Keangkuhan yang Rapuh


Karena dunia, dalam benak kita sebagai manusia, adalah lukisan yang tak selesai, maka selamanya cara pandang kita tentang dunia dan hidup kita akan mengandung kenaifan yang permanen. Dan itu selamanya akan menurun pada sikap-sikap kita yang juga naif. Sebab sikap-sikap kita adalah buah dari cara pandang dan pemahaman kita tentang sesuatu.

Sekarang, walaupun kita hidup di tengah sebuah peradaban ilmu dan teknologi yang canggih, akses tak terbatas pada sumber informasi yang juga tak terbatas, dimana setiap hari kita dicekoki dengan doktrin bahwa pengetahuan adalah kekuasaan, dimana apa yang ada di alas bumi, di perut bumi, dan di angkasa sana, semuanya masuk dalam wilayah penjelajahan ilmu pengetahuan manusian modern; semua itu tidak dapat menghapus fakta bahwa lukisan kita tentang dunia ini tetaplah tak pernah selesai, dan karenanya kenaifan kita sebagai manusia tetap permanen. Begitulah Allah menitahkan: ”Dan tiadalah kamu diberi ilmu kecuali hanya sedikit.”

Tapi doktrin bahwa pengetahuan adalah kekuasaan adalah doktrin yang sebenarnya benar. Pengetahuan, dalam sejarah peradaban manusia, selalu berbandin lurus dengan kekuasaan. Peradaban Yunani, Romawi, Islam, dan sekarang Barat, semuanya menjadi pemimpin peradaban manusia di eranya karena basis pengetahuan mereka yang sangat kokoh. Bahkan, dalam sejarah nabi-nabi, Sulaeman menjadi begitu berkuasa juga karena pengetahuannya, serta banyaknya ilmuwan yang menjadi pembantunya. Pengetahuan adalah landasan bagi sebuah kekuasaan yang kokoh.

Namun masalah manusia juga muncul dari situ, pertambahan pengetahuan biasanya memang membuat manusia makin berkuasa. Tapi semakin berkuasa, manusi berpeluang menjadi sombong, angkuh dan melampaui batas. Dan itu ironis. Karena pengetahuannya sebenarnya tak pernah lengkap, tak pernah sempurna, jadi alasan untuk sombong dan angkuh juga tak pernah cukup. Keangkuhan manusia itu selamanya rapuh.

Masalahnya adalah bahwa kesombongan dan keangkuhan itu adalah sifat Allah. Berbeda dengan sifat Allah yang lain, Allah sama sekali tidak mengizinkan manusia mengambil sifat itu. Maka dosa manusia yang paling cepat dibalas Allah adalah kesombongan. Dan Allah punya ribuan cara untuk memangkas dan bahkan meluluhlantakkan kesombongan manusia itu. Misalnya melalui bencana alam. Sebagian maksud dari begitu banyak bencana alam yang terjadi di dunia kita adalah meluluhlantakkan keangkuhan manusia itu. Seakan-akan Allah hendak berkata: coba kalau kamu bisa!

Bahkan ketika salah seorang nabi dan rasul-Nya, Nabi Musa as, suatu saat mulai merasa terlalu tahu, Allah pun memangkas perasaan itu dalam dirinya. Itulah latar dari cerita pembelajaran Nabi Musa kepada Khidir. Itu cara Allah mengajarkan beliau akan makna keangkuhan manusia yang rapuh, makna kerendahan hati, dan kesadaran yang mendalam bahwa ”Dan di atas setiap orang yang memiliki ilmu, ada Yang Maha Mengetahui.”

Makna itulah yang diajarkan juga oleh Imam Ghozali, bahwa ”Siapa yang mengatakan dia telah tahu, maka sesungguhnya dia bodoh.” Makna itu pula yang diajarkan Imam Ahmad bin Hambalketika beliau mengatakan, bahwa ”Siapa yang mengatakan Allahu A’lam Bishshawab (Allah lebih tahu apa yang benar), maka dia telah mendapat setengah pengetahuan.”

Kita tak kan pernah bisa menjadi pembelajar sejati kecuali ketika kita menyadari ketidaktahuan kita, sekaligus merasakan kebutuhan yang kuat untuk mengetahui.

[Sebelumnya]


Rachmat Naimulloh

Ingin artikel seperti diatas langsung ke Email anda? Silahkan masukan alamat email anda untuk berlangganan.




0 komentar

Silahkan tinggalkan komentar Anda disini