• Posts
  • Comments
  • Email
  • Twitter
  • Facebook
  • Mobile

  • Home
  • TentangKu TentangKu | FacebookKu | TwitterKu | KontakKu
  • Tukeran Tukeran Banner/Link | Banner Sobat | Link Sobat
  • Serial Anis Matta Serial Kepahlawanan | Serial Cinta | Serial Pembelajaran
  • Download E Book | Murottal | Ceramah | Nasyid Harokah | Foto Kekejian Israel
  • Daftar Isi
Anda di : Home »


Kalau benar hati sang raja. Putera mahkotanya ternyata seorang pemuda pemalas. Apatis. Talenta raja-raja tidak terlihat dalam pribadinya. Suatu saat sang raja menemukan cara mengubah pribadi puteranya: the power of love.

Sang raja mendatangkan gadis-gadis cantik ke istananya. Istana pun seketika perubah jadi taman: semua bunga mekar di sana. Dan terjadilah itu. Sesuatu yang memang ia harapkan: putranya jatuh cinta pada salah seorang di antara mereka. Tapi kepada gadis itu raja berpesan, "Kalau putranya menyatakan cinta padamu, bilang padanya, 'Aku tidak cocok untukmu. Aku hanya cocok untuk raja atau seseorang yang berbakat jadi raja.'"

Benar saja. Putra mahkota itu seketika tertantang. Maka ia pun belajar. Ia mempelajari segala hal yang harus diketahui seorang raja. Ia melatih dirinya untuk menjadi raja. Dan seketika talenta raja-raja meledak dalam dirinya. Ia bisa, ternyata! Tapi karena cinta!

Cinta telah bekerja dalam jiwa anak muda itu secara sempurna. Selalu begitu: menggali tanah jiwa manusia, sampai dalam, dan terus ke dalam, sampai bertemu mata air keluhurannya. Maka meledaklah potensi kebaikan dan keluhuran dalam dirinya. Dan mengalirlah dari mata air keluhuran itu sungai-sungai kebaikan kepada semua yang ada disekelilingnya. Deras. Sederas arus sungai yang membanjir, deras mendesak menuju muara. Cinta menciptakan perbaikan watak dan penghalusan jiwa. Cinta memanusiakan manusia dan mendorong kita memperlakukan manusia dengan etika kemanusiaan yang tinggi.

Jatuh cinta adalah peristiwa paling penting dalam sejarah kepribadian kita. Cinta, kata Quddamah, mengubah seorang pengecut menjadi pemberani, yang pelit jadi dermawan, yang malas jadi rajin, yang pesimis jadi optimis, yang kasar jadi lembut. Kalau cinta kepada Allah membuat kita mampu memenangkan Allah dalam segala hal, maka cinta kepada manusia atau hewan atau tumbuhan atau apa saja, mendorong kita mempersembahkan semua kebaikan yang diperlukan orang atau binatang atau tanaman yang kita cintai. Jatuh cinta membuat kita mau merendah, tapi sekaligus tertekad penuh untuk menjadi lebih terhormat.

Cobalah simak cerita cinta Letnan Jenderal Purnawirawan Yunus Yosfiah, yang suatu saat ia tuturkan pada saya dan beberapa kawan lain. Ketika calon istrinya menyatakan bersedia berhijrah dari Katolik menuju Islam, ia tergetar hebat. "Kalau cinta telah mengantar hidayah pada calon istrinya," katanya membatin, "seharusnya atas nama cinta ia mempersembahkan sesuatu yang istimewa padanya." Ia sedang bertugas di Timor Timur saat itu. Maka ia berjanji, "Besok aku akan berangkat untuk sebuah operasi. Aku berharap bisa mempersembahkan kepada dedengkot Fretelin untukmu." Tiga hari kemudian, janji itu ia bayar lunas!

Gampang saja memahaminya. Keluhuran selalu lahir dari mata air cinta. Sebab, "cinta adalah gerak jiwa sang pencinta kepada yang dicintainya," kata Ibnul Qoyyim.

[Selanjutnya]
[Sebelumnya]
[SERIAL CINTA]
Rachmat Naimulloh

Para pahlawan mukmin sejati selalu mengetahui kadar kepahlawanan dari setiap perbuatan dan karyanya. Maka tidak bisa membesar-besarkan nilai perbuatan dan karya mereka jika kadar kepahlawanan dalam perbuatan dan karyanya itu secara objektif memang tidak ada atau sedikit. Demikian pula sebaliknya.

Mereka juga mengetahui letak sisi kepahlawanan mereka. Sebab, tidak ada orang yang bisa menjadi pahlawan dalam segala hal. Maka, mereka menempatkan diri pada sisi dimana mereka bisa menjadi pahlawan. Mereka tidak pernah memaksakan kehendak dan juga tidak pernah melawan kodrat mereka. Mereka yang merasa hanya bisa menjadi pahlawan dalam perang, tidak akan pernah memaksakan diri menjadi pahlawan dalam ilmu pengetahuan.

Menilai diri sendiri adalah seni yang paling rumit dari sekian banyak keterampilan jiwa yang harus dimiliki seorang pahlawan. Sebab, inilah saat-saat yang paling menentukan sejarah kepahlawanan mereka, sekaligus menentukan jalan masuk mereka kepada sejarah sebagai pahlawan.

Seni ini dimulai dari pengamatan yang mendalam tentang peta diri sendiri. Setelah itu, berlanjut pada penemuan letak kepahlawanan mereka. Setiap ditahap ini, seni itu belum terlalu rumit. Seni itu akan menjadi rumit menakala memasuki penilaian tentang karya dan perbuatan mereka. Sebab, setiap manusia mempunyai kecenderungan untuk membesarkan dirinya sendiri melampaui kadar yang sebenarnya. Karenanya, letak kerumitan dari seni penilaian ini ada pada pertarungan antara kecenderungan membesarkan diri sendiri dengan keharusan bersikap objektif yang sudah menjadi sifat sejarah yang niscaya dalam menilai para pahlawan. Inilah pertarungan antara megalomania dengan objektivitas. Simaklah firman Allah tentang kecenderungan ini, “Jangan sekali - kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang bergembira dengan apa yang mereka kerjakan; janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dan siksa, dan bagi mereka siksaan yang pedih.” (Ali Imran: 188)

Para ilmuwan mengalami pertarungan ini, ketika menilai manakah dari karya-karya mereka yang paling monumental dan dimanakah letak kedudukan karya-karya ilmiah mereka itu dihadapan para ilmuan lain yang sejenis. Para sastrawan mengalami pertarungan ini, ketika mereka menilai manakah karya-karya sastra mereka yang paling abadi dan dimanakah letak kedudukan karya sastra itu diantara karya-karya para sastrawan lainnya? Para pemimpin perang juga mengalami pertarungan ini, ketika menilai manakah pertarungan yang dimenangkannya yang paling monumental, dan dimanakah letak kehebatannya, jika dibanding kehebatan para pemimpin perang lainnya dalam jenis perang yang mereka menangkan? Para pemimpin politik dan dakwah juga mengalami pertarungan ini ketika mereka menilai jejak-jejak kepemimpinan mereka tentang dimanakah letak kehebatannya dan seperti apa nilai kehebatan itu dibanding jejak-jejak para pemimpin lain dalam bidang politik dan dakwah?

Mempertahankan objektifitas di depan godaan megalomania adalah pekerjaan jiwa yang paling rumit yang senantiasa akan dirasakan oleh para pahlawan. Cobalah simak cara seorang khalifah dari Zaman Abbasiyah menilai dirinya, “Saya tidak akan pernah bangga pada prestasi yang saya capai, tapi sebenarnya tidak saya rencanakan. Tapi saya juga tidak akan menyesali setiap kegagalan yang saya alami, selama saya sudah merencanakan semuanya dengan baik sebelum melakukannya.”

[Selanjutnya]
[Sebelumnya]
[SERIAL KEPAHLAWANAN]

Rachmat Naimulloh

Kumpulan tulisan ini adalah anak-anak zamannya. Lahir saat badai menerpa seluruh sisi kehidupan bangsa kita. Kumpulan tulisan ini adalah kerja kecil untuk tetap mempertahankan harapan dan optimisme kita ditengah badai itu.

Krisis adalah takdir semua bangsa. Ia tidak perlu disesali. Apalagi dikutuk. Kita hanya perlu meyakini sebuah kaidah, bahwa masalah kita bukan pada krisis itu terjadi. Itu tanda kelangsungan hidup atau kehancuran sebuah bangsa.

Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan kebumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali kelangit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis.

Mereka tidak harus dicatat dalam buku sejarah. Atau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Mereka juga melakukan kesalahan dan dosa. Mereka bukan malaikat. Mereka hanya manusia biasa yang berusaha memaksimalkan seluruh kemampuannya untuk memberikan yang terbaik bagi orang-orang di sekelilingnya. Mereka merakit kerja-kerja kecil jadi sebuah gunung: karya kepahlawanan adalah tabungan jiwa dalam masa yang lama.

Orang-orang biasa yang melakukan kerja-kerja besar itulah yang kita butuhkan di saat krisis. Bukan orang-orang yang tampak besar tapi hanya melakukan kerja-kerja kecil lalu menulisnya dalam autobiografinya. Semangat untuk melakukan kerja-kerja besar dalam sunyi yang panjang itulah yang dihidupkan kumpulan tulisan ini. Maka tulisan-tulisan ini mencoba menghadirkan makna-makna yang melatari sebuah tindakan kepahlawanan. Bukan sekedar cerita heroisme yang melahirkan kekaguman tapi tidak mendorong kita meneladaninya.

Para pahlawan bukan untuk dikagumi. Tapi untuk diteladani. Maka makna-makna yang melatari tindakan mereka yang perlu dihadirkan ke dalam kesadaran kita. Jadi tulisan-tulisan ini adalah pesan untuk orang-orang biasa, seperti saya sendiri, atau juga anda para pembaca, yang mencoba dengan tulus memahami makna-makna itu, lalu secara diam-diam merakit kerja-kerja kecil menjadi sebuah gunung karya.

Sukses blog ini tidak perlu diukur dengan tiras besar. Tapi jika ada satu-dua hati yang mulai tergerak, dan mulai bekerja, saya akan cukup yakin berdoa kepada Allah: "Ya Allah, Jadikanlah kerja kecil ini sebagai kendaraan yang akan mengantarku menuju ridha dan surga-Mu.”

[Selanjutnya]
[Pengantar Taufik Ismail]
[SERIAL KEPAHLAWANAN]

Rachmat Naimulloh

Bisakah kita membayangkan bagaimana dulu, Adam dan Hawa, menjalani hidup ketika hanya mereka berdua yang menghuni bumi ini? Mungkin mudah membayangkan bagaimana mereka mencari makan untuk menyambung hidup, atau membuat rumah tempat mereka berteduh, atau membuat pakaian untuk menutup aurat mereka. Tapi coba bayangkan bagaimana pada mulanya mereka menemukan bahasa sebagai alat komunikasi mereka? Atau bagaimana pada mulanya mereka mengenal satu per satu dari jengkal tanah bumi ini?

Bagaimana mereka mengetahui atau menyepakati bahwa tempat mereka berjalan itu bernama tanah, bahwa benda yang tampak jauh di ketinggian sana, yang berwarna biru adalah langit, bahwa ada makhluk lain di dunia selain mereka yang bernama binatang dan tumbuhan, bahwa ada malampu besar yang membuat hari-hari mereka terbelah dalam terang dan gelap, dan bahwa ketika hari siang itu namanya siang dan ketika hari gelap itu namanya malam? Tapi kenapa kemudian kita, anak cucu Adam dan Hawa, bisa punya ribuan kata yang berbeda untuk satu benda? Mengapa kita punya banyak bahasa?

Lalu bagaimana pula cara kakek nenek kita itu mengenal dunia yang mereka huni ini? Berapa luaskah dari bumi ini, yang sekarang dihuni oleh sekitar 6 milyar anak cucunya, yang bisa mereka jangkau? Bukankah bumi ini terlalu luas untuk mereka berdua, dan karenanya bisa sangat menyeramkan? Lalu seperti apakah bumi dalam persepsi mereka berdua; datar atau bulat? Indah atau jelek? Menyenangkan atau menyengsarakan?

Begitu Adam dan Hawa turun ke bumi ini, tiba-tiba saja mereka menemukan dunia yang begitu berbeda dengan surga yang sebelumnya mereka huni. Ini dunia baru. Sepenuhnya dunia baru. Tak ada satu yang ia tahu di sini. Sama sekali tak ada. Jadi apa yang pertama mereka lakukan? Belajar! Itulah yang mereka lakukan. Bukan makan dan minum. Dan siapa yang mengajar mereka? Hanya Allah! “Dan Allah mengajarkan Adam nama-nama itu, seluruhnya.” Seluruhnya; nama benda, perbuatan, pikiran, perasaan, nilai, dan seterusnya.

Jadi begitulah hidup pada mulanya dijalani; dengan pembelajaran. Dan kemudian, seperti apa cara kita memahami dunia kita, seperti itulah kelak menjalani hidup. Coba bayangkan, berapa ribu tahun yang diperlukan manusia untuk sampai pada pengetahuan bahwa bumi ini bulat dan bukan datar? Dan apa yang kemudian berubah dalam hidup manusia begitu mereka sampai pada pengetahuan itu? Berapa ribu tahun yang diperlukan oleh manusia untuk sampai pada pengetahuan bahwa minyak adalah sumber energi? Dan apa kemudian yang berubah dalam hidup manusia setelah pengetahuan itu?

Dan inilah kaidahnya: wajah dunia kita berubah setiap kita menemukan satu pengetahuan baru, hidup kita berubah setiap kali pengetahuan kita bertambah.

[Selanjutnya]
[Sebelumnya]

[SERIAL PEMBELAJARAN]

Rachmat Naimulloh

Beliau diangkat menjadi Mursyid 'Am ketiga Ikhwanul Muslimin setelah ustadz Hasan Al-Hudaibi; mursyid kedua Ikhwanul Muslimin meninggal dunia.

Riwayat Hidup
Pada tanggal 4 bulan November tahun 1904, lahir di Jalan al-Husy depan Balghoriyah, desa ad-darb al-ahmar Kairo, seorang bayi yang bernama lengkap, “Umar Abdul Fattah Abdul Qadir Mustafa At-Tilmisany” dan julukan At-Tilmisani bukan berasal dari Mesir asli, karena kakek dari bapaknya berasal dari daerah Tilmisani Al-Jazair, datang ke kota Kairo dan bekerja sebagai pedagang, dan menjadi pembesar dari kumpulan orang-orang kaya.

Umar At-Tilmisani menikah pada umur yang sangat muda, yaitu pada usia delapan belas tahun dan masih menjadi pelajar di sekolah umum tingkat atas (SMU-red) dan beliau tidak menikah lagi setelah sampai Allah mewafatkannya pada bulan Agustus 1979, setelah Allah memberikan kepadanya empat orang anak: Abid, Abdul Fattah, dan dua orang putri.”

Dan ketika beliau berhasil menerima ijazah licence sebagai Sarjana Hukum, beliau bekerja sebagai pengacara, dan membuka kantor sendiri di daerah Syibin Al-Qanatir, dan pada tahun 1933 beliau bertemu dengan Ustadz “Hasan al-Banna” di rumahnya, yang mana ketika itu beliau tinggal di Jalan Abdullah Bek, gang Al-Yakniyah di distrik Al-khayamiyah, dan langsung berbai’at. Dan sejak saat itu beliau resmi menjadi anggota jamaah Ikhwanul Muslimin, dan menjadi orang pertama dari seorang pengacara yang mewakili Ikhwan untuk memberikan pembelaan atas anggota Ikhwan yang ditangkap di pengadilan Mesir.

Kepribadian Beliau
Beliau dikenal dengan pribadi yang teguh dan tsabat dalam kesehariannya, bahkan di dalam penjara pun beliau tetap tegar dan teguh karena kebenaran, tidak pernah luluh pendiriannya oleh karena teror atau ancaman, karena itu pula beliau melewati masa di penjara selama 20 tahun.

Beliau juga merupakan anggota Ikhwan yang paling sabar dan teguh pendirian, sekalipun sangat keras siksaan dan interaksi orang-orang zhalim terhadapnya namun lisannya tidak pernah luput dari berdzikir kepada Allah dan bahkan terus mengajak para Ikhwan untuk bersabar dan tsabat hingga akhirnya beliau keluar dari penjara pada tahun 1981, dan setelah itu beliau tetap menerima ujian dan cobaan namun beliau tetap dengan keteguhan, kesabaran dan tsabat.

Beliau pernah berkata: Saya sama sekali tidak takut pada siapapun dalam hidup ini kecuali kepada Allah, dan tidak ada yang bisa mencegah saya untuk lantang pada kebenaran yang saya yakin terhadapnya sekalipun berat dilakukan oleh orang lain, dan sekalipun saya harus menemui berbagai ujian dan cobaan, saya akan tetap mengungkapkannya dengan penuh ketenangan, hati-hati dan beretika, tidak menyakiti orang yang mendengarnya, tidak menyinggung perasaan, dan selalu menghindar dari ucapan dan ungkapan yang saya rasa tidak akan disukai oleh lawan bicara saya atau orang yang mendebat saya, sehingga dengan metode ini, saya mendapatkan ketenangan pada diri saya, sekalipun dengan metode ini saya mendapat banyak pertentangan dari pihak musuh.

Ustadz Umar At-Tilmisani sangat disenangi dan dikagumi oleh khalayak masyarakat Mesir, sebagaimana kalangan masyarakat Coptic’s juga menghormati beliau, bahkan para pejabat negara pun sungkan dan enggan dengan kepribadian beliau dan menyadari akan kharisma beliau.

Sebagaimana para Ikhwan juga memandang beliau sebagai teladan dan mereka berlomba-lomba ingin dapat talaqqi langsung dengan beliau, melaksanakan perintahnya. Hal tersebut terjadi karena dilandasi oleh rasa cinta karena Allah dalam menjalin hubungan antara dirinya dengan yang lain, bekerja untuk menerapkan syariat Allah dan mencari ridha Allah SWT.

Pelajaran-pelajaran, muhadharah-muhadharah, nasihat-nasihat dan taujihat-taujihat beliau selalu memberikan motivasi kepada umat khususnya para pemuda dan para tokoh, serta para ulama lainnya dalam mengemban amanah dan menunaikan tanggung jawab, sehingga mereka bangkit untuk mengikutinya, melaksanakan arahan-arahan dalam berbagai kondisi untuk mengembalikan Islam pada kekuatannya dan menjadi pemimpin dan penguasa di dunia.

Demikianlah seharusnya sikap para du’at di sepanjang zaman dan waktu, sebagaimana hal tersebut juga merupakan risalah yang dibawa oleh para nabi dan rasul, dan menjadi warisan bagi para ulama, aktivis, para du’at yang jujur, beriman dan ikhlas.

[Bersambung]

Rachmat Naimulloh

Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya,
mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang,
berak di atas kepala mereka

Matahari terbit.
Fajar tiba.
Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak
tanpa pendidikan.

Aku bertanya,
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet,
dan papantulis-papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan.

Delapan juta kanak-kanak
menghadapi satu jalan panjang,
tanpa pilihan,
tanpa pepohonan,
tanpa dangau persinggahan,
tanpa ada bayangan ujungnya.
…………………

Menghisap udara
yang disemprot deodorant,
aku melihat sarjana-sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya;
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiun.

Dan di langit;
para tekhnokrat berkata :

bahwa bangsa kita adalah malas,
bahwa bangsa mesti dibangun;
mesti di-up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

Gunung-gunung menjulang.
Langit pesta warna di dalam senjakala
Dan aku melihat
protes-protes yang terpendam,
terhimpit di bawah tilam.

Aku bertanya,
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
termangu-mangu di kaki dewi kesenian.

Bunga-bunga bangsa tahun depan
berkunang-kunang pandang matanya,
di bawah iklan berlampu neon,
Berjuta-juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau,
menjadi karang di bawah muka samodra.
………………

Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya,
keluar ke desa-desa,
mencatat sendiri semua gejala,
dan menghayati persoalan yang nyata.

Inilah sajakku
Pamplet masa darurat.
Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan.

Rachmat Naimulloh

Sebuah orde tenggelam
sebuah orde timbul
tapi selalu saja ada suatu lapisan masyarakat di atas gelombang itu selamat
Mereka tidak mengalami guncangan yang berat
Yang selalu terapung di atas gelombang
Seseorang dianggap tak bersalah sampai dia dibuktikan hukum bersalah
Di negeri kami ungkapan ini begitu indah
Kini simaklah sebuah kisah
Seorang pegawai tinggi gajinya satu setengah juta rupiah
Di garasinya ada Volvo hitam, BMW abu-abu,
Honda metalik, dan Mercedes merah
Anaknya sekolah di Leiden, Montpellier dan Savana
Rumahnya bertebaran di Menteng, Kebayoran dan macam-macam indah
Setiap semester ganjil istri terangnya belanja di Hongkong dan Singapura
Setiap semester genap istri gelapnya liburan di Eropa dan Afrika

Anak-anaknya ....

Anak-anaknya pegang dua pabrik, tiga apotik dan empat biro jasa
Selain sepupu dan kemenakannya buka lima toko onderdil,
lima biro iklan, dan empat pusat belanja

Ketika rupiah anjlok terperosok, kepeleset macet dan hancur jadi bubur,

dia, hah!
dia ketawa terbahak-bahak karena depositonya dolar Amerika semua
Sesudah matahari dua kali tenggelam di langit Barat,
jumlah rupiahnya melesat sepuluh kali lipat
Krisis makin menjadi-jadi
Di mana-mana orang antri
Maka 100 kotak kantong plastik hitam dia bagi-bagi
Isinya masing-masing:
Lima genggam beras, empat cangkir minyak goreng,
dan tiga bungkus mie cepat jadi

Peristiwa murah hati ini diliput dua menit di kotak televisi
dan masuk koran halaman lima pagi sekali
Gelombang mau datang,
Datang lagi gelombang setiap bah air pasang
Dia senantiasa terapung di atas banjir bandang
Banyak orang tenggelam toh mampu timbul lagi
lalu ia berkata sambil berdiri:

Yaaa... masing-masing kita kan punya sejeki sendiri-sendiri
Seperti bandul jam bergoyang-goyang kekayaan misterius mau diperiksa
Kekayaan... tidak jadi diperiksa
Kakayaan... mau diperiksa
Kekayaan... tidak jadi diperiksa
Kekayaan... mau diperiksa
Kekayaan... tidak jadi diperiksa
Kekayaan... harus diperiksa
Kekayaan... tidak jadi diperiksa

(Dibacakan di beberapa pentas baca puisi di Jakarta)

Rachmat Naimulloh
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Pencarian

    Loading...
  • Buku Tamu
  • Komentar
  • Kategori
  • Arsip
  • Februari (2)
  • Februari (2)
  • Januari (1)
  • Oktober (1)
  • September (2)
  • Agustus (6)
  • Juli (8)
  • Juni (7)
  • Mei (7)
  • April (8)
  • Maret (6)
  • Februari (9)
  • Januari (5)
  • Desember (12)
  • November (8)
  • Oktober (16)
  • September (11)
  • Agustus (16)
  • Juli (14)
  • Juni (11)
  • Mei (9)
  • April (13)
  • Maret (26)
  • Februari (22)
  • Januari (27)
  • Desember (13)
  • November (9)
  • Oktober (12)
  • September (10)
  • Agustus (7)
  • Juli (12)
  • Juni (23)
  • Mei (9)

Sahabat

    Follow this blog



    Personal Blogs
    Display Pagerank
    blog-indonesia.com
    Internet sehat


smadav antivirus indonesia
Topblogs @ iLuvislam



Designed by Simplex Design | Modified by Rachmat Naimulloh