• Posts
  • Comments
  • Email
  • Twitter
  • Facebook
  • Mobile

  • Home
  • TentangKu TentangKu | FacebookKu | TwitterKu | KontakKu
  • Tukeran Tukeran Banner/Link | Banner Sobat | Link Sobat
  • Serial Anis Matta Serial Kepahlawanan | Serial Cinta | Serial Pembelajaran
  • Download E Book | Murottal | Ceramah | Nasyid Harokah | Foto Kekejian Israel
  • Daftar Isi
Anda di : Home »

Tampilkan postingan dengan label Kolom Sang Murabbi. Tampilkan semua postingan

Ada murid dapat belajar hanya dari guru yang ber-SK, disuapi ilmu dan didikte habis-habisan. Ada yang cukup belajar dari katak yang melompat atau angin yang berhembus pelan lalu berubah menjadi badai yang memporak-porandakan kota dan desa. Ada yang belajar dari apel yang jatuh di samping bulan yang menggantung di langit tanpa tangkai itu. Ada guru yang banyak berkata tanpa berbuat. Ada yang lebih pandai berbuat daripada berkata. Ada yang memadukan kata dan perbuatan. Yang istimewa di antara mereka, bila ”melihatnya engkau langsung ingat Allah, ucapannya akan menambah amalmu dan amalnya membuatmu semakin cinta akhirat (khiyarukum man dzakkarum billahi ru’yatuh wa zada fi’amalikum mantiquh wa ragghabakum fil akhirati ’amaluh)”

Yang tak dapat belajar dari guru alam dan dinamika lingkungannya, sangat berpotensi belajar dari guru manusia. Yang tak dapat mengambil ibrah dari pelajaran orang lain, harus mengambilnya dari pengalaman sendiri, dan untuk itu ia harus membayar mahal. Bani Israil bergurukan Nabi Musa As, salah satu Ulul Azmi para rasul dengan azam berdosis tinggi. Bahkan leluhur mereka nabi-nabi yang dikirim silih berganti. Apa yang kurang? Ibarat meniup tungku, bila masih ada api di bara, kayu bakar itu akan tetap menyala, tetapi apa yang kau hasilkan dari tumpukan abu dapur tanpa setitik api, selain kotoran yang memenuhi wajahmu?


Rachmat Naimulloh

“Jadilah kalian orang-orang yang …
atsbatuhum mauqiifan .. yang paling kokoh atau tsabat sikapnya
arhabuhum shadran .. yang paling lapang dadanya
a’maquhum fikran .. yang paling dalam pemikirannya
ausa’uhum nazharan .. yang paling luas cara pandangnya
ansyatuhum ‘amalan .. yang paling rajin amal-amalnya
aslabuhum tanzhiman .. yang paling solid penataan organisasinya
aktsaruhum naf’an .. yang paling banyak manfaatnya"

1. Atsbatuhum mauqiifan (tsabat sikapnya)
Tsabat adalah nafas rijalul haq sepanjang zaman. Ia adalah nafas Al Khalil Ibrahim as yang selalu sehat berenergi bahkan ketika menghadapi gunungan kayu yang akan melahapnya, Bilal yang tegar ditindih batu, Sumayyah martir syahidah muslimah, dan sahabat yang lain.

”Orang-orang yang tsabat harus bersabar atas anggapan bahwa perjuangan mereka dibayar, cita-cita mereka disetir, dan tujuan mereka dunia, sehingga semua tak ada yang tabu. Sogok, suap, kolusi, penyalahgunaan kekuasaan, fitnah, pemutarbalikan fitnah mereka halalkan, tak peduli bendera apapun yang mereka kibarkan : demokrasi, kekyaian ataupun HAM. .. Maka diperlukan ketsabatan untuk sampai pada saatnya masyarakat memahami kiprah da’i yang sesungguhnya, jauh dari prasangka mereka yang selama ini terbangun oleh kerusakan perilaku da’wah oleh sebagian kalangan.” (Untukmu Kader Dakwah, Rahmat Abdullah)

Tsabat artinya memiliki kekokohan sikap dan keteguhan prinsip, amanah, dan profesional dalam segala hal. Tidak menggadaikan prinsip dengan materi, tidak menukar keyakinan dengan jabatan. Bekerjalah dan berkaryalah dengan keyakinan sikap dan prinsip untuk membuktikan janji, meneguhkan komitmen untuk meraih taqwa.

Yakinlah dengan jaminan Allah, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”” (QS Fushshilat 41:30)


2. Arhabuhum shadran (lapang dadanya)
Sikap paling menonjol dari Nabi saw adalah lapang dada, selalu ridha, optimis, berpikir positif, tidak mempersulit diri dan orang lain, memudahkan, menggembirakan, menebar kebaikan dan senyuman. Teladanilah Rasulullah, untuk mendidik diri agar lebih rahmat, penuh kelembutan dan berlimpah kasih sayang terhadap siapa saja. Itulah keshalihan sosial yang kekuatannya luar biasa.

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka..” (QS Al Imran 3:159)
3. A’maquhum fikran (dalam pemikirannya)


4. Ausa’uhum nazharan (luas cara pandangnya)
Point ke tiga dan ke empat ini digabungkan dalam satu frase: spesialis dan berwawasan global. Dengan spesialisasi, diharapkan fokus pada keahlian atau keterampilan tertentu, sehingga memiliki daya saing yang tinggi. Dan dengan berwawasan global, diharapkan tidak berpikiran sempit dan ‘terkotak-kotak’ pada bidang tertentu, sehingga melupakan kepaduan pemahaman terhadap ilmu dan pengembangan dunia kontemporer. Hal ini dicontohkan oleh pribadi para ilmuwan Islam masa lalu, seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al Biruni, dan lain-lain. Mereka adalah spesialis pada bidang-bidang tertentu, tetapi memiliki wawasan global terhadap perkembangan dunia di masanya.

”Belajarlah menggabungkan antara pengetahuan yang komprehensif, bersifat lintas disiplin dan generalis dengan penguasaan yang tuntas terhadap satu bidang ilmu sebagai spesialisasinya. Dengan begitu, sebagai seorang dai, Anda senantiasa berbicara dengan isi yang luas dan dalam, integral dan tajam, berbobot dan terasa penuh.” (Menikmati Demokrasi, Anis Matta)

5. Ansyatuhum ‘amalan (rajin amal-amalnya)
“Sesungguhnya amal yang dicintai Allah adakah yang berkelanjutan, meski itu sedikit.”

Adalah bukan perkara mudah untuk istiqomah dalam amal ibadah, tapi mungkin dan bisa, asalkan kita membiasakan. At first we make habbit, at last habbit make you. Keseriusan, ketekunan dan kerja keras itulah yang mengantarkan seseorang pada derajat mulia, seperti ketekunan Bilal bin Rabbah yang menjaga dengan istiqomah kondisi suci dengan wudhu dan sholat 2 rakaat setelahnya yang berbuah surga.


6. Aslabuhum tanzhiman (solid penataan organisasinya)
“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS Ash Shaff 61:4)

”Kita hidup dalam sebuah zaman yang oleh ahli-ahlinya dicirikan sebagai masyarakat jaringan, masyarakat organisasi. Semua aktivitas manusia dilakukan di dalam dan melalui organisasi; pemerintahan, politik, militer, bisnis, kegiatan sosial kemanusiaan, rumah tangga, hiburan, dan lain-lain. Itu merupakan kata kunci yang menjelaskan, mengapa masyarakat modern menjadi sangat efektif, efisien, dan produktif.

Masyarakat modern bekerja dengan kesadaran bahwa keterbatasan-keterbatasan yang ada pada setiap individu sesungguhnya dapat dihilangkan dengan mengisi keterbatasan mereka itu dengan kekuatan-kekuatan yang ada pada individu-individu yang lain.” (Dari Gerakan ke Negara, Anis Matta)

Bagaimanapun, kata Imam Ali bin Abi Thalib r.a “Kebenaran yang tak terorganisir akan terkalahkan oleh kebatilan yang terorganisir”. Musuh-musuh kita mengelola dan mengorganisasi pekerjaan-pekerjaan mereka dengan rapi, sementara kita bekerja sendiri-sendiri, tanpa organisasi, dan kalau ada, biasanya tanpa manajemen. Seorang penumpang bis kalah ’sukses’ dengan ‘jamaah’ penjambret.

Copet-copet bisa ’sukses’ karena organisasinya solid, jibakunya luar biasa. Jaringan narkoba ’sukses’ karena ketaatan dan kedisiplinan menjaga ’amanah’ jaringan mereka. Maka bila mereka bisa bersatu dalam dosa dan kejahatan, apatah lagi yang berjuang di jalan Allah, harus lebih rapi dan solid lagi dalam penaatan organisasi.


7. Aktsaruhum naf’an (banyak manfaatnya)
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”(HR. Tirmidzi)

Raihlah bahagia dengan berkiprah, ringan membantu sesama dan senang membahagiakan orang. Jadilah pribadi andal layaknya bibit yang baik. Bibit yang baik, kata Imam Syahid Hasan Al-Banna dalam “Mudzakirat Da’wah wa Ad Da’iyah”, di manapun ia ditanam akan menumbuhkan pohon yang baik pula. Itulah sebaik-baik manusia, shalih linafsihi hingga naafi’un lighairihi.

”Perumpamaan mukmin itu seperti lebah. Ia hinggap di tempat yang baik dan memakan yang baik, tetapi tidak merusak.” (HR. Thabrani)

“Perumpamaan seorang mukmin adalah seperti sebatang pohon kurma. Apapun yang kamu ambil darinya akan memberikan manfaat kepadamu.” (HR. Ath-Thabrani)

Milikilah Allah dengan selalu dekat dengan-Nya. Milikilah Rasulullah dengan mantaati dan meneladaninya. Milikilah syafaat Al Qur’an dengan membaca(tilawah), merenungkan(tadabbur), menghafalkan(tahfidz), mengamalkan dan mendakwahkannya. Miliki dengan memberi.

Wallahu ‘alam bish showab.

Rachmat Naimulloh

Tak ada perjuangan seberat hijrah dan tak ada pengorbanan setulus hijrah. Siapa pun punya hak untuk mengajukan bukti, ada hijrah lain yang menandingi kesakralan hijrah atas nama Tuhan, asal jangan benturkan dia dengan jihad, karena keduanya memang tak bias dipertentangkan. Yang satu lahir dari kandungan yang lain. Jihad yang lahir dari jiwa hijrah masih memberi ‘ruang’ bagi pembalasan, pelampiasan dan kemurkaan karena Allah—sementara hijrah telah ‘membiarkan’ orang-orang terhormat meninggalkan tanah air dan kecintaan mereka serta bersabar atas cibiran khalayak. Mereka lepaskan kecintaan kepada tanah air, pergi jauh dalam keterasingan. Tak dapat dinafikan nilai ‘hijrah’ orang-orang Irlandia, Spanyol dan Eropa lainnya mendatangi benua baru, Amerika. Seperti juga yang mereka lakukan ke Australia. Tetapi siapa mau dibohongi tentang punahnya bangsa Indian, Maori dan Aborigin. Penderitaan mereka masih panjang dan masa depan mereka masih remang-remang.


Batu Ujian

Tidak usah menginterogasi orang Madinah atau keturunan mereka, apakah mereka menyesal telah membela, melayani dan mencintai saudara-saudara Muhajirin mereka. Berbinar wajah mereka menyambut peziarah ke Madinah yang bercahaya itu. Benarlah pesan Rasul SAW: ”Di setiap rumah Anshar ada kebaikan.” Jadi tidak ada yang mengherankan bila perang Fathu Makkah itu tanpa insiden mabuk kemenangan atau tumpahan dendam. Derita hijrah adalah konsekuensi iman. Semua pedih sudah terbayar dengan keramahan, kecintaan dan pembelaan saudara-saudara Anshar serta cinta Rasul yang teramat dalam.

Wahai ahli Thaibah, beruntung sangat Anda

Dapatkan dia yang saruwa alam tak berdaya, mendekat dan menghidmatinya.

Namun tentu saja luapan cinta ini tidak menafikan hak untuk beruntung dan berbahagia menjadi pengikutnya: Yang luput dari melihat Almukhtar, Rasul pilihan silakan melihat Sunnah yang besar dan Alquran yang ia wariskan.

Silakan Tanya apakah orang-orang Anshar akan mengajukan resolusi ke PBB atas hilangnya ‘hak kepemimpinan’ Abdullah bin Ubay bin Sahul yang asli Arab Madinah, kandidat pemimpin tertinggi Yatsrib dengan penampilan dan tutur kata yang menjadikannya pantas memimpin. Sayang jiwa ringkihnya meleleh dalam gesekan yang tak disadarinya dan hasad kepada sang Nabi akhir zaman.

Atau Huyai bin Al-ahthab, Ka’b bin Al-asyraf dan Lubaid Al-asham sang penyihir, tokoh-tokoh Yahudi yang akhirnya kehilangan peluang emas lantaran tidak cerdas seperti saudara mereka Abdullah bin Salam yang menerima Risalah Cahaya ini dengan hati yang bahagia.


“Wahjurhum Hajran Jamila”

Bila seorang muslim membaca Al-Quran, Allah memasang tabir (hijaban mastura), atau yang membatasi antara mereka dengan orang-orang kafir. Inilah penghijrahan ruhani yang menjadikan muslim punya base camp dan batas demarkasi dimana pun mereka berada. Bahkan upaya intensif kaum kuffar untuk memalingkan masyarakat dari Alquran, dengan ucapan mereka: ”Janganlah kalian dengarkan Alqur’an ini dan permainkan (sibukkan orang-orang dengan permainan agar melupakan) dia,” (QS.Fushilat:26), dibalas Allah dengan perintah: ”Sabarlah atas ucapan mereka dan menyingkirlah dari mereka dengan baik.” (QS.Al-Muzzammil 73:10). Alangkah jauhnya perbedaan ini. Mereka menghambat laju penyebaran Al-Qur’an dan Ia menghijrahkan ruhani kaum beriman agar dapat menikmati kelezatan hidup di bawah naungan Al-Quran (QS.17;45). Hijrah bukan melarikan diri, ia adalah langkah cerdas agar kebenaran tidak menjadi mangsa.


“Inni Muhajirun Ila Rabbi” (Aku Berangkat Menuju Dia)

Kebodohan terhadap sunnatullah menyebabkan kaum Yahudi dan segelintir elite Madinah semacam Ibnu Salul menjadi begitu meradang saat kotanya dibanjiri Muhajirin. Betapa tidak cerdasnya mereka memahami gejala alam. Mereka lupa moyang mereka yang berevakuasi ke Madinah tahun 70 M, saat negeri mereka diserang dan akhirnya memimpin di Madinah? Hijrah bukan hanya perpindahan dari wilayah ancaman ke wilayah aman. Ia adalah seleksi ‘alami’ yang akan membuktikan kekuatan seorang atau sekelompok hamba Allah untuk menjadi pemimpin. Siapa yang diam, dia takkan menjadi besar. Siapa yang menghalangi gerak, mereka akan terlindas. “Alharakah, fiha barakah” (dalam gerak ada berkah). Para muhajir telah memulainya dengan benar, suatu perpindahan yang beranjak dari kesadaran dan bukan dari kemarahan.

Sadar bahwa iman itu punya nilai tinggi yang hanya dapat dibuktikan dengan pengorbanan. Jiwa dan semangat hijrah dengan dinamika, tantangan dan kepedihannya yang beragam mempunyai satu mata air dari telaga yang sama, ”Inni Muhajirun Ila Rabbi” (Aku Berangkat menuju Dia). Bukan kebetulan bila susunan bulan dalam perhitungan tahun Hijrah, diakhiri dengan bulan Haji dan dimulai dengan bulan Muharram, sebagai pembuka tarikh hijri.

Haji yang bagi sebagian kita berarti tamatnya Islam, justru menjadi puncak bagi pendakian berikutnya. Sejak Alkhalil Ibarahim ‘alaihissalam berangkat meninggalkan Harram ke Palestina sampai berangkat lagi ‘menghijrahkan’ isteri dan putera sulungnya Ismail sampai hijrah Alkalim Musa AS ke Madyan dan puncaknya hijrah Sang Penutup, Muhammad SAW, menjadi munthalaq (milestone) keagungan syariah yang abadi ini. Inilah mozaik kejujuran, keikhlasan, kesabaran, pengorbanan, harapan dan kekuatan.

Ketika baru saja merasakan kebahagiaan mendapatkan putera pertama Ismail, ia diperintahkan untuk menghijrahkan sang bayi dan ibunya, jauh ke selatan. Ia hanya punya kata ‘Siap:labbaik!’. Namun ia juga seorang Ayah dan seorang suami. Ia tak mampu menjawab pertanyaan isterinya yang terkejut ditinggalkan di lembah sunyi itu, tanpa makanan tanpa minuman kecuali untuk hari itu di lembah yang belum ada apa-apa dan belum ada siapa-siapa “Mengapa engkau tinggalkan kami disini?” Tak ada jawaban. Pertanyaan berulang. Tak ada jawaban. Jawaban “Na’am” (ya), baru keluar setelah sang isteri yang sangat bertauhid ini mengajukan pertanyaan cerdas:”Apakah Allah yang menyuruhmu meninggalkan kami disini?” Jawaban itu juga yang memantapkan isterinya:”Jadi (kalau itu kehendak Allah), maka tentu Ia takkan menyia-nyiakan kami.”(HR.Bukhari: Kitabul Anbiya).


Pewarisan

Hijrah ialah keutuhan harga diri. Sekeping tanah jauh di rantau, bersama kemerdekaan, lebih berharga daripada tinggal di negeri sendiri dengan kehinaan, tak dapat mengekspresikan iman. Kecuali bila jihad telah menjadi bahasa tunggal. Inilah terjemahan hakiki sifat Islam yang ‘alamiyah (semestawi) tak tersekat oleh batas-batas sempit kesukuan dan kebangsaan, kecuali perjuangan kebangsaan bertujuan meyelamatkan dzawil qurba. Sedikit orang dapat memahami mengapa idealism Hijrah itu menjurus-jurus ‘nekad dan naif’.

Siapa yang hina, mudah berbuat hina.

Bagi si mati tak ada rasa sakit dalam luka.

Ummat ini tak menjadi kecil atau hina karena tak punya pewarisan material dari sejarah mereka, karena nilai-nilai mulia yang mereka miliki bukan hanya telah menjadi milik dunia, tetapi telah menghidupkan, menyambung dan membangun peradaban.

(Dikutip dari Buku Warisan Sang Murabbi, Pilar-pilar Asasi Hal. 122-127)

Rachmat Naimulloh

TIDUR NELENTANG BISA MATI

Suatu malam, di sebuah villa di kawasan punca, para peserta dauroh (training) terlihat letih bersama Ustadz Rahmat Abdullah, berniat merebahkan tubuh mereka untuk beristirahat. Sang ustadz yang melihat mereka berbaring di atas lantai tak lupa berpesan, ”hei, kalian jangan tidur nelentang, ya. Kalian bisa mati nanti.”

Mendengar perkataan yang sepertinya serius itu, mereka buru-buru memperbaiki posisi tidur. Tapi nasehat ini terasa aneh, sehingga membuat mereka terdiam dan berfikir.

Salah seorang peserta memberanikan diri bertanya, ”lho, kok begitu, Ustadz?’

Sang ustadz yang ditanya diam tak berkomentar. Sementara yang lain sibuk memikirkan apa yang dimaksud ustadz sebenarnya. Tak lama kemudian, mereka semua tergelak tertawa, sebab ternyata yang dimaksud nelentang oleh sang ustadz bukanlah posisi terlentang seperti yang mereka sangka. Tetapi yang dimaksud adalah nelen tang.

Nelen biskuit sambil tiduran aja bisa keselek, apalagi nelen tang!




LAGU-LAGU TENTARA

Dalam suatu kegiatan i’tikaf di sebuah masjid, Ustadz Rahmat Abdullah mendapat kesempatan memberi ceramah subuh untuk para peserta. Namun, karena mereka sepanjang malam mengikuti qiyamul lail, sebagian peserta terlihat tak kuasa menahan kantuk.

Melihat kondisi itu, Ustadz Rahmat tidak kehabisan akal. Dalam ceramahnya ia sispkan humor yang menyindir kehidupan tentara. ”Yang namanya tentara itu di masing-masing pangkat punya lagu heroik sendiri-sendiri. Kalau masih bepangkat prajurit, lagunya:’Maju tak gentar, membela yang benar...,’” katanya sambil menyanyikan lagu itu dengan lantang. ”Tapi, kalo sudah jadi sersan lagunya:’Padamu negeri kami berjanji...,’” katanya meneruskan ceritanya. ”Nah, kalo sudah perwira lagunya lebih gembira:’Disini senang, disana senang, dimana-man hatiku senang.”

Jama’ah tertawa. Kantuk pun hilang.



KAMAA AMAR

Siang itu, di kawasan puncak, Ustadz Rahmat Abdullah dengan para pengurus Yayasan Iqro sedang istirahat dari acara rapat tahunan yayasan. Sambil duduk lesehan menghadapi hidangan makan siang, salah seorang meminta sang ustadz bercerita untuk menghibur mereka. Maklum, meskipun ustadz yang satu ini sering kelihatan serius, tapi ia punya segudang cerita yang bisa membuat tergelak orang yang mendengarnya.

Salah satu ceritanya yang membuat semua orang tertawa siang itu adalah, ”suatu Jum’at, naiklah seorang khatib menyampaikan khutbah. Di awal khutbah kedua, sang khatib membaca kalimat pembuka yang ada lafadz ‘kamaa amar’. Kebetulan waktu itu, salah seorang jama’ah ada orang Padang tulen bernama Amar. Mendengar khatib mengucapkan kalimat itu, jama’ah itu tiba-tiba berdiri dan berkata,”Ambo di siko, Pak Ustadz!”

Ternyata Amar berdiri karena menyangka dirinya sedang dicari pak khotib. Maklum, kamaa amar dalam bahasa Padang artinya ’kemana si Amar?’



KAKIKU KAU INJAK BUNG

”Dulu ada kesan orang Sumatera khususnya Sumatera Utara, terutama setelah kasus, PRRI, bahwa orang Jawa identik dengan tentara. Sehingga mereka sangat enggan dan sungkan bila bertemu orang Jawa,” cerita Ustadz suatu hari.

”Suatu hari, seorang laki-laki Batak terinjak kakinya oleh orang yang tampangnya kejawaan. Ia menatap wajah lelaki yang menginjaknya sambil bertanya,”Mas dari Jawa, ya?” dengan aksen Bataknya yang kental.

”Ya, saya dari Jawa.”

”Mas dari Jawa, ya?”

Dijawab kembali, ”ya.”

Merasa kaki orang itu tidak digeser, lelaki itu bertanya lagi,”Mas dari Jawa, ya?”

Dijawab sama, ”ya.”

Tiga kali ditanya dengan pertanyaan itu-itu saja, orang Jawa itu merasa heran. Ia pun bertanya, ”memangnya ada apa, Pak?”

Lelaki Batak itu balik bertanya, ”Mas tentara, ya?”

”Bukan, memangnya ada apa?”

“Kakiku kau injak, Bung!” sergahnya lebih berani.



GELAR M.M.

Ustadz Rahmat selalu memanggil istrinya, sumarni, dengan panggilan kesayangan, Nai. Suatu hari ia berujar, ”Nai, sebaiknya kamu kuliah lagi, supaya dapat gelar M.M.” Istrinya bertanya, ”M.M. papa,Bi?” Ustadz menjawab ringan, ”Marni Manyun.” Istrinya, yang awal menduga sang suami serius, akhirnya tak mampu menahan tawa.

Rachmat Naimulloh

Keikhlasan yang “naïf” Nabi Ibrahim yang rela ― demi melaksanakan perintah Allah ― meninggalkan istri dan bayinya di lembah yang tak bertanaman di dekat rumah Allah yang dihormati (Q.S Ibrahim : 37) menghasilkan bukan hanya urunan nasab yang konsisten, tetapi juga turunan fikrah yang militan.

Ummu Sulaim ibu Anas bin Malik yang begitu stabil emosinya dan begitu mendalam keikhlasannya menerima kematian bayinya, mendapat 100 anak dan cucu, semuanya telah hafal Al-Qur’an dalam usia sangat dini. Itu hasil hubungan yang penuh berkah ― ditingkahi do’a berkah Rasulullah saw. di malam yang sangat beralasan baginya untuk “meratapi” bayinya yang tiada. Demikian pula pengkhianatan istri Nabi Luth dan Nabi Nuh ― yang karenanya Allah menyebutnyadengan imra-ah (perempuan) bukan zaujah (istrinya) ― melahirkan generasi yang sangat berbeda.

Yang satu generasi sangat rabbani seperti Nabi Ismail as., yang cermin kepribadiannya membersit dalam ungkapan pekat nilai-nilai tauhid: “Ayahanda, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, akan kau temukan daku insyaAllah termasuk orang-orang yang sabar.” (Q.S 37 : 102)

Di seberang lain dengan pongahnya Yam bin Nuh berkata, saat ayahnya mengajak naik bahtera penyelamat, ”Aku akan berlindung ke gunung yang akan menyelamatkanku dari air bah.” (Q.S 11 : 43)

Di zaman ketika setiap serigala dengan mudah menyerbu masuk ke rumah-rumah yang tak lagi berpagar dan berpintu, siapa yang merasa aman dan mampu melindungi anak-anak fitrah dari terkamannya? Siapa yang tabah melindungi gelas bening dan kertas putih suci itu dari ancaman yang setiap waktu dapat memecah-hancurkan dan mencemari mereka? Siapa yang tak tergetar hatinya melihat cermin bening yang semestinya ia perhatikan betul raut wajahnya disana, seraya merintihkan desakan suara hatinya dalam sujud panjang di keheningan malam:

“Dan Kami telah berpesan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya mengandungnya dengan susah dan melahirkannya dengan susah. (Masa) hamil dan menyapihnya tiga puluh bulan. Sehingga ketika ia mencapai masa kuatnya dan mencapai usia empat puluh tahun ia berkata ; Ya Rabbi, ajarkan daku agar dapat mensyukuri nikmat yang Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dane beramal shalih yang Engkau ridhai serta perbaikilah untukku dalam keturunanku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu, dan aku termasuk kaum yang menyerahkan diri.”

Rachmat Naimulloh

Saat ini ada beberapa keluarga sederhana, dibimbing oleh “intuisi” kebapakan dan keibuan, mendapat berkah dalam mendidik anak-anak mereka. Anak SMU-nya lulus dengan baik, plus hafal 1000 Alfiah Ibnu Malik, rujukan utama gramatika Arab (Nahwu). Lumayan mengagumkan, jebolan SMU menjadi rujukan sesame mahasiswa di sebuah Universitas terkemuka di Negara Arab. Tahun-tahun berikutnya sang adik menyusul dengan hak beasiswa ke sebuah universitas unggulan di Eropa. Lainnya bisa melakoni dua kuliah yang “pelik”: bahasa Arab di sebuah kolese paling representatif sementara siangnya mengambil jurusan Ekonomi. Kemenakannya hafal Al-Qur’an 30 Juz menjelang akhir semester delapan di institute teknologi paling bergengsi di negeri ini. Kemenakan lainnya lulus akademi militer angkatan darat tanpa kehilangan kesantriannya yang pekat.

Sang bapak jauh dari penguasaan teori ilmu-ilmu pendidikan. Ketika digali hal yang spesial dari kelakuannya, muncul jawaban yang signifikan: kecintaan keluarga tersebut kepada ulama (dalam arti yang sesungguhnya) dan keberaniannya amar ma’ruf nahi mungkar tanpa harus selalu mengandalkan mimbar tabligh. Mengesankan sekali ucapan Ali Zaenal Abidin, cucu Ali bin Abi Thalib, “Barangsiapa meninggalkan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar; maka anak, istri, dan pembantunya pun akan membangkang kepadanya.”

Ternyata memang, keikhlasan seorang atau keluarga kerap menembus sampai beberapa generasi sesudahnya. Boleh jadi seseorang merasa telah menjadi bagian dari da’wah yang besar dan berkah, tetapi bukan sikap da’i yang dirawatnya. Alih-alih dari membimbing masyarakat dengan fiqh dan akhlak da’iyah, justru sebaliknya, hanya ghibah dan pelecehan yang digencarkannya terhadap masyarakat. Padahal, besar kemungkinan mereka tidak tersentuh da’wah atau tidak mendapatkan komunikasi yang memadai.

Rachmat Naimulloh

Suatu malam menjelang fajar, dalam inspeksi rutinnya, khalifah II Umar bin Khattab mendengar dialog menarik antara seorang ibu dengan gadis kencurnya.
”Cepatlah bangun, perah susu kambing kita dan campurkan dengan air sebelum orang bangun dan melihat kerja kita.”
”Bu, saya tak berani, ada yang selalu melihat gerak-gerik kita.”
”Siapa sih sepagi ini mengintai kita?”
“Bu, Allah tak pernah lepas memperhatikan kita.”
Khalifah segera kembali dengan satu tekad yang esok akan dilaksanakannya, melamar sang gadis untuk putranya, ’Ashim bin Umar. Kelak dari pernikahan ini lahir seorang cucu: Umar bin Abdul Aziz, khalifah kelima.

Tuan dan Nyonya Dakwah yang saya hormati.

Tentu saja istilah baitud dakwah ini tidak dimaksudkan sebagai rumah tempat warganya setiap hari berpidato. Juga bukan keluarga dengan aktifitas belajar mengajar seperti layaknya sebuah sekolah formal. Ia adalah sebuaha wahana tempat pendidikan berlangsung secara mandiri dan alami namun bertarget jelas.

Ada kegawatan yang sangat ketika roda keluarga meluncur tanpa kendali. Saat salah seorang anggotanya sadar apa yang sedang terjadi, segalalnya mungkin telah terlambat. ”Keterlambatan” itu dapat mengambil bentuknya pada ABG yang asing dari nilai-nilai ayah ibunya, atau ayah yang lupa basis keluarganya oleh kesibukan kerja di luar, atau ibu yang terpuruk dalam rutinitas yang membunuh kreatifitasnya, atau kariryang menggilas peran dan fitrah keibuannya.

Banyak orang merasa telah menjadi suami, istri, atau ayah dan ibu sungguhan, padahal mereka baru menjadi ayah, ibu suami atau istri biologis. Sangat kasar kalau diistilahkan menjadi jantan, betina, atau induk dan biang, walaupun dalam banyak hal ternyata ada kesamaan. Kalau hanya memberi makan dan minum kepada anak-anak: kambing, ayam, dan kerbau telah memerankan fungsi tersebut dengan sangat baik. Dan, isu sentral ”pewarisan nilai-nilai kehidupan” dalam kehidupan mereka tak ada soal. Buktinya tak satupun anak ayam yang berkelakuan kerbau, atau anak kerbau berkelakuan belut, atau anak kambing berkelakuan serigala. Adalah suatu penyimpangan bahwa anak manusia bertingkah laku babi, serigala, harimau, atau musang.

Tentu saja ini tidak dimaksud mendukung program robotisasi anak yang dipaksa menghafal seluruh program yang dijejalkan bapak ibunya tanpa punya peluang menjadi dirinya sebagai hamba Allah, karena mereka harus menjadi hamba ayah, hamba ibu, dan hamba guru. Ini tidak ada hubungannya dengan program tahfidz atau apresiasi seni Islam yang menjadi bagian dari sungai fitrah tempat air kehidupan mengalir sampai jauh.

Rachmat Naimulloh

Cinta kebenaran yang memenuhi hati pembelanya mestilah melahirkan kebersamaan dan kecintaan kepada ahlinya. Kekeringan ruhani kerap melanda mereka yang begitu menguasai banyak pengetahuan teoritik bahkan mendakwahkannya, namun hati mereka kosong dari kebersamaan dengan para pembelanya. Ketentraman hati dengan pengisahan para rasul adalah aksioma Al-Qur’an. ”Dan masing-masing kisah para rasul Kami kisahkan kepadamu, hal yang dengannya Kami teguhkan hatimu…” (QS. Hud: 120)

Namun mengapa masih juga terjadi keraguan dan kegamangan? Karena si Ragu dan si Gamang tidak memancangkan gelombang receivernya pada gelombang siar yang sama dari pemancar. Hanya ada dua kemungkinan, ia menset gelombang berbeda atau ada frekuensi yang jauh lebih kuat dari gelombangnya. Bagaimana mungkin siaran bacaan Al-Qur’an dari pemancar dapat berubah menjadi rock atau rap di pesawat penerima? Tinggalkan polemic apakah ruh Rasul datang pada momen-momen tertentu. Cukuplah kebersamaannya sesudah kebersamaan Allah memenuhi segenap relung hati, menggemakan pesan firman suci. ”Dan ketahuilah, bahwasanya di tengah kamu ada Rasulullah. Seandainya ia menurutimu dalam banyak urusan, niscaya kamu akan menjadi celaka. Akan tetapi Allah telah mencintakan kamu akan iman dan Ia menghiaskannya di hati kamu dan Ia bencikan kamu kepada kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan.” (QS. Al-Hujurat: 7)

Dalam makna apapun, ikut menikmati kebersamaannya bersama para sahabat ―yang kepadanya ayat ini pertama kali ditujukan― menjadi kebahagiaan dan kekuatan dalam mengarungi kehidupan.

”Siapa yang terluput melihat Al Mukhtar
(Rasulullah pilihan)
Lihatlah peninggalannya; Al-Qur’an dan
sunnah yang besar.”
(Syaikh Naqsyabandi)

Bagaimana mungkin hati ummat dan kadernya di ujung zaman, menjadi kerontang, sementara dalam adzan selalu disebut namanya sesudah nama-Nya. Bagaimana kader merasa lemah, yatim dan terasing, padahal Ia telah nyatakan, para istrinya adalah ibu mereka? Kalau para istrinya ibu mereka, siapakah dia bagi mereka?

Walaupun dalam kapasitas, format dan bobot yang jauh dari generasi para sahabat, namun dalam komunitas dakwah yang memasang gelombang setara dengan pemancar masih dapat ditemukan ”Hudzaifah” dan ”Umar” seperti juga ”Nuaim” dan ”Ammar”.

Rachmat Naimulloh

Pertarungan dua kubu ini nyaris tak pernah berakhir, kecuali di tangan ulama yang menjadikan kefaqihan dan "kesufian" sebagai pakaian diri sebelum menjadi tarikan grafitasi in grouping. Cukup adil vonis yang dijatuhkan Alim Quraisy bagi perseteruan klasik ini.
Menjadi faqih dan sufi, jangan jadi satu saja.
Kunasehati engkau agar waspada.
Yang ini keras, hatinya tak pernah mengenyam
takwa.
Yang ini jahil, apa dengan jahil bisa lurus suatu
perkara?
Ketika bidikan menympang satu millimeter, apakah peluru yang melelat dari laras juga akan menympang satu millimeter dar sasaran? Sebagian kaum sufi yang memuja dzauq (rasa) sebagai ukuran absolute, kerap melecehkan fuqaha yang bersiteguh pada dhawabith (patokan-patokan) yang terkadang terkesan formalistik. Kelak akan bermunculan kaum pencinta kebenaran yang begitu santun, berbinar hati dan bermagnet besar, dengan kadar penympangan fiqh sampai tingkat yang tak bisa ditoleransikan. Para fanatikus fiqh yang kering ruhani, kerap jatuh pada fatwa yang sofistik (safsathah) dan anarkis. Walaupun terdengar naïf, namun nyata ada kebanggaan fatwa: "Seseorang yang menggauli istrinya di siang hari bulan Ramadhan, dapat membayar qadha’nya hanya sehari. Syaratnya ia harus membatalkan puasanya terlebih dahulu dengan makan atau minum!"

Atau kisah 50 santri yang sangat bangga dengan kealiman mereka seraya melecehkan orang-orang yang beragama dengan jahil yang karenanya menjadi susah. Mereka duduk membuat lingkaran. Yang pertama mengikrarkan, 3 ½ liter beras di tangannya menjadi zakat fithr yang ia serahkan kepada santri disampingnya. Santri kedua menjadikan zakat yang telah menjadi miliknya itu sebagai zakat bagi santri ketiga dan seterusnya sampai kembali ke muzakki pertama. Dengan cerdas mereka berhasil membayar zakat fithr 3 ½ liter untuk 50 orang! Semoga ini terobosan "cerdas" 50 orang yang sudah tak punya apa-apa lagi, selain 3 ½ liter pada seseorang diantara mereka.

Di seberang sana tanpa label faqih atau sufi ada seorang perempuan yang menolak kehadiran mertua, karena suami berpesan jangan menerima kehadiran siapa pun selama ia musafir. Atau ada seorang lelaki yang pergi berbulan-bulan meninggalkan anak dan istri tanpa nafkah, karena alasan perjuangan yang sangat mulia, berdakwah ke segala penjuru mata angin.

Rachmat Naimulloh
"Selalulah bersama Kebenaran, walau pun engkau sendirian."

Alangkah idealnya pesan ini bagi mereka yang mampu memilih egoisme pribadi dan tarikan negatif gravitasi in grouping yang sering tampil menjadi kembaran egoisme itu sendiri. Perasaan ikhlas yang kadang terkacaukan oleh kecenderungan egoisme akan melahirkan khawarij zaman yang dungu dan menafikan kebersamaan, hanya karena kelemahan umat dalam menggapai injazat (karya-karya) dakwah secara serempak , kemas dan tuntas. Seperti egoisme murjiah yang menikmati kelezatan fatalisme dan mengolah menunya untuk disantap dengan lahap oleh para tiran : "Vonis itu nanti di sana, amar ma'ruf nahi munkar tiada guna, dosa jangan disesali dan kebajikan usahlah disyukuri, karena kita cuma setitik debu yang diterbangkan angin takdir kemana ia mau."

Putus asa telah membuka lebar-lebar pintu nafsu untuk mendorong masing-masing kelompok untuk berbangga diri. Seandainya saja karya-karya mereka dapat dirakit menjadi kesatuan produk umat, niscaya ia akan menjadi mozaik-mozaik indah dalam lembaran sejarah umat. Alangkah indahnya klaim-klaim mereka, kalau saja amaliahnya tidak mencabik-cabik kebersamaan yang --- dalam tataran operasional --- nyaris menjadi aksioma kebenaran yang tak pernah takut kesendirian dan keterasingan itu.

Di jalan dakwah banyak bertumbangan kader dengan kadar militansi yang nyaris total pada momentum yang sebenarnya masih dapat di kompromikan. Sebaliknya, tak sedikit semua itu mencair pada momentum yang seharusnya militansi hadir dengan tegar. Semoga Allah merahmati Imam Syafii yang salah satu qaidah fiqh unggulannya ialah Alkhuruj Minal Khilaf Mustahab (Keluar dari Khilafiyah Sangat Disukai). Tentu saja ini berlaku dalam hal yang kompromistik. Tak ada tempat bagi mereka yang sengaja memuaskan syahwat menghindari syari'ah atau produk ijtihad yang sangat representatif dengan dalih "Ini perkara khilafiah atau itu kan tafsiran subyektif Ibnu Katsir atau Sayid Qutb." Atau semangat zaman telah menaklukkan makna hakiki sabda. Akhirnya segalanya boleh kecuali yang bertentangan dengan nafsu mereka. Untuk meyakin-yakinkan publik terkadang mereka mengutip qaidah-qaidah fiqh dan pada satnya mereka terbentur dengan prinsip: "Tak semua khilaf datang dengan (bobot) yang pantas diterima, kecuali khilaf yang berakar pada nalar (yang benar)."

Seperti orang yang tak mau shalat hanya karena ada beberapa perbedaan teknis yang mereka tak (mau) tahu batas toleransinya. Atau seorang alim yang menjustifikasi pakaian yang membuka aurat, hanya karena ada perbedaan aplikasi, antara perempuan kota yang resik dan kering dengan perempuan sawah yang sehari-hari harus bergelut lumpur.

Rachmat Naimulloh
Postingan Lama Beranda

Pencarian

    Loading...
  • Buku Tamu
  • Komentar
  • Kategori
  • Arsip
  • Februari (2)
  • Februari (2)
  • Januari (1)
  • Oktober (1)
  • September (2)
  • Agustus (6)
  • Juli (8)
  • Juni (7)
  • Mei (7)
  • April (8)
  • Maret (6)
  • Februari (9)
  • Januari (5)
  • Desember (12)
  • November (8)
  • Oktober (16)
  • September (11)
  • Agustus (16)
  • Juli (14)
  • Juni (11)
  • Mei (9)
  • April (13)
  • Maret (26)
  • Februari (22)
  • Januari (27)
  • Desember (13)
  • November (9)
  • Oktober (12)
  • September (10)
  • Agustus (7)
  • Juli (12)
  • Juni (23)
  • Mei (9)

Sahabat

    Follow this blog



    Personal Blogs
    Display Pagerank
    blog-indonesia.com
    Internet sehat


smadav antivirus indonesia
Topblogs @ iLuvislam



Designed by Simplex Design | Modified by Rachmat Naimulloh