Bait'ud Dakwah


Suatu malam menjelang fajar, dalam inspeksi rutinnya, khalifah II Umar bin Khattab mendengar dialog menarik antara seorang ibu dengan gadis kencurnya.
”Cepatlah bangun, perah susu kambing kita dan campurkan dengan air sebelum orang bangun dan melihat kerja kita.”
”Bu, saya tak berani, ada yang selalu melihat gerak-gerik kita.”
”Siapa sih sepagi ini mengintai kita?”
“Bu, Allah tak pernah lepas memperhatikan kita.”
Khalifah segera kembali dengan satu tekad yang esok akan dilaksanakannya, melamar sang gadis untuk putranya, ’Ashim bin Umar. Kelak dari pernikahan ini lahir seorang cucu: Umar bin Abdul Aziz, khalifah kelima.

Tuan dan Nyonya Dakwah yang saya hormati.

Tentu saja istilah baitud dakwah ini tidak dimaksudkan sebagai rumah tempat warganya setiap hari berpidato. Juga bukan keluarga dengan aktifitas belajar mengajar seperti layaknya sebuah sekolah formal. Ia adalah sebuaha wahana tempat pendidikan berlangsung secara mandiri dan alami namun bertarget jelas.

Ada kegawatan yang sangat ketika roda keluarga meluncur tanpa kendali. Saat salah seorang anggotanya sadar apa yang sedang terjadi, segalalnya mungkin telah terlambat. ”Keterlambatan” itu dapat mengambil bentuknya pada ABG yang asing dari nilai-nilai ayah ibunya, atau ayah yang lupa basis keluarganya oleh kesibukan kerja di luar, atau ibu yang terpuruk dalam rutinitas yang membunuh kreatifitasnya, atau kariryang menggilas peran dan fitrah keibuannya.

Banyak orang merasa telah menjadi suami, istri, atau ayah dan ibu sungguhan, padahal mereka baru menjadi ayah, ibu suami atau istri biologis. Sangat kasar kalau diistilahkan menjadi jantan, betina, atau induk dan biang, walaupun dalam banyak hal ternyata ada kesamaan. Kalau hanya memberi makan dan minum kepada anak-anak: kambing, ayam, dan kerbau telah memerankan fungsi tersebut dengan sangat baik. Dan, isu sentral ”pewarisan nilai-nilai kehidupan” dalam kehidupan mereka tak ada soal. Buktinya tak satupun anak ayam yang berkelakuan kerbau, atau anak kerbau berkelakuan belut, atau anak kambing berkelakuan serigala. Adalah suatu penyimpangan bahwa anak manusia bertingkah laku babi, serigala, harimau, atau musang.

Tentu saja ini tidak dimaksud mendukung program robotisasi anak yang dipaksa menghafal seluruh program yang dijejalkan bapak ibunya tanpa punya peluang menjadi dirinya sebagai hamba Allah, karena mereka harus menjadi hamba ayah, hamba ibu, dan hamba guru. Ini tidak ada hubungannya dengan program tahfidz atau apresiasi seni Islam yang menjadi bagian dari sungai fitrah tempat air kehidupan mengalir sampai jauh.

Rachmat Naimulloh

Ingin artikel seperti diatas langsung ke Email anda? Silahkan masukan alamat email anda untuk berlangganan.




0 komentar

Silahkan tinggalkan komentar Anda disini