Tampilkan postingan dengan label Untukmu Kader Dakwah. Tampilkan semua postingan
Engkau mengira semua orang menghinamu.
Engkau mengira semua orang mengejekmu.
Engkau merasa semua orang mentertawakanmu.
Engkau menduga semua orang membencimu.
Padahal tidak begitu.
Yang terjadi adalah : semua orang tengah memperhatikanmu.
Oleh karena itu mereka akan segera mengetahui kualitas dirimu.
Ketegaranmu memberikan inspirasi bagi siapapun yang memperhatikanmu.
Ketabahanmu memberikan motivasi kepada semua orang di sekitarmu.
Ketulusanmu menguatkan langkah perjuanganmu.
Teruslah berjalan dan bekerja menggapai visi peradaban baru.
Tegakkan kepalamu, saudaraku.
Jangan ragu.
Allah tidak akan menyia-nyiakan semua usaha dakwahmu.
Di antara berbagai corak manusia, orang-orang yang beriman (mukmin) mendapatkan posisi mulia di hadapan Allah. Akan tetapi, sama-sama beriman, masih ada faktor pembeda dalam hal kedekatan dan kecintaan Allah kepada mereka. Ada sebagian mukmin yang dinilai lebih baik dan lebih dicintai di hadapan Allah, dibandingkan dengan mukmin lainnya. Faktor pembeda itu adalah kekuatan.
Nabi saw mengungkapkan, “Orang-orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai di sisi Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya terdepat kebaikan” (H.R Muslim).
Allah menghendaki kita menjadi kuat, bukan menjadi lemah. Bukan hanya kuat secara fisik, namun kuat dalam berbagai aspek, baik spiritual, moral, intelektual, amal, dan finansial. Bukan hanya kekuatan dalam kualitas pribadi, namun juga kuat secara kolektif, seperti kekuatan jaringan, kekuatan organisasi, kekuatan politik, dan berbagai kekuatan lainnya yang bisa dipersiapkan untuk mencapai kemenangan.
Kadang kita jumpai orang-orang yang memiliki fisik sehat dan kuat, namun rapuh kejiwaannya. Mereka mudah kecewa dan putus asa, mudah menyerah dalam berusaha, mudah lemah dalam mencapai cita. Tipe manusia seperti ini cenderung pasif dalam kehidupan, tidak berani menghadapi resiko dan tantangan, hidup mereka sebatas angan-angan. Mereka termasuk orang-orang yang lemah, dan akan mudah kalah.
Kadang kita jumpai pula orang-orang yang kuat secara fisik, namun lemah secara intelektual. Mereka tidak mengembangkan tradisi ilmiah yang sesungguhnya merupakan watak dasar Islam. Akal dan pemikiran mereka tidak dibiasakan berada dalam kondisi hidup dan dipenuhi khazanah ilmu. Belajar hanyalah kegiatan formal di bangku sekolah, setelah tamat mereka membiarkan pemikiran membeku tanpa penambahan wawasan dan pengetahuan.
Sebaliknya, ada pula sebagian manusia yang sangat mengagungkan intelektualitas dan rasionalitas, akan tetapi lemah dalam sisi spiritual. Pengembaraan intelektual mereka berjalan tanpa batas akhir, akan tetapi sangat mudah meninggalkan ibadah ritual. Dalam berdiskusi tentang ilmu keislaman, mereka betah berjam-jam, namun tidak betah menunaikan shalat yang hanya beberapa menit. Tentu saja kondisi ini menyebabkan ketidakseimbangan.
Tatkala kekuatan dijadikan sebagai faktor pembeda antara mukmin yang satu dengan mukmin lainnya di hadapan Allah, yang dimaksud tentu saja bukan hanya kekuatan fisik. Kekuatan adalah simbol kemuliaan dan kewibawaan. Tiada wibawa bagi mereka yang penuh kelemahan. Untuk itulah, berbagai jenis kekuatan harus dimiliki oleh kaum muslimin baik secara individual maupun secara kolektif, agar tercipta kemuliaan dan kewibawaan umat Islam di tengah percaturan dunia.
Modal bagi kuat dan kokohnya umat dan bangsa adalah pada kekuatan individu. Apabila sebuah bangsa terdiri dari pribadi-pribadi yang kuat secara spiritual, moral, intelektual, finansial, maupun fisik, maka akan menjadi kuat pula bangsa tersebut. Sebaliknya jika sebuah bangsa berisi pribadi yang lemah, yang terlahir hanyalah bangsa yang tak mampu menyelesaikan permasalahannya sendiri.
Maka, jadilah kuat, karena Islam tidak menghendaki kita menjadi lemah!

Sebelum malaikat Izrail diperintah Allah SWT untuk mencabut nyawa Nabi Muhammad SAW, Allah SWT telah berpesan kepada Jibril. "Hai Jibril, jika kekasih-Ku menolaknya, laranglah Izrail melakukan tugasnya!" Sungguh berharganya manusia yang satu ini.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam" kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?". "Tak tahulah ayahku, sepertinya orang baru, sekali ini aku melihatnya" tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.
"Ketahuilah wahai anakku, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut" kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakan tangisnya.
Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut bersama menyertainya. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah SWT dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu" kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya" kata Jibril. Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."
Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal" kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat sekali maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku" Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis-shalaati, wamaa malakat aimaanukum (peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu)". Di luar, pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii! (Umatku, umatku, umatku)".
Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut bersama menyertainya. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah SWT dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu" kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya" kata Jibril. Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."
Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal" kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat sekali maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku" Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis-shalaati, wamaa malakat aimaanukum (peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu)". Di luar, pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii! (Umatku, umatku, umatku)".
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Allaahumma sholli 'alaa Muhammad wa'alaihi wasahbihi wasallim. Ya Allah, Berikanlah untuk Muhammad "al wasilah" (derajat) dan keutamaan. Dan tempatkanlah ia di tempat terpuji sebagaimana yang telah Engkau janjikan".
Betapa mendalam cinta Rasulullah kepada kita ummatnya, bahkan diakhir kehidupannya hanya kita yang ada dalam fikirannya.
Sakitnya sakaratul maut itu tetapi sedikit sekali kita mengingatnya bahkan untuk sekedar menyebut namanya.

Siapakah laki-laki itu, yang karenanya Nabi saw yang mulia mendapat teguran dari langit dan menyebabkan beliau sakit? Siapakah dia, yang karena peristiwanya Jibril al-Amin harus turun membisikkan wahyu Allah ke dalam hati Nabi yang mulia? Dia tidak lain adalah Abdullah bin Ummi Maktum, muadzin Rasulullah saw.
Abdullah Ummi Maktum, orang Mekah suku Quraisy. Dia mempunyai ikatan keluarga dengan Rasulullah saw, yakni anak Paman Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid ra Bapaknya Qais bin Zaid, dan ibunya Atikah binti Abdullah. Ibunya bergelar “Ummi Maktum”, karena anaknya, Abdullah, lahir dalam kedaan buta total.
Pada masa permulaan tersebut, Rasulullah saw sering mengadakan dialog dengan pemimpin-pemimpin Quraisy, seraya mengharap semoga mereka masuk Islam. Pada suatu hari beliau bertatap muka dengan ‘Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, ‘Amr bin Hisyam alias Abu Jahal, Umayyah bin Khalaf dan Walid bin Mughirah, ayah Saifullah Khalid bin Walid.
Rasulullah berunding dan bertukar pikiran dengan mereka tentang Islam. Beliau sangat ingin mereka menerima dakwah dan menghentikan penganiayaan terhadap para sahabat beliau. Sementara, beliau berunding dengan sungguh-sungguh, tiba-tiba Abdullah bin Ummi Maktum datang mengganggu minta dibacakan kepada ayat-ayat al-Qur’an. Kata Abdullah, “Ya Rasulullah, ajarkanlah kepadaku ayat-ayat yang telah diajarkan Allah kepada Anda!”
Rasulullah berpaling dari Abdullah, acuh terhadap interupsinya itu. Lalu beliau membelakangi Abdullah dan melanjutkan pembicaraan dengan para pemimpin Quraisy tersebut. Mudah-mudahan dengan Islamnya mereka, Islam bertambah kuat dan dakwah bertambah lancar. Selesai berbicara dengan mereka, Rasulullah saw bermaksud pulang. Tetapi, tiba-tiba penglihatan beliau menjadi gelap dan kepala beliau terasa sakit seperti kena pukul.
Kemudian, Allah mewahyukan firman-Nya kepada beliau, “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena seorang buta datang kepadanya. Tahukah kamu, barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberikan manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal, tidak ada (celaan) atasmu kalau mereka tidak membersihkan diri (beriman). Adapun orang yang datang kepadamu dengan bergegas (untuk mendapatkan pengajaran), sedangkan ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (begitu)! Sesungguhnya ajaran itu suatu peringatan. Maka siapa yang menghendaki, tentulah ia memperbaikinya. (Ajaran-ajaran itu) terdapat di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para utusan yang mulia lagi (senantiasa) berbakti,” (Abasa: 1-6).
Sejak hari itu Rasulullah saw tidak lupa memberikan tempat yang mulia bagi Abdullah apabila dia datang. Beliau menyilakan duduk di tempat duduknya, beliau tanyakan keadaannya, dan beliau penuhi kebutuhannya. Tidaklah heran kalau beliau memuliakan Abdullah sedemikian rupa, bukankah teguran dari langit itu sangat keras!
Teguran keras ini juga berlaku untuk semua kaum Muslimin juru dakwah hingga kini. Dalam berdakwah kita harus mendahulukan obyek dakwah yang jelas. Bahwa sang mad’u (obyek dakwah) membutuhkan dakwah. Selain itu, Mendahulukan yang kontinyu —meski sedikit— daripada yg terputus.
Dakwah juga harus mengutamakan yang prinsip daripada yang furu. Seperti pohon, Jangan sibuk menghadapi daun dan ranting yang berserakan, sementara batangnya dihisap benalu kita biarkan. Meski kulit pohon kering kita harus mendahulukan menyiram akarnya daripada menyiram kulit pohon.
Selain itu, dakwah harus memberi prioritas kepada kepentingan jamaah daripada pribadi. Sama juga dengan mendahulukan kepentingan umum daripada pribadi. Kisah tentang Hasan al-Bana yang menanamkan nilai-nilai kesederhanaan, keikhlasan dan pengorbanan dalam keluarganya, sehingga istrinya dengan hati yang senang dan rela menyumbangkan banyak perabotan rumahnya untuk markas dakwah Ikhwanul Muslimin, bisa menjadi teladan.
Sehingga dengan ikhlas dan rela, anak-anaknya menjadi orang-orang yang paling dahulu sadar dan memperjuangkan kondisi umat Islam di Palestina dan Mesir, sehingga dengan lapang, sang istri menerima jawaban sang suami saat ia memintanya membeli sebuah rumah kecil ”Wahai Ummu Wafa, sesungguhnya istana kita sedang menunggu kita di surga-Nya….”. Alangkah indahnya, sehingga dengan ikhlas dan ridha, keluarganya melepas kepergian suami dan ayah mereka, dalam kesyahidan di jalan Allah.
Jangan lupa dakwah harus mendahulukan hal jangka panjang tapi prospek. Daripada jangka pendek tapi setelah itu lembek. Karena seorang dakwah harus memiliki agenda. Bukannya justru dia yang menjadi pita rekaman yang diputar ulang di setiap undangan.

Abdullah Ummi Maktum, orang Mekah suku Quraisy. Dia mempunyai ikatan keluarga dengan Rasulullah saw, yakni anak Paman Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid ra Bapaknya Qais bin Zaid, dan ibunya Atikah binti Abdullah. Ibunya bergelar “Ummi Maktum”, karena anaknya, Abdullah, lahir dalam kedaan buta total.
Pada masa permulaan tersebut, Rasulullah saw sering mengadakan dialog dengan pemimpin-pemimpin Quraisy, seraya mengharap semoga mereka masuk Islam. Pada suatu hari beliau bertatap muka dengan ‘Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, ‘Amr bin Hisyam alias Abu Jahal, Umayyah bin Khalaf dan Walid bin Mughirah, ayah Saifullah Khalid bin Walid.
Rasulullah berunding dan bertukar pikiran dengan mereka tentang Islam. Beliau sangat ingin mereka menerima dakwah dan menghentikan penganiayaan terhadap para sahabat beliau. Sementara, beliau berunding dengan sungguh-sungguh, tiba-tiba Abdullah bin Ummi Maktum datang mengganggu minta dibacakan kepada ayat-ayat al-Qur’an. Kata Abdullah, “Ya Rasulullah, ajarkanlah kepadaku ayat-ayat yang telah diajarkan Allah kepada Anda!”
Rasulullah berpaling dari Abdullah, acuh terhadap interupsinya itu. Lalu beliau membelakangi Abdullah dan melanjutkan pembicaraan dengan para pemimpin Quraisy tersebut. Mudah-mudahan dengan Islamnya mereka, Islam bertambah kuat dan dakwah bertambah lancar. Selesai berbicara dengan mereka, Rasulullah saw bermaksud pulang. Tetapi, tiba-tiba penglihatan beliau menjadi gelap dan kepala beliau terasa sakit seperti kena pukul.
Kemudian, Allah mewahyukan firman-Nya kepada beliau, “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena seorang buta datang kepadanya. Tahukah kamu, barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberikan manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal, tidak ada (celaan) atasmu kalau mereka tidak membersihkan diri (beriman). Adapun orang yang datang kepadamu dengan bergegas (untuk mendapatkan pengajaran), sedangkan ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (begitu)! Sesungguhnya ajaran itu suatu peringatan. Maka siapa yang menghendaki, tentulah ia memperbaikinya. (Ajaran-ajaran itu) terdapat di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para utusan yang mulia lagi (senantiasa) berbakti,” (Abasa: 1-6).
Sejak hari itu Rasulullah saw tidak lupa memberikan tempat yang mulia bagi Abdullah apabila dia datang. Beliau menyilakan duduk di tempat duduknya, beliau tanyakan keadaannya, dan beliau penuhi kebutuhannya. Tidaklah heran kalau beliau memuliakan Abdullah sedemikian rupa, bukankah teguran dari langit itu sangat keras!
Teguran keras ini juga berlaku untuk semua kaum Muslimin juru dakwah hingga kini. Dalam berdakwah kita harus mendahulukan obyek dakwah yang jelas. Bahwa sang mad’u (obyek dakwah) membutuhkan dakwah. Selain itu, Mendahulukan yang kontinyu —meski sedikit— daripada yg terputus.
Dakwah juga harus mengutamakan yang prinsip daripada yang furu. Seperti pohon, Jangan sibuk menghadapi daun dan ranting yang berserakan, sementara batangnya dihisap benalu kita biarkan. Meski kulit pohon kering kita harus mendahulukan menyiram akarnya daripada menyiram kulit pohon.
Selain itu, dakwah harus memberi prioritas kepada kepentingan jamaah daripada pribadi. Sama juga dengan mendahulukan kepentingan umum daripada pribadi. Kisah tentang Hasan al-Bana yang menanamkan nilai-nilai kesederhanaan, keikhlasan dan pengorbanan dalam keluarganya, sehingga istrinya dengan hati yang senang dan rela menyumbangkan banyak perabotan rumahnya untuk markas dakwah Ikhwanul Muslimin, bisa menjadi teladan.
Sehingga dengan ikhlas dan rela, anak-anaknya menjadi orang-orang yang paling dahulu sadar dan memperjuangkan kondisi umat Islam di Palestina dan Mesir, sehingga dengan lapang, sang istri menerima jawaban sang suami saat ia memintanya membeli sebuah rumah kecil ”Wahai Ummu Wafa, sesungguhnya istana kita sedang menunggu kita di surga-Nya….”. Alangkah indahnya, sehingga dengan ikhlas dan ridha, keluarganya melepas kepergian suami dan ayah mereka, dalam kesyahidan di jalan Allah.
Jangan lupa dakwah harus mendahulukan hal jangka panjang tapi prospek. Daripada jangka pendek tapi setelah itu lembek. Karena seorang dakwah harus memiliki agenda. Bukannya justru dia yang menjadi pita rekaman yang diputar ulang di setiap undangan.

Wahai Para Da’i Islam!
Carilah kematian niscaya anda akan dikaruniai kehidupan. Janganlah anda sampai tertipu oleh angan-angan kalian. Janganlah anda sampai tertipu oleh buku-buku yang anda baca dan amalan-amalan sunnah yang anda lakukan sehingga anda melupakan kewajiban besar. Wahai Para Ulama Islam! Majulah kalian untuk memimpin generasi yang ingin kembali kepada Rabb-nya ini. Janganlah kalian cenderung kepada kehidupan dunia.
Carilah kematian niscaya anda akan dikaruniai kehidupan. Janganlah anda sampai tertipu oleh angan-angan kalian. Janganlah anda sampai tertipu oleh buku-buku yang anda baca dan amalan-amalan sunnah yang anda lakukan sehingga anda melupakan kewajiban besar. Wahai Para Ulama Islam! Majulah kalian untuk memimpin generasi yang ingin kembali kepada Rabb-nya ini. Janganlah kalian cenderung kepada kehidupan dunia.
Wahai Kaum Muslimin!
Telah lama kalian tidur nyenyak, sehingga kerusakan merajalela di negeri kalian.
Wahai Kaum Wanita!
Jauhilah kehidupan mewah dan megah karena kemewahan itu musuh disamping akan merusak jiwa manusia. Hindarilah barang-barang yang tidak terlalu penting dan cukupkanlah dengan kebutuhan-kebutuhan primer.
Binalah anak-anak kalian untuk menjadi orang yang berani dan siap berjihad.
Tanamkanlah pada jiwa anak-anak kalian cinta Jihad dan perjuangan. Hiduplah dengan penuh perhatian terhadap problematika kaum Muslimin. Biasakanlah paling tidak sehari dalam sepekan hidup menyerupai kehidupan kaum Muhajirin dan Mujahidin yang hanya memakan sekerat roti kering dan beberapa teguk air.
Wahai Anak-Anak!
Jauhkanlah diri kalian dari bualan lagu-lagu dan musik-musik orang-orang pengumbar nafsu. Jauhkanlah punggung kalian dari kasur orang-orang yang hidup bemewah-mewahan.
Wahai Ummu Muhammad! (Istri Abdullah Azzam)
Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan sebanyak-banyaknya atas apa yang telah engkau lakukan kepadaku dan kepada kaum Muslimin.
Engkau telah bersabar hidup bersamaku setelah sekian lama merasakan manis pahitnya kehidupan. Engkau telah memberikan dukungan yang sangat berarti bagiku untuk berjalan di atas perjalanan yang penuh berkah ini dalam berjuang di medan Jihad.
Ke atas pundakmulah aku serahkan tanggung jawab keluarga pada tahun 1969, ketika kita baru mempunyai dua anak dan seorang bayi. Engkau hidup dalam sebuah kamar kecil yang terbuat dari tanah liat, tanpa dapur dan alat pemanas (untuk menghadapi musim dingin).
Kemudian aku serahkan ke atas pundakmu segala urusan rumah tangga ketika beban semakin berat, keluarga semakin bertambah, anak-anak bertambah besar dan tamu-tamu bertambah banyak, tetapi engkau tetap tabah menghadapi semuanya.
Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan sebanyak-banyaknya atas apa yang telah engkau lakukan untukku.
Sesungguhnya kehidupan jihad adalah kehidupan yang paling lezat. Kesabaran menghadapi kesulitan lebih manis daripada hidup bergemilang kemewahan dan kemegahan.
Pertahankanlah hidup zuhud niscaya Allah mencintaimu, dan janganlah engkau menginginkan apa yang ada di tangan orang lain, niscaya mereka akan mencintaimu.
Al-Quran adalah kenikmatan dan teman hidup. Bangun malam, shiam sunnah dan istighfar di waktu pagi akan membuat hati menjadi bersih dan menjadikan engkau merasakan manisnya ibadah.
Bertemanlah dengan wanita-wanita shalihah, tidak berambisi kepada kehidupan dunia dan menjauhi kemewahan dan cinta dunia, akan memberikan ketenangan hati.
Semoga Allah mempertemukan dan menghimpun kita di Surga Firdaus, sebagaimana Allah menghimpun kita di dunia.
Wahai Kalian Anak-Anakku!
Sesungguhnya kalian tidak mendapatkan perhatianku kecuali sedikit. Kalian tidak memperoleh pembinaan dariku kecuali sedikit. Ya, aku tidak memberikan perhatian kepada kalian.
Tetapi apa yang dapat aku lakukan sementara malapetaka terhadap kaum Muslimin membuat orang hamil melahirkan kandungannya dan musibah yang menimpa Umat Islam membuat rambut bayi-bayi beruban.
Demi Allah, aku tidak kuasa hidup tenang sementara api malapetaka membakar hati kaum Muslimin.
Aku tidak rela hidup di tengah-tengah kalian menikmati hidangan lezat. Demi Allah, sejak dulu aku membenci kemewahan, baik dalam pakaian, makanan ataupun tempat tinggal. Aku berusaha mengangkat kalian ke tingkat orang-orang zuhud dan aku jauhkan kalian dari lumpur kemewahan.
Aku wasiatkan kepada kalian agar berpegang teguh kepada Aqidah Salaf (Ahlussunnah wal-Jama’ah).
Jauhkanlah diri kalian dari sikap berlebih-lebihan. Baca dan hafalkanlah Al-Quran.
Jagalah lisan, bangunlah malam, lakukanlah puasa sunnah, bergaul-lah dengan orang-orang baik, aktiflah bersama gerakan Islam.
Aku wasiatkan kepada kalian wahai anak-anakku agar kalian ta’at pada ibu kalian dan menghormati saudara-saudara perempuan kalian (Ummul Hasan dan Ummul Yahya). Carilah ilmu syar’i yang bermanfaat. Ta’atilah saudara kalian yang terbesar (Muhammad) dan hormatilah dia.
Aku wasiatkan kalian agar saling mencintai sesama kalian. Berbuat baiklah kepada nenek dan kakek kalian (Ummu Faiz dan Ummu Muhammad), karena keduanya-lah, setelah Allah, banyak berjasa baik kepadaku. Sambunglah hubungan keluarga kita dan berbuat baiklah kepada keluarga kita. Penuhilah hak persahabatan kita kepada orang yang bersahabat demi kita.
Maha Suci Engkau Ya Allah, dan Maha Terpuji Engkau. Aku bersaksi bahwa tiada Ilah kecuali Engkau. Aku memohon ampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.
Senin waktu Ashar, 22 Sya’ban 1406H (20 April 1986)
Abdullah Yusuf Azzam
Wasiat ini ditulis oleh Sheikh Abdullah Azzam semasa jihad Afghanistan melawan Uni Soviet masih berlangsung

Keyakinan, adalah kesederhanaan. Sebuah kesederhanaan yang lahir dari kuatnya jiwa dan karakter seseorang. Keyakinan juga yang membuat Rasulullah, tak pernah berhenti berdo’a untuk penduduk thaif meski lemparan batu, hinaan hingga penolakan terhadap beliau bersama risalahnya. Keyakinan juga yang menumbuhkan kecintaan yang membara seorang Khalid bin Walid dengan dinginnya malam ketika perang dibanding bermesraan bersama seorang gadis cantik. Keyakinan pula yang membuat Ali bin abi Thalib dengan berani menggantikan Rasulullah ketika beliau hendak dibunuh oleh kaum Quraisy. Keyakinan itu tumbuh.. kuat mengakar.. Lahir dari keluhuran budi, kokohnya karakter, dan bersumber dari dentuman cinta mengabadi yang tak pernah padam untuk Allah dan jihad di jalan-Nya.
Keyakinan adalah teman setianya gairah yang selalu bersumber dari cinta. Keyakinan adalah kekuatan yang takkan pernah habis untuk selalu memberi energi bagi jiwa untuk menunggu, “membangun”, menguatkan, hingga berbagai defenisi tindakan yang terkadang tak bisa diterima oleh akal. Keyakinan hadir seperti sumber cahaya, ia adalah sumbu lilin yang terus terbakar, ia adalah sumbu sinaran yang menjadi alat untuk memberikan ruang terangnya.
Jika keyakinan adalah alasan terbesar seseorang untuk bertahan. Maka pasangan jiwanya adalah kesabaran. Kesabaranlah yang membuat orang untuk terus bersama dengan keyakinannya. Jika keyakinan adalah sumbu untuk memberikan cahaya, maka kemampuan untuk menerangi selama mungkin adalah sebuah defenisi sederhana tentang kesabaran. Kesabaran selalu menghasilkan berjuta pesona bagi sejarah. Bagaimana Sayyid Qutb lebih memilih untuk bersabar bersama dengan siksaan penjara di zamannya, kesabarannya-lah yang membuat cerita jihad menggelora di dalam dada jutaan pejuang di seantero mayapada. Bagaimana Yusuf AS, yang lebih memilih penjara agar mampu terus mengenal-Nya. Bagaimana sumayyah meneladani semua wanita dengan semangat jiwanya untuk terus bersabar menahan siksaan kaum kafir hingga menjadi syuhada pertama dalam Islam. Mereka adalah karakter-karakter yang menyejarah.. selalu indah untuk dikenang.
Gabungan antara keyakinan dan kesabaran akan menghasilkan semangat yang takkan pernah padam. Keberanian akan menjadi temannya, kesolehan akan menjadi pakaian mereka, kebeningan hati akan selalu mengisi hidup mereka, dan hasilnya… Karya-karya besar bagi peradaban akan tercipta dari segala bentuk usaha mereka.
Yakinlah… bahwa Allah takkan pernah menyia-nyiakan segala usahamu.. Bersabarlah, hingga kelak… Ketika sabarmu telah habis masanya.. Perbahuilah terus ia dengan sebuah KEYAKINAN… Bahwa Allah takkan pernah membuatmu kecewa…
O Allah, I wanna thank you
I wanna thank You for all the things that you’ve done
You’ve done for me through all my years I’ve been lost
You guided me from all the ways that were wrong
I wanna thank You for bringing me home
Alhamdulillah, Alhamdulillah
All praises to Allah, All praises to Allah
Alhamdulillah, Elhamdulillah
All praises to Allah, All praises to Allah.
-Maher Zain-
Sumber : Dakwatuna

Merekalah Jiwa-Jiwa Badar
Yang laungannya imannya menggelegar
Yang bayangan syurganya kian luas menghampar
Yang laungannya imannya menggelegar
Yang bayangan syurganya kian luas menghampar
Ragu mereka keluar menjemput kaum kuffar. Ketiadaan pengalaman, jauhnya perjalanan, minimnya perbekalan. Bayangan tentang kematiana meredupkan semangat berjuang, padahal Rabb mereka menjanjikan kemenangan. Berbantahan mereka tentang kebenaran yang sudah nyata tentang berjumpanya dua kekuatan.....
Badar, nyanyiannya menggeterkan.
Sedangkan Allah menetapkan yang hak itu pantas diteguhkan dan yang syirik itu harus dilumpuhkan.
Dua pasukan mesti dipilih Jiwa Badar. Satunya membawa kekayaan dunia, gemerlapnya, kemegahannya. Lainnya menjanjikan perjuangan berat berhiaskan darah, keringat, air mata, denting pedang, lesat tombak, dan..... kematian.
Sedangkan Rabb mereka menjanjikan Syurga yang penuh kenikmatan dibalik kesulitan berjuang.Sedangkan Nabi mereka menyerukan kemenangan abadi.
”Berangkatlah menuju syurga yang luasnya seluas langit dan bumi.””Wahai Rasulullah, syurga seluas langit dan bumi?” suara Jiwa Badar.
”Ya, apa yang membuatmu mengatakan bagus, bagus?”
”Tidak ada, demi Allah, kecuali harapan bahwa aku akan termasuk ahli syurga itu,” sahut Jiwa Badar seraya menimbang kurma yang ada di genggamannya.
”Seandainya aku hidup sampai habis memakan kurma-kurma ini, sungguh itu merupakan hidup yang lama,” lanjutnya sambil membuang kurma yang ada dan terjun menjemput kesyahidan.....
Merekalah Jiwa-Jiwa Badar
Yang bai’atnya menjadi hujjah tak terlanggar
Yang gelegak darahnya menjadi bara tak tergambar
Yang bai’atnya menjadi hujjah tak terlanggar
Yang gelegak darahnya menjadi bara tak tergambar
Seribu prajurit, seratus kuda, enam ratus baju besi, puluhan unta dipersiapkan musuh yang hendak menahan cahaya Sang Pemilik Bumi. Dengan keangkuhan dari keriyaan, mereka datang, hendak menggetarkan para penegak panji kebenaran. Sementara Jiwa-Jiwa Badar tetap dalam lindungan Rabbnya yang Penyayang. Sementara masa depan Islam dipertaruhkan di pundak mereka....
Badar, nyanyiannya mendebarkan.
Badar, nyanyiannya mendebarkan.
Majlis permusyawaratan mulia digelar. Jiwa-Jiwa Badar bersimpuh, memperdengarkan kegetiran.
”Wahai Rasulullah, majulah terus seperti yang diperlihatkan Allah kepada engkau. Kami akan bersama engkau. Demi yang mengutusmu dengan kebenaran, andaikata engkau pergi membawa kami ke dasar sumur yang gelap, maka kami pun siap bertempur bersamamu hingga engkau bisa mencapai tempat itu,” seru Jiwa Badar dengan takzim... kepada Rasul khuluqin azhim...
Itulah ungkapan kata mulia, diperdengarkan jiwa yang dididik dengan kilatan iman. Membara. Mempesona. Menyebarkan aroma syurga. Membangkitkan pejuang-pejuang Musa, Sulaiman, Thalut ke dalam Jiwa Badar. Hangat menggetarkan.
”Kami sudah beriman kepada engkau. Kami sudah membenarkan engkau. Kami sudah bersaksi bahwa apa yang engkau bawa adalah kebenaran. Kami sudah memberikan sumpah dan janji kami untuk patuh dan taat. Maka majulah terus wahai Rasulullah seperti yang engkau kehendaki. Demi yang mengutus engkau dengan kebenaran, andai kata engkau bersama kami terhalang lautan lalu engkau tejun ke dalam lautan itu, kami pun akan terjun bersama engkau. Tak seorang pun diantara kami yang akan mundur.
Kami suka jika besok engkau berhadapan dengan musuh bersama kami. Sesungguhnya kami dikenal orang-orang yang sabar dalam peperangan dan jujur dalam pertempuran. Semoga Allah memperlihatkan kepadamu tentang diri kami, apa yang engkau senangi. Maka majulah bersama kami dengan barakah Allah,” seru Jiwa Badar yang dididik dengan ketepatan janji.
Kami suka jika besok engkau berhadapan dengan musuh bersama kami. Sesungguhnya kami dikenal orang-orang yang sabar dalam peperangan dan jujur dalam pertempuran. Semoga Allah memperlihatkan kepadamu tentang diri kami, apa yang engkau senangi. Maka majulah bersama kami dengan barakah Allah,” seru Jiwa Badar yang dididik dengan ketepatan janji.
Adakah alasan kini untuk tak menjawab panggilan suci? Tatkala Rasul mereka yang mulia bersabda, ”Majulah kalian.....”
”Terimalah kabar gembira.....””Karena Allah telah menjanjikan salah satu dari dua pihak kepadaku.....”
”Demi Allah, seakan-akan saat ini aku bisa melihat tempat kematian mereka.....”
”Siiiru, siiiru ilaaa barokatillaaaaah.....”
Merekalah Jiwa-Jiwa Badar
Yang kekafiran telah menjadi musuh mutlak
tak tergantikan walau ia karib kerabat
Yang kekafiran telah menjadi musuh mutlak
tak tergantikan walau ia karib kerabat
Maju mereka menyambut seruan. Sedangkan dihadapannya ayah, anak, paman, dan saudara menjadi musuh yang siap meregang nyawa. Jiwa Badar meradang, hatinya bergejolak menyaksikan Rabb mereka diduakan. Kecintaanya kepada Sang Khaliq jauh melebihi kecintaannya kepada onggokan tanah yang berasal dari mani hina.....
Badar, nyanyiannya memilukan.
Sejarah telah dengan bangganya menoreh kisah Ibnu Qahafah Ash-Shiddiq, sang Jiwa Badar, tatkala ia berkata kepada anaknya ”dimanakah hartaku wahai anak kecil yang buruk?” ungkapan tegar yang keluar dari jiwa tegar melihat anaknya berada dalam keangkuhan.
Sejarah juga mencatatkan kesombongan, ”yang ada saat ini adalah senjata dan kuda, serta pedang tajam yang siap membabat orang tua yang sudah renta,” ujar Abdurrahman, yang akhirnya dibunuh dengan ‘iman‘, melenyapkan yang seharusnya dilenyapkan.....
Adakah kini tali darah dapat menyatu sedangkan tali iman, tauhid terhempas menantang Sang Azizi menata bumi.
Adakah kini gelap kemusyrikan mampu bersatu dengan cahaya Ar-Rahman.
Adakah kini busuk dunia mampu bersatu dengan keharuman syurga.
Adakah kini mayat kedzaliman mampu bersatu dengan syuhada keimanan, sedangkan yang satu membawa kedamaian dan lainnya membawa aroma kerusakan. Dan pantaskah kemudian Badar jadi pembuktian?.....
Badar, nyanyiannya meluluhlantakkan.
Sedangkan do’a getir sang Rasul menjadi bara untuk terus berjuang. ”Ya Allah, jika pasukan ini hancur pada hari ini, tentu Engkau tidak akan disembah lagi. Ya Allah, kecuali jika memang Engkau menghendaki untuk tidak disembah untuk selamanya setelah hari ini.”.....
Merekalah Jiwa-Jiwa Badar
Yang pasukan langit tak ragu menghantar
kemenangan bagi mereka yang tak gentar
Yang pasukan langit tak ragu menghantar
kemenangan bagi mereka yang tak gentar
Teriakan takbir dan gema tauhid menggema di segenap ufuk mengantarkan Jiwa-Jiwa Badar menghancurkan kekuatan kuffar. Kekuatan strategi, keindahan taktik dan keteguhan berjuang menghias para pasukan Syurga. Sementara di atas mereka gulungan-gulungan debu menderu tak sabar bergabung dengan tuannya menegakkan Al-Haq.....
Badar, nyanyiannya menyejukkan.
Sang Rasul diserang kantuk hanya dalam sekejap. Layaknya sinyal yang datang mengabarkan pertolongan. Kepalanya mendongak dan bersabda, ”bergembiralah wahai Abu Bakar. Telah datang pertolongan Allah kepadamu. Inilah Jibril yag datang sambil memegang tali kekang kuda yang ditungganginya di atas gulungan-gulungan debu.”
Ribuan malaikat datang membantu Jiwa-Jiwa Badar. Derap kuda yang bergerak laksana kilat, menghantarkan para malaikat menyambut titah Ilahi, menegakkan Islam yang sedang dipertaruhkan. Menggetarkan musuh-musuh, menghancurkan kaum angkuh yang sombong di hadapan Raja segala raja.
Dengarlah lecutan cambuknya.Dengarlah derap langkahnya.
Dengarlah laung takbirnya.
Dan Allah ingin menegakkan DienNya, walau orang-orang musyrik itu tak suka.
Badar, nyanyiannya masih terdengar.
Lantunan do’anya masih terngiang mengiringi langkah para mujahid, berjuang..... sampai saat kemenangan.
Kini, dimanakan Jiwa-Jiwa Badar itu menjelma di zaman yang jauh dan qudwah mulia. Di saat manusia membutuhkan jiwa-jiwa yang setia dengan janji menegakkan Islam. Di saat umat jauh dari tuntunan Rabbnya. Di saat da’wah ini membutuhkan pertolongan Allah dan kemenangan.....
Merekalah Jiwa-Jiwa Badar
Yang semangatnya tak pernah pudar
Walau nyawa mesti ditukar
Dengan jannah –tentu– di hadapan Ar-Rahman
Merekalah Jiwa-Jiwa Badar.....
Yang semangatnya tak pernah pudar
Walau nyawa mesti ditukar
Dengan jannah –tentu– di hadapan Ar-Rahman
Merekalah Jiwa-Jiwa Badar.....
Al-Izzah No.9/Th.1/September 2000
Dengan sedikit perubahan

Di antara hal yang mematikan kehidupan manusia adalah kekosongan waktu (faragh). Ada banyak manusia yang menghanguskan waktu mereka untuk hal-hal yang tidak ada manfaatnya bagi kebaikan diri dan masyarakat, bahkan sebagian yang lain menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk sesuatu yang justru menzhalimi dan merusak diri serta umat. Kerugian sudah pasti akan menjadi milik mereka.
Perhatikanlah betapa berharga waktu-waktu yang kita miliki. Sungguh amat sangat terbatas jatah waktu yang Allah berikan kepada masing-masing kita, sudah semestinya kita mengoptimalkan setiap detik waktu yang ada untuk kebaikan. Jika kita memiliki waktu 5 menit saja yang terbuang percuma setiap harinya, maka selama setahun ada 1.825 menit atau 30,42 jam waktu yang terbuang. Apabila Allah mengaruniakan usia 60 tahun kepada kita, maka ada 1.825 jam atau 76 hari yang terbuang percuma.
Cobalah kita cermati secara seksama, apakah waktu kita yang terbuang percuma lebih dari 5 menit setiap harinya? Apakah yang anda kerjakan di waktu pagi, siang, sore atau malam hari? Kadang ada suasana santai yang menghanguskan banyak waktu. Pada beberapa kalangan, waktu senggang tersebut dimanfaatkan untuk mengobrol dengan tetangga atau teman. Setiap harinya bisa menghabiskan waktu hingga dua jam untuk mengobrol tersebut, bahkan lebih, dengan tema yang beraneka ragam dan semata-mata mengisi waktu luang. Baik di kantor, di rumah, ataupun di restoran dan tempat-tempat umum lainnya, mengobrol seakan-akan telah menjadi kebutuhan pokok.
Jika sehari menggunakan 2 jam waktu untuk mengobrol dengan teman atau tetangga, maka dalam setahun ada 730 jam atau 30,42 hari mengobrol. Jika jatah usia kita 60 tahun maka kurang lebih ada 43.800 jam atau setara dengan 1.825 hari atau 60 bulan atau 5 tahun waktu kita yang habis untuk kepentingan mengobrol saja. Apabila obrolannya membawa manfaat bagi kebaikan diri dan masyarakat, tentu tidak menjadi masalah. Akan tetapi jika obrolannya sekedar menyebarkan isu dan gosip, membicarakan kejelekan orang lain, dan dalam konteks “daripada bengong”, maka sudah barang tentu akan membawa berbagai kemudharatan.
Jika seorang muslim mengandalkan ibadahnya hanya kepada shalat wajib lima waktu saja, maka dengan rata-rata pelaksanaan sekali shalat wajib 5 menit, sehari mengerjakan shalat 25 menit. Dengan demikian setahun ada 9.125 menit atau 152 jam atau 6,3 hari saja untuk shalat. Jika jatah usianya 60 tahun, maka untuk ibadah hanya memerlukan 9.125 jam, atau setara dengan 380,2 hari atau 12 bulan atau satu tahun. Padahal untuk mengobrol saja memerlukan waktu 5 tahun.
Tentu saja tidak dilarang untuk mengobrol, jika ada tujuan dan kemanfaatan yang jelas. Akan tetapi hendaknya kita sangat memperhatikan alokasi penggunaan waktu dalam kehidupan sehari-hari, agar tidak hangus secara percuma. Ada banyak waktu yang perlu kita hemat dalam kehidupan sehari-hari. Saat anda di kamar mandi, di meja makan, di kamar saat berganti pakaian atau berhias, di depan televisi, di halte bus, dan di berbagai tempat privat maupun publik. Jika suatu aktivitas telah anda selesaikan, jangan membiarkan ada waktu jeda atau waktu luang yang dibiarkan berlalu sia-sia. Segera kerjakan aktivitas lainnya.
Demikianlah Al Qur’an mengajarkan kepada kita, “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatunurusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap” (Alam Nasyrah: 7 – 8).
Allah menghendaki agar kita tidak memiliki kekosongan waktu (faragh). Artinya, satu kegiatan senantiasa bersambung dengan kegiatan yang lainnya, sehingga tidak ada waktu yang tidak terdefinisikan pemanfaatannya, yang cenderung menjadi kesia-siaan. Jika anda telah selesai shalat Subuh, segera lakukan aktivitas lainnya, sampai saatnya anda siap bekerja. Sesampai di tempat kerja, segera lakukan aktivitas kerja hingga tuntas, setelah tiba waktu pulang, segeralah pulang untuk istirahat. Jika telah cukup istirahat, segera kerjakan aktivitas lainnya, demikian seterusnya, sehingga tidak ada satu detik waktu kita yang terbuang percuma.
Sumber : Cahyadi Takariawan
Sumber : Cahyadi Takariawan

Dakwah adalah aktifitas mengajak semua orang untuk lebih baik dari sebelumnya. Ketika aktifitas itu terus berlanjut secara bertahap, maka kebaikan demi kebaikan itu akan mengarahkan seseorang berubah menjadi sosok yang berkepribadian islami. Bukan hanya akidah dan keyakinan yang teguh akan keesaan Allah SWT, tetapi juga disertai dengan konsistensi ibadah, kemapanan dalam beretika (baca : akhlak), plus semangat dalam menebarkan kebaikan pada yang lainnya. Inilah yang sering disebut dengan syakhsiyah muslimah mutakamilah atau kepribadian muslim yang integral / komprehensif.
Tetapi tujuan akhir di atas bukanlah dakwah itu sendiri. Dakwah adalah proses untuk mencapai tujuan itu sendiri. Ia tetaplah sekedar seni untuk mengajak orang setingkat lebih baik dari sebelumnya. Dan jika proses itu kita lakukan dengan berkelanjutan dan istiqomah, maka tercapai tujuan dakwah adalah ‘bonus’ yang disisipkan Allah SWT di dunia ini. Sekali lagi mari kita lihat dakwah sebagai proses, atau lebih tepatnya seni mengajak dan mempengaruhi orang pada kebaikan. Karenanya keberkahan dan kesuksesannya dilihat dari proses yang kita jalani, bukan hasilnya. Jika kita menganggap kesuksesan dakwah ada pada munculnya pengikut yang banyak dan shalih semua, barangkali secara tidak langsung kita menilai dakwah nabi Nuh as dan nabi yang lainnya gagal semata. Dan anggapan ini tentu saja tidak benar, karena justru nabi Nuh as diabadikan sebagai ulul azmi yang senantiasa menjadi panutan kesabaran bagi kita semua dalam berdakwah.
Mengapa saya mengulang-ngulang bahwa dakwah adalah sebuah seni dan proses yang bertahap ? Karena sebuah keyakinan bahwa semua orang punya hak untuk di dakwahi, sebagaimana setiap mereka juga punya kemampuan penerimaan yang berbeda-beda. Dan apapun kejadiannya, saat anda berhasil mengubah orang sedikit lebih baik dari sebelumnya, maka itulah bagian dari kesuksesan dakwah. Tidak berlebihan ketika saya mengumpakan dengan logika sederhana ; jika anda mempunyai teman laki-laki anda yang memakai dua anting-anting, lalu anda berhasil membuatnya melepas satu saja anting-anting itu, maka itu adalah sebuah capaian dakwah yang berkah.
Inilah dakwah, seni untuk mengubah seseorang menuju kebaikan sekecil apapun. Dan Inilah Indonesia dengan segenap ragam perbedaan masyarakatnya ! Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia ini mempunyai ragam jenis pemahaman dan kecintaan pada Islam yang berbeda-beda !. Bahkan sejak jaman kerajaan sudah di kenal islam abangan dan santri, sebagaimana lalu diwariskan pada abad modern dengan istilah ‘Islam KTP’. Kepada merekalah dakwah ini seharusnya diperluas dan dioptimalkan, bukan sekedar pada mereka yang memenuhi masjid di hari tuanya. Karena begitu majemuknya kaum muslimin di Indonesia, ditambah lagi warisan sekulerisme ala ‘ Snouck Hurgronje plus bayang-bayang islamphobia hasil brilian kampanye anti teroris yang digalang Amerika, maka ini semua mengharuskan para Da’I pengusung dakwah untuk benar-benar bisa mengemas dakwah dengan baik, cerdas, agar masuk ke dalam relung hati mereka. Meski kemudian hanya sedikit meningkatkan kebaikan yang tak seberapa.
Ada beberapa contoh tentang mengemas dakwah yang barangkali sudah sama-sama kita ketahui. Khusus saya ambil dari tayangan film atau sinetron yang ditayangkan di negeri ini. Ijinkan sedikit sekali lagi kami membahasnya agar bisa menjadi contoh bagaimana seharusnya kita bisa mengemas dakwah dengan cara yang terbaik di negeri kita ini.
Pertama : Kemasan Dakwah ‘Oportunis’
Mohon maaf jika menggunakan kata ‘oportunis’, untuk sementara biarlah demikian adanya karena saya belum menemukan kata-kata lain yang lebih tepat. Kemasan dakwah yang palsu saya dapati di banyak tayangan sinetron di televisi yang sering disebut sebagai ‘sinetron islami’. Mengapa palsu ? Karena dakwah yang ada – atau lebih tepatnya kesan islami- yang ada hanyalah berputar di judul-judul yang ada. Bahkan untuk terlihat sangat Islami, dipilihlah judul yang langsung menyentuh hati kaum muslimin. Sebuat saja sinetron “ Shofa dan Marwah” , atau “ Aqsho dan Madina”. Nama-nama dari tempat-tempat bersejarah yang dimuliakan dan mendapat tempat bagi kaum muslimin. Kita pasti bergetar dan merindukan tempat-tempat itu, yang sebagian dari kita hanya bisa mendengar dan melihatnya dari berita dan kajian siroh saja. Lihat saja, betapapun islaminya judul sinetron tersebut, sungguh kita tidak akan mendapatkan kesan dakwah apapun di dalamnya, kecuali hanya sekedar gambarang wanita khusyuk berdoa setelah shalat sambil berlinang air mata !. Selain itu jangan berharap banyak, yang ada hanyalah deretan episode yang tidak jauh berbeda dengan sinetron lainnya. Pada titik inilah, dengan sangat terpaksa saya menyebutnya dengan istilah ‘oportunis’. Luarnya menampilkan cover Islam, tapi tidak diikuti dengan kesungguhan dalam memperkenalkan nilai-nilainya.
Kedua : Kemasan Dakwah Idealis
Kali ini saya menyoroti beberapa film yang tegas mengusung judul islami dan juga dengan konten yang islami. Sebut saja film semacam “Kun Fayakun”, dan “Emak Ingin Naik Haji”, yang memuat nilai-nilai dakwah secara jelas melalui dialog-dialog dan tayangannya. Ini adalah langkah baik dan berkah. Tetapi kenyataan menunjukkan bahwa memang tidak banyak yang menonton film ini. Capaian jumlah penonton sangat tidak seimbang dengan catatan film-film lainnya. Saya membayangkan yang menonton hanyalah aktifis Islam dan yang sudah menyukai Islam. Bahkan mereka yang ‘kental’ dengan kajian dan gerakan islam belum tentu juga mau ikut menonton tayangan seperti itu. Sementara itu, di luar sana banyak kaum muslimin yang disebut dengan “islam KTP’ atau mereka yang tidak pernah bersinggungan dengan kajian, juga yang masih melekat trauma islam phobia, rasa-rasanya saat melihat judulnya saja akan merasa berat untuk hadir dan menyaksikannya. Ini bukan contoh kemasan dakwah yang buruk, hanya saja untuk memperluas cakupan dakwah dalam ceruk masyarakat muslim yang majemuk, masih terlampau berat untuk mendapatkan penerimaan yang signifikan.
Ketiga : Kemasan Dakwah Kreatif dan Prospektif
Mungkin saja seseorang menampilkan gaya standar yang disukai banyak orang, atau minimal tidak mendapatkan resistensi di tengah masyarakat, tapi ternyata di dalamnya menjelaskan tentang semangat islam dengan gamblang, jelas dan masuk dalam hati. Gambaran ini segera saya baca dalam film “ Laskar Pelangi”. Dilihat dari judulnya sangat humanis dan netral. Ia langsung menyentuh siapa saja tanpa melihat kapasitas keagamaannya. Barangkali saya sempat tertipu dengan judul dan tampilan nyentrik penulis film ini. Sama sekali tidak menggambarkan adanya pesan agung setelahnya. Tapi kemudian saya menyadari, bahwa di dalam film itu justru ada pesan-pesan keislaman yang tegas menghujam dalam hati. Melalui dialog, jalan cerita dan kesan umum yang akan kita dapati dengan mudah. Betapa tidak ? Latar belakang cerita saja tentang sebuah SD muhammadiyah di pesisir Belitong. Dialog-dialog guru dengan muridnya banyak mengungkap kisah-kisah Islam dengan gamblang. Kisah perang Badar dan kisah Nabi juga dimuat dengan tegas tanpa edeng aling-aling, meski melalui dialog singkat saja. Inilah kemasan dakwah yang kreatif dan prospektif, khususnya yang merindukan memberikan hak dakwah lebih luas kepada masyarakat muslim Indonesia yang majemuk pemahamannya. Meski dari luar terlihat lebih Indonesia atau kesan nasionalis sekalipun, tetapi tetap membawa pesan-pesan keislaman yang tegas dan menyentuh. Anda boleh catat hasilnya, jumlah penonton film ini mencapai 4,2 juta orang, dan itu adalah jumlah terbesar yang pernah tercatat selama ini. Kesan yang hampir sama juga mungkin kita dapati di sinetron “ Kiamat sudah Dekat”, dan “ Para Pencari Tuhan”.
Terakhir, mengapa kemasan dakwah harus menjadi pertimbangan kita dalam melangkah ? Sekali lagi, merupakan kewajiban bagi kita untuk menyebarkan dakwah seluas mungkin, kepada siapapun dan dimanapun. Disinilah arti kemasan menjadi penting, agar dakwah diterima dengan mudah dalam hati masyarakat, dan selanjutnya saat hati mulai tersentuh dan tertarik dengan Islam, maka bukan tidak mungkin kita lanjutkan dengan ajakan-ajakan lanjutan untuk mengubah setingkat lebih baik dari sebelumnya.
Inilah seni berdakwah, mengajak orang untuk lebih baik dari sebelumnya, meski hanya sedikit atau bahkan belum terasa. Mari kita ambil inspirasi dari misi dakwah nabi syuaib yang diabadikan dalam Al-Quran : “ Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali “ (QS Hud 88)
Semoga Allah SWT memudahkan aktifitas dakwah kita. Salam optimis !
Sumber : Indonesia Optimis

Tetapi tujuan akhir di atas bukanlah dakwah itu sendiri. Dakwah adalah proses untuk mencapai tujuan itu sendiri. Ia tetaplah sekedar seni untuk mengajak orang setingkat lebih baik dari sebelumnya. Dan jika proses itu kita lakukan dengan berkelanjutan dan istiqomah, maka tercapai tujuan dakwah adalah ‘bonus’ yang disisipkan Allah SWT di dunia ini. Sekali lagi mari kita lihat dakwah sebagai proses, atau lebih tepatnya seni mengajak dan mempengaruhi orang pada kebaikan. Karenanya keberkahan dan kesuksesannya dilihat dari proses yang kita jalani, bukan hasilnya. Jika kita menganggap kesuksesan dakwah ada pada munculnya pengikut yang banyak dan shalih semua, barangkali secara tidak langsung kita menilai dakwah nabi Nuh as dan nabi yang lainnya gagal semata. Dan anggapan ini tentu saja tidak benar, karena justru nabi Nuh as diabadikan sebagai ulul azmi yang senantiasa menjadi panutan kesabaran bagi kita semua dalam berdakwah.
Mengapa saya mengulang-ngulang bahwa dakwah adalah sebuah seni dan proses yang bertahap ? Karena sebuah keyakinan bahwa semua orang punya hak untuk di dakwahi, sebagaimana setiap mereka juga punya kemampuan penerimaan yang berbeda-beda. Dan apapun kejadiannya, saat anda berhasil mengubah orang sedikit lebih baik dari sebelumnya, maka itulah bagian dari kesuksesan dakwah. Tidak berlebihan ketika saya mengumpakan dengan logika sederhana ; jika anda mempunyai teman laki-laki anda yang memakai dua anting-anting, lalu anda berhasil membuatnya melepas satu saja anting-anting itu, maka itu adalah sebuah capaian dakwah yang berkah.
Inilah dakwah, seni untuk mengubah seseorang menuju kebaikan sekecil apapun. Dan Inilah Indonesia dengan segenap ragam perbedaan masyarakatnya ! Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia ini mempunyai ragam jenis pemahaman dan kecintaan pada Islam yang berbeda-beda !. Bahkan sejak jaman kerajaan sudah di kenal islam abangan dan santri, sebagaimana lalu diwariskan pada abad modern dengan istilah ‘Islam KTP’. Kepada merekalah dakwah ini seharusnya diperluas dan dioptimalkan, bukan sekedar pada mereka yang memenuhi masjid di hari tuanya. Karena begitu majemuknya kaum muslimin di Indonesia, ditambah lagi warisan sekulerisme ala ‘ Snouck Hurgronje plus bayang-bayang islamphobia hasil brilian kampanye anti teroris yang digalang Amerika, maka ini semua mengharuskan para Da’I pengusung dakwah untuk benar-benar bisa mengemas dakwah dengan baik, cerdas, agar masuk ke dalam relung hati mereka. Meski kemudian hanya sedikit meningkatkan kebaikan yang tak seberapa.
Ada beberapa contoh tentang mengemas dakwah yang barangkali sudah sama-sama kita ketahui. Khusus saya ambil dari tayangan film atau sinetron yang ditayangkan di negeri ini. Ijinkan sedikit sekali lagi kami membahasnya agar bisa menjadi contoh bagaimana seharusnya kita bisa mengemas dakwah dengan cara yang terbaik di negeri kita ini.
Pertama : Kemasan Dakwah ‘Oportunis’
Mohon maaf jika menggunakan kata ‘oportunis’, untuk sementara biarlah demikian adanya karena saya belum menemukan kata-kata lain yang lebih tepat. Kemasan dakwah yang palsu saya dapati di banyak tayangan sinetron di televisi yang sering disebut sebagai ‘sinetron islami’. Mengapa palsu ? Karena dakwah yang ada – atau lebih tepatnya kesan islami- yang ada hanyalah berputar di judul-judul yang ada. Bahkan untuk terlihat sangat Islami, dipilihlah judul yang langsung menyentuh hati kaum muslimin. Sebuat saja sinetron “ Shofa dan Marwah” , atau “ Aqsho dan Madina”. Nama-nama dari tempat-tempat bersejarah yang dimuliakan dan mendapat tempat bagi kaum muslimin. Kita pasti bergetar dan merindukan tempat-tempat itu, yang sebagian dari kita hanya bisa mendengar dan melihatnya dari berita dan kajian siroh saja. Lihat saja, betapapun islaminya judul sinetron tersebut, sungguh kita tidak akan mendapatkan kesan dakwah apapun di dalamnya, kecuali hanya sekedar gambarang wanita khusyuk berdoa setelah shalat sambil berlinang air mata !. Selain itu jangan berharap banyak, yang ada hanyalah deretan episode yang tidak jauh berbeda dengan sinetron lainnya. Pada titik inilah, dengan sangat terpaksa saya menyebutnya dengan istilah ‘oportunis’. Luarnya menampilkan cover Islam, tapi tidak diikuti dengan kesungguhan dalam memperkenalkan nilai-nilainya.
Kedua : Kemasan Dakwah Idealis
Kali ini saya menyoroti beberapa film yang tegas mengusung judul islami dan juga dengan konten yang islami. Sebut saja film semacam “Kun Fayakun”, dan “Emak Ingin Naik Haji”, yang memuat nilai-nilai dakwah secara jelas melalui dialog-dialog dan tayangannya. Ini adalah langkah baik dan berkah. Tetapi kenyataan menunjukkan bahwa memang tidak banyak yang menonton film ini. Capaian jumlah penonton sangat tidak seimbang dengan catatan film-film lainnya. Saya membayangkan yang menonton hanyalah aktifis Islam dan yang sudah menyukai Islam. Bahkan mereka yang ‘kental’ dengan kajian dan gerakan islam belum tentu juga mau ikut menonton tayangan seperti itu. Sementara itu, di luar sana banyak kaum muslimin yang disebut dengan “islam KTP’ atau mereka yang tidak pernah bersinggungan dengan kajian, juga yang masih melekat trauma islam phobia, rasa-rasanya saat melihat judulnya saja akan merasa berat untuk hadir dan menyaksikannya. Ini bukan contoh kemasan dakwah yang buruk, hanya saja untuk memperluas cakupan dakwah dalam ceruk masyarakat muslim yang majemuk, masih terlampau berat untuk mendapatkan penerimaan yang signifikan.
Ketiga : Kemasan Dakwah Kreatif dan Prospektif
Mungkin saja seseorang menampilkan gaya standar yang disukai banyak orang, atau minimal tidak mendapatkan resistensi di tengah masyarakat, tapi ternyata di dalamnya menjelaskan tentang semangat islam dengan gamblang, jelas dan masuk dalam hati. Gambaran ini segera saya baca dalam film “ Laskar Pelangi”. Dilihat dari judulnya sangat humanis dan netral. Ia langsung menyentuh siapa saja tanpa melihat kapasitas keagamaannya. Barangkali saya sempat tertipu dengan judul dan tampilan nyentrik penulis film ini. Sama sekali tidak menggambarkan adanya pesan agung setelahnya. Tapi kemudian saya menyadari, bahwa di dalam film itu justru ada pesan-pesan keislaman yang tegas menghujam dalam hati. Melalui dialog, jalan cerita dan kesan umum yang akan kita dapati dengan mudah. Betapa tidak ? Latar belakang cerita saja tentang sebuah SD muhammadiyah di pesisir Belitong. Dialog-dialog guru dengan muridnya banyak mengungkap kisah-kisah Islam dengan gamblang. Kisah perang Badar dan kisah Nabi juga dimuat dengan tegas tanpa edeng aling-aling, meski melalui dialog singkat saja. Inilah kemasan dakwah yang kreatif dan prospektif, khususnya yang merindukan memberikan hak dakwah lebih luas kepada masyarakat muslim Indonesia yang majemuk pemahamannya. Meski dari luar terlihat lebih Indonesia atau kesan nasionalis sekalipun, tetapi tetap membawa pesan-pesan keislaman yang tegas dan menyentuh. Anda boleh catat hasilnya, jumlah penonton film ini mencapai 4,2 juta orang, dan itu adalah jumlah terbesar yang pernah tercatat selama ini. Kesan yang hampir sama juga mungkin kita dapati di sinetron “ Kiamat sudah Dekat”, dan “ Para Pencari Tuhan”.
Terakhir, mengapa kemasan dakwah harus menjadi pertimbangan kita dalam melangkah ? Sekali lagi, merupakan kewajiban bagi kita untuk menyebarkan dakwah seluas mungkin, kepada siapapun dan dimanapun. Disinilah arti kemasan menjadi penting, agar dakwah diterima dengan mudah dalam hati masyarakat, dan selanjutnya saat hati mulai tersentuh dan tertarik dengan Islam, maka bukan tidak mungkin kita lanjutkan dengan ajakan-ajakan lanjutan untuk mengubah setingkat lebih baik dari sebelumnya.
Inilah seni berdakwah, mengajak orang untuk lebih baik dari sebelumnya, meski hanya sedikit atau bahkan belum terasa. Mari kita ambil inspirasi dari misi dakwah nabi syuaib yang diabadikan dalam Al-Quran : “ Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali “ (QS Hud 88)
Semoga Allah SWT memudahkan aktifitas dakwah kita. Salam optimis !
Sumber : Indonesia Optimis

Ada keadaan yang sering terlihat timpang dalam kehidupan sosial kita. Sebagian besar masyarakat Indonesia terdiri dari orang-orang yang beriman. Mereka percaya dan yakin adanya Allah, juga yakin akan adanya pembalasan di hari akhirat kelak. Namun realitas iman tersebut belum mampu memberikan warna dalam kehidupan keseharian.
Bagaimana mungkin bangsa yang sangat banyak melakukan mujahadah, istighatsah, tabligh akbar, doa bersama, serta berbagai ritual keagamaan ini, juga menjadi bangsa yang paling banyak melakukan korupsi? Bangsa yang rajin melakukan ibadah, namun juga menjadi bangsa yang rajin mengembangkan tindak kemaksiatan.
Bagaimana mungkin bangsa yang sangat banyak melakukan mujahadah, istighatsah, tabligh akbar, doa bersama, serta berbagai ritual keagamaan ini, juga menjadi bangsa yang paling banyak melakukan korupsi? Bangsa yang rajin melakukan ibadah, namun juga menjadi bangsa yang rajin mengembangkan tindak kemaksiatan.
Ada banyak hal yang telah hilang dari kepribadian bangsa kita. Keimanan seakan telah kehilangan ruh yang menggerakkan. Iman tinggal menjadi simbol dan ritual, tanpa esensi. Padahal jika tengok kehidupan masyarakat beriman di zaman keemasan Islam, akan tampaklah ruh iman yang memberikan warna yang sangat jelas dalam berbagai bidang kehidupan.
Dalam menjalankan kehidupan keseharian, orang-orang beriman senantiasa berhati-hati agar tidak terjatuh dalam penyimpangan dan kesalahan. Lihatlah para Khalifah rasyidah terdahulu, mereka telah berhasil memberikan contoh bagaimana seharusnya kehidupan orang-orang beriman. Contoh kecil dari khalifah Umar bin Abdul Aziz berikut menunjukkan bagaimana keimanan telah menjadi warna dalam kehidupan keseharian sang pemimpin.
Pada suatu hari, khalifah Umar bin Abdul Aziz kedatangan seorang tamu yang tak lain adalah bibi beliau sendiri. Sang bibi datang untuk meminta tambahan jatah dana dari Baitul Mal. Mungkin ia berpikir, karena yang menjadi penguasa adalah kemenakannya sendiri, maka akan mudah untuk meminta tambahan dana dari Baitul Mal.
Tatkala sang bibi masuk ke rumah Umar, ia melihat Amirul Mukminin ini tengah makan kacang adas dan bawang, yang merupakan makanan rakyat jelata pada waktu itu. Melihat kedatangan bibinya, Umar segera menghentikan makannya. Beliau sudah mengetahui maksud kedatangan sang bibi.
“Ya Amirul Mukminin, berikan kepadaku tambahan dana dari Baitul Mal,” pinta sang bibi.
“Tunggulah sebentar,” kata Amirul Mukminin.
Umar bin Abdul Aziz kemudian mengambil satu dirham uang perak dan membakarnya di atas api. Setelah tampak panas, beliau bungkus uang perak panas tersebut dengan kain.
“Inilah uang tambahan yang Bibi minta,” kata Umar sembari menyerahkan bungkusan tersebut ke tangan sang bibi.
Begitu menggenggam bungkusan tersebut, spontan sang bibi melemparkannya sembari menjerit kesakitan karena panasnya uang perak yang telah terpanggang api.
“Kalau api dunia saja begitu panas,” kata Umar, “bagaimana dengan api akhirat kelak yang akan membakar aku dan Bibi karena menyelewengkan harta negara?”
Luar biasa kehati-hatian sang Khalifah dalam menjaga harta negara. Beliau tidak mau mengeluarkan milik negara dengan cara yang tidak benar, walaupun yang datang meminta adalah bibi beliau sendiri. Apakah yang menyebabkan beliau berperilaku seperti itu? Tidak ada jawaban lain, kecuali: iman. Ya, karena iman yang kuat terpatri dalam jiwa Khalifah, beliau menjadi lurus dan bersih dalam kehidupan.
Bagaimana dengan bangsa dan pemimpin kita? Bukankah syarat pemimpin di Indonesia haruslah beriman kepada Tuhan Yang Mahaesa? Lalu dimanakah iman tersebut tatkala korupsi telah merajalela di negeri ini? Dimanakah letak iman pada saat kebusukan menggerogoti birokrasi, pada saat anggota dewan meminta tambahan gaji, pada saat para pemimpin mementingkan hidupnya sendiri?
Rupanya, keimanan kita senantiasa diuji. Sebab, iman bukan saja masalah teori, namun lebih penting lagi aplikasi.
Sumber : Cahyadi Takariawan

Tarbiyah Bukan Untuk Tarbiyah
Ibarat benih yang ditanam, tidak selamanya ia hanya akan berada di dalam tanah.
Ibarat benih yang menjadi tunas, ia akan bergerak naik menuntut mimpi yang lebih, merasakan hangatnya sinar mentari.
Karena pada fitrahnya, ia ditanam tidak lain agar bermanfaat bagi orang lain.
Begitu pula tarbiyah ini. Ia ibarat benih yang di tanam, takkan selamanya ada dalam kegelapan, terhalang tanah lantas tidak tumbuh. Ia menjadi tunas yang keluar dari tanah dan merasakan hangatnya sinar mentari. ya... ia tumbuh dalam kesadaran.
Tarbiyah ibarat benih yang ketika tumbuh, akan menghadapi lingkungan yang ekstrem.merasakan serangan hama dan angin, serta kekeringan yang tak terduga. dan tarbiyah, bukan untuk tarbiyah....
Ibarat benih yang menjadi tunas, ia akan bergerak naik menuntut mimpi yang lebih, merasakan hangatnya sinar mentari.
Karena pada fitrahnya, ia ditanam tidak lain agar bermanfaat bagi orang lain.
Begitu pula tarbiyah ini. Ia ibarat benih yang di tanam, takkan selamanya ada dalam kegelapan, terhalang tanah lantas tidak tumbuh. Ia menjadi tunas yang keluar dari tanah dan merasakan hangatnya sinar mentari. ya... ia tumbuh dalam kesadaran.
Tarbiyah ibarat benih yang ketika tumbuh, akan menghadapi lingkungan yang ekstrem.merasakan serangan hama dan angin, serta kekeringan yang tak terduga. dan tarbiyah, bukan untuk tarbiyah....
di saat ia tumbuh... tarbiyah bukanlah untuk tarbiyah saja. ia layaknya tunas yang nanti akan menjadi pohon besar nan rindang, memberikan keteduhan bagi para musafir.
memberikan buahnya pada orang yang kelaparan. dan memberikan oksigen pada semua orang.
Dan akarnya tetap kuat tertanam dalam tanah. ya. akar yang mencengkeram tanah.
Ia mendapatkan bekal untuk bermanfaat bagi orang lain. akarnya akan tetap tertutup dalam tanah, tapi manfaat batang daun serta buahnya akan terlihat jelas bagi siapapun sekalipuan hanya dengan memandangnya.
Dan tentunya, untuk menjadi pohon besar nan rindang, bukanlah sesuatu yang mudah. kita saat ini adalah benih, yang harus keluar dari tanah. Merasakan berbagai cobaan agar kelak memberikan manfaat.
Mari saudaraku..... janganlah menjadikan tarbiyah untuk kalangan tarbiyah saja.
Tarbiyah adalah untuk harakah.ibarat dalam satu tubuh.
Tarbiyah adalah akar kita dan kita adalah batang daun dan buah yang bermanfaat bagi orang lain. ukhuwah dan muamalah kita diuji bukan hanya terhadap sesama ikhwah, tapi oleh semua manusia.
Wajar jika kita ikhlas terhadap sesama ikhwah...
Wajar jika kita mudah senyum kepada sesama ikhwah...
Tarbiyah bukan untuk tarbiyah..tarbiyah untuk semuanya.
Tarbiyah bukanlah datang duduk mengaji dan sholeh lantas tidak berdaya guna. tarbiyah adalah akar diri kita yang mencengkram dalam tanah, mengikat kita ketika menghadapi berbagai cobaan.
Ia akan mengokohkan diri kita selain memberikan asupan mineral bagi kita.
Dan bagi yang merasa tarbiyah hanyalah untuk tarbiyah,izinkan saya berkesimpulan bahwa akar yang seharusnya mengokohkan dirinya ternyata tidak berfungsi dengan baik.
Wallahu a'lam.
Sumber : Catatan Fathur IzzIs

Setiap manusia merindukan kebahagiaan. Tidak ada kebahagian kecuali masuk surga. Dan Allah swt. telah memastikan di dalam Al-Qur’an bahwa di akhirat hanya ada dua pilihan: surga arau neraka. Dan sudah maklum bahwa surga adalah tempat kebahagiaan abadi, sebagaimana juga maklum bahwa neraka adalah tempat kesengsaraan abadi. Berdasarkan ini jelas bahwa setiap manusia sebenarnya bercita-cita mendapatkan surga. Apapun istilahnya, diakui atau tidak, surga tetap menjadi dambaan setiap insan. Silahkan anda tanyakan kepada pemeluk-pemluk agama lain tentang konsep kebahagiaan yang mereka rindukan, mereka akan segera menjawab bahwa mereka mencitakan surga, sekalipun dengan istilah yang berbeda.
Di dalam Islam, Allah swt. sangat jelas menggariskan jalan ke surga. Iman adalah pondasi, dan ibadah adalah bangunan. Gabungan keduanya adalah jalan ke surga. Siapa yang beribadah tanpa iman, tidak akan sampai ke surga. Begitu juga sebaliknya. Di antara ibadah utama dalam Islam adalah puasa Ramadhan. Ramadhan adalah sebuah kesempatan emas bagi setiap insan-insan beriman untuk mendekatkan diri kepada Allah, Tuhannya. Siapa yang mengabaikannya ia akan menyesal seumur hidupnya. Ramadhan ibarat kepompong bagi ulat, maka ulat yang berhasil menekuni kesunyiannya dalam kepompong ia kelak akan terbang menjadi kupu-kupu. Ramadhan adalah pom bensin bagi setiap musafir yang hendak bepergian jauh. Maka siapa yang mengisi bensin dengan penuh, ia akan merasa aman dalam perjalanan. Ramadhan adalah universitas, di dalamnya seorang muslim benar-benar membina diri. Bila ia benar-benar sukses mengikuti segala rangkaian ibadah di dalamnya maka ia terjamin istiqomah seumur hidupnya. Dari keistiqomahan inilah ia akan terhantar kelak ke surga.
Ada tiga macam manusia dalam menjalani Ramadhan:
- Seorang yang menganggap Ramadhan sama dengan hari-hari biasa. Bedanya hanya ia berpuasa menahan lapar dan haus di siang hari. Sementara akhlaknya tetap bejat. Ibadah lainnya tidak ditegakkan. Contohnya, banyak orang yang berpuasa sekalipun ia tidak pernah shalat. Bahkan juga banyak orang yang siang harinya berpuasa sementara malamnya berbuat dosa besar. Orang seperti ini tergolong yang disebutkan dalam hadits: “Tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan haus.” Dengan kata lain, secara fikih puasa orang ini sah tetapi tidak ada pahalanya, karena digerogoti oleh dosa-dosanya.
- Seorang yang memang tidak memiliki kebanggaan sama sekali dengan Ramadhan. Dan tidak punya niat sama sekali untuk melaksanakan puasa di dalamnya. Maka selama Ramadhan ia tidak pernah berpuasa. Bukan hanya itu, ibadah-ibadah wajib lainnya juga diabaikan. Namanya saja ia seorang muslim, sementara hakikatnya tidak mencerminkan sebagai seorang muslim. Dalam istilah popular, orang seperti ini dikenal sebagai muslim KTP. Di manakah tempat mereka kelak di alam akhirat? Di surga atau di neraka? Allah yang Maha Tahu. Jika memang di dalam hatinya tidak ada iman sama sekali, maka selamanya ia masuk neraka. Sebaliknya jika masih ada iman sekalipun sebasar dzarrah di dalam hatinya, maka ia akan diangkat dari api neraka setelah dibakar sesuai dengan dosanya.
- Seorang yang menyadari makna kehambaannya kepada Allah. Dan menyadari bahwa Ramadhan adalah tamu agung yang datang untuk membuka kesempatan berharga untuk meningkatkan iman. Maka dengan datangnya Ramadhan ia benar-benar bersiap-siap menyambutnya. Lalu selama Ramadhan ia benar-benar mengisi semua waktu dengan kebaikan dan ketaatan. Lalu setelah Ramadhan, ia tetap istiqomah menjalankan ibadah seperti dalam kondisi Ramadhan. Orang seperti ini adalah benar-benar mengikuti jejak Rasulullah saw. Inilah sebenarnya yang dimaksud dengan ungkapan meneladani Rasulullah dalam Ramadhan.
Alumni Ramadhan adalam pribadi muslim sejati. Muslim yang tidak hanya mengamalkan Islam di Ramadhan saja, tetapi ia mengamalkannya selama hidup. Alumni Ramadhan tidak kenal Islam musiman. Maksdunya semangat mengamalkan Islam di musim haji saja, di bulan Ramadhan saja dan lain sebagainya. Melainkan ia benar-benar muslim sepanjang masa dan di mana saja. Sampai ia kembali menghadap Allah swt. Inilah sebenarnya ajaran Islam seperti yang diwahyukan kepada Rasulullah saw. Yaitu Islam universal dan komprehensif. Bukan Islam tradisi atau Islam versi golongan tertentu. Kita kini sangat membutuhkan hadirnya Islam yang murni, seperti yang diwahyukan kepada Nabi saw. dan seperti yang dipahami oleh para sahabat. Yaitu Islam yang mencakup semua kehidupan bukan Islam parsial. Sebab hanya dengan pemahaman yang lengkap inilah, umat Islam pertama bangkit memimpin dunia, begitu juga hanya dengan pemahaman yang lengkap inilah, umat Islam kelak akan bangkit kembali dan menjadi pioner keselamatan bagi kemanusiaan di seluruh alam. Wallahu a’lam bishshawab.
Sumber : Dakwatuna
Sumber : Dakwatuna

Andai kau tahu ini Ramadhan terakhir
tentu siangnya engkau sibuk berzikir
tentu engkau tak akan jemu melagukan syair rindu
mendayu..merayu. ..kepada-Nya, Tuhan yang satu
Andai kau tahu ini Ramadhan terakhir
tentu sholatmu kau kerjakan di awal waktu
sholat yang dikerjakan.. .sungguh khusyuk lagi tawadhu'
tubuh dan qalbu...bersatu memperhamba diri
menghadap Rabbul Jalil... menangisi kecurangan janji
"innasolati wanusuki wamahyaya wamamati lillahirabbil 'alamin"
[sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku...
kuserahkan hanya kepada Allah Tuhan seru sekalian alam]
Andai kau tahu ini Ramadhan terakhir
tidak akan kau sia siakan walau sesaat yang berlalu
setiap masa tak akan dibiarkan begitu saja
di setiap kesempatan juga masa yang terluang
alunan Al-Quran bakal kau dendang...bakal kau syairkan
Andai kau tahu ini Ramadhan terakhir
tentu malammu engkau sibukkan dengan
bertarawih...berqiyamul lail...bertahajjud...
mengadu...merintih. ..meminta belas kasih
"sesungguhnya aku tidak layak untuk ke syurga-Mu
tapi...aku juga tidak sanggup untuk ke neraka-Mu"
Andai kau tahu ini Ramadhan terakhir
tentu dirimu tak akan melupakan mereka yang tersayang
mari kita meriahkan Ramadhan
kita buru...kita cari...suatu malam idaman
yang lebih baik dari seribu bulan
Andai kau tahu ini Ramadhan terakhir
tentu engkau bakal menyediakan lahir dan batin
mempersiap diri...rohani dan jasmani
menanti-nanti jemputan Izrail
di kiri dan kanan ...lorong-lorong ridha Ar-Rahman
Duhai Ilahi....
andai ini Ramadhan terakhir buat kami
jadikanlah ia Ramadhan paling berarti...paling berseri...
menerangi kegelapan hati kami
menyeru ke jalan menuju ridho serta kasih sayang-Mu Ya Ilahi
semoga bakal mewarnai kehidupan kami di sana nanti
Namun teman...
tak akan ada manusia yang bakal mengetahui
apakah Ramadhan ini merupakan yang terakhir kali bagi dirinya
yang mampu bagi seorang hamba itu hanyalah
berusaha...bersedia ...meminta belas-Nya
Wahai Tuhanku tak layak kesyurga-Mu ...
namun tak pula aku sanggup ke neraka-Mu ...
kamilah hamba yang mengharap belas kasih dari-Mu
"Ya Allah jadikan lah kami hamba-hamba-Mu yang bertaqwa..
ampunkan dosa-dosa kami, kedua ibu bapak kami,
dosa semua umat-umat Islam yang masih hidup
maupun yang telah meninggal dunia"
Amin.....
Sumber : FBnya Fathur IzzIs

Dua alam ciptaan Allah, alam dunia dan alam akhirat, mutlak berbeda dalam karakteristik dan esensi wujudnya. Walaupun begitu setiap manusia pasti memasuki dan bergumul di dalamnya. Tak seorang pun dapat menghindar dari keberadaan di dalam alam dunia dan alam akhirat.
Oleh karena kedua alam, baik secara realitas sejatinya ataupun karakteristiknya berbeda, setiap manusia diberikan potensi untuk dapat menyempurnakan eksistensi dirinya di dalam kedua alam tersebut sehingga dapat meraih puncak kesempurnaannya. Meskipun pada kenyataannya sebagian besar manusia justru mengalami kegagalan sebelum merealisasikan kesempurnaannya secara utuh.
Alam dunia, dengan segala watak dan karakteristiknya, adalah sebuah perjalanan sedangkan alam akhirat adalah persinggahan terakhir kita, kampung halaman, dan rumah kita yang abadi.
Oleh karena itu meskipun kita dilahirkan di dunia, dan dunia menjadi tempat tinggal kita sekarang ini, namun realitas sejatinya, setidak-tidaknya secara spiritual, sedang berjalan jauh menuju tempat kembali hakiki kita, alam keabadian, alam akhirat. Di sanalah kita akan dihadapkan kepada berbagai peristiwa eskatologis yang belum pernah kita jumpai selama hayat kita.
Di tempat kembali itu masing-masing individu benar-benar akan merasakan sebagai makhluk moral yang harus mempertanggungjawabkan seluruh sepak terjang kita selama di dunia.
Di sana pula akan terbukti jati diri kita yang sebenarnya, menjadi individu yang sejatinya terhormat mencapai kebaikan tertinggi atau bahkan menjadi hina dina terjerembab ke dalam lumpur keburukan.
Allah Swt telah menunjuki manusia jalan agar dapat mencapai tempatnya yang layak dalam penciptaan, di surga-Nya. Sebagai manusia bahkan kita diperintahkan agar menempuh jalan-Nya meskipun harus berjalan mendaki lagi sukar.
Tidak sepatutnya di dunia yang fana ini menjadi tumpuan hidup. Tidak sepatutnya pula kita bermegah-megah karena tunduk kepada pesonanya dan tidak menjadikannya sebagai medan perjuangan untuk menghimpun aset untuk kembali ke rumah asalnya. ”Maka tidakkah sebaiknya (dengan hartanya itu) ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar?” (QS, al-Balad [90]: 11).
Bukan harta yang akan menjadi aset kehidupan akhirat kita. Bisa jadi harta menjadi simbol kemuliaan dunia. Akan tetapi di balik simbol itu ada nilai tanggungjawab moral yang harus ditunaikan.
Dalam satu riwayat dikatakan, Nabi Muhammad Saw bersabda, “Kemuliaan umur dan waktu lebih bernilai dibandingkan dengan kemuliaan harta.” Bahkan harta bisa memperbudak orang yang mencintainya. Orang yang menjadikan kekayaan harta benda sebagai standar keagungan seseorang akan membenci kematian.
Padahal kematian itu adalah pintu pertemuan dengan Allah Swt yang pasti akan diketuk oleh setiap manusia. Bahkan karena cintanya kepada harta ia tidak rela berpisah darinya.
Oleh sebab itu orang-orang berakal mencela dan merendahkan orang yang serakah dalam mengumpulkan harta. Sebaliknya mereka sepakat untuk mengagungkan orang yang bersikap zuhud terhadap harta, tidak mau menumpuk-numpuknya, dan tidak menjadikan dirinya sebagai budak harta.
Oleh sebab itu orang-orang berakal mencela dan merendahkan orang yang serakah dalam mengumpulkan harta. Sebaliknya mereka sepakat untuk mengagungkan orang yang bersikap zuhud terhadap harta, tidak mau menumpuk-numpuknya, dan tidak menjadikan dirinya sebagai budak harta.
Padahal Allah menjelaskan bahwa amal salih kitalah aset sejati bagi kehidupan di akhirat nanti. Amal shalih pula yang menjadi kendaraan perjalanan jauh kita menuju haribaan-Nya. Setiap perjalanan, lebih-lebih perjalanan jauh dan menentukan, memerlukan kendaraan dan bekal.
Oleh sebab hakikat hidup di dunia adalah sebuah perjalanan jauh menuju alam akhirat dan medan perjuangan meraih kebahagiaan sejati, maka kita harus mampu melintasi segala rintangan yang mungkin terhampar di tengah jalan.
Rasulullah Saw mengingatkan, ”Jalan menuju surga itu dipenuhi dengan hal-hal yang tidak diisukai, sedangkan jalan menuju neraka dipenuhi dengan berbagai kenikmatan syahwati.” (HR, Muslim)
Sumber : Eramuslim

“Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan berbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (QS. Al-Hajj: 77)
Ayat ini merupakan ayat kedua terakhir dari surah yang unik dan istimewa, surah al-Hajj. Dikatakan surah yang unik karena sebagian ulama tafsir menggolongkan surah ini ke dalam kategori surah Makkiyah, namun sebagian yang lain justru sebaliknya menggolongkannya ke dalam kategori surah Madaniyah. Surah ini juga unik karena di dalamnya ada dua ayat sajdah, yaitu ayat 18 dan ayat ini seperti yang di pahami dari sebuah riwayat dari Uqbah bin Amir:
”Keutamaan surah al-Hajj karena terdapat dua ayat sajdah padanya. Barangsiapa yang tidak bersujud pada keduanya, janganlah ia membaca surah ini.” (HR. at-Tarmidzi dan Abu Dawud)
Ayat ini menggambarkan secara ringkas manhaj Allah SWT untuk manusia dan beban taklif bagi mereka agar mendapatkan keselamatan dan kemenangan. Ia di awali dengan perintah untuk rukuk dan sujud yang merupakan gambaran gerakan shalat yang tampak dan jelas, dilanjutkan dengan perintah untuk beribadah secara umum yang meliputi segala gerakan, amal dan pikiran yang di tujukan hanya kepada Allah SWT sehingga segala aktivitas manusia bisa beralih menjadi ibadah bila hati ditujukan hanya kepada Allah SWT bahkan Kenikmatan-kenikmatan dari kelezatan hidup dunia yang dirasakannya dapat bernilai ibadah yang di tulis sebagai pahala amal baik .
Ayat ini di tutup dengan perintah berbuat baik secara umum dalam hubungan horizontal dengan manusia setelah perintah untuk membangun hubungan vertikal dengan Allah SWT, dalam shalat dan ibadah lainnya. Oleh sebab itu, perintah ibadah dimaksudkan agar umat Islam selalu terhubung dengan Allah SWT sehingga kehidupan berdiri di atas fondasi yang kukuh dan jalur yang dapat membawa kepada-Nya. Sedangkan perintah untuk melakukan kebaikan, dapat membangkitkan kehidupan yang istiqamah dan kehidupan masyarakat yang penuh dengan suasana kasih sayang.
Perintah ini dipertegas kembali di akhir surah al-Hajj, bahwa umat Islam akan mampu mempertahankan eksistensinya sebagai umat pilihan dan sebagai saksi atas umat yang lain manakala mampu membina hubungan baik dengan Allah SWT dan membina hubungan baik sesama manusia:
”Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (AL-Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah pelindungmu, Dialah sebaik-baik pelindung dan Sebaik-baik penolong.” (QS. al-Hajj:78)
Pada ayat di atas, Allah SWT memberi perintah kepada orang beriman agar mampu membangun kesalehan personal dan sosial secara bersamaan agar senantiasa dalam kemenangan, rukuk dan sujud merupakan cermin tertinggi dari pengabdian seseorang kepada Allah SWT, sedang ”berbuatlah kebaikan” merupakan indikasi kesalehan sosial.
Secara redaksional dalam urutan perintah ayat di atas, ternyata Allah SWT mendahulukan kesalehan personal dari kesalehan sosial. Ini berarti bahwa untuk membangun kesalehan sosial, harus dimulai dengan kesalehan personal. Atau kesalehan personal akan memberikan kekuatan untuk saleh juga secara sosial. Bahkan seluruh perintah beribadah kepada Allah SWT dimaksudkan agar lahir darinya kesalehan sosial, seperti shalat misalnya, bagaimana ia bisa mencegah dari perbuatan keji dan munkar:
“Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar.” (QS. Al Ankabut : 45)
Kisah yang diabadikan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya bagaimana seorang wanita yang saleh secara personal yang diwujudkan dengan ibadah shalat, puasa dan ibadah mahdhah lainnya namun ternyata Rasulullah SAW menyatakan bahwa ia dalam neraka. Karena ternyata kesalehan itu tidak membawanya menuju kesalehan sosial, bahkan ia cenderung tidak mampu menjaga lisannya dari tidak melukai hati orang lain.
Dalam tataran tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, terdapat beberapa hubungan dan korelasi (munasabah) yang sangat erat antara kesalehan personal dan sosial dengan nilai-nilai mulia dari ajaran Islam. Untuk menggapai predikat ihsan misalnya, seseorang dituntut untuk mampu sholeh secara individu dan sosial yang diwakili dengan shalat malam dan berinfak,
“Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar. Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (QS. Adz-Dzariyat : 16-19)
Ibnu Asyur mengomentari ayat ini dengan menjelaskan bahwa dua bentuk amal inilah yang sangat berat untuk dilakukan karena: pertama, bangun malam merupakan sesuatu yang sangat berat karena mengganggu istirahat seseorang. Padahal amal itu merupakan amal yang paling utama untuk membangun kesalehan personal seseorang. Kedua, amal yang melibatkan harta terkadang sangat sukar untuk dipenuhi karena manusia pada dasarnya memiliki sifat kikir dengan sangat mencintai hartanya. Di sinilah Allah SWT menguji kesalehan sosial seseorang dengan memintanya untuk mengeluarkan sebagian harta untuk mereka yang membutuhkan.
Nilai lain yang terkait dengan dua kesalehan ini, adalah sebab utama yang paling banyak menjerumuskan seseorang ke dalam neraka karena tidak mampu membentengi diri dengan dua kesalehan tersebut, seperti pernyataan jujur penghuni neraka yang diabadikan Allah SWT dalam firman-Nya,
“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab, ’Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat dan kami tidak pula memberi makan orang miskin dan adalah kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya.” (QS. Al-Mudatsir : 42-45)
Resep agar tidak bersifat keluh kesah lagi kikir juga sangat terkait dengan kemampuan seseorang membangun dalam dirinya dua kesalehan tersebut secara simultan. Allah SWT memberi jaminan,
“Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang miskin yang meminta dan orang yang tidak memiliki apa-apa (yang tidak mau meminta).” (QS. Al-Ma’arij : 22-25)
Berapa banyak dari umat ini yang hanya mementingkan saleh secara sosial tapi lupa akan hubungan baik dengan Allah SWT. Sebaliknya, banyak juga yang saleh secara personal namun ketika berhadapan dengan sosial, ia larut dan tidak mampu membangun kesalehan di tengah-tengah mereka. Sungguh umat ini sangat membutuhkan kehadiran komunitas yang saleh secara personal, dalam arti mampu menjaga hubungan baik dengan Allah SWT. Saleh secara sosial dalam arti mampu memelihara hubungan baik dan memberi kebaikan dan manfaat yang besar bagi kemanusiaan. (Allahu a’lam)
Sumber : Dakwatuna