalam segala hal dari segala sisi kehidupan, baik dalam hal ilmu, iman maupun amal, dan baik beliau sebagai pribadi, kepala keluarga, anggota dan tokoh masyarakat, maupun sebagai pemimpin ummat dan negara. Beliau kuat dalam ruhiyah, aqliyah dan jasadiah sekaligus. Beliau adalah sebaik-baik mukmin yang dicintai oleh Allah karena dengan iman dan kekuatannya lahirlah amal-amal ibadah baik mahdlah maupun sosial yang mengagumkan. Dengan iman dan kekuatannya pula beliau berjuang menunaikan risalah Allah yang diembannya, menegakkan dinullah.
Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam sangat tekun dalam mengejar pahala yang terbaik dari Allah meskipun ia sudah dijamin masuk sorga. Ketika berangkat menuju perang Uhud, beliau bersama Ali dan seorang sahabat lainnya radliallahu‘anhuma mempunyai jatah seekor onta untuk dikendarai secara bergantian. Ali dan temannya sepakat menyerahkan jatah tunggangan mereka kepada Rasulullah yang membuat Rasulullah tersinggung dan berkata, ”kalian tidak lebih kuat daripada saya (untuk berjalan), dan kalian tidak lebih membutuhkan pahala daripada saya.”
Beliau mengajari ummatnya untuk tekun mengejar pahala dari Allah. Sabda beliau: “Shalat (berjama’ah) yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat Isya dan Subuh.Seandainya mereka mengetahui pahala yang didapatkan pada keduanya maka mereka pasti menghadirinya meskipun harus datang dengan merangkak.”
Dalam beramal jama’i Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam bukanlah seorang pemimpin yang pintar menyuruh belaka melainkan memberi contoh kerja yang optimal, seperti ketika beliau bersama para sahabat membangun masjid Qubaa’. Badan beliau penuh tanah karena bolak balik memanggul tanah. Sikap beliau memberi semangat bagi para sahabat sehingga dapat menyelesaikan pekerjaan dengan cepat dan dengan hasil yang memuaskan.
Beliau suri tauladan dalam mengamalkan Al-Qur’an, dan seperti itulah ummatnya seharusnya. Bukankah para hamba Allah selalau memanjatkan do’a; ”Wahai Tuhan kami karuniailah kami dari istri-istri dan keturunan-keturunan kami penyejuk mata bagi kami dan jadikanlah kami imam (pemimpin/tauladan) bagi bagi orang-orang yang bertaqwa.”
Sumber : Pandu Keadilan

Sejak manusia meletakkan kakinya di dunia ini, wujud, rasa keingintahuannya telah memompa semangat dan keinginan jiwanya untuk menemukan rumusan penciptaan dan hakikat-hakikat. Pada masa lalu saat ilmu belum mengalami banyak perkembangan, manusia berusaha memahami rahasia-rahasia alam sebatas kemampuan mereka berpikir.
Kita mengetahui bahwa pada masa kontemporer dan era modern ini manusia telah sampai pada perkembangan ilmu dan keahlian yang sangat pesat. Tetapi, hasil dari penemuan tersebut hanya bisa ditampakkan di hadapan para penghuni bumi, bukan di hadapan dunia dan alam-alam keberadaan.
Sudah banyak referensi atau buku pengetahuan yang mungkin sudah kita lahap habis membacanya. Jika kita perhatikan dengan saksama, semua referensi hanya membahas tentang wacana eksistensi bernyawa dengan pengaruh alaminya dan ratusan cabang ilmu lainnya. Referensi itu lebih banyak membuat hati kita mengidap semua ragam penyakit hati (sombong, takabur, dan lain-lain) yang tak kunjung sembuh, bahkan seolah semakin membuat kita lupa akan hakikat keberadaan Sang Maha Segalanya.
Pada saat berada di sekolah dasar, sekolah menengah hingga perguruan tinggi, kita disuguhi dengan berbagai topik pelajaran. Apa yang dihasilkan oleh orang lain dengan usaha dan upayanya pada kehidupan dan umur yang telah lalu, dan mereka pahami dari misteri kehidupan, akan mereka hadiahkan kepada kita dalam bentuk buku. Tetapi, mana yang mampu memberi informasi kepada kita tentang kebesaran, kekuatan, dan kemuliaan Pencipta Alam?
Mari sejenak fokuskan perhatian kita pada seekor serangga kecil atau seekor nyamuk yang selama ini kita anggap sebagai makhluk tak berguna. Namun, berapa banyak manusia yang tak berdaya dengan gigitannya, bahkan dari aspek ekonomi banyak orang yang mendapatkan pekerjaan/nafkah dengan keberadaan nyamuk.
Rahasia nyamuk
Nyamuk sebagai seekor eksistensi kecil yang tidak pernah masuk ke dalam daftar perhatian kita adalah sebuah contoh kecil dari penciptaan. Mereka pun senantiasa akan melanjutkan perputaran kehidupannya menuju kesempurnaan diri.
Sebagaimana yang telah disebutkan, dalam banyak ayat Alquran Allah memerintahkan manusia untuk memerhatikan alam dan melihat tanda-tanda di dalamnya. Semua makhluk hidup dan tak hidup di alam semesta diliputi oleh tanda-tanda yang menunjukkan bahwa mereka semua diciptakan. Mereka menunjukkan kekuasaan, ilmu, dan seni dari Pencipta. Manusia bertanggung jawab mengenali tanda-tanda ini dengan menggunakan akal budinya, untuk memuliakan Allah.
Walau semua makhluk hidup memiliki tanda-tanda ini, beberapa tanda dirujuk Allah secara khusus dalam Alquran. Nyamuk adalah salah satunya di surat Albaqarah. 'Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan, 'Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?' Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik.' (QS Al-Baqarah[2]: 26)
Nyamuk sering dianggap sebagai makhluk hidup yang biasa dan tidak penting. Namun, nyamuk sangat berarti untuk diteliti dan dipikirkan sebab di dalamnya terdapat tanda kebesaran Allah. Inilah sebabnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu.
Nyamuk sebuah eksistensi yang hidup dan setiap makhluk hidup dalam putaran kehidupannya akan memberikan pengaruh-pengaruh dirinya. Untuk memahami hal ini berada di luar kemampuan akal manusia.
Nyamuk melakukan aktivitas berjalan dan juga bergerak. Lalu pertanyaannya, kenapa, bagaimana, dengan keadaan yang bagaimana, dengan perubahan yang mana, dan berada di bawah pengaruh kekuatan yang mana sehingga mereka melakukan gerakan-gerakan tersebut?

Kita mengetahui bahwa pada masa kontemporer dan era modern ini manusia telah sampai pada perkembangan ilmu dan keahlian yang sangat pesat. Tetapi, hasil dari penemuan tersebut hanya bisa ditampakkan di hadapan para penghuni bumi, bukan di hadapan dunia dan alam-alam keberadaan.
Sudah banyak referensi atau buku pengetahuan yang mungkin sudah kita lahap habis membacanya. Jika kita perhatikan dengan saksama, semua referensi hanya membahas tentang wacana eksistensi bernyawa dengan pengaruh alaminya dan ratusan cabang ilmu lainnya. Referensi itu lebih banyak membuat hati kita mengidap semua ragam penyakit hati (sombong, takabur, dan lain-lain) yang tak kunjung sembuh, bahkan seolah semakin membuat kita lupa akan hakikat keberadaan Sang Maha Segalanya.
Pada saat berada di sekolah dasar, sekolah menengah hingga perguruan tinggi, kita disuguhi dengan berbagai topik pelajaran. Apa yang dihasilkan oleh orang lain dengan usaha dan upayanya pada kehidupan dan umur yang telah lalu, dan mereka pahami dari misteri kehidupan, akan mereka hadiahkan kepada kita dalam bentuk buku. Tetapi, mana yang mampu memberi informasi kepada kita tentang kebesaran, kekuatan, dan kemuliaan Pencipta Alam?
Mari sejenak fokuskan perhatian kita pada seekor serangga kecil atau seekor nyamuk yang selama ini kita anggap sebagai makhluk tak berguna. Namun, berapa banyak manusia yang tak berdaya dengan gigitannya, bahkan dari aspek ekonomi banyak orang yang mendapatkan pekerjaan/nafkah dengan keberadaan nyamuk.
Rahasia nyamuk
Nyamuk sebagai seekor eksistensi kecil yang tidak pernah masuk ke dalam daftar perhatian kita adalah sebuah contoh kecil dari penciptaan. Mereka pun senantiasa akan melanjutkan perputaran kehidupannya menuju kesempurnaan diri.
Sebagaimana yang telah disebutkan, dalam banyak ayat Alquran Allah memerintahkan manusia untuk memerhatikan alam dan melihat tanda-tanda di dalamnya. Semua makhluk hidup dan tak hidup di alam semesta diliputi oleh tanda-tanda yang menunjukkan bahwa mereka semua diciptakan. Mereka menunjukkan kekuasaan, ilmu, dan seni dari Pencipta. Manusia bertanggung jawab mengenali tanda-tanda ini dengan menggunakan akal budinya, untuk memuliakan Allah.
Walau semua makhluk hidup memiliki tanda-tanda ini, beberapa tanda dirujuk Allah secara khusus dalam Alquran. Nyamuk adalah salah satunya di surat Albaqarah. 'Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan, 'Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?' Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik.' (QS Al-Baqarah[2]: 26)
Nyamuk sering dianggap sebagai makhluk hidup yang biasa dan tidak penting. Namun, nyamuk sangat berarti untuk diteliti dan dipikirkan sebab di dalamnya terdapat tanda kebesaran Allah. Inilah sebabnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu.
Nyamuk sebuah eksistensi yang hidup dan setiap makhluk hidup dalam putaran kehidupannya akan memberikan pengaruh-pengaruh dirinya. Untuk memahami hal ini berada di luar kemampuan akal manusia.
Nyamuk melakukan aktivitas berjalan dan juga bergerak. Lalu pertanyaannya, kenapa, bagaimana, dengan keadaan yang bagaimana, dengan perubahan yang mana, dan berada di bawah pengaruh kekuatan yang mana sehingga mereka melakukan gerakan-gerakan tersebut?
Pada umumnya nyamuk dikenal sebagai pengisap dan pemakan darah. Hal ini ternyata tidak terlalu tepat karena menurut penelitian yang mengisap darah hanya nyamuk betina. Nyamuk betina tidak membutuhkan darah untuk makan.
Baik nyamuk jantan maupun betina hidup dari nektar bunga. Nyamuk betina mengisap darah hanya karena ia membutuhkan protein dalam darah untuk membantu telurnya berkembang. Dengan kata lain, nyamuk betina mengisap darah hanya untuk memelihara kelangsungan spesiesnya.
Proses perkembangan nyamuk merupakan salah satu aspek yang paling mengesankan, luar biasa, dan mengagumkan. Berikut ini kami paparkan singkat yang dituliskan Harun Yahya tentang transformasi makhluk hidup dari seekor larva renik melalui beberapa tahap menjadi seekor nyamuk.
Telur nyamuk yang berkembang dengan diberi makan darah, ditelurkan nyamuk betina di atas daun lembap atau kolam kering selama musim panas atau musim gugur. Sebelumnya, si induk memeriksa permukaan tanah secara menyeluruh dengan reseptor halus di bawah perutnya.
Setelah menemukan tempat yang cocok, ia mulai bertelur. Telur-telur tersebut panjangnya kurang dari satu milimeter, tersusun dalam satu baris, secara berkelompok atau satu-satu. Beberapa spesies bertelur dalam bentuk tertentu, saling menempel sehingga menyerupai sampan. Sebagian kelompok telur ini bisa terdiri atas 300 telur.
Telur-telur berwarna putih yang disusun rapi ini segera menjadi gelap warnanya, lalu menghitam dalam beberapa jam. Warna hitam ini memberikan perlindungan bagi larva agar tak terlihat oleh burung atau serangga lain. Selain telur, warna kulit sebagian larva juga berubah sesuai dengan lingkungan sehingga mereka lebih terlindungi.
Larva berubah warna dengan memanfaatkan faktor-faktor tertentu melalui berbagai proses kimia rumit. Jelaslah telur, larva, ataupun induk nyamuk tersebut tidak mengetahui proses-proses di balik perubahan warna dalam tahap perkembangan nyamuk.
Tidak mungkin ia bisa membuat sistem ini dengan kemampuan sendiri. Tidak mungkin pula sistem ini terbentuk secara kebetulan. Nyamuk telah diciptakan dengan sistem ini sejak mereka pertama kali muncul.
'Segala sesuatu yang ada di langit dan bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahabesar, Mahabijaksana. Kekuasaan dari langit dan bumi adalah milik-Nya. Ia memberikan hidup dan menjadikan mati. Ia memiliki kekuasaan atas segala sesuatu.' (QS Al Hadid [57]: 1-2)
Nyamuk dilengkapi dengan penerima panas yang sangat peka. Mereka mengindra segala sesuatu di sekitar mereka dalam berbagai warna menurut panasnya. Karena pengindraannya tidak bergantung pada cahaya, nyamuk sangat mudah menentukan letak pembuluh darah dalam ruangan yang gelap sekalipun.
Penerima panas pada nyamuk cukup peka untuk mendeteksi perbedaan suhu hingga sekecil 1/1.000 derajat Celcius. Nyamuk memiliki hampir seratus mata. Sebagai mata majemuk, mata-mata ini terletak pada bagian atas kepalanya.
Sesungguhnya ini hanya sebagian kecil saja dari sistem-sistem yang luar biasa dari nyamuk. Belum lagi kita mengamati seperti cara makan, reproduksi, pernapasan, peredaran darah.
Tanda kebesaran Allah
Jika kita menyadari bahwa nyamuk juga memiliki berbagai sistem kompleks dan fungsi organis, kita pun lebih memahami betapa tanda-tanda kebesaran Allah itu tak terbatas. Masih pantaskah kita berbangga diri/sombong, buruk sangka, riya (dan seluruh penyakit hati lainnya) dalam kehidupan ini?
Tentu jawabannya kita sepakati sangatlah tidak pantas! Karena ternyata walau hanya dari perumpamaan seekor nyamuk, tetapi kalau saja kita mau mengambil ibrah (hikmah) maka semestinya semakin membuka mata hati kita akan makna kebesaran Ilahi Rabbi.
Kalau saja semua umat manusia tanpa terkecuali memahami segala perumpamaan yang diperlihatkan oleh Allah, mulai dari nyamuk sampai ke makhluk hidup lainnya atau bahkan seluruh proses alam yang terjadi di dunia, insya Allah bangsa ini bahkan warga dunia ini akan terbebas dari apa yang dinamakan penyakit hati.
Allah berfirman: 'Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.' (QS Ali Imran [3]:191)
Bulan Ramadhan akan berakhir. Harapan yang ada, semoga bulan ini menjadi media untuk merenungi semua perumpamaan yang ada dalam kehidupan di sekeliling kita semakin mengokohkan hati kita untuk terus berkontemplasi, menyadari akan kebesaran Ilahi Rabbi. Karena inilah makna kefitrian manusia yang sesungguhnya.
Baik nyamuk jantan maupun betina hidup dari nektar bunga. Nyamuk betina mengisap darah hanya karena ia membutuhkan protein dalam darah untuk membantu telurnya berkembang. Dengan kata lain, nyamuk betina mengisap darah hanya untuk memelihara kelangsungan spesiesnya.
Proses perkembangan nyamuk merupakan salah satu aspek yang paling mengesankan, luar biasa, dan mengagumkan. Berikut ini kami paparkan singkat yang dituliskan Harun Yahya tentang transformasi makhluk hidup dari seekor larva renik melalui beberapa tahap menjadi seekor nyamuk.
Telur nyamuk yang berkembang dengan diberi makan darah, ditelurkan nyamuk betina di atas daun lembap atau kolam kering selama musim panas atau musim gugur. Sebelumnya, si induk memeriksa permukaan tanah secara menyeluruh dengan reseptor halus di bawah perutnya.
Setelah menemukan tempat yang cocok, ia mulai bertelur. Telur-telur tersebut panjangnya kurang dari satu milimeter, tersusun dalam satu baris, secara berkelompok atau satu-satu. Beberapa spesies bertelur dalam bentuk tertentu, saling menempel sehingga menyerupai sampan. Sebagian kelompok telur ini bisa terdiri atas 300 telur.
Telur-telur berwarna putih yang disusun rapi ini segera menjadi gelap warnanya, lalu menghitam dalam beberapa jam. Warna hitam ini memberikan perlindungan bagi larva agar tak terlihat oleh burung atau serangga lain. Selain telur, warna kulit sebagian larva juga berubah sesuai dengan lingkungan sehingga mereka lebih terlindungi.
Larva berubah warna dengan memanfaatkan faktor-faktor tertentu melalui berbagai proses kimia rumit. Jelaslah telur, larva, ataupun induk nyamuk tersebut tidak mengetahui proses-proses di balik perubahan warna dalam tahap perkembangan nyamuk.
Tidak mungkin ia bisa membuat sistem ini dengan kemampuan sendiri. Tidak mungkin pula sistem ini terbentuk secara kebetulan. Nyamuk telah diciptakan dengan sistem ini sejak mereka pertama kali muncul.
'Segala sesuatu yang ada di langit dan bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahabesar, Mahabijaksana. Kekuasaan dari langit dan bumi adalah milik-Nya. Ia memberikan hidup dan menjadikan mati. Ia memiliki kekuasaan atas segala sesuatu.' (QS Al Hadid [57]: 1-2)
Nyamuk dilengkapi dengan penerima panas yang sangat peka. Mereka mengindra segala sesuatu di sekitar mereka dalam berbagai warna menurut panasnya. Karena pengindraannya tidak bergantung pada cahaya, nyamuk sangat mudah menentukan letak pembuluh darah dalam ruangan yang gelap sekalipun.
Penerima panas pada nyamuk cukup peka untuk mendeteksi perbedaan suhu hingga sekecil 1/1.000 derajat Celcius. Nyamuk memiliki hampir seratus mata. Sebagai mata majemuk, mata-mata ini terletak pada bagian atas kepalanya.
Sesungguhnya ini hanya sebagian kecil saja dari sistem-sistem yang luar biasa dari nyamuk. Belum lagi kita mengamati seperti cara makan, reproduksi, pernapasan, peredaran darah.
Tanda kebesaran Allah
Jika kita menyadari bahwa nyamuk juga memiliki berbagai sistem kompleks dan fungsi organis, kita pun lebih memahami betapa tanda-tanda kebesaran Allah itu tak terbatas. Masih pantaskah kita berbangga diri/sombong, buruk sangka, riya (dan seluruh penyakit hati lainnya) dalam kehidupan ini?
Tentu jawabannya kita sepakati sangatlah tidak pantas! Karena ternyata walau hanya dari perumpamaan seekor nyamuk, tetapi kalau saja kita mau mengambil ibrah (hikmah) maka semestinya semakin membuka mata hati kita akan makna kebesaran Ilahi Rabbi.
Kalau saja semua umat manusia tanpa terkecuali memahami segala perumpamaan yang diperlihatkan oleh Allah, mulai dari nyamuk sampai ke makhluk hidup lainnya atau bahkan seluruh proses alam yang terjadi di dunia, insya Allah bangsa ini bahkan warga dunia ini akan terbebas dari apa yang dinamakan penyakit hati.
Allah berfirman: 'Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.' (QS Ali Imran [3]:191)
Bulan Ramadhan akan berakhir. Harapan yang ada, semoga bulan ini menjadi media untuk merenungi semua perumpamaan yang ada dalam kehidupan di sekeliling kita semakin mengokohkan hati kita untuk terus berkontemplasi, menyadari akan kebesaran Ilahi Rabbi. Karena inilah makna kefitrian manusia yang sesungguhnya.

Muktamar Muhammadiyah tahun 1971 di Makasar mempunyai implikasi pada hidup saya sendiri. Dari situ Muhammdiyah memutuskan untuk membuat pusat-pusat pengkaderan di beberapa wilayah, di Garut, Yogya, dan Makasar, semuanya bernama pesantren Darul Arqam dan saya adalah alumni darinya. Saya masuk di pesantren itu tahun 1980 awal, masih hutan,tidak ada akses jalan umum ke jalan raya. Untuk ke jalan yang dilewati mobil harus berjalan kaki beberapa kilometer.
Saya masuk tahun 1980 pada usia sebelas tahun, dan selesai pada tahun 1987. Dan saya masih ingat bahwa pesantren tersebut adalah pesantren pengkaderan. Di pesantren trersebut orang-orang benar-benar dilatih menderita. Pesantren terdiri dari satu asrama putra dan satu asrama putri. Biasanya kalau pagi-pagi kita cuma diberi makan nasi dan kecap.
Saya masuk tahun 1980 pada usia sebelas tahun, dan selesai pada tahun 1987. Dan saya masih ingat bahwa pesantren tersebut adalah pesantren pengkaderan. Di pesantren trersebut orang-orang benar-benar dilatih menderita. Pesantren terdiri dari satu asrama putra dan satu asrama putri. Biasanya kalau pagi-pagi kita cuma diberi makan nasi dan kecap.
Waktu pertama kali masuk, saya merasa kaget, karena baru pertama kali makan nasi dengan kecap. Tapi guru-guru saya selalu mengatakan begini: "Nanti suatu waktu kamu akan mengenang bahwa nasi kecap inilah yang membesarkan kamu." Kemudian karena air yang kita minum harus diambil sendiri, para siswa secara bergiliran mengambil air untuk disimpan di dapur, untuk dimasak. Pada musim kemarau daerahnya kering sekali. Kami harus berjalan beberapa kilometer untuk mandi sekaligus mengangkut air ke dapur. Dan biasanya yang ada hanya sumur-sumur kecil yang disampingnya ada kubangan kerbau sehingga air itu bau kerbau. Tapi lagi-Iagi guru-guru saya mengatakan bahwa: "Ini Insya Allah akan menjadi sumber kekuatan."
Waktu saya masuk, teman seangkatan itu ada lima puluh enam orang. Waktu saya tamat tinggal enam orang. Kemudian saya mulai aktif di IPM (Ikatan Pelajar Muhammdiyah) sejak kelas 2 SMP. Tapi saya beruntung, satu minggu setelah masuk pesantren itu saya mimpi dan mengigau dalam bahasa Arab. Tiga bulan kemudian alhamudiIJah saya sudah bisa bahasa Arab.
Waktu kelas dua kami diwajibkan untuk aktif di IPM, dan itu saat pertama kali saya bersentuhan dengan lingkungan Muhammadiyah secara lebih luas. Setelah itu saya ikut training yang kedua kalinya. Ketika kelas dua SMA say a sudah menjadi instruktur dan menjabat sebagai sekretaris cabang. Tapi kemudian pengalaman-pengalaman itu membuat saya sedikit mengalami goncangan. Karena apa yang kita peroleh dalam latihan itu tidak memenuhi kebutuhan kita di alam nyata. Saya mengalami sebuah masa pencarian dan saya tidak menemukan jawabannya.
Waktu kuliah di Jakarta saya lulus di dua tempat, satu di Universitas Hasanudin jurusan jurnalistik dan satu di LlPIA Fakultas Syariah. Saya memilih fakultas syariah karena di situ ada beasisiwa, itu saja.
Dari situ kira-kira dua tahun lamanya saya mengalami goncangan-goncangan yang luar bisa, pencarian yang luar biasa. Pengalaman batin yang berat luar biasa buat saya. Dan saya tidak menemukan jawaban di organisasi di mana saya berada. Begitu dahsyatnya pengalaman batin, membuat saya sering sekali terbangun di tengah malam, jam satu atau jam dua, dan tiba-tiba merasa sedih sekali tapi tidak tahu apa sebabnya, saya sering menangis.
Saya mulai berkenalan dengan pikiran-pikiran dari berbagai negara Islam, mulai membaca. Dan ketika saya sedang mendalami bahasa Arab saya pernah meninggalkan literatur berbahasa Indonesia selama satu tahun, khusus untuk memperdalam bahasa Arab. Saya baca buku-buku yang paling ‘berat’, sekalipun hanya 20 persen yang masuk tapi saya memaksakan diri. Hari-hari itu sangat berat bagi saya, tapi saya mendapatkan hasilnya.
Saya biasa membaca lima jam sehari diluar mata kuliah yag saya pelajari. Dari hasil bacaan-bacaan itulah saya berhasil merangkum satu hal dan dari situlah awal mula saya berkenalan dengan aktivis-aktivis yang disebut dengan aktivis tarbiyah. [Walaupun sebenarnya istilah-istilah itu perlu diclear-kan. 'Tarbiyah itu artinya pendidikan atau pembinaan, usrah itu keluarga, halaqah itu artinya lingkaran. Jadi pada zaman dahulu itu ulama-ulama di masjid suka dikelilingi oleh orang-orang yang mau belajar, membentuk sebuah lingkaran. Jadilah istilah Halaqah]
Waktu saya masuk, teman seangkatan itu ada lima puluh enam orang. Waktu saya tamat tinggal enam orang. Kemudian saya mulai aktif di IPM (Ikatan Pelajar Muhammdiyah) sejak kelas 2 SMP. Tapi saya beruntung, satu minggu setelah masuk pesantren itu saya mimpi dan mengigau dalam bahasa Arab. Tiga bulan kemudian alhamudiIJah saya sudah bisa bahasa Arab.
Waktu kelas dua kami diwajibkan untuk aktif di IPM, dan itu saat pertama kali saya bersentuhan dengan lingkungan Muhammadiyah secara lebih luas. Setelah itu saya ikut training yang kedua kalinya. Ketika kelas dua SMA say a sudah menjadi instruktur dan menjabat sebagai sekretaris cabang. Tapi kemudian pengalaman-pengalaman itu membuat saya sedikit mengalami goncangan. Karena apa yang kita peroleh dalam latihan itu tidak memenuhi kebutuhan kita di alam nyata. Saya mengalami sebuah masa pencarian dan saya tidak menemukan jawabannya.
Waktu kuliah di Jakarta saya lulus di dua tempat, satu di Universitas Hasanudin jurusan jurnalistik dan satu di LlPIA Fakultas Syariah. Saya memilih fakultas syariah karena di situ ada beasisiwa, itu saja.
Dari situ kira-kira dua tahun lamanya saya mengalami goncangan-goncangan yang luar bisa, pencarian yang luar biasa. Pengalaman batin yang berat luar biasa buat saya. Dan saya tidak menemukan jawaban di organisasi di mana saya berada. Begitu dahsyatnya pengalaman batin, membuat saya sering sekali terbangun di tengah malam, jam satu atau jam dua, dan tiba-tiba merasa sedih sekali tapi tidak tahu apa sebabnya, saya sering menangis.
Saya mulai berkenalan dengan pikiran-pikiran dari berbagai negara Islam, mulai membaca. Dan ketika saya sedang mendalami bahasa Arab saya pernah meninggalkan literatur berbahasa Indonesia selama satu tahun, khusus untuk memperdalam bahasa Arab. Saya baca buku-buku yang paling ‘berat’, sekalipun hanya 20 persen yang masuk tapi saya memaksakan diri. Hari-hari itu sangat berat bagi saya, tapi saya mendapatkan hasilnya.
Saya biasa membaca lima jam sehari diluar mata kuliah yag saya pelajari. Dari hasil bacaan-bacaan itulah saya berhasil merangkum satu hal dan dari situlah awal mula saya berkenalan dengan aktivis-aktivis yang disebut dengan aktivis tarbiyah. [Walaupun sebenarnya istilah-istilah itu perlu diclear-kan. 'Tarbiyah itu artinya pendidikan atau pembinaan, usrah itu keluarga, halaqah itu artinya lingkaran. Jadi pada zaman dahulu itu ulama-ulama di masjid suka dikelilingi oleh orang-orang yang mau belajar, membentuk sebuah lingkaran. Jadilah istilah Halaqah]
[Sebelumnya]

Ya ALLAH, berikan taqwa kepada jiwa-jiwa kami dan sucikan dia.
Engkaulah sebaik-baik yang, mensucikannya.
Engkau pencipta dan pelindungnya
Ya ALLAH, perbaiki hubungan antar kami
Rukunkan antar hati kami
Tunjuki kami jalan keselamatan
Selamatkan kami dari kegelapan kepada terang
Jadikan kumpulan kami jama’ah orang muda yang menghormati orang tua
Dan jama’ah orang tua yang menyayangi orang muda
Jangan Engkau tanamkan di hati kami kesombongan dan kekasaran terhadap sesama hamba beriman
Bersihkan hati kami dari benih-benih perpecahan, pengkhianatan dan kedengkian
Ya ALLAH, wahai yang memudahkan segala yang sukar
Wahai yang menyambung segala yang patah
Wahai yang menemani semua yang tersendiri
Wahai pengaman segala yang takut
Wahai penguat segala yang lemah
Mudah bagimu memudahkan segala yang susah
Wahai yang tiada memerlukan penjelasan dan penafsiran
Hajat kami kepada-Mu amatlah banyak
Engkau Maha Tahu dan melihatnya
Ya ALLAH, kami takut kepada-Mu
Selamatkan kami dari semua yang tak takut kepada-Mu
Jaga kami dengan Mata-Mu yang tiada tidur
Lindungi kami dengan perlindungan-Mu yang tak tertembus
Kasihi kami dengan kudrat kuasa-Mu atas kami
Jangan binasakan kami, karena Engkaulah harapan kami
Musuh-musuh kami dan semua yang ingin mencelakai kami
Tak akan sampai kepada kami, langsung atau dengan perantara
Tiada kemampuan pada mereka untuk menyampaikan bencana kepada kami
“ALLAH sebaik baik pemelihara dan Ia paling kasih dari segala kasih”
Ya ALLAH, kami hamba-hamba-Mu, anak-anak hamba-Mu
Ubun-ubun kami dalam genggaman Tangan-Mu
Berlaku pasti atas kami hukum-Mu
Adil pasti atas kami keputusan-Mu
Ya ALLAH, kami memohon kepada-Mu
Dengan semua nama yang jadi milik-Mu
Yang dengan nama itu Engkau namai diri-Mu
Atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu
Atau Engkau ajarkan kepada seorang hamba-Mu
Atau Engkau simpan dalam rahasia Maha Tahu-Mu akan segala ghaib
Kami memohon-Mu agar Engkau menjadikan Al Qur’an yang agung
Sebagai musim bunga hati kami
Cahaya hati kami
Pelipur sedih dan duka kami
Pencerah mata kami
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Nuh dari taufan yang menenggelamkan dunia
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Ibrahim dari api kobaran yang marak menyala
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Musa dari kejahatan Fir’aun dan laut yang mengancam nyawa
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Isa dari Salib dan pembunuhan oleh kafir durjana
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Muhammad alaihimusshalatu wassalam dari kafir Quraisy durjana, Yahudi pendusta, munafik khianat, pasukan sekutu Ahzab angkara murka
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Yunus dari gelap lautan, malam, dan perut ikan
Ya ALLAH, yang mendengar rintihan hamba lemah teraniaya
Yang menyambut si pendosa apabila kembali dengan taubatnya
Yang mengijabah hamba dalam bahaya dan melenyapkan prahara
Ya ALLAH, begitu pekat gelap keangkuhan, kerakusan dan dosa
Begitu dahsyat badai kedzaliman dan kebencian menenggelamkan dunia
Pengap kehidupan ini oleh kesombongan si durhaka yang membuat-Mu murka
Sementara kami lemah dan hina, berdosa dan tak berdaya
Ya ALLAH, jangan kiranya Engkau cegahkan kami dari kebaikan yang ada pada-Mu karena kejahatan pada diri kami
Ya ALLAH, ampunan-Mu lebih luas dari dosa-dosa kami
Dan rahmah kasih sayang-Mu lebih kami harapkan daripada amal usaha kami sendiri
Ya ALLAH, jadikan kami kebanggaan hamba dan nabi-Mu Muhammad SAW di padang mahsyar nanti
Saat para rakyat kecewa dengan para pemimpin penipu yang memimpin dengan kejahilan dan hawa nafsu
Saat para pemimpin cuci tangan dan berlari dari tanggung jawab
Berikan kami pemimpin berhati lembut bagai Nabi yang menangis dalam sujud malamnya tak henti menyebut kami, ummati ummati, ummatku ummatku
Pemimpin bagai para khalifah yang rela mengorbankan semua kekayaan demi perjuangan
Yang rela berlapar-lapar agar rakyatnya sejahtera
Yang lebih takut bahaya maksiat daripada lenyapnya pangkat dan kekayaan
Ya ALLAH, dengan kasih sayang-Mu Engkau kirimkan kepada kami da’i penyeru iman
Kepada nenek moyang kami penyembah berhala
Dari jauh mereka datang karena cinta mereka kepada da’wah
Berikan kami kesempatan dan kekuatan, keikhlasan dan kesabaran
Untuk menyambung risalah suci dan mulia ini
Kepada generasi berikut kami
Jangan jadikan kami pengkhianat yang memutuskan mata rantai kesinambungan ini
Dengan sikap malas dan enggan berda’wah
Karena takut rugi dunia dan dibenci bangsa.
Oh... Ikhwan
apa bedanya dengan si Marwan
si Ali, Paijo, atau si Iwan
Oh ternyata cuma sebutan
Oh... Ikhwan
walaupun tidak rupawan
alias modal tampang pas-pasan
tetep aja tebar senyuman
alias modal tampang pas-pasan
tetep aja tebar senyuman
Oh... Ikhwan
gayanya sih bisa ketebak dan keliatan
jenggot melambai, baju koko, dan sendal jepit usang
Sesekali komat-kamit sambil jalan
ngomonginnya masalah aksi dan kepartaian
juga khataman and hapalan
Kata orang, "nggak ada bahasan yang lain, Wan?"
Lucunya kalo akhwat sedang berpapasan
langsung minggir, acuh tak acuh, kayak musuhan
("Gubrak...!!!", apaan tuh wan?)
Eh... dia jatuh, kagak ngeliat ada selokan

gayanya sih bisa ketebak dan keliatan
jenggot melambai, baju koko, dan sendal jepit usang
Sesekali komat-kamit sambil jalan
Oh... Ikhwan
nyarinya susah-susah gampang
kadang di masjid, kampus or sekolahan
Nggak taunya buat biaya walimahan
Oh... Ikhwannyarinya susah-susah gampang
kadang di masjid, kampus or sekolahan
Nggak taunya buat biaya walimahan
ngomonginnya masalah aksi dan kepartaian
juga khataman and hapalan
Kata orang, "nggak ada bahasan yang lain, Wan?"
Oh... Ikhwan
anehnya kalo lagi jalan
ngukurin tanah apa ngitung lantai sih, wan?
Oh... ternyata dia jaga pandangan!!!
Ikhwan... Ikhwananehnya kalo lagi jalan
ngukurin tanah apa ngitung lantai sih, wan?
Oh... ternyata dia jaga pandangan!!!
Lucunya kalo akhwat sedang berpapasan
langsung minggir, acuh tak acuh, kayak musuhan
("Gubrak...!!!", apaan tuh wan?)
Eh... dia jatuh, kagak ngeliat ada selokan
Oh... Ikhwan
apa semuanya begitu, wan?
Ada nggak yang masih tebar pesona dan jelalatan?
Berarti itu bukan ikhwan (kan cuma sebutan?!!!)
Nah para akhwat, hati-hati mungkin dia nyari pasangan
apa semuanya begitu, wan?
Ada nggak yang masih tebar pesona dan jelalatan?
Berarti itu bukan ikhwan (kan cuma sebutan?!!!)
Nah para akhwat, hati-hati mungkin dia nyari pasangan

Pekerjaan-pekerjaan besar dalam sejarah hanya dapat diselesaikan oleh mereka yang mempunyai naluri kepahlawanan. Tantangan-tantangan besar dalam sejarah hanya dapat dijawab oleh mereka yang mempunyai naluri kepahlawanan. Itulah sebabnya kita menyebut para pahlawan itu orang-orang besar.
Itu pula sebabnya mengapa kita dengan sukarela menyimpan dan memelihara rasa kagum kepada para pahlawan. Manusia berhutang budi kepada para pahlawan mereka. Dan kekaguman itu adalah sebagian dari cara mereka membalas utang budi.
Mungkin karena itu pula para pahlawan selalu muncul di saat-saat yang sulit, atau sengaja dilahirkan di tengah situasi yang sulit. Mereka datang untuk membawa beban yang tak dipikul oleh manusia-manusia di zamannya. Mereka bukan kiriman gratis dari langit. Tapi sejarah kepahlawanan mulai dicatat ketika naluri kepahlawanan mereka merespon tantangan-tantangan kehidupan yang berat. Ada tantangan dan ada jawaban. Dan hasil dari respon itu adalah lahirnya pekerjaan-pekerjaan besar.
Tantangan adalah stimulan kehidupan yang disediakan Allah untuk me¬rangsang munculnya naluri kepahlawanan dalam diri manusia. Orang-orang yang tidak mempunyai naluri ini akan melihat tantangan sebagai beban berat, maka mereka menghindarinya dan denga sukarela menerima posisi kehidupan yang tidak terhormat. Tapi orang-orang yang mempunyai naluri kepahlawanan akan mengatakan tantangan-tantangan kehidupan itu: Ini untukku! Atau seperti ungkapan orang-orang shadiq dalam perang Khandaq yang diceritakan AI Qur'an: Ketika orang-orang beriman itu melihat musuh-musuh (yang saling bersekutu menghdapi orang-orang beriman), mereka mengatakan: Inilah yang (dulu) dijanjikan Allah dan Rasul-Nya, dan Allah dan Rasul-Nya telah jujur (dalam janjinya), dan itu tiada menambah mereka kecuali keimanan dan kepasrahan. (QS. AI-Ahzab: 22).
Naluri kepahlawanan lahir dari rasa kagum yang dalam kepada kepahlawanan itu sendiri. Dan itu akan menggoda ‘sang pengagum pahlawan’ untuk melihat dirinya sembari bertanya: Apa engkau dapat melakukan hal yang sama? Apabila ia merasa memiliki kesiapan-kesiapan dasar, maka ia akan menemukan do¬rongan yang kuat untuk mengeksplorasi segenap potensinya untuk tumbuh dan berkembang. Jadi, naluri kepahlawanan adalah kekuatan yang mendorong munculnya potensi-potensi tersembunyi dalam diri seseorang, kekuatan yang berada di balik pertumbuhan ajaib kepribadian seseorang.
Dalam serial jenius-jenius Islam, Abbas Mahmud AI-Aqqad menemukan kunci kepribadian Abu Bakar AI-Shiddiq dalam kata kekaguman kepada kepahlawanan. Kunci kepribadian, kata AI-Aqqad, adalah perangkat lunak yang dapat menyingkap semua tabir kepribadian seseorang. la berfungsi seperti kunci yang dapat membuka pintu dan mengantar kita memasuki semua ruang dalam rumah itu. Dan kita hanya dapat memahami pekerjaan-pekerjaan besar yang telah diselesaikan Abu Bakar dalam kunci rahasia ini. Apakah Anda juga memiliki kunci rahasia itu?
Saya tidak tahu.
Itu pula sebabnya mengapa kita dengan sukarela menyimpan dan memelihara rasa kagum kepada para pahlawan. Manusia berhutang budi kepada para pahlawan mereka. Dan kekaguman itu adalah sebagian dari cara mereka membalas utang budi.
Mungkin karena itu pula para pahlawan selalu muncul di saat-saat yang sulit, atau sengaja dilahirkan di tengah situasi yang sulit. Mereka datang untuk membawa beban yang tak dipikul oleh manusia-manusia di zamannya. Mereka bukan kiriman gratis dari langit. Tapi sejarah kepahlawanan mulai dicatat ketika naluri kepahlawanan mereka merespon tantangan-tantangan kehidupan yang berat. Ada tantangan dan ada jawaban. Dan hasil dari respon itu adalah lahirnya pekerjaan-pekerjaan besar.
Tantangan adalah stimulan kehidupan yang disediakan Allah untuk me¬rangsang munculnya naluri kepahlawanan dalam diri manusia. Orang-orang yang tidak mempunyai naluri ini akan melihat tantangan sebagai beban berat, maka mereka menghindarinya dan denga sukarela menerima posisi kehidupan yang tidak terhormat. Tapi orang-orang yang mempunyai naluri kepahlawanan akan mengatakan tantangan-tantangan kehidupan itu: Ini untukku! Atau seperti ungkapan orang-orang shadiq dalam perang Khandaq yang diceritakan AI Qur'an: Ketika orang-orang beriman itu melihat musuh-musuh (yang saling bersekutu menghdapi orang-orang beriman), mereka mengatakan: Inilah yang (dulu) dijanjikan Allah dan Rasul-Nya, dan Allah dan Rasul-Nya telah jujur (dalam janjinya), dan itu tiada menambah mereka kecuali keimanan dan kepasrahan. (QS. AI-Ahzab: 22).
Naluri kepahlawanan lahir dari rasa kagum yang dalam kepada kepahlawanan itu sendiri. Dan itu akan menggoda ‘sang pengagum pahlawan’ untuk melihat dirinya sembari bertanya: Apa engkau dapat melakukan hal yang sama? Apabila ia merasa memiliki kesiapan-kesiapan dasar, maka ia akan menemukan do¬rongan yang kuat untuk mengeksplorasi segenap potensinya untuk tumbuh dan berkembang. Jadi, naluri kepahlawanan adalah kekuatan yang mendorong munculnya potensi-potensi tersembunyi dalam diri seseorang, kekuatan yang berada di balik pertumbuhan ajaib kepribadian seseorang.
Dalam serial jenius-jenius Islam, Abbas Mahmud AI-Aqqad menemukan kunci kepribadian Abu Bakar AI-Shiddiq dalam kata kekaguman kepada kepahlawanan. Kunci kepribadian, kata AI-Aqqad, adalah perangkat lunak yang dapat menyingkap semua tabir kepribadian seseorang. la berfungsi seperti kunci yang dapat membuka pintu dan mengantar kita memasuki semua ruang dalam rumah itu. Dan kita hanya dapat memahami pekerjaan-pekerjaan besar yang telah diselesaikan Abu Bakar dalam kunci rahasia ini. Apakah Anda juga memiliki kunci rahasia itu?
Saya tidak tahu.