Tampilkan postingan dengan label JM Community. Tampilkan semua postingan
Ternyata, menikah bukan hanya sebuah penyaluran sifat fitrah manusia, namun sangat bagus dari segi kesehatan. Sebuah penelitian menunjukkan menikah dapat memperpanjang umur seseorang hingga 17 tahun. Luar biasa kan?
“The American Journal Of Epidemiology” merilis berbagai data hasil dari 90 penelitian yang dilakukan para peneliti dari University of Louisville. Ternyata pria lajang memiliki risiko kematian 32 % lebih tinggi dibandingkan pria yang menikah. Itu artinya, mereka kemungkinan meninggal 8 – 17 tahun lebih cepat dari rata-rata pria yang sudah menikah. Penilitian juga menunjukkan bahwa wanita lajang memiliki harapan hidup sebanyak 23 %, atau 7 – 15 tahun lebih rendah dibandingkan mereka yang telah memiliki pasangan hidup.
Para lajang yang masih muda punya resiko kematian dini yang lebih tinggi lagi. Resiko kematian untuk mereka yang masih lajang dan berusia 30-39 tahun sebesar 128 % lebih tinggi dibandingkan mereka yang sudah menikah dengan kisaran umur yang sama. Di sisi lain, para lajang yang sudah berusia 70 tahun hanya memiliki resiko kematian 16 % lebih tinggi. Mungkin ini disebabkan karena mereka telah “sukses” melalui masa lajang di usia muda (baca ulasannya di http://id.berita.yahoo.com/menikah-bikin-umur-lebih-panjang.html).


Hal ini semakin menguatkan pemahaman bahwa menikah adalah jalan penyaluran fitrah kemanusiaan. Pernikahan merupakan sebuah ajaran yang sesuai dengan fitrah manusia, yang akan menghindarkan manusia dari penyimpangan. Baik penyimpangan yang disebabkan karena kecenderungan nafsu yang dibebaskan, maupun karena dikekangnya kecenderungan nafsu tanpa adanya penyaluran. Agama telah memberikan jalan keluar yang sangat manusiawi berupa pernikahan.
Ketika gejolak syahwat dibiarkan bebas untuk memilih cara penyaluran, akan berdampak kepada berkembangnya berbagai penyakit seksual menular yang telah terbukti melemahkan kehidupan masyarakat, bangsa dan negara. Penyakit AIDS merupakan salah satu contohnya. Penyakit ini telah menjadi momok yang menakutkan di kalangan para pemuja kebebasan, pada saat yang sama menjadi ancaman bagi kekokohan dan ketahanan sosial secara lebih luas. Menyalurkan kecenderungan nafsu secara liar dan bebas, tanpa aturan dan etika moral, terbukti telah mempercepat kematian.
Namun jika kecenderungan syahwat dikekang dan dimatikan tanpa penyaluran, hal inipun membahayakan kesehatan jiwa. Fitrah manusia menjadi tidak tersalurkan, dan memunculkan desakan keinginan yang terpendam. Kecuali apabila mereka bisa menyalurkan dengan jalan iman, sehingga tetap memiliki ruang penyaluran yang bercorak spiritual.
Apabila tidak ada ruang penyaluran sama sekali, yang terjadi hanyalah ketidakseimbangan yang berdampak kepada kesehatan jiwa. Sumbatan ini bisa membuat keguncangan jiwa, karena tumpukan keinginan tanpa ada jalan penyaluran.
Hasil penelitian sosial sudah barang tentu sangat relatif, tidak bisa dijadikan sebagai acuan yang bersifat mutlak. Kita tidak dituntut untuk “beriman” dengan hasil penelitian. Namun penelitian di atas bisa memberikan gambaran dan penjelasan yang lebih rasional tentang manfaat pernikahan secara lebih akademis. Bukan hanya tinjauan agama, moral, sosial dan psikologi, namun bahkan dikuatkan dengan tinjauan ilmiah hasil dari serangkaian studi dan riset.


Maka, jika ingin berumur panjang, menikahlah wahai para bujangan. Survei telah memberikan data dan hasilnya. Tinggal kita melaksanakan sesuai ketentuan agama, dan sesuai pula dengan aturan dari negara.
1. Belum Bekerja
Inilah masalah klasik seputar menikah, terutama bagi pihak pemuda. Ketika sudah merasa cocok dengan seorang muslimah, dan jika ditunda-tunda bisa berakibat buruk, ternyata si Pemuda belum punya pekerjaan untuk menghidupi keluarga kelak. "mau dikasih makan apa anak dan istri kamu, dikasih cinta doang ?!?" Begitulah perkataan sinis yang senantiasa terngiang-ngiang ditelinganya.
Seorang laki-laki memang merupakan tulang punggung dalam sebuah keluarga. Menghidupi seluruh anggota keluarga adalah tangging jawabnya. Rasulullah bersabda, yang artinya, "Bertaqwalah kepada Allahdalam memperlakukan wanita. Sebab kamu mengambilnya dengan amanat allah dan farjinya menjadi halal bagi kamu dengan kalimat Allah. (Menjadi) kewajiban kamu untuk memberi rizki dan pakaiannya dengan cara yang baik." (HR.Muslim)
Dengan demikian, penghasilan dalam suatu keluarga memang diperlukan. Namun sebenarnya, tidak berarti belum kerja kemudian tidak boleh menikah. Allah SWT berfirman, yang artinya, "Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian (belum menikah) diantara kamu, dan orang-orang yang layak menikah dari hamba-hamba sahayamuyang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui." (Q.S An-Nur : 32)
Penghasilan bisa dicari setelah menikah. Yang pertama kali harus dilakukan adalah percaya dan yakin akan janji Allah pada firman-Nya di atas. Tak sedikit pemuda yang susah mencari kerja sebelum menikah, tapi setelah menikah ternyata banyak tawaran kerja dan peluang kerja.
Sebagai persiapan sebelum menikah, kesungguhan dalam menuntut ilmu dunia agar kelak mudah mendapatkan penghidupan yang baik pula untuk dilakukan. Walaupun tak selamanya relevan, kuliah yang baik dan dan prestasi yang bagus masih merupakan suatu modal yang dapat diandalkan dalam mencari kerja. Bagaimana kalau kuliah sudah terlanjur tidak karuan ? Jika sudah begini perlu juga pegang prinsip bahwa pekerjaan kelak tidak harus sesuai dengan bidang yang dipelajari saat ini. Banyak yang dapat rejeki lumayan dari bekerja dalam suatu bidang yang dulu tidak pernal dipelajari dalam jenjang pendidikan formal.
Persiapan lain yang bisa dilakukan adalah kuliah sambil kerja. Sembari menabung, juga bisa untuk jaga-jaga apabila ketika lulus nanti tidak langsung diterima bekerja sesuai bidang yang dipelajari.
2. Belum Lulus
Berbeda dengan yang pertama, masalah yang satu ini bisa menjadi penghalang bagi pihak pemuda dan pemudi. Mungkin seseorang sudah bekerja atau sudah punya prinsip untuk mencari kerja setelah menikah namun ia ragu untuk menikah gara-gara belumlulus kuliah. Bisa jadi pula yang punya alasan seperti ini sang pemudi pujaan hatinya. Bayangan kuliah sambil menikah baginya tampak menyeramkan. Kuliah sambil mengurus diri sendiri saja sudah repot apalagi jika harus ditambah tanggung jawab mengurus orang lain. Ditambah kalau si buah hati sudah lahir dan belum juga lulus kuliah, tampaknya akan tambah repot.
Sebenarnya, menikah tidaklah selalu mengganggu kuliah. Malahan hadirnya pendamping hidup baru bisa menambah semangat utuk belajar. Bisa jadi, sebelum menikah malas-malasan belajarnya, ketika sudah menikah malah tambah semangat dan tambah rajin untuk belajar. Tidak sedikit yang mengalami perubahan demikian, apalagi secara peraturan akademik seorang mahasiswa sudah diperbolehkan untuk menikah. Seorang mahasiswa sudah tidak dianggap ABG (Anak Baru Gede) lagi, tapi AUG (Anak Udah Gede) alias sudah dewasa. Seorang yang sudah dewasa dianggap sudah bisa bertanggung jawab apa yang menjadi pilihan hidupnya.
Memang benar untuk tetap mengadakan persiapan jika mengambil jalan menikah di saat masih kuliah. Yang pertama harus disadari adalah bahwa hidup berkeluarga adalah berbeda dengan hidup sendirian. Tidak pantas jika orang yang sudah menikah tetap bebas, lepas, menelantarkan keluarganya sebagaimana dulu bisa ia lakukan ketika masih lajang. Orang yang menikah sambil kuliah juga harus pandai-pandai mengatur waktu antara tanggung jawabnya dalam keluarga dan dalam belajar. Selain waktu, manajemen pemikiran juga solid, karena begitu menikah masalah-masalah dulu yang belum ada mendadak bermunculan secara serentak. Bagaimana memahami pasangan hidup baru, bagaimana jika hamil dan melahirkan, bagaimana mendidik anak, bagaimana mencari rumah -nebeng mertua atau cari kontrakan-, bagaimana bersikap kepada mertua, tetangga dan lain-lain, apalagi masih harus memikirkan pelajaran.
Pusing....? Semoga tidak. Sebenarnya menikah sambil kuliah bisa disiapkan sejak hari ini, bahkan juga sudah sejak SD. Modal awalnya adalah manajemen diri sendiri. Ketika seorang sudah sejak dahulu berlatih untuk hidup mandiri, akan mudah baginya untuk hidup berkeluarga. Misalnya saja sudah sejak SD bisa mencuci pakaian dan piring sendiri, mengatur waktu belajar, berorganisasi, dan bermain, mengatur keuangan sendiri, dan sebagainya. Kesiapan juga bisa diraih jika seseorang biasa menghadapi dan memecahkan problem hidupnya. Karena itu perlu organisasi dan bersaudara dengan orang lain, saling mengenal, memahami orang lain dan membantu kesulitannya.
3. Belum Cocok
Mungkin pula sudah lulus, sudah kerja, sudah berusaha cari calon pasangan tapi merasa belum menemukan pasangan yang cocok, sehingga belum jadi menikah pula, padahal sudah hampir tidak tahan ! Ini juga merupakan masalah yang bisa datang dari kedua belah pihak, baik pihak pemuda maupun pemudi. Kecocokan memang diperlukan. yang jadi ertimbangan dasar dan awal tetntu saja faktor agama, yaitu aqidah dan akhlaknya. Allah berfirman, yang artinya :
"Mereka (perrempuan-perempuan mukmin) tidak halal bagi laki-laki kafir. Dan laki-laki kafir pun tidak halal bagi mereka." (Al-Mumtahanah : 10)
Rasulullah juga bersabda, "Wanita itu dinikahi karena 4 hal : karena kecantikannya, karena keturunannya, karena kekayaannya, dan karena agamanya. Menangkanlah dengan memilih agamanya maka taribat yadaaka (kembali kepada fitrah atau beruntung)." (HR. Al-Bukhari, Muslim, dan lain-lain)
Keadaan yang lain adalah nomor dua setelah pertimbangan agama. Namun kebanyakan di sinilah ketidakcocokannya. Sudah dapat yang agamanya bagus tapi kok nggak cocok pekerjaannya, nggak cocok latar belakang pendidikannya, nggak cocok hobinya, warna matanya kok begitu, pakai kacamata, kok hidungnya...dan lain-lain.
Kalau mau mencari kekurangan tiap orang pasti punya kekurangan karena tidak ada manusia yang diciptakan secara sempurna. Sudah cantik, kaya, keturunan bangsawan, pandai, rajin, keibuan, penyayang, tidak pernah berbuat salah.
Ketika seorang pemuda atau pemudi sudah mau menikah, memang seharusnya cari tahu dulu tentang calon pasangan hidupnya ke sahabatnya, saudaranya atau ustadznya, atau yang lainnya, baik kelebihan maupu kekurangannya. Jika sudah tahu, tanyakan pada diri sendiri, apakah bisa menerima dan memaklumi kekurangan serta kelebihan si dia. Rasulullah bersabda, yang artinya,
"Janganlah seorang mukmin laki-laki membenci mukmin perempuan. Bila dia membencinya dari satu sisi, tapi akan menyayang dari sisi lain." (HR.Muslim)
Jadi, jangan hanya melihat kekurangannya saja, tapi juga perlu melihat kelebihannya. Ketika kekurangan sudah bisa diterima, kelebihan akan lebih bisa menimbulkan perasaan suka. Karea itu, jangan sampai sulit nikah karena dibikin sendiri.
4. Belum Mantap
Masalah satu ini juga bisa terjadi pada tiap orang pihak pemuda, pihak pemudi, baik yang sudah kerja atau yang belum, baik sudah lulus atau belum. Pertama kali, perlu diselidiki belum mantapnya itu karena apa, karena tak sedikit yang beralasan belum mantap, ketika ditelusuri larinya juga menuju ketiga masalah 'belum' di atas.
Namun ada juga yang belum mantap karena memang merasa persiapan dirinya kurang baik ilmu tentang pernikahan, keluarga, dan pernik-pernik di sekitarnya. Orang seperti ini malah tidak memusingkan masalah ketiga 'belum' di atas, karena memang dia merasa belum siap dan belum mampu.
Solusinya tidak lain adalah mementapkan dan mempersiapkan diri. Hal ini bisa ditempuh lewat menuntut ilmu tentang pernikahan, dan keluarga, baik dengan menghadiri pengajian, yang membahas masalah tersebut atau dengan membaca buku-buku mengenainya. Penting pula untuk menimba pengalaman kepada orang yang sudah menikah, karena kadang-kadang buku-buku dan ceramah ilmiah dan formal tidak membahas masalah praktis yang detail yang diperlukan agar siap menikah.
Daftar pengeluaran standar bulanan setelah merit Sekedar berbagi aja, buat temen2 yang mungkin juga mengalami ‘Matery after merit phobia syndhrome’, (bahasa mana pula ini) Daftar anggaran bulanan (asumsi : disusun berdasarkan skala proritas, disusun dengan sangat-sangat relatif, dan berdasarkan basic needs standar menengah ke bawah)
- Makan. Dengan asumsi sekali makan adalah 5000 Maka makan 3x sehari, kali 2 orang (karena lagu sepiring berdua nggak berlaku lagi..), kali 30 hari adalah Rp 900.000 Tips Rajin2 ke kondangan atau sunatan, dan bawa pulang nasi kotaknya Pasti lebih ngirit.
- Kontrakan. Dengan asumsi masih ngontrak di rumah petak, yang punya uda botak, tapi masih galak, dan punya anjing belum jinak Maka dana untuk kontrakan sekitar 500.000/bulan. Tips Tinggallah di Pondok Mertua Indah Niscaya 2 dana diatas gak akan pernah ada Di pondok mertua indah, anda akan bebas makan apa aja, termasuk ‘makan ati’ (^_^)
- Listrik dan Air. Dengan asumsi daya listrik 900 watt dan pake jetpam maka anggaran untuk listrik adalah 100.000/bulan. Tips Jangan pake AC, cukup AC (angin cendela) Jangan suka main Plestesyen, cukup main monopoli, sudamanda atau gaple ama istri terasa lebih romantis, (bukan romantis = rombongan makan gratis hehe)
- Transportasi. Dengan asumsi naik motor ke kantor, dengan motor yang paling irit rit rit, maka untuk ongkos bensin dan servis adalah 100.000. Tips Gunakanlah Bensin campur! (maksudnyah campur dorong, pasti lebih irit. Atau ikutlah “Nebeng Fans Club”, dengan alasan mempererat silaturahim dengan yang ditebengi maka perjalanan berangkat dan pulang kantor akan terasa lebih menyenangkan.
- Komunikasi. Dengan asumsi pake cdma yang 1000/menit maka untuk sebulan, ongkos komunikasi berdua adalah 100.000 Tips Pakelah ‘FREN’ yang lebih murah (maksudnya kalo mau nelpon atau sms tinggal bilang “Freeen…minjam HP nya dong freen…” :)
- Keperluan sehari2 Seperti sabun,odol,syampu, dll dsb. Dengan asumsi tidak pake fesyel,krimbat, manikyur, pedikyur, kukyur2 maka alokasi dana untuk ini sebesar 50.000 Tips: Mandi kalo perlu saja Kalo dulu 2 kali sehari, jadi 2 hari sekali Untuk ngirit odol kembalilah memakai tumbukan batu bata.
- Kesehatan Seperti minyak kayu putih, vitamin, obat pusing (ini penting buat pengantin baru wekekekek!) , maka alokasi cadangan untuk kesehatan sebesar 50.000 Tips Jaga kesehatan Jangan begadang…kalo tiada artinya…begadang bole saja…asalkan sambil ronda (halah!!)
- Entertaiment Nah ini kalo ada uang lebih aja, bisalaah sekali2 nomat, liat live nasyid, lari pagi di monas, atau keliling kompleks perumahan, atau makan martabak sekali2.
Dari asumsi basic needs diatas maka pengeluaran untuk tiap bulan adalah sebesar : 1.800.000/bulan (syeeett dah…masih gede juga ya) Mungkin ini bisa jadi bahan pertimbangan temen2 ketika pengen nikah, untuk kemudian dibandingkan dengan pemasukan yang ada.
Kalopun masih ‘besar pasak daripada tiang’ Anda bisa memperkecil pasak, atau memperbesar tiang…ataauu. ..ga usak pake pasak, tapi dipaku aja!
Tapi ada 1 hal yang ga bisa dijelaskan dengan perhitungan ketika anda memutuskan untuk menikah (serius mode on*) Yaitu, berkah menikah?!
Selalu, dan selalu Allah akan mencukupi kebutuhan umatnya yang mau berusaha dan berdoa apalagi buat pemuda yang takut terjerumus dalam kehinaan, menikah untuk menyelamatkan kehormatan
so, stop accounting, just do it! )

Wanita idaman lelaki ialah,
yang hatinya disalut taqwa kepada ALLAH,
yang jiwanya penuh penghayatan trhadap Islam,
yang sentiasa dahaga dengan ilmu,
yang sentiasa haus dengan pahala,yang solatnya maruah dirinya,
yang tidak pernah takut untuk berkata benar,
yang tidak pernah gentar melawan nafsu,
Wanita idaman lelaki ialah,
yang menjaga tutur katanya,
yang tidak bermegah dengan ilmu yang dimilikinya,
yang sentiasa berbuat kebajikan kerana sifatnya yang dermawan ,
yang mempunyai ramai teman,
dan tidak mempunyai musuh bersifat syaitan,
Wanita idaman lelaki ialah,
wanita yang menghormati ibunya,
yang sentiasa berbakti kepada kedua orang tuanya dan keluarga,
yang bakal menjaga kerukunan rumahtangga,
yang sabar mendidik suami dan anak-anak mendalami agama,
yang mengamalkan hidup penuh sederhana,
kerana dunia baginya adalah rumah sementara menuju akhirat,
Wanita idaman lelaki ialah,
yang sentiasa bersedia untuk menjadi insan yang hakiki,
yang hidup di bawah naungan Al-Quran dan sunnah nabi,
yang boleh diajak berbicara dan berdiskusi,
yang menjaga matanya dari pandangan duniawi,
yang sujudnya penuh kesyukuran dengan rahmat Ya Rabbi,
Wanita idaman lelaki ialah,
yang tidak pernah membazirkan waktu,
matanya kepenatan kerana penat menimba ilmu,
suaranya lesu kerana lidahnya tak henti memuji dan mengingatiMU,
tidurnya lena dengan cahaya keimanan,
bangunnya Subuh penuh penghayatan,
kerana sehari lagi usianya bertambah penuh keinsafan,
Wanita idaman lelaki ialah,
yang sentiasa mengingati mati,
yang baginya hidup di dunia adalah ladang akhirat,
yang mana buah kehidupan itu perlu dibaja dan dijaga,
agar berputik tunas yang bakal menjadi baka yang sempurna,
meneruskan perjuangan Islam sebelum tibanya Kiamat,
Wanita idaman lelaki ialah,
yang tidak terpesona dengan buaian dunia,
kerana dia mengimpikan syurga,
di situlah mahligai impiannya,
dialah WANITA IDAMAN LELAKI seadanya....
Sumber : RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF

Apalah artinya cinta, jika membuat Allah marah
Apalah artinya cinta, jika semakin merusak ukhuwah
Apalah artinya cinta, jika dapat menistakan dakwah
Apalah artinya cinta, jika menyebabkan khianat atas amanah
Akhi wa ukhti, cinta bisa datang dan pergi, tapi Allah Maha Teliti
Akhi wa ukhti, cinta bisa datang dan pergi, tapi ukhuwah selalu di hati
Akhi wa ukhti, cinta bisa datang dan pergi, tapi dakwah tak kan pernah henti
Akhi wa ukhti, cinta bisa datang dan pergi, tapi dosa khianat di bawa mati
Maka
Jangan murkai cinta
Jangan rusak cinta
Jangan nistakan cinta
Jangan khianati cinta
Adam terusir dari surga karena mengkhianati cinta
Diterima tobatnya pun karena Allah yang Maha Cinta
Aktivis dakwah adalah penerus Nabi yang menyebarkan cinta
Maka jangan sampai kita terusir kedua kalinya dari surga karena cinta
Islam adalah agama yang mudah
Jika mampu, hendaklah menikah
Jika tidak mampu, kerjakanlah shaum sunnah
Perintahnya sangat jelas, janganlah dekati zinah
Teruntuk mereka yang menderita karena cinta
Sumber : Catatan Akh Syamsul

1. Dalam isyarat Nabi tentang #Nikah, ialah sunnah teranjur nan memuliakan. Sebuah jalan suci untuk karunia sekaligus ujian cinta-syahwati
2. Maka #Nikah sebagai ibadah, memerlukan kesiapan & persiapan. Ia tuk yang mampu, bukan sekedar mau. “Ba’ah” adalah parameter kesiapannya
3. Maka berbahagialah mereka yang ketika hasrat #Nikah hadir bergolak, sibuk mempersiapkan kemampuan, bukan sekedar memperturutkan kemauan
4. Persiapan #Nikah hendaknya segera membersamai datangnya baligh, sebab makna asal “Ba’ah” dalam hadits itu adalah “Kemampuan seksual.”
5. Imam Asy Syaukani dalam Subulus Salam, Syarh Bulughul Maram menambahkan makna “Ba’ah” yakni: kemampuan memberi mahar & nafkah. #Nikah
2. Maka #Nikah sebagai ibadah, memerlukan kesiapan & persiapan. Ia tuk yang mampu, bukan sekedar mau. “Ba’ah” adalah parameter kesiapannya
3. Maka berbahagialah mereka yang ketika hasrat #Nikah hadir bergolak, sibuk mempersiapkan kemampuan, bukan sekedar memperturutkan kemauan
4. Persiapan #Nikah hendaknya segera membersamai datangnya baligh, sebab makna asal “Ba’ah” dalam hadits itu adalah “Kemampuan seksual.”
5. Imam Asy Syaukani dalam Subulus Salam, Syarh Bulughul Maram menambahkan makna “Ba’ah” yakni: kemampuan memberi mahar & nafkah. #Nikah
6. Mengompromikan “Ba’ah” di makna utama (seksual) & makna tambahan (mahar, nafkah), idealnya anak lelaki segera mandiri saat baligh. #Nikah
7. Jika kesiapan #Nikah diukur dengan “Ba’ah”, maka persiapannya adalah proses perbaikan diri nan tak pernah usai. Ia terus seumur hidup
8. Izinkan saya membagi Persiapan #Nikah dalam 5 ranah: Ruhiyah, ‘Ilmiyah, Jasadiyah (Fisik), Maaliyah (Finansial), Ijtima’iyah (Sosial)
9. Persiapan #Nikah perlu start awal. Salim nikah usia 20 th, tapi karena persiapannya dimulai umur 15 th, maka tak bisa disebut tergesa
10. Sebaliknya, ada orang yang #Nikah-nya umur 30 th, tapi persiapan penuh kesadaran baru dimulai umur 29,5 th. Itu namanya tergesa-gesa
11. Kita mulai dari yang pertama; Persiapan Ruhiyah. Ialah nan paling mendasar. Segala persiapan #Nikah lainnya berpijak pada yang satu ini
12. Persiapan Ruhiyah (Spiritual) ada pada soal menata diri menerima ujian & tanggungjawab hidup nan lebih berlipat, berkelindan. #Nikah
13. (QS Ali Imran 14): Sebelum nikah ujian kita linear: pasangan hidup. Begitu #Nikah berjejalin: pasangan, anak, harta, gengsi, investasi
14. Sebelum #Nikah, grafik hidup kita analog dengan amplitudo kecil. Setelah menikah, ia digital variatif; kalau bukan NIKMAT, ya MUSIBAH
15. Maka termakna jua dalam Persiapan Ruhiyah terkait #Nikah adalah kemampuan mengelola SABAR dan SYUKUR menghadapi tantangan-tantangan itu
16. SABAR & SYUKUR itu semisal tentang pasangan; ia keinsyafan bahwa tak ada yang sempurna. Setiap orang memiliki lebih & kurangnya. #Nikah
17. Khadijah itu lembut, penyabar, penuh pengertian, & dukung penuh perjuangan. Tapi tak semua lelaki mampu beristeri jauh lebih tua. #Nikah
18. ‘Aisyah: cantik, cerdas, lincah, imut. Tapi tak semua lelaki siap dengan kobar cemburunya nan sampai banting piring di depan tamu #Nikah
19. Persiapan Ruhiyah #Nikah adalah mengubah ekspektasi menjadi obsesi. Dari harapan akan apa nan diperoleh, menuju nan apa akan dibaktikan
20. Jika #Nikah masih terbayang sbb: lapar ada yang masakin, capek ada yang mijitin, baju kotor dicuciin. Itu ekspektasi. Bersiaplah kecewa
21. Ekspektasi macam itu lebih tepat dipuaskan oleh tukang masak, tukang pijit, & tukang cuci;) Ber-obsesilah dalam #Nikah. “Apa obsesimu?”
22. Obsesi sebagai Persiapan Ruhiyah #Nikah semisal: Bagaimana kau akan berjuang sebagai suami/isteri ayah/ibu untuk mensurgakan keluargamu?
23. Usai itu, di antara persiapan Ruhiyah #Nikah adalah menata ketundukan pada segala ketentuanNya dalam rumahtangga & masalah-masalahnya
24. Lalu persiapan ‘Ilmiyah-Tsaqafiyah (Pengetahuan) #Nikah, meliput banyak hal semisal Fiqh, Komunikasi Pasangan, Parenting, Manajemen, dll
25. Bukan Ustadz-pun, tiap muslim harus sampai pada batas minimal lmu syar’i nan dibutuhkan dalam berhidup, berinteraksi, berkeluarga #Nikah
26. Lalu tentang komunikasi pasangan; seringnya masalah rumahtangga bukan krn ada maksud jahat, melainkan maksud baik nan kurang ilmu #Nikah
27. Sungguh harus diilmui bahwa lelaki & perempuan diciptakan berbeda dengan segala kekhasannya, untuk saling memahami & bersinergi. #Nikah
28. Contoh beda hadapi masalah & tekanan; Wanita: berbagi, didengarkan, dimengerti. Lelaki: menyendiri, kontemplasi, rumuskan solusi #Nikah
29. Bayangkan jika perbedaan itu dibawa dalam sikap dengan asumsi: “Aku mencintaimu seperti aku ingin dicintai” Konflik pasti meraja. #Nikah
30. ->Suami pulang dgn masalah berat disambut isteri yg memaksa ingin tahu & dengar problemnya, padahal ia ingin sendiri & bersolusi. #Nikah
32. Sebaliknya-> Isteri yg sdg ingin didengar lalu curhat ke suami, suami malah tawarkan solusi. Padahal dia hanya ingin dimengerti. #Nikah
33. Isteri: Mas aku capek, rumah berantakan bla-bla-bla. Suami: OK, kita cari pembantu. I: O, jadi aku dianggap pembantu?!. S: Lho?! #Nikah
34. BEDA lagi: Suami single tasking, bisa marah kalau isterinya nan multitasking memintanya kerjakan beberapa hal berrangkai-rangkai. #Nikah
35. BEDA lagi: Isteri sering berkalimat tak langsung nan tak difahami suami. Ie: Mas, Salma belum dijemput, aku masih harus masak! #Nikah
36. -> Jawab suami: Oh, kalau gitu biar nanti Salma pulang sendiri” Dijamin para isteri gondok, sebab maksudnya: Tolong jemput Salma! #Nikah
37. BEDA. Bagi suami masalah hrs disederhanakan (Spiral ke dalam). Bagi isteri, tiap detail & keterkaitan sgt penting (Spiral keluar) #Nikah
38. Dan banyak lagi BEDA yang jk tak diilmui potensial jd masalah serius. Lengkapnya di Bahagianya Merayakan Cinta #BMC http://bit.ly/gW5rG4
39. Next: Parenting. Waktu kita sempit; belum puas belajar jd suami/isteri, tiba-tiba sdh jd ayah/ibu. Maka segeralah belajar jd Ortu #Nikah
40. Anak adl karunia yg hiasi hidup, amanah (lahir dalam fitrah, kembalikan ke Allah dalam fitrah), pahala, sekaligus fitnah (ujian). #Nikah
41. Maka mengilmui hingga detail-detail kecil soal parenting adalah niscaya. ie Hadits: renggutan kasar pd bayi membekas di jiwa. #Nikah
42. Uji kecil buat calon ibu & ayah: “Apa yang anda lakukan saat anak lari-larian di depan rumah lalu GABRUSS, jatuh berdebam?” #Nikah
43. LAZIM: “Sudah dibilang, jangan lari-lari! Tuh, jatuh kan!” -> Anak belajar utk menganggap dirinya selalu bersalah dalam hidupnya. #Nikah
44. LAZIM: “iih, batunya nakal ya Nak! Sini Ibu balaskan!” -> Anak belajar salahkan keadaan sekitar utk excuse dr kurangnya ikhtiyar. #Nikah
45. LAZIM: “Hm, nggak apa-apa, nggak sakit, cuma kayak gitu!” -> Ketakpekaan. Hati-hati dibalas saat kita sdh tua & sakit-sakitan;P #Nikah
46. Alangkah bahaya tiap huruf dari lisan bg masa depan anak kita. Latihlah dia agar lempang (tanpa dusta & tipu) dlm taqwa (QS 4: 9) #Nikah
47. Kita masuk persiapan Jasadiyah (Fisik) untuk #Nikah. Ini jua perkara penting sebab terkait dengan keamanan, kenyamanan, & ketenagaan
48. Awal-awal, periksa & konsultasilah ke dokter atas termungkinnya sgl penyakit tubuh, lebih-lebih nan terkait kesehatan reproduksi #Nikah
49. Per #Nikah-an itu utuh di segala sisi diri, maka menjalani terapi & rawatan tertentu untuk membaikkan fisik adalah jua hal yang utama
50. Fisik kita & pasangan bertanggungjawab lahirkan generasi penerus yang lebih baik. Maka perbaiki daya & staminanya sejak sekarang. #Nikah
51. Perbaiki pola asup, tata gizi seimbang. Allah akan mintai tg jawab jajan sembarangan jika ia jadi sebab jeleknya kualitas penerus #Nikah
52. Bangun kebiasaan olahraga ilmiah; tak asal gerak tapi membugarkan, menyehatkan, melatih ketahanan. Tugas fisik berlipat 3 setelah #Nikah
53. Jadi, target persiapan fisik #Nikah itu 3 tingkatan; PRIMER: sehat & aman penyakit, SEKUNDER: bugar & tangkas, TERSIER: beauty & charm;)
54. Selanjutnya, persiapan Maliyah (finansial), ini yang paling sering menghantui & membuat ragu sepertinya. Padahal ianya sederhana. #Nikah
55. Yang tepat bicara persiapan Maliyah ini sebenarnya Ust. @ahmadgozali, izinkan Salim lancang singgung sedikit dgn ilmu nan dangkal #Nikah
56. Konsep awal; tugas suami adalah menafkahi, BUKAN mencari nafkah. Nah, bekerja itu keutamaan & penegasan kepemimpinan suami. #Nikah
57. Ingat & catat: Persiapan finansial #Nikah sama sekali TIDAK bicara tentang berapa banyak uang, rumah, & kendaraan yang harus anda punya
58. Persiapan finansial #Nikah bicara tentang kapabilitas hasilkan nafkah, wujudnya upaya untuk itu, & kemampuan kelola sejumlah apapun ia
59. Maka memulai per #nikah-an, BUKAN soal apa anda sudah punya tabungan, rumah, & kendaraan. Ia soal kompetensi & kehendak baik menafkahi
60. ‘Ali ibn Abi Thalib memulai #Nikah bukan dari nol, melainkan minus: rumah, perabot, dll dari sumbangan kawan dihitung hutang oleh Nabi
61. Tetapi ‘Ali menunjukkan diri sebagai calon suami kompeten; dia mandiri, siap bekerja jadi kuli air dengan upah segenggam kurma. #Nikah
62. Maka sesudah kompetensi & kehendak menafkahi yang wujud dalam aksi bekerja -apapun ia-, iman menuntun: #Nikah itu buat kaya (QS 24: 32)
63. Agak malu, Salim juga minus saat nikah; hutang yang terrencanakan terbayar dalam 2 tahun menurut proyeksi hasil kerja saat itu. #Nikah
64. Tetapi Allah Maha Kaya, dan #Nikah menjadi pintu pengetuknya. Hadirnya isteri menjadi penyemangat; hutang itu selesai dalam 2 bulan
65. Buatlah proyeksi nafkah #Nikah secara ilmiah & executable, JANGAN masukkan pertolongan Allah dlm hitungan, tapi siaplah dgn kejutanNya;)
66. Kemapanan itu tidak abadi. Saya memilih #Nikah di usia 20 saat belum mapan agar tersiapkan isteri untuk hadapi lapang maupun sempitnya;)
67. Bahkan ketidakmapanan yang disikapi positif menurut penelitian Linda J. Waite (Psikolog UCLA), signifikan memperkuat ikatan cinta #Nikah
68. Ketidakmapanan nan dinamis menurut penelitian Karolinska Institute Swedia, menguatkan jantung, meningkatkan angka harapan hidup. #Nikah
69. Karolinska Institute: kemapanan lemahkan daya tahan jantung thd serangan. Di Swedia, biasanya yang kena infark langsung wafat PNS #Nikah
70. Persiapan #Nikah yang sering terabai ialah nan kelima ini: Ijtima’iyah (Sosial). Pernikahan adalah peristiwa yg kompleks secara sosial
71. Sebuah per #Nikah-an yang utuh punya visi & misi kemasyarakatan untuk menjadi pilar kebajikan di tengah kemajemukan suatu lingkungan
72. Untuk itu, mereka yang akan me #Nikah hendaknya mengasah keterampilan sosialnya jauh-jauh hari, sekaligus sebagai bagian pendewasaan
73. Membiasakan mengkomunikasikan prinsip-prinsip nan diyakini terkait per #Nikah-an & kehidupan kepada Ortu bisa jadi bagian dari latihan
74. Prinsip Quran tentang hubungan dengan Ortu ialah ‘persahabatan’, Wa Shaahibhuma (QS Luqman 15). Gunakan itu untuk dewasakan diri. #Nikah
75. Maka kadang Salim menilai kedewasaan kawan yang ingin me #Nikah dengan keberhasilannya untuk komunikasikan prinsip pada Ortu scr ma’ruf
76. Persiapan kemasyarakatan: kumpulkan modal sosial sebanyak-banyaknya; bahasa, ilmu sosio-antropologis, kelincahan organisasi, dll. #Nikah
77. Per #Nikah-an kita harus hadir sbg pengokoh kebajikan masyarakat, bukan beban ataupun pelengkap-penderita. Utama lagi, jadi pelopor
78. Mulailah dgn perkenalan berkesan pada lingkungan. Saat walimah nanti; tetangga rumah tinggal setelah #Nikah adl yg plg berhak diundang
79. Jika harus pindah tempat tinggal, mulai jg dgn perkenalan. Pr tokoh: datangi silaturrahim. Masyarakat umum: undang tasyakuran. #Nikah
80. Stl itu, target besarnya adl menjadikan pintu rumah kita sbg yang plg pertama diketuk saat masyarakat sekitar memerlukan bantuan. #Nikah
81. Tentu berat menopangnya sendiri. Mk yang harus kita punya bkn hanya ASET, melainkan juga AKSES. Bangun jaringan slg menguatkan. #Nikah
82. Ilmuilah bgmn cr menguruskan jaminan kesehatan miskin, beasiswa tak mampu, biaya RS, mobil jenazah gratis, dll DEMI TETANGGA KITA #Nikah
83. Tampillah sbg yang penting & bermanfaat dlm hajat-hajat kebahagiaan maupun duka tetangga, juga rayaan-rayaan sosial-masyarakat. #Nikah
84. Tampillah sbg yang terbaik sejangkau suai kemampuan; Imam Masjid, muadzin, Guru TPA, Bendahara RT, Ketua RW, Pendoa jenazah, dst #Nikah
85. Tampillah sbg nan paling besar kontribusi dlm kebaikan-kebaikan sosial: Agustusan, Syawalan, Kerja Bakti, Arisan, Pengajian, dst #Nikah
86. Ringkas kata untuk persiapan sosial #Nikah ini adalah bermampu diri utk menjadi pribadi & keluarga yg AMAN, RAMAH, BERMANFAAT #Nikah
87. Tuntaslah KulTwit Persiapan #Nikah yg diambil dr bagian awal buku Bahagianya Merayakan Cinta #BMC http://bit.ly/gW5rG4 Semoga manfaat;)

Mereka, lelaki dan perempuan yang begitu berkomitmen dengan agamanya. Melalui ta’aruf yang singkat dan hikmat, mereka memutuskan untuk melanjutkannya menuju khitbah. Sang lelaki, sendiri, harus maju menghadapi lelaki lain: ayah sang perempuan. Dan ini, tantangan yang sesungguhnya. Ia telah melewati deru pertempuran semasa aktivitasnya di kampus, tetapi pertempuran yang sekarang amatlah berbeda. Sang perempuan, tentu saja siap membantunya. Memuluskan langkah mereka menggenapkan agamanya. Maka, di suatu pagi, di sebuah rumah, di sebuah ruang tamu, seorang lelaki muda menghadapi seorang lelaki setengah baya, untuk ‘merebut’ sang perempuan muda, dari sisinya.
“Oh, jadi engkau yang akan melamar itu?” tanya sang setengah baya.
“Iya, Pak,” jawab sang muda.
“Engkau telah mengenalnya dalam-dalam? ” tanya sang setengah baya sambil menunjuk si perempuan.
“Ya Pak, sangat mengenalnya, ” jawab sang muda, mencoba meyakinkan.
“Lamaranmu kutolak. Berarti engkau telah memacarinya sebelumnya? Tidak bisa. Aku tidak bisa mengijinkan pernikahan yang diawali dengan model seperti itu!” balas sang setengah baya.
Si pemuda tergagap, “Enggak kok pak, sebenarnya saya hanya kenal sekedarnya saja, ketemu saja baru sebulan lalu.”
“Lamaranmu kutolak. Itu serasa ‘membeli kucing dalam karung’ kan, aku tak mau kau akan gampang menceraikannya karena kau tak mengenalnya. Jangan-jangan kau nggak tahu aku ini siapa?” balas sang setengah baya, keras.
Ini situasi yang sulit. Sang perempuan muda mencoba membantu sang lelaki muda.
Bisiknya, “Ayah, dia dulu aktivis lho.”
“Kamu dulu aktivis ya?” tanya sang setengah baya.
“Ya Pak, saya dulu sering memimpin aksi demonstrasi anti Orba di Kampus,” jawab sang muda, percaya diri.
“Lamaranmu kutolak. Nanti kalau kamu lagi kecewa dan marah sama istrimu, kamu bakal mengerahkan rombongan teman-temanmu untuk mendemo rumahku ini kan?”
“Anu Pak, nggak kok. Wong dulu demonya juga cuma kecil-kecilan. Banyak yang nggak datang kalau saya suruh berangkat.”
“Lamaranmu kutolak. Lha wong kamu ngatur temanmu saja nggak bisa, kok mau ngatur keluargamu?”
Sang perempuan membisik lagi, membantu, “Ayah, dia pinter lho.”
“Kamu lulusan mana?”
“Saya lulusan Teknik Elektro UGM Pak. UGM itu salah satu kampus terbaik di Indonesia lho Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Kamu sedang menghina saya yang cuma lulusan STM ini tho? Menganggap saya bodoh kan?”
“Enggak kok Pak. Wong saya juga nggak pinter-pinter amat Pak. Lulusnya saja tujuh tahun, IPnya juga cuma dua koma Pak.”
“Lha lamaranmu ya kutolak. Kamu saja bego gitu gimana bisa mendidik anak-anakmu kelak?”
Bisikan itu datang lagi, “Ayah dia sudah bekerja lho.”
“Jadi kamu sudah bekerja?”
“Iya Pak. Saya bekerja sebagai marketing. Keliling Jawa dan Sumatera jualan produk saya Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Kalau kamu keliling dan jalan-jalan begitu, kamu nggak bakal sempat memperhatikan keluargamu.”
“Anu kok Pak. Kelilingnya jarang-jarang. Wong produknya saja nggak terlalu laku.”
“Lamaranmu tetap kutolak. Lha kamu mau kasih makan apa keluargamu, kalau kerja saja nggak becus begitu?”
Bisikan kembali, “Ayah, yang penting kan ia bisa membayar maharnya.”
“Rencananya maharmu apa?”
“Seperangkat alat shalat Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Kami sudah punya banyak. Maaf.”
“Tapi saya siapkan juga emas seratus gram dan uang limapuluh juta Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Kau pikir aku itu matre, dan menukar anakku dengan uang dan emas begitu? Maaf anak muda, itu bukan caraku.”
Bisikan, “Dia jago IT lho Pak”
“Kamu bisa apa itu, internet?”
“Oh iya Pak. Saya rutin pakai internet, hampir setiap hari lho Pak saya nge-net.”
“Lamaranmu kutolak. Nanti kamu cuma nge-net thok. Menghabiskan anggaran untuk internet dan nggak ngurus anak istrimu di dunia nyata.”
“Tapi saya ngenet cuma ngecek imel saja kok Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Jadi kamu nggak ngerti Blog, Twitter, Youtube? Aku nggak mau punya mantu gaptek gitu.”
Bisikan, “Tapi Ayah…”
“Kamu kesini tadi naik apa?”
“Mobil Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Kamu mau pamer tho kalau kamu kaya. Itu namanya Riya’. Nanti hidupmu juga bakal boros. Harga BBM kan makin naik.”
“Anu saya cuma mbonceng mobilnya teman kok Pak. Saya nggak bisa nyetir”
“Lamaranmu kutolak. Lha nanti kamu minta diboncengin istrimu juga? Ini namanya payah. Memangnya anakku supir?”
Bisikan, “Ayahh..”
“Kamu merasa ganteng ya?”
“Nggak Pak. Biasa saja kok”
“Lamaranmu kutolak. Mbok kamu ngaca dulu sebelum melamar anakku yang cantik ini.”
“Tapi pak, di kampung, sebenarnya banyak pula yang naksir kok Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Kamu berpotensi playboy. Nanti kamu bakal selingkuh!”
Sang perempuan kini berkaca-kaca, “Ayah, tak bisakah engkau tanyakan soal agamanya, selain tentang harta dan fisiknya?”
Sang setengah baya menatap wajah sang anak, dan berganti menatap sang muda yang sudah menyerah pasrah.
“Nak, apa adakah yang engkau hapal dari Al Qur’an dan Hadits?”
Si pemuda telah putus asa, tak lagi merasa punya sesuatu yang berharga. Pun pada pokok soal ini ia menyerah, jawabnya, “Pak, dari tiga puluh juz saya cuma hapal juz ke tiga puluh, itupun yang pendek-pendek saja. Hadits-pun cuma dari Arba’in yang terpendek pula.”
Sang setengah baya tersenyum, “Lamaranmu kuterima anak muda. Itu cukup. Kau lebih hebat dariku. Agar kau tahu saja, membacanya saja pun, aku masih tertatih.”
Mata sang muda pun ikut berkaca-kaca.

"Ya Allah, jika aku jatuh cinta, cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu, agar bertambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.

Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta, jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu.

Ya Allah, jika aku jatuh hati, izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu, agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu.

Ya Rabbana, jika aku jatuh hati, jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu.

Ya Rabbul Izzati, jika aku rindu, rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu.

Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu, janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhirmu.

Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu, jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru manusia kepada-Mu.

Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu, jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu.

Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui
bahwa hati-hati ini telah berkumpul
atas dasar kecintaan pada-Mu
bertemu atas dasar ketaatan pada-Mu
bersatu dalam rangka menyeru(di jalan)-Mu
...dan berjanji untuk membela syariat-Mu
maka kuatkanlah ikatannya
abadikanlah kasih sayangnya
tunjukkanlah jalan-jalannya
dan penuhilah ia dengan cahaya-Mu yg tak pernah redup
lapangkanlah dadanya
dengan limpahan iman
dan keindahan tawakal kepada-Mu
hidupkanlah ia dengan pengenalan pada-Mu
dan matikanlah ia
dalam keadaan syahid di jalan-Mu
Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung
dan sebaik-baik penolong.
Amin.
Apakah Anda berpeluang hidup lebih dari 100 tahun?
Tanyakan kepada ibu, berapa usianya saat mengandung Anda. Sebab, menurut riset yang dilakukan para peneliti di AS, usia ibu saat melahirkan ikut memengaruhi peluang panjang atau pendek umur anaknya kelak.
Tim peneliti dari Universitas Chicago, AS, menemukan, orang yang dilahirkan saat ibunya berusia kurang dari 25 tahun cenderung berusia hingga 100 tahun atau lebih. Peluangnya dua kali lipat dibandingkan orang-orang yang dilahirkan saat ibunya berusia di atas 25 tahun. Studi dilakukan terhadap 198 orang AS yang usianya lebih dari 100 tahun. Mereka lahir antara tahun 1890 hingga 1893. Orang yang panjang usia hingga lebih dari 100 tahun itu umumnya anak pertama. Setelah dianalisis lebih mendalam, para peneliti menyimpulkan bahwa kecenderungan ini erat kaitannya dengan kenyataan bahwa anak-anak pertama itu dilahirkan saat ibunya baru berusia 20 tahunan. Temuan ini dipresentasikan pada pertemuana masyarakat gerontologi (ilmu usia lanjut) AS, Minggu (19/11).
Sebelumnya, hasil penelitian yang didanai National Institute on Aging and the Society of Actuaries ini, telah dipaparkan pada pertemuan Asosiasi Populasi AS, April 2006, Data Biro Sensus AS menunjukkan jumlah orang yang berusia di atas 100 tahun di sana meningkat dari 37 ribu menjadi 55 ribu dari tahun 1990 ke 2000. Dari data itu pula, wanita punya peluang tiga hingga lima kali lebih besar mencapai usia 100 tahun dibandingkan pria.
Tanyakan kepada ibu, berapa usianya saat mengandung Anda. Sebab, menurut riset yang dilakukan para peneliti di AS, usia ibu saat melahirkan ikut memengaruhi peluang panjang atau pendek umur anaknya kelak.
Tim peneliti dari Universitas Chicago, AS, menemukan, orang yang dilahirkan saat ibunya berusia kurang dari 25 tahun cenderung berusia hingga 100 tahun atau lebih. Peluangnya dua kali lipat dibandingkan orang-orang yang dilahirkan saat ibunya berusia di atas 25 tahun. Studi dilakukan terhadap 198 orang AS yang usianya lebih dari 100 tahun. Mereka lahir antara tahun 1890 hingga 1893. Orang yang panjang usia hingga lebih dari 100 tahun itu umumnya anak pertama. Setelah dianalisis lebih mendalam, para peneliti menyimpulkan bahwa kecenderungan ini erat kaitannya dengan kenyataan bahwa anak-anak pertama itu dilahirkan saat ibunya baru berusia 20 tahunan. Temuan ini dipresentasikan pada pertemuana masyarakat gerontologi (ilmu usia lanjut) AS, Minggu (19/11).
Sebelumnya, hasil penelitian yang didanai National Institute on Aging and the Society of Actuaries ini, telah dipaparkan pada pertemuan Asosiasi Populasi AS, April 2006, Data Biro Sensus AS menunjukkan jumlah orang yang berusia di atas 100 tahun di sana meningkat dari 37 ribu menjadi 55 ribu dari tahun 1990 ke 2000. Dari data itu pula, wanita punya peluang tiga hingga lima kali lebih besar mencapai usia 100 tahun dibandingkan pria.

Obrolan beberapa waktu yang lalu, antara aku dengan dua teman lama yang kutemui di kost mereka.
Kebetulan salah satu temanku tadi hendak menggenapkan setengah diennya dan yang satunya lagi sedang menjalani proses ta’aruf.
Maka Kami pun membicarakan tentang pernikahan, ta’aruf, pengalaman bias merah jambu di kehidupan masing-masing dan masalah-masalah sejenis.
Diskusi ringan itu merembet ke masalah proposal-proposal pernikahan yang masuk ke bagian biro jodoh dari sebuah jama’ah yang diikuti oleh dua temanku.
Katanya, berkas dari para ikhwan tidak sebanding dengan proposal-proposal para akhwat yang menumpuk tinggi.
Kebetulan salah satu temanku tadi hendak menggenapkan setengah diennya dan yang satunya lagi sedang menjalani proses ta’aruf.
Maka Kami pun membicarakan tentang pernikahan, ta’aruf, pengalaman bias merah jambu di kehidupan masing-masing dan masalah-masalah sejenis.
Diskusi ringan itu merembet ke masalah proposal-proposal pernikahan yang masuk ke bagian biro jodoh dari sebuah jama’ah yang diikuti oleh dua temanku.
Katanya, berkas dari para ikhwan tidak sebanding dengan proposal-proposal para akhwat yang menumpuk tinggi.
Sudah tahu begitu, tapi di kalangan ikhwan tak juga berusaha untuk bersegera, mereka tidak juga peka bahwa ada banyak ukhti yang menanti.
Saat itu aku hanya menjadi pendengar setia, karena untuk masalah begini aku memang kurang paham dan kurang pengalaman.
Dua sahabatku masih saling tutur, satu pendapat keluar pendapat lain menguatkan.
“Anak kampus banyak yang pengecut.”
“Kok bisa?” kataku sambil menahan senyum,tersenyum karena yang di depanku juga mahasiswa,tersenyum karena untungnya aku bukan termasuk anak kampus.
“Ya memang begitu, setiap ditanya kapan nikah mereka banyak yang menjawab nanti dulu, belum mapan, ingin sekolah lagi dsb, dsb. Mungkin ini bisa jadi bukti rendahnya kualitas keimanan hingga tawakal mereka atas rizki begitu tumpul. Atau mereka telah hilang keberanian, hilang keyakinan bahwa Allah selalu memberi jalan keluar.”
“Itu kan wajar akh, kualitas iman kan memang beda-beda.” Kataku lagi.
“Iya memang wajar, tapi masalahnya bukan itu saja,” kata temanku yang satu lagi. “Kalau memang belum siap seharusnya kan mencari jalan untuk mempersiapkan diri, ini malah banyak yang HTS-an, TTM-an, banyak bermunculan ikhwan-ikhwan yang jempol kanannya kapalan karena kebanyakan sms-an.”
“Nah kan malah jadi penyakit di hati. Mereka tahu kebutuhan akan lawan jenis, tapi gak berani nikah, akhirnya melangkah di jalan para pengecut. HTS-an, TTM-an,adik-adikan, pacaran. Yang rugi bukan cuma individu masing-masing, tapi kualitas dakwah juga ikut terimbas.” imbuh sahabatku.
“Akh HTS-an itu apa to?” Tanyaku lugu.
“Hubungan Tanpa Status!” Serentak keduanya menjawab.
“Kalau TTM?”
“Teman Tapi Mesra!”
Aku menganguk-anguk, “Memangnya belum pernah dengar istilah itu?” tanya temanku.
“Sudah, hanya memastikan, siapa tahu artinya beda.” Kataku kalem.
Aku jadi ingat komentar seorang ikhwan yang ditanya, “Kenapa tidak bersegera?” Meski ia menjawab dengan nada canda, ada sebuah jawaban yang membuatku ingin menonjok mukanya. “Santai saja Akh, pasti dapat kok, tinggal milih! stok akhwat kan banyak!”
Teganya mereka bilang demikian, begitu ringan lidahnya. Memangnya para wanita itu mereka anggap apa? Barang? Bukan manusia yang punya perasaan? Coba kalau jawaban itu didengar para ukhti yang dengan sabar menanti proposalnya diproses. Kemudian dimana nilai ukhuwah yang sering digembar-gemborkan itu?
Rata-rata mereka hanya berani ngobrol masalah nikah, ngomongin ukhti A atau Ukhti B di belakang tapi giliran disuruh mengkhitbah, ngeper! dan menghindar dengan berbagai alasan.
Bukankah lebih bermanfaat jika mempersiapkan diri untuk menikah dari pada menilai dan membicarakan plus berangan-angan bisa bersanding dengan ukhti A atau ukhti B?
Dan aku kembali mendengar tuturan mereka, “Terus terang Akh, saya rindu dengan suasana dakwah tahun-tahun yang lalu. Ketika menikah memang untuk menguatkan barisan dakwah, ikhlas menerima siapa saja, yang penting militan. Lebih tua yang perempuan tidak masalah yang penting nikah dan bisa saling menguatkan, bisa menjaga kehormatan diri dan memelihara pandangan.”
“Saya kagum dengan teman-teman Rohis di SMU dulu, mereka sudah banyak yang menikah terutama yang tidak melanjutkan kuliah. Dan tidak sedikit yang menikahi perempuan-perempuan yang lebih tua, dua, tiga tahun di atas mereka. Padahal yang lebih muda pun ada. Kalau mereka mau bisa cari sendiri tanpa harus taat dengan guru ngaji. Sungguh keikhlasan mereka, saya salut.”
Aku tersenyum. Ah, masa lalu itu. Memang selalu indah untuk dikenang namun selamanya tak akan pernah menghampiri lagi. Akankah terulang?
“Kalau antum, kapan nikahnya Akh?”
Aku diam mendengar tanya itu, mungkin aku termasuk golongan yang menurut mereka pengecut karena tak segera mempersiapkan diri untuk pernikahan. Tapi paling tidak aku punya prinsip sendiri. Saat aku tertarik dengan perempuan, maka aku akan diam di tempatku, tak akan kuumbar kata-kata indah di depannya, tak akan kucoba dekati dia, tak akan kuungkapkan perasaanku padanya. Aku akan tetap diam dan berusaha bersikap biasa sampai nanti aku siap untuk meminangnya. Biar ketertarikan ini hanya milikku sendiri. Bagaimana jika didahului orang lain? Berarti memang dia bukan rizkiku, bukan bagianku, dan Allah pasti akan memberi yang lebih baik bagiku. Insya Allah.
Dan aku pun menjawab tanya itu, “Doakan saja semoga cepat menyusul.” jawaban inilah yang kurasa paling aman.
Sumber : Tari Jemari
Wajah Tampan? Percuma!! Jika tanpa keimanan
Wajah Tampan? Percuma!! Jika kelak dilaknat Tuhan
Wajah Tampan? Percuma!! Jika hari-harinya tanpa amalan
Wajah Tampan? Percuma!! Jika tak ada Al Qur’an yang lekat dalam ingatan
Wajah Tampan? Percuma!! Jika tidak memburu keridhoan
Wajah Tampan? Percuma!! Jika hanya melakukan kesia-siaan
Wajah Tampan? Percuma!! Jika hatinya dikotori kebanggaan
Wajah Tampan? Percuma!! Jika tak punya kehormatan
Wajah Tampan? Percuma!! Jika matanya masih jelalatan tak juga mampu tundukkan pandangan
Wajah Tampan? Percuma!! Jika tak bisa mengendalikan hawa nafsunya
Wajah Tampan? Percuma!! Jika hanya untuk tebar pesona dan memikat wanita
Wajah Tampan? Percuma!! Jika enggan mematuhi yang Kuasa dan malah bangga dengan dosa-dosa
Wajah Tampan? Percuma!! Jika akhirnya nanti mendapat siksa di nerakaKetampananmu tak berarti karena tak menjamin kamu akan diridhoi
Ketampananmu tak berguna, karena seseorang masuk surga bukan karena tampannya rupa.
Ketampananmu pasti akan pudar dan hilang seiring waktu yang berjalan. Sedang apa-apa yang engkau lakukan akan abadi dan pasti dimintai pertanggungjawaban oleh Ilahi.
Ketampananmu tak akan bisa menjadi pembela saat engkau dihadapkan pada pengadilan Yang Maha.
Ketampananmu tidak akan pernah bisa menjadi pemberat amal-amal kebaikan di mizan. Tak juga bisa meringankan azab yang ditimpakan di hari kemudian.
Ketampananmu hanya pemberian… hanya pajangan yang tidak akan memberi pengaruh di dalam alam keabadian.
Coba lihatlah Bilal bin Rabbah dengan kulitnya yang hitam, lihat pula Amr bin Jamuh dengan kakinya yang pincang, lihatlah juga Abdullah bin Ummi Maktum dengan kebutaan penglihatan. Mereka mulia di sisi Robb mereka, Rasulullah mengakui keutamaan mereka. Bukan karena tampannya rupa, bukan pula karena sempurna anggota badannya. Namun semuanya karena kesetiaan pada ikrar syahadat yang diucap, kepatuhan pada aturan syariat, melaksanakan kewajiban tanpa keengganan, dan ketaqwaan yang menghunjam sanubari tanpa lekang.
Tidakkah kau belajar pada Yusuf ‘alaihissalam ketika dia digoda untuk berzina ia menolak seraya berkata, “Aku berlindung kepada Allah…” Dan ketika wajah tampannya menarik kaum wanita dia sampai berdoa, “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai dari pada memenuhi ajakan mereka kepadaku…”
Tidakkah kau mengambil sesuatu dari Mush’ab bin Umeir? Pemuda tampan pujaan gadis Makkah di masa jahiliyah? Ia tanggalkan segala kemewahan dan memilih Islam, hingga ketika dia di Uhud dianugerahi kesyahidan Rasulullah berkata tentangnya, “Ketika di Mekkah dulu tak seorang pun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya dari padamu. Tetapi sekarang ini, dengan rambutmu yang kusut masai hanya dibalut sehelai burdah.” Ya, Mush’ab pemuda tampan itu, duta pertama Rasulullah itu hanya berkafan selembar kain burdah yang jika ditutupkan kepalanya maka terbukalah kakinya, dan saat ditutupkan ke kakinya terbukalah kepalanya. Namun dia telah mendapat kemuliaan yang tiada tandingnya.
Tidakkah kau perhatikan perkataan Umar bin Abdul Aziz saat seorang sahabat lamanya -Muhammad bin Ka’ab Al qardhi- menyatakan keheranannya atas penampilan Umar yang berubah setelah menjadi khalifah. Padahal saat Umar menjadi gubernur Madinah tubuhnya indah dan subur, dan setelah menjadi amirul mukminin Umar menjadi kurus, sederhana dan bersahaja. Umar berkata menjawab keheranan Ka’ab, “Bagaimana kalau kau lihat aku di kuburku tiga hari setelah kematianku, saat kedua mataku tanggal pada pipiku, dari hidung dan mulutku mengalir cacing dan nanah. Tentu saat itu engkau akan sangat ingkari aku lebih dari pengingkaran dan keherananmu saat ini.”
Wahai pemuda yang bangga dengan ketampanannya…
Wahai pemuda yang sibuk dengan penampilan lahirnya…
Wahai pemuda yang terlena dengan pandangan dan pujian manusia…
Jangan lagi tertipu akan kefanaan dan kenikmatan tanpa keabadian. Bersegeralah menuju penghambaan yang akan memberi keberuntungan. Apa yang akan kau banggakan saat kematian telah menjelang, apa yang akan kau persembahkan di hadapan Rabb semesta Alam? Apakah kau tak sadari setiap saat kematian bisa mendatangi? Apakah kau tak ingin terpuji di hadapan pencipta langit dan bumi?
Dan cukuplah nasehat Fudhoil bin Iyadh sebagai renungan, “Wahai si wajah tampan, adalah orang yang akan ditanyakan oleh Allah tentang penciptaan (ketampanan) ini. Bila anda mampu menjaga wajah yang tampan ini dari api neraka, maka lakukanlah…”
Wallahu a’lam…
Sumber : Tari Jemari

Baru beberapa kali menjadi supervisor grup tarbiyah aktifis dakwah kampus, saya sudah diminta untuk mengisi pertemuan dengan tema " Virus Merah Jambu". Tentu saja ini bukan yang pertama, tapi yang terlihat berbeda adalah ; pertemuan sebesar dan semegah itu ternyata 'sekedar' untuk mencegah penyebaran virus merah jambu ! Ini bukan berarti meremehkan, saya tahu persis virus merah jambu selalu eksis di ranah aktifis dakwah kampus, tapi menjustifikasi bahwa itu sebuah masalah besar, rasa-rasanya saya kurang setuju. Karena alasan itulah, kemudian dengan nada bercanda saya menolak permintaan itu. Saya katakan pada mereka, " wah bagusnya yang mengisi itu para alumni VMJ-nya saja, lebih pas dan menghayati .. ". Mereka pun tersenyum kemerah-merahan, saling tunjuk hidung satu sama lain.
Virus Merah Jambu, sering diidentifikasi sebagai gejala yang nampak dari penyakit hati yang muncul antara ikhwan dan akhwat. Biasanya bermula dari pandangan yang tak disengaja, atau bisa juga frekuensi dalam interaksi organisasi yang berkesinambungan. Awalnya adalah perasaan simpati, kagum, kemudian bisa menggulir menjadi sebuah kecenderungan. Ujung-ujungnya adalah memupuk harapan untuk bisa diperhatikan, menjalin komunikasi, bahkan mengincar gerbang pernikahan. Ibarat pepatah arab : " Laa ya'ti min farogh" , virus ini tidak mungkin muncul tiba-tiba. Ia akan tumbuh berkembang pada hati yang tak terjaga. Karenanya saya sering menyindir para aktifis dakwah kampus tentang proses pertumbuhan virus ini. Saya menyingkatnya dengan kata " KETUA " .
* K = Kordinasi, yaitu antara ikhwan dan akhwat dalam sebuah kegiatan atau kepanitiaan
* E = Evaluasi, yaitu saling mengevaluasi setelah usai kegiatan, baik memuji maupun mengkritik, atau sekedar mengucapkan jazakumullah dan jazakillah
* T = Tausiyah, yaitu saat tidak ada lagi koordinasi, hati masih ingin untuk terus berkomunikasi, karenanya mulailah ada SMS tausiyah berlabel penjaga ukhuwah dan motivasi dakwah. Bukan tidak mungkin terjadi di sepertiga malam yang terakhir, saling membangunkan sholat malam via sms tausiyah.
* U = Ukhuwah, atas nama ukhuwah terus melanjutkan komunikasi dengan lebih intensif, Semua atas nama ukhuwah, dakwah. Meski hati kecil tetap saja terus berdegup saat berkomunikasi.
* A = Ana uhibbukum fillah..... yang ini sudah jelas , efek lanjutan dari degup hati yang tak terjaga. Dari fase inilah akan bermula banyak permasalahan dan penurunan dalam aktifitas dakwah.
OK, ternyata kepancing juga saya membahas tentang VMJ. Sejujurnya memang ada faktanya, bahkan beberapa kali saya menerima sms yang 'curhat' tentang VMJ yang ia rasakan. Tapi sekali lagi, saya agak ragu-ragu untuk membahasnya dalam forum yang besar. Alasan sederhananya setidaknya ada tiga :
- Mungkin justru akan menginspirasi yang lainnya yang sebelumnya steril dan belum pernah terlintas untuk terjangkit virus ini. Atau sederhananya, jangan sampai isu VMJ ini begitu populer karena banyak yang membahas dan berpolemik tentangnya. Ingat iklan PKS tentang Soeharto ? Murah meriah bukan, semakin banyak dibahas, semakin efektiflah iklan PKS.
- Bisa jadi akan memperburuk citra dakwah kampus. Ini bagi pandangan pengamat luar atau mahasiswa diluar sistem dakwah kampus. Mereka akan mudah beropini: " oo ternyata sama aja ya anak masjid juga bisa jatuh cinta, bahkan lebih berbunga-bunga "
- Pembahasan VMJ akan menyembunyikan permasalahan lain yang juga sebenarnya dialami oleh aktifis kampus. Tanpa bermaksud mengumbar kesalahan para aktifis dakwah kampus, beberapa kali saya menemukan satu dua hal yang tampaknya bisa jadi masalah di aktifitas selanjutnya. Contohnya : nilai akademis aktifis yang tak kunjung naik atau bahkan molor skripsi, atau juga sisi profesionalisme dalam administrasi dan mengorganize sebuah acara, atau juga rapuhnya pemahaman tentang ideologi dakwah yang paling basic sekalipun.
Akhirnya, ada banyak permasalahan yang memang harus kita urai satu persatu dalam dunia aktifis dakwah kampus. Saya yakin VMJ bukan yang terbesar, karena bisa dipastikan mereka yang terkena biasanya -wallahu a'lam- adalah mereka yang bermasalah dalam tarbiyahnya, amal yauminya, dan bisa juga dalam pelaksanaan amanah-amanah yang dibebankan kepadanya. Dan mestinya 'sample error' selalu lebih sedikit dari jumlah keseleruhan. Saya yakin banyak aktifis dakwah kampus lainnya yang lebih fokus menggarap amanahnya, lebih ikhlas dalam kerja-kerja dakwahnya, tidak tergoda hanya dengan pandangan selintas, tidak terpengaruh dengan deretan-deretan kalimat dalam sms yang diterimanya. Kepada mereka sajalah layak kita titipkan masa depan dakwah kampus, bahkan masa depan Indonesia.Wallahu a'lam.
Sumber : Blog Ust. Hatta Syamsuddin
Sumber : Blog Ust. Hatta Syamsuddin

Ukhti, kamu cantik sekali
Tapi hanya di mata manusia. Sedangkan yang Maha Kuasa tak pernah memandang rupa atau pun bentuk tubuh kita. Namun Ia melihat pada hati dan amal-amal yang dilakukan hamba-Nya.
Ukhti, kamu cantik sekali
Tapi cantik fisik tak akan pernah abadi. Saat ini para pesolek bisa berbangga dengan kemolekan wajah ataupun bentuk tubuhnya. Namun beberapa saat nanti, saat wajah telah keriput, rambut pun kusut dan berubah warna putih semua, tubuh tak lagi tegak, membungkuk termakan usia, tak akan ada lagi yang bisa dibanggakan. Lebih-lebih jika telah memasuki liang lahat, tentu tak akan ada manusia yang mau mendekat.
Ukhti, kamu cantik sekali
Tapi kecantikan hanyalah pemberian dan untuk apa dibangga-banggakan? Sepantasnya kecantikan disyukuri dengan cara yang benar. Mensyukuri kecantikan bukanlah dengan cara memamerkan, memajang gambar atau mengikuti bermacam ajang lomba guna membandingkan rupa, sedangkan hakekatnya wajah itu bukan miliknya.
Tidakkah engkau lengah bila banyak mata lelaki yang memandangi berhari-hari? Tidakkah engkau malu ketika wajahmu dinikmati tanpa permisi karena engkau sendiri yang memajang tanpa sungkan. Ataukah rasa malu itu telah punah musnah? Betapa sayangnya jika demikian sedangkan ia sebagian dari keimanan.
Ukhti, kamu cantik sekali
Tapi apa manfaat pujian dan kekaguman seseorang? Adakah ia akan menambah pahala dari-Nya? Adakah derajatmu akan meninggi di sisi Ilahi setelah dipuji? Tak ada yang menjamin wahai ukhti. Mungkin malah sebaliknya, wajah cantik itu menjadikanmu tak punya harga di hadapan-Nya, karena kamu tak mampu memelihara sesuai dengan ketentuan-Nya.
Ukhti, kamu cantik sekali
Kecantikan itu harta berharga bukan barang murah yang bisa dinikmati dengan mudah. Dimana nilainya jika setiap mata begitu leluasa memandang cantiknya rupa. Dimana harganya jika kecantikan telah diumbar, dipajang dengan ringan tanpa sungkan. Dimana kehormatan sebagai hamba Tuhan jika setiap orang, baik ia seorang kafir, musyrik atau munafik begitu mudah menikmati wajah para muslimah?
Ukhti, kamu cantik sekali
Alangkah indah jika kecantikan fisik itu dipadu dengan kecantikan hatimu. Apalah arti cantik rupawan bila tak memiliki keimanan. Apalah guna tubuh molek memikat bila tak ada rasa malu yang lekat. Cantikkan dirimu dengan cahaya-Nya. Cahaya yang bersinar dari hati benderang penuh keimanan. Hati yang taat senantiasa patuh pada syariat. Hati yang taqwa, yang selalu menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Hati yang sederhana, yang tak berlebihan dalam segala urusan dunia.
Ukhti, kamu cantik sekali
Maka tampillah cantik di hadapan Penciptamu karena itu lebih berarti dari pada menampilkan kecantikan pada manusia yang bukan muhrimmu.
Tampillah cantik di hadapan suamimu, karena itu adalah bagian dari jihadmu. Mengabdi pada manusia yang kamu kasihi demi keridhoan Ilahi.
Tampillah cantik, cantik iman, cantik batin, cantik hati, karena itu lebih abadi.
Sumber : Catatan Ahmad Sibawaihi
Tapi hanya di mata manusia. Sedangkan yang Maha Kuasa tak pernah memandang rupa atau pun bentuk tubuh kita. Namun Ia melihat pada hati dan amal-amal yang dilakukan hamba-Nya.
Ukhti, kamu cantik sekali
Tapi cantik fisik tak akan pernah abadi. Saat ini para pesolek bisa berbangga dengan kemolekan wajah ataupun bentuk tubuhnya. Namun beberapa saat nanti, saat wajah telah keriput, rambut pun kusut dan berubah warna putih semua, tubuh tak lagi tegak, membungkuk termakan usia, tak akan ada lagi yang bisa dibanggakan. Lebih-lebih jika telah memasuki liang lahat, tentu tak akan ada manusia yang mau mendekat.
Ukhti, kamu cantik sekali
Tapi kecantikan hanyalah pemberian dan untuk apa dibangga-banggakan? Sepantasnya kecantikan disyukuri dengan cara yang benar. Mensyukuri kecantikan bukanlah dengan cara memamerkan, memajang gambar atau mengikuti bermacam ajang lomba guna membandingkan rupa, sedangkan hakekatnya wajah itu bukan miliknya.
Tidakkah engkau lengah bila banyak mata lelaki yang memandangi berhari-hari? Tidakkah engkau malu ketika wajahmu dinikmati tanpa permisi karena engkau sendiri yang memajang tanpa sungkan. Ataukah rasa malu itu telah punah musnah? Betapa sayangnya jika demikian sedangkan ia sebagian dari keimanan.
Ukhti, kamu cantik sekali
Tapi apa manfaat pujian dan kekaguman seseorang? Adakah ia akan menambah pahala dari-Nya? Adakah derajatmu akan meninggi di sisi Ilahi setelah dipuji? Tak ada yang menjamin wahai ukhti. Mungkin malah sebaliknya, wajah cantik itu menjadikanmu tak punya harga di hadapan-Nya, karena kamu tak mampu memelihara sesuai dengan ketentuan-Nya.
Ukhti, kamu cantik sekali
Kecantikan itu harta berharga bukan barang murah yang bisa dinikmati dengan mudah. Dimana nilainya jika setiap mata begitu leluasa memandang cantiknya rupa. Dimana harganya jika kecantikan telah diumbar, dipajang dengan ringan tanpa sungkan. Dimana kehormatan sebagai hamba Tuhan jika setiap orang, baik ia seorang kafir, musyrik atau munafik begitu mudah menikmati wajah para muslimah?
Ukhti, kamu cantik sekali
Alangkah indah jika kecantikan fisik itu dipadu dengan kecantikan hatimu. Apalah arti cantik rupawan bila tak memiliki keimanan. Apalah guna tubuh molek memikat bila tak ada rasa malu yang lekat. Cantikkan dirimu dengan cahaya-Nya. Cahaya yang bersinar dari hati benderang penuh keimanan. Hati yang taat senantiasa patuh pada syariat. Hati yang taqwa, yang selalu menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Hati yang sederhana, yang tak berlebihan dalam segala urusan dunia.
Ukhti, kamu cantik sekali
Maka tampillah cantik di hadapan Penciptamu karena itu lebih berarti dari pada menampilkan kecantikan pada manusia yang bukan muhrimmu.
Tampillah cantik di hadapan suamimu, karena itu adalah bagian dari jihadmu. Mengabdi pada manusia yang kamu kasihi demi keridhoan Ilahi.
Tampillah cantik, cantik iman, cantik batin, cantik hati, karena itu lebih abadi.
Sumber : Catatan Ahmad Sibawaihi

Tanpa bermaksud memperbesar masalah, saya kembali menuliskan seputar Virus Merah Jambu dalam note sederhana ini. Betapapun, permasalahan ini cukup berkembang di tengah aktifitas dakwah : dimana saja, kapan saja, dan bahkan bisa menyerang siapa saja.
Hasrat hati sebenarnya ingin mengingkari, tidak ingin membahas VMJ agar tidak menjadi ‘negative brand’ aktifitas dakwah yang mulia, agar tidak terngiang-ngiang di telinga para aktifisnya hingga menginspirasi yang belum ternodai. Tapi realita di lapangan menuntut untuk kembali bicara. Bukan satu dua, tapi banyak jumlahnya yang mendatangi saya : baik secara langsung, maupun via sms dan email untuk curhat seputar Virus Merah Jambu tersebut. Sebagian mereka terkena telak menghujam, hingga susah untuk menghindar dan menjauhi. Sebagian masih terjaga penuh malu-malu, berharap ada solusi yang mengamini kecenderungan hatinya. Sungguh kita dan mereka itu sama, tak lebih dari sekedar manusia yang berhati dan mempunyai rasa.
Hasrat hati sebenarnya ingin mengingkari, tidak ingin membahas VMJ agar tidak menjadi ‘negative brand’ aktifitas dakwah yang mulia, agar tidak terngiang-ngiang di telinga para aktifisnya hingga menginspirasi yang belum ternodai. Tapi realita di lapangan menuntut untuk kembali bicara. Bukan satu dua, tapi banyak jumlahnya yang mendatangi saya : baik secara langsung, maupun via sms dan email untuk curhat seputar Virus Merah Jambu tersebut. Sebagian mereka terkena telak menghujam, hingga susah untuk menghindar dan menjauhi. Sebagian masih terjaga penuh malu-malu, berharap ada solusi yang mengamini kecenderungan hatinya. Sungguh kita dan mereka itu sama, tak lebih dari sekedar manusia yang berhati dan mempunyai rasa.
Dari berbagai permasalahan seputar VMJ yang saya dapati, setidaknya ada dua fenomena yang masing-masing harus disikapi dengan bijak dan elegan.
Pertama : Virus Merah Jambu yang Full version !
Yaitu ketika aktifis dakwak terjebak dalam cinta lokasi. Berawal dari kekaguman yang diikuti dengan pola interaksi yang berkelanjutan baik sms, telpon, imel bahkan facebook sekalipun. Mengatasnamakan aktifitas dakwah dan koordinasi untuk menutupi kegelisahan di hati. Selalu berharap menemukan momentum untuk bertemu, beraktifitas bersama, bahkan berinteraksi secara pribadi. Agenda dakwah tidak lagi menjadi hal utama. Dakwah dan aktifitasnya menjadi ‘tumpangan’ yang enak untuk bisa terus menghubungi tambatan hati. Ia merajut hari dengan harapan segera keluar dari kungkungan virus ini, berharap ada malaikat penyelamat yang akan menikahkan mereka dengan mudah dan berkah. Tujuannya begitu mulia, menikah secepat mungkin agar hati menemukan ketentramannya. Tanpa melihat kesiapan diri sama sekali, dimana kuliah belum usai, biaya hidup pun masih menunggu kiriman orang tua tercinta. Inilah versi sesungguhnya dari virus merah jambu. Ia adalah obsesi dan gelora jiwa di usia muda, tak lebih dari sekedar ‘cinta monyet’ yang akan mengganggu konsentrasi kuliah dan dakwahnya.
Kepada mereka yang terkena pada tahapan ini, segeralah beristighfar dan menyibukkan dari dengan aktifitas kuliah dan dakwah. Kali ini dengan benar2 menjaga hati. Kepada para murobbi yang menangani kasus semacam ini : segera saja diarahkan untuk mengoptimalkan kesibukan dakwah, berikan tausiyah tentang bahaya virus merah jambu dalam menggerogoti dakwah ini. Maaf, tidak perlu kata ampun bahkan toleransi dalam tahapan ini. Kali ini saya harus benar-benar tidak membuka peluang lebih lanjut, karena betapa banyak dakwah ternodai, orangtua cemas, kuliah tak berujung karena kita mencoba mencari solusi VMJ dalam tahapan ini.
Saya katakan sekali lagi : virus ini tidak ada hubungannya dengan pernikahan dini, ia tidak lebih dari ‘cinta monyet’ para aktifis dakwah yang harus segera dilawan dengan kesibukan dan kesadaran akan pentingnya masa depan !
Kedua : Kecenderungan dan Cinta yang Tumbuh di Hati
Yang ini adalah kecendungan pada seseorang dan cinta yang tumbuh di hati. Nyaris tanpa ekspressi apalagi interaksi. Ia hanya mengagumi tanpa mengeksplorasi lebih jauh objek kekagumannya. Ia bagaikan pungguk merindukan bulan, lalu enggan memikirkan hal tersebut lebih jauh dalam hari-hari dakwahnya. Ia menyimpan begitu dalam rasa itu, bahkan terkadang tidak menyadarinya. Ia mempunyai kesibukan dan agenda yang jelas menuju masa depannya.
Lalu tiba-tiba ia merasa siap untuk menikah. Perkuliahan yang dijalani tinggal satu dua bulan lagi atau mungkin telah lama ia pungkasi. Persiapan menuju pernikahanpun lebih tertata dan teruji. Orangtuanya pun tak merasa dilangkahi, mereka benar2 menyadari kedewasaan dan kesiapan sang buah hati dalam membina bahteranya sendiri. Lalu dengan siapa ia akan menikah ? Maka ia teringat kembali pada sosok yang pernah dikagumi, atau membuatnya simpati, atau membuatnya tertarik secara manusiawi begitu saja. Apakah ini cinta yang sudah tumbuh di hati ? Sungguh ia ingin berontak, karena selama ini ia mengingkari kecenderungan itu. Ia terbukti bisa menenggelamkan dan melawannya bahkan tanpa bekas dalam kehidupannya sehari-hari. Lalu mengapa rasa itu kembali muncul mengganggu lintasan pikirannya.
Rasa bingung segera menyergap pikirannya ? Apakah ia harus mengatakan yang sejujurnya pada sang Murobbi ? bahwa ada kecenderungan pada seseorang yang sudah tumbuh di hati ? Ataukah ia kembali menenggelamkannya sebagaimana hari-hari sebelumnya, lalu berusaha menumbuhkan rasa baru entah kepada siapa nantinya ?
Lantas, Bagaimana sikap jika Anda adalah para Murobbi yg mendapati kasus tersebut?
Jika suatu hari nanti kita mendapati kasus yang serupa dengan yang tertulis di atas. Kecenderungan di hati yang tumbuh pada diri seorang aktifis nyaris tanpa ekspressi apalagi interaksi yg berlebihan. Bukan virus merah jambu yang mengganggu dan bertalu-talu dalam hati sang aktifis. Maka sungguh pilihan Anda cukup sederhana : jadilah seorang yang memudahkan pertemuan dua hati yang telah mempunyai kecenderungan itu. Jadilah ‘ustadz cinta’ yang mengelola kecenderungan menjadi tahapan dan langkah yang tertata menuju sebuah pernikahan.
Semoga Anda termasuk mereka yang diberkahi karena membantu pernikahan karena ingin menjaga hati : Dari Abu Hurairah ra , Rasulullah SAW bersabda : “ Ada tiga orang yang wajib bagi Allah menolongnya : orang yang berjihad di jalan Allah, budak ‘Mukatib’ yang ingin membayar pembebasannya, dan seorang yang ingin menikah untuk menjaga dirinya “ (HR Tirmidzi)
Namun setidaknya ada tiga hal yang bisa menjadi pertimbangan kita, sebelum melangkah lebih lanjut dalam proses ini :
Pastikan dengan pertimbangan syar’i : bahwa seseorang yang diinginkannya bukan termasuk mahrom atau musyrik.
Pastikan dengan pertimbangan da’awi : bahkan seseorang yang diinginkannya tidak akan menghambat dakwahnya, justru malah mendukung dan menambah semangatnya dalam berdakwah.
Pastikan bahwa tidak ada pola interaksi yang salah sebelumnya. Tidak ada hubungan ‘backstreet’ yang telah lama dipupuk dan menyemaikan cinta lebih luas lagi hatinya.
Jika ada yang bertanya, apakah yang semacam itu ( menikah dengan cinta dan ketertarikan hati) adalah syar’i ? maka biarkan saya menjawabnya cukup dengan dua hadist yang sederhana.
Pertama : Rasulullah SAW bersabda : “Apabila seseorang di antara kalian ingin meminang seorang wanita, jika ia bisa melihat apa-apa yang dapat mendorongnya untuk menikahinya maka lakukanlah!”( HR Ahmad dan Abu Daud), dalam riwayat lain : “Lihatlah wanita tersebut, sebab hal itu lebih patut untuk melanggengkan (cinta kasih) antara kalian berdua (HR Tirmidzi dan Nasa'i)
Jika kita lihat secara lebih mendalam, maka hadits tersebut bukan saja ‘sekedar’ berisi kebolehan nadzhor atau melihat calon pasangan yang akan dikhitbah, tetapi juga memuat isyarat tentang boleh dan wajarnya sebuah “kecenderungan, dorongan dan ketertarikan” sebelum melangkah dalam pernikahan.
Kedua : Lebih spesifik lagi, Rasulullah saw bersabda : “ Tidak pernah terlihat (lebih menakjubkan) bagi dua orang yang saling mencintai seperti pernikahan “ HR Ibnu Majah (1847) dan Ibnu Abi Syaibah (III/454)
Dalam Kitab Al-Luma’ fi asbabil wurud hadits , diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah tentang sebab wurudnya hadits di atas : Datang seorang laki-laki pada Rasulullah SAW dan berkata : Ya Rasulullah, kami mempunyai seorang anak gadis yatim yang dikhitbah oleh dua orang, yang satu miskin dan yang satu adalah orang kaya. Dia (anak gadis kami) cenderung (cinta) pada yang miskin, sementara kami lebih menyukai pada yang kaya. Maka Rasulullah bersabda dg hadits diatas : “ Tidak pernah terlihat (lebih menakjubkan) bagi dua orang yang saling mencintai seperti pernikahan “
Wallahu a’lam bisshowab.
Semoga tulisan ini tidak menjadi hujjah bagi mereka yang lemah dalam menjaga hati dan pandangan, tidak pula menjadi legitimasi bagi mereka yang terkotori hatinya dan ternodai dakwahnya dengan virus merah jambu.
Apapun yang kita alami, dalam dakwah ini kita tidak pernah sendiri. Segera hubungi murobbi untuk berkonsultasi, agar lebih terjaga diri dan tertata langkah dalam memperbaiki diri. Semua ini kami tulis untuk menjaga kualitas aktifis dakwah, agar semakin dekat kemuliaan dakwah dan kejayaan Islam yang dinanti-nanti.
Saya tutup dengan ungkapan Abdullah bin Mas’ud : Cinta itu dari Allah dan kebencian itu dari syaitan, yang bermaksud memasukkan rasa benci dalam hatimu, terhadap apa yang dihalalkan Allah bagimu ( HR Abdurrozaq (VI/191) dinukil pula oleh Albani dalam Adab Zifaf)
Sumber : Catatan Facebook Ust. Hatta Syamsuddin
