• Posts
  • Comments
  • Email
  • Twitter
  • Facebook
  • Mobile

  • Home
  • TentangKu TentangKu | FacebookKu | TwitterKu | KontakKu
  • Tukeran Tukeran Banner/Link | Banner Sobat | Link Sobat
  • Serial Anis Matta Serial Kepahlawanan | Serial Cinta | Serial Pembelajaran
  • Download E Book | Murottal | Ceramah | Nasyid Harokah | Foto Kekejian Israel
  • Daftar Isi
Anda di : Home »

Tampilkan postingan dengan label Fiqh Da'wah. Tampilkan semua postingan

Dakwah adalah aktifitas mengajak semua orang untuk lebih baik dari sebelumnya. Ketika aktifitas itu terus berlanjut secara bertahap, maka kebaikan demi kebaikan itu akan mengarahkan seseorang berubah menjadi sosok yang berkepribadian islami. Bukan hanya akidah dan keyakinan yang teguh akan keesaan Allah SWT, tetapi juga disertai dengan konsistensi ibadah, kemapanan dalam beretika (baca : akhlak), plus semangat dalam menebarkan kebaikan pada yang lainnya. Inilah yang sering disebut dengan syakhsiyah muslimah mutakamilah atau kepribadian muslim yang integral / komprehensif.

Tetapi tujuan akhir di atas bukanlah dakwah itu sendiri. Dakwah adalah proses untuk mencapai tujuan itu sendiri. Ia tetaplah sekedar seni untuk mengajak orang setingkat lebih baik dari sebelumnya. Dan jika proses itu kita lakukan dengan berkelanjutan dan istiqomah, maka tercapai tujuan dakwah adalah ‘bonus’ yang disisipkan Allah SWT di dunia ini. Sekali lagi mari kita lihat dakwah sebagai proses, atau lebih tepatnya seni mengajak dan mempengaruhi orang pada kebaikan. Karenanya keberkahan dan kesuksesannya dilihat dari proses yang kita jalani, bukan hasilnya. Jika kita menganggap kesuksesan dakwah ada pada munculnya pengikut yang banyak dan shalih semua, barangkali secara tidak langsung kita menilai dakwah nabi Nuh as dan nabi yang lainnya gagal semata. Dan anggapan ini tentu saja tidak benar, karena justru nabi Nuh as diabadikan sebagai ulul azmi yang senantiasa menjadi panutan kesabaran bagi kita semua dalam berdakwah.

Mengapa saya mengulang-ngulang bahwa dakwah adalah sebuah seni dan proses yang bertahap ? Karena sebuah keyakinan bahwa semua orang punya hak untuk di dakwahi, sebagaimana setiap mereka juga punya kemampuan penerimaan yang berbeda-beda. Dan apapun kejadiannya, saat anda berhasil mengubah orang sedikit lebih baik dari sebelumnya, maka itulah bagian dari kesuksesan dakwah. Tidak berlebihan ketika saya mengumpakan dengan logika sederhana ; jika anda mempunyai teman laki-laki anda yang memakai dua anting-anting, lalu anda berhasil membuatnya melepas satu saja anting-anting itu, maka itu adalah sebuah capaian dakwah yang berkah.

Inilah dakwah, seni untuk mengubah seseorang menuju kebaikan sekecil apapun. Dan Inilah Indonesia dengan segenap ragam perbedaan masyarakatnya ! Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia ini mempunyai ragam jenis pemahaman dan kecintaan pada Islam yang berbeda-beda !. Bahkan sejak jaman kerajaan sudah di kenal islam abangan dan santri, sebagaimana lalu diwariskan pada abad modern dengan istilah ‘Islam KTP’. Kepada merekalah dakwah ini seharusnya diperluas dan dioptimalkan, bukan sekedar pada mereka yang memenuhi masjid di hari tuanya. Karena begitu majemuknya kaum muslimin di Indonesia, ditambah lagi warisan sekulerisme ala ‘ Snouck Hurgronje plus bayang-bayang islamphobia hasil brilian kampanye anti teroris yang digalang Amerika, maka ini semua mengharuskan para Da’I pengusung dakwah untuk benar-benar bisa mengemas dakwah dengan baik, cerdas, agar masuk ke dalam relung hati mereka. Meski kemudian hanya sedikit meningkatkan kebaikan yang tak seberapa.

Ada beberapa contoh tentang mengemas dakwah yang barangkali sudah sama-sama kita ketahui. Khusus saya ambil dari tayangan film atau sinetron yang ditayangkan di negeri ini. Ijinkan sedikit sekali lagi kami membahasnya agar bisa menjadi contoh bagaimana seharusnya kita bisa mengemas dakwah dengan cara yang terbaik di negeri kita ini.

Pertama : Kemasan Dakwah ‘Oportunis’

Mohon maaf jika menggunakan kata ‘oportunis’, untuk sementara biarlah demikian adanya karena saya belum menemukan kata-kata lain yang lebih tepat. Kemasan dakwah yang palsu saya dapati di banyak tayangan sinetron di televisi yang sering disebut sebagai ‘sinetron islami’. Mengapa palsu ? Karena dakwah yang ada – atau lebih tepatnya kesan islami- yang ada hanyalah berputar di judul-judul yang ada. Bahkan untuk terlihat sangat Islami, dipilihlah judul yang langsung menyentuh hati kaum muslimin. Sebuat saja sinetron “ Shofa dan Marwah” , atau “ Aqsho dan Madina”. Nama-nama dari tempat-tempat bersejarah yang dimuliakan dan mendapat tempat bagi kaum muslimin. Kita pasti bergetar dan merindukan tempat-tempat itu, yang sebagian dari kita hanya bisa mendengar dan melihatnya dari berita dan kajian siroh saja. Lihat saja, betapapun islaminya judul sinetron tersebut, sungguh kita tidak akan mendapatkan kesan dakwah apapun di dalamnya, kecuali hanya sekedar gambarang wanita khusyuk berdoa setelah shalat sambil berlinang air mata !. Selain itu jangan berharap banyak, yang ada hanyalah deretan episode yang tidak jauh berbeda dengan sinetron lainnya. Pada titik inilah, dengan sangat terpaksa saya menyebutnya dengan istilah ‘oportunis’. Luarnya menampilkan cover Islam, tapi tidak diikuti dengan kesungguhan dalam memperkenalkan nilai-nilainya.

Kedua : Kemasan Dakwah Idealis

Kali ini saya menyoroti beberapa film yang tegas mengusung judul islami dan juga dengan konten yang islami. Sebut saja film semacam “Kun Fayakun”, dan “Emak Ingin Naik Haji”, yang memuat nilai-nilai dakwah secara jelas melalui dialog-dialog dan tayangannya. Ini adalah langkah baik dan berkah. Tetapi kenyataan menunjukkan bahwa memang tidak banyak yang menonton film ini. Capaian jumlah penonton sangat tidak seimbang dengan catatan film-film lainnya. Saya membayangkan yang menonton hanyalah aktifis Islam dan yang sudah menyukai Islam. Bahkan mereka yang ‘kental’ dengan kajian dan gerakan islam belum tentu juga mau ikut menonton tayangan seperti itu. Sementara itu, di luar sana banyak kaum muslimin yang disebut dengan “islam KTP’ atau mereka yang tidak pernah bersinggungan dengan kajian, juga yang masih melekat trauma islam phobia, rasa-rasanya saat melihat judulnya saja akan merasa berat untuk hadir dan menyaksikannya. Ini bukan contoh kemasan dakwah yang buruk, hanya saja untuk memperluas cakupan dakwah dalam ceruk masyarakat muslim yang majemuk, masih terlampau berat untuk mendapatkan penerimaan yang signifikan.

Ketiga : Kemasan Dakwah Kreatif dan Prospektif

Mungkin saja seseorang menampilkan gaya standar yang disukai banyak orang, atau minimal tidak mendapatkan resistensi di tengah masyarakat, tapi ternyata di dalamnya menjelaskan tentang semangat islam dengan gamblang, jelas dan masuk dalam hati. Gambaran ini segera saya baca dalam film “ Laskar Pelangi”. Dilihat dari judulnya sangat humanis dan netral. Ia langsung menyentuh siapa saja tanpa melihat kapasitas keagamaannya. Barangkali saya sempat tertipu dengan judul dan tampilan nyentrik penulis film ini. Sama sekali tidak menggambarkan adanya pesan agung setelahnya. Tapi kemudian saya menyadari, bahwa di dalam film itu justru ada pesan-pesan keislaman yang tegas menghujam dalam hati. Melalui dialog, jalan cerita dan kesan umum yang akan kita dapati dengan mudah. Betapa tidak ? Latar belakang cerita saja tentang sebuah SD muhammadiyah di pesisir Belitong. Dialog-dialog guru dengan muridnya banyak mengungkap kisah-kisah Islam dengan gamblang. Kisah perang Badar dan kisah Nabi juga dimuat dengan tegas tanpa edeng aling-aling, meski melalui dialog singkat saja. Inilah kemasan dakwah yang kreatif dan prospektif, khususnya yang merindukan memberikan hak dakwah lebih luas kepada masyarakat muslim Indonesia yang majemuk pemahamannya. Meski dari luar terlihat lebih Indonesia atau kesan nasionalis sekalipun, tetapi tetap membawa pesan-pesan keislaman yang tegas dan menyentuh. Anda boleh catat hasilnya, jumlah penonton film ini mencapai 4,2 juta orang, dan itu adalah jumlah terbesar yang pernah tercatat selama ini. Kesan yang hampir sama juga mungkin kita dapati di sinetron “ Kiamat sudah Dekat”, dan “ Para Pencari Tuhan”.

Terakhir, mengapa kemasan dakwah harus menjadi pertimbangan kita dalam melangkah ? Sekali lagi, merupakan kewajiban bagi kita untuk menyebarkan dakwah seluas mungkin, kepada siapapun dan dimanapun. Disinilah arti kemasan menjadi penting, agar dakwah diterima dengan mudah dalam hati masyarakat, dan selanjutnya saat hati mulai tersentuh dan tertarik dengan Islam, maka bukan tidak mungkin kita lanjutkan dengan ajakan-ajakan lanjutan untuk mengubah setingkat lebih baik dari sebelumnya.

Inilah seni berdakwah, mengajak orang untuk lebih baik dari sebelumnya, meski hanya sedikit atau bahkan belum terasa. Mari kita ambil inspirasi dari misi dakwah nabi syuaib yang diabadikan dalam Al-Quran : “ Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali “ (QS Hud 88)

Semoga Allah SWT memudahkan aktifitas dakwah kita. Salam optimis !

Sumber : Indonesia Optimis
Rachmat Naimulloh

Tarbiyah Bukan Untuk Tarbiyah

Ibarat benih yang ditanam, tidak selamanya ia hanya akan berada di dalam tanah.

Ibarat benih yang menjadi tunas, ia akan bergerak naik menuntut mimpi yang lebih, merasakan hangatnya sinar mentari.

Karena pada fitrahnya, ia ditanam tidak lain agar bermanfaat bagi orang lain.

Begitu pula tarbiyah ini. Ia ibarat benih yang di tanam, takkan selamanya ada dalam kegelapan, terhalang tanah lantas tidak tumbuh. Ia menjadi tunas yang keluar dari tanah dan merasakan hangatnya sinar mentari. ya... ia tumbuh dalam kesadaran.

Tarbiyah ibarat benih yang ketika tumbuh, akan menghadapi lingkungan yang ekstrem.merasakan serangan hama dan angin, serta kekeringan yang tak terduga. dan tarbiyah, bukan untuk tarbiyah....

di saat ia tumbuh... tarbiyah bukanlah untuk tarbiyah saja. ia layaknya tunas yang nanti akan menjadi pohon besar nan rindang, memberikan keteduhan bagi para musafir.
memberikan buahnya pada orang yang kelaparan. dan memberikan oksigen pada semua orang.

Dan akarnya tetap kuat tertanam dalam tanah. ya. akar yang mencengkeram tanah.

Ia mendapatkan bekal untuk bermanfaat bagi orang lain. akarnya akan tetap tertutup dalam tanah, tapi manfaat batang daun serta buahnya akan terlihat jelas bagi siapapun sekalipuan hanya dengan memandangnya.

Dan tentunya, untuk menjadi pohon besar nan rindang, bukanlah sesuatu yang mudah. kita saat ini adalah benih, yang harus keluar dari tanah. Merasakan berbagai cobaan agar kelak memberikan manfaat.

Mari saudaraku..... janganlah menjadikan tarbiyah untuk kalangan tarbiyah saja.

Tarbiyah adalah untuk harakah.ibarat dalam satu tubuh.

Tarbiyah adalah akar kita dan kita adalah batang daun dan buah yang bermanfaat bagi orang lain. ukhuwah dan muamalah kita diuji bukan hanya terhadap sesama ikhwah, tapi oleh semua manusia.

Wajar jika kita ikhlas terhadap sesama ikhwah...

Wajar jika kita mudah senyum kepada sesama ikhwah...

Tarbiyah bukan untuk tarbiyah..tarbiyah untuk semuanya.

Tarbiyah bukanlah datang duduk mengaji dan sholeh lantas tidak berdaya guna. tarbiyah adalah akar diri kita yang mencengkram dalam tanah, mengikat kita ketika menghadapi berbagai cobaan.

Ia akan mengokohkan diri kita selain memberikan asupan mineral bagi kita.

Dan bagi yang merasa tarbiyah hanyalah untuk tarbiyah,izinkan saya berkesimpulan bahwa akar yang seharusnya mengokohkan dirinya ternyata tidak berfungsi dengan baik.

Wallahu a'lam.

Sumber : Catatan Fathur IzzIs

Rachmat Naimulloh

Rasa syukur yang tiada terhingga aku rasakan, atas karunia dan rahmat-Nya, aku bisa mendapatkan kehormatan menunaikan ibadah haji pada tahun 1428 bertepatan dengan bulan Desember tahun 2007. Apa yang istimewa dari haji tersebut bagiku ? Tentu amat banyak.

Pertama, itu adalah kali pertama aku menunaikan ibadah haji. Segala sesuatu yang pertama kali, pasti amat berkesan. Misalnya pertama kali ke luar negeri, atau pertama kali menaiki mobil, pertama kali naik pesawat, pertama kali memiliki rumah, melewati malam pertama, dan lain sebagainya. Semua yang pertama memang amat mengesankan. Apalagi pertama kali naik haji ke tanah suci, pasti sangat berkesan.

Terlebih lagi, aku berangkat haji dalam rombongan Tamu Kerajaan Saudi. Artinya, aku bisa berangkat ke tanah suci atas biaya pemerintah Kerajaan Saudi, alias gratis. Sungguh perasaan syukur selalu aku panjatkan kepada Allah atas kemudahan ini, atas kehormatan melakukan ibadah haji.

Haji adalah sebuah momentum ibadah yang amat sangat berkesan bagi siapapun yang bersungguh-sungguh menunaikan. Usiaku sudah 42 tahun saat menunaikan haji tersebut. Aku bersyukur, Allah masih memberikan kesempatan kepadaku untuk dapat mengunjungi Ka’bah di saat fisik masih sehat dan segar. Betapa banyak kaum muslimin meninggal dan belum berkesempatan menunaikan haji, atau berkesempatan haji saat usia sudah senja dan fisik telah lemah.

Sungguh aku menangis dalam keharuan saat pertama kalinya di atas pesawat aku melafalkan kalimat talbiyah Labbaikallahumma labbaik.. Labbaika laa syarikalaka labbaik… Petugas mengumukan bahwa pesawat Saudi Airlines yang kami tumpangi telah melewati miqat, sehingga seluruh jama’ah telah mengenakan pakaian ihram dan membaca talbiyah. Aku juga menangis saat pertama kali bisa shalat di depan Ka’bah.

Kedua, ini adalah momentum yang sangat aku nantikan, bahwa akan bertemu waktu serta tempat dimana doa akan mudah dikabulkan Allah. Ya, inilah waktu dan tempat itu, aku sangat ingin melafalkan doa permintaan kepada Allah. Di antara tempat mustajab untuk berdoa adalah di depan Ka’bah, lebih khas lagi di Multazam, atau Raudhah di Masjid Nabawi. Sedangkan waktu yang amat sangat dinantikan adalah hari Arafah, dimana doa sangat mustajab pada waktu itu.

Doa yang ingin aku munajatkan sangatlah sederhana. Namun ingin aku ucapkan di tempat dan waktu mustajab saat haji. Ya, inilah momentum itu. Inilah saatnya aku memohon kepada Allah dengan segenap kesungguhan dan kerendahan diri. Sungguh mahal kesempatan ini, karena belum tentu aku bisa mengulanginya lagi.

“Ya Allah, wafatkan aku dalam kondisi mencintai jalan dakwah ilallah, dan jangan wafatkan aku dalam kondisi membenci jalan dakwah ini”.

Itulah doaku, permohonanku, harapanku kepada Allah. Lega sekali aku melafalkan doa tersebut di waktu dan tempat mustajab. Jika suatu saat kelak Allah masih memberikan kesempatan kepadaku untuk mengunjungi baitullah, akan aku ulangi lagi doa itu. Sungguh, aku sangat ingin Allah mengabulkan doa sederhana tadi.

Sederhana? Mungkin, namun realisasinya yang sangat rumit. Aku mulai mengenal jalan dakwah semenjak umur 20 tahun, mengenal dari awal, mengeja huruf hijaiyah, mengeja pergerakan-pergerakan dakwah. Hingga akhirnya di usia 22 tahun mulai jatuh cinta pada jalan dakwah yang memberikan warna khas kepada aku. Kini aku telah menapaki jalan dakwah telah lebih dari 20 tahun. Aku sangat mencintai jalan ini, dan tak ingin meninggalkannya.

Jika Allah memanggilku hari ini, saat aku menulis narasi ini, insyaallah aku wafat dalam kondisi mencintai jalan dakwah ini sepenuh hati. Namun bagaimana dengan sepuluh atau duapuluh tahun lagi, apakah perasaan cinta masih akan seperti ini ? Sungguh aku tidak tahu. Terlalu banyak fitnah menyertai perjalanan dakwah. Terlalu banyak ujian, mihnah, godaan yang akan terus menerus menerpa siapapun yang istiqamah di jalan dakwah.

Ada orang yang lurus di saat muda. Bersemangat membara, menyerahkan seluruh yang dimiliki di jalan dakwah ini. Namun akhirnya ia kalah di ujung-ujung usianya. Saat himpitan ekonomi, sosial, politik terus menerus menyesakkan dadanya. Rasanya ia tidak pernah menikmati hasil perjuangan. Jika pepatah mengatakan berakit-rakit ke hulu berenang ke tepian, kenyataannya ia harus mengatakan berakit-rakit ke hulu, berakit-rakit pula ketepian. Dari perjuangan masa muda hingga saatnya masa tua, semua serba bersakit-sakit.

Persoalannya, di saat ia merasakan kesakitan di masa tua, ternyata ia menyaksikan sebagian aktivis telah bergelimang kekayaan. Pada saat ia kesulitan membiayai pendidikan anaknya, kesulitan mengobatkan keluarga yang sakit, bahkan kesulitan mencari sesuatu untuk dimakan keluarga, ternyata sebagian yang lain telah berada dalam posisi kemapanan sosial dan ekonomi. Bukan hanya itu, namun ia merasa mereka yang telah kaya sudah tidak lagi mempedulikan yang tidak mampu.

Jika di masa tua ia menyesal menjadi aktivis dakwah, jika di masa tua ia mengungkit-ungkit jasa di masa lalu, jika di masa tua ia tidak rela menyaksikan kemajuan aktivis-aktivis muda, maka ia telah kalah dalam kehidupannya. Apalagi yang diharapkan? Jika ia mampu menjaga kaikhlasan di masa sulit, maka masih ada harapan nanti di akhirat, balasan yang melimpah dari Allah yang pasti sangat indah. Namun apabila kaikhlasanpun telah sirna, berubah menjadi amarah, dendam, dan kebencian, maka siorna pula harapan akhirat. Na’udzubillahi min dzalik.

Sungguh aku tidak mau memiliki sejarah kelam seperti itu. Aku ingin mati dalam kondisi mencintai dakwah ini sepenuh hati. Aku sangat takut kehilangan rasa cinta atas jalan dakwah, apalagi jika sampai ke tingkat muncul perasaan benci. Ya Allah, jauhkan aku dari rasa benci kepada sesuatu yang seharusnya aku cintai.

Itulah doa yang sering aku ulang dalam keseharianku. Aku selalu memohon kepada Allah, semoga selalu diberi kekuatan, kelapangan, keikhlasan, kesabaran, kemudahan dalam mencintai jalan dakwah ini. Aku selalu memohon kepada Allah agar tidak pernah berpaling kepada jalan-jalan lain yang menyesatkan, kepada ajakan-ajakan yang menjurus kepada perpecahan, kepada seruan-seruan yang membawa kepada kehancuran tatatanan. Sampai kematian menjemputku.


Kabulkan doaku, Ya Allah…..


Amin.


Rachmat Naimulloh

“Dakwah itu adalah sebuah kebaikan…namun terkadang kalah oleh karena kita tak berfikir visioner”

Visioner adalah padanan kata yang tepat itu menempatkan gerakan dakwah di berbagai ranah kehidupan. Mengapa? Karena tanpa pemikiran yang visioner, gerakan dakwah itu hanya akan bertahan sebentar sekali dalam area yang dimasukinya. Apakah itu yang kita inginkan? tentu sama sekali tidak.

Pagi tadi ketika sedang berkunjung ke sebuah sekolah umum dan berbincang-bincang dengan guru-guru, di tengah perbincangan kami salah satu guru tersebut mengatakan:

“Aneh tetangga saya yang baru lulus kemarin, sekarang sedang kuliah kemarin menikah.” Guru lain menanggapi: Pacaran tidak?

Ibu itu menjawab: “Tidak!! Langsung nikah.” Kemudian ibu tadi bicara: “Hm…Jelas itu mah masuk “aliran” yang gak mau pacaran, oh yang perempuannya pake jilbab yang lebar ya? Hmm..ya kayaknya aliran itu tuh.” Jawab guru yang pertama menimpali.

Wahai saudara/i…ku pejuang dakwah dan mencintai Allah swt. dan Rasul saw. dengan ikhlas..itulah gambaran jelas yang terjadi di masyarkat…

Dalam hiruk pikuk film-film Islam, novel-novel Islami dan juga buku-buku Islami ternyata belum mampu mensibghoh masyarakat dengan utuh.. baru sebatas ada “alternatif”.

Inilah sebenarnya tugas da’i dan da’iyah di belahan bumi manapun, karena masyarakat itu butuh sentuhan langsung. Maka akan salah sekali jika para da’i dan da’iyah itu menjadikan indikator keberhasilan itu ketika yang terlihat adalah kuantitas yang begitu banyak tanpa kemudian melupakan tugas selanjutnya bagaimana agar menjadi berkualitas.

Yang sering terjadi di tataran grass root adalah para punggawa dakwah itu menjadi semakin elitis, sehingga objek dakwah kita hanyalah menjadi sekedar kue biasa yang dimakan kemudian tidak berbekas dalam ingatan mereka.

Padahal seharusnya analogi kue itu jika ada pengemasan yang baik seperti distribusi yang rapi dan mendekat dan juga kemasan kue yang diberikan dalam bentuk baik, kemudian senyum-senyum yang manis dari sang pengantar kue maka akan lain ceritanya.

Sekali lagi, objek dakwah itu butuh sentuhan langsung bukan bersikap elitis.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Al-Hasyr:18

Ayat ini mengingatkan bahwa strategi kemenangan itu letaknya pada sebuah perencanaan yang visioner dengan balutan taqwa dalam setiap langkah pencapaian. Maka tak ada lagi logika retorika, semua yang harus ada adalah ketika retorika berbanding lurus dengan perbuatan.

“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” As-Shaff:2-3

Jangan menyerah saudara-saudariku… Lanjutkan perjuangan para Nabi, dengan perencaaan visioner.

Sumber : Dakwatuna

Rachmat Naimulloh

Ketika da’wah harus mampu menjangkau dan menggerakkan seluruh unsur masyarakat, maka pembesaran jumlah aktifis/kader sebagai anashir da’wah menjadi mutlak diperlukan. Dan ketika misi da’wah juga harus mampu menghasilkan perubahan-perubahan besar di berbagai aspek kehidupan, maka peningkatan kualitas kader menjadi suatu keniscayaan.

Perpaduan antara aspek kuantitas dan kualitas inilah yang digambarkan Allah SWT dalam ayat :”Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikutnya yang bertaqwa (rabbaniyyin), mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak pula menyerah kepada musuh. Allah menyukai orang-orang yang sabar (3/146).

Kualitas kader dalam kehidupan da’wah harus senantiasa mengikuti kebutuhan marhaliyah (tahapan) dan mihwar (era) da’wah. Semakin meningkat marhalah dan semakin meluas mihwar da’wah, maka kualitas kader pun dituntut untuk semakin berkembang. Bila yang terjadi sebaliknya, maka akan muncul bencana bagi da’wah. Apa saja bentuk bencana itu ?

Pertama, akan muncul kader-kader yang tidak mampu istiqomah didalam mengikuti irama perjalanan da’wah yang dinamis. Ia akan tersibukkan oleh problem-problem personal dan terjauhkan dari aktifitas da’wah. Hendaknya kita selalu mengingat satu ayat yang membuat rambut Rasul SAW beruban :”Maka istiqomahlah kamu (pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertobat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan (11/112).

Kesabaran untuk menggapai janji-janji Allah adalah kunci rahasianya. ”Dan bersabarlah kamu bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhoanNya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang telah Kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas (18/128)

Kedua, munculnya sebagian kader yang menginginkan kehidupan da’wah sebagai sesuatu yang ringan dan menyenangkan secara duniawi. Mereka menjadi enggan ketika perjalanan da’wah ini begitu panjang dan membutuhkan pengorbanan yang banyak. Mereka cenderung menjadi orang yang ingin ”hidup dari da’wah” dan bukan ”menghidupkan da’wah”. Perhatikan firman Allah :”Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diraih dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu. Tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka bersumpah dengan (nama) Allah ’Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu’. Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa mereka sesungguhnya benar-benar orang-orang yang berdusta (9/42)

Ketiga, munculnya ketidakmampuan didalam menjalankan misi da’wah di tengah-tengah masyarakat. Ini karena ISITI'AB (daya dukung dan daya topang) yang dimiliki kader semacam ini tidak seimbang dengan kebutuhan dan tuntutan da’wah yang semakin terbuka. Allah SWT mengarahkan Rasulullah SAW untuk menyiapkan diri sedemikian rupa agar mampu mengemban misi da’wah yang besar & berat. (74/1-7). Dalam hal ini ada tuntutan bagi para kader da’wah untuk senantiasa membekali dirinya dengan bekal-bekal utama da’i khususnya bekal ruhiyah ma’nawiyah dan amaliyah ta’abudiyah.

Keempat, akibat dari ketiga hal diatas, da’wah menjadi disibukkan oleh problematika internal yang menguras energi da’wah, sehingga tidak mampu menjalankan misi-misi perubahan secara efektif. Padahal misi utama da’wah adalah melakukan perubahan dan perbaikan secara nyata. ”...Dan aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nyalah aku kembali (11/88)

Kelima, akibat ketidakmampuan ini, timbul kesenjangan antara harapan besar masyarakat dengan apa yg bisa diberikan oleh da’wah. Lalu terjadi krisis kredibilitas dan krisis legitimasi. Krisis ini bisa jadi juga akan diramaikan oleh sejumlah kasus-kasus negatif yang dilakukan kader yang muncul ke permukaan.

Akhirnya, pada kondisi inilah, akan muncul pikiran di sebagian kader yang lemah untuk menarik kembali da’wah ke belakang. Mereka merasa lebih nyaman ketika da’wah ini belum berhadapan langsung dengan masyarakat secara terbuka. Cukuplah pelajaran dari kisah perang Uhud berikut ini : ”Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Dan mereka berkata :”janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas yang terik ini”. Katakanlah :”api neraka jahannam itu lebih sangat panas”, jikalau mereka mengetahui (9/81).

Inilah bencana yang bisa terjadi pada da’wah manakala aspek kualitas diabaikan.

Wallaahu a’lam…

Sumber : FBnya Fathur IzzIs

Rachmat Naimulloh

Manusia adalah unsur inti dari kehidupan. Peningkatan dan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) senantiasa menjadi isu penting semua organisasi. Bahkan disaat teknologi dianggap sebagai parameter sebuah negara dikatakan maju, SDM tetap menjadi persoalan penting yang diyakini mempengaruhi secara signifikan eksistensi negara tersebut dalam peradaban dunia. “The man behind the gun”, begitu kira-kira orang sana membahasakan betapa pentingnya unsur manusia disamping teknologi. Bagaimanapun canggihnya teknologi, tidak akan bermanfaat bila tidak ada manusia yang bisa menggunakannya. Bahkan ia dapat menjadi bencana bila manusia menyalah gunakannya.

Dari sini, kita memperoleh dua kata kunci tentang SDM ini. Pertama, dan ini yang terpenting, adalah persoalan pembentukan kepribadian manusia, sehingga ia tak menyalah gunakan apapun yang berada ditangannya. Kedua, peningkatan kemampuan, kompetensi dan kapabilitas manusia sesuai bakat, minat dan spesialisasinya. Bahwa pengembangan dalam teknologi, metodologi atau apapun tak akan berarti apa-apa jika tak diiringi dengan peningkatan kemampuan manusianya. Singkatnya, kita dapat mengatakan bahwa teknologi, metodologi dan kawan-kawannya hanyalah tools atau alat, manusialah yang menentukan apakah ia bermanfaat atau justru menjadi bencana.

Dua aspek penting yang terkait SDM, pembentukan kepribadian dan peningkatan kemampuan manusia inilah yang menjadi core kerja tarbiyah kita. Keduanya harus berjalan seiring dan seimbang. Jadi kerja tarbiyah intinya adalah membentuk kepribadian manusia secara bertahap sehingga menjadi pribadi yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya, lalu meningkatkan kemampuannya hingga menjadi kader yang mampu melaksanakan tugas yang diamanahkan kepadanya dalam rangka mengembalikan kejayaan Islam dan kaum muslimin.

Disinilah letak persoalannya. Tarbiyah merupakan metodologi, cara, sarana, alat atau tools. Tarbiyah memerlukan unsur lain agar dapat diaplikasikan. Kita asumsikan unsur lain itu adalah manhaj, idarah (manajemen), Murabbi dan Mutarabbi.

Mari kita renungkan lebih dalam. Untuk aspek manhaj, kita sudah memilikinya. Bahkan untuk menjaga ta’shil (orisinalitas) dan mengikuti perkembangan lapangan,manhaj tarbiyah terus dievaluasi dan direvisi secara berkala. Lebih jauh, seluruh kader dapat secara langsung memiliki dan mengakses manhaj itu karena telah dibukukan. Untuk aspek idarah pun demikian, kader dapat mengakses sistem itu dengan mudah, apalagi idarah ini bukanlah suatu konsep yang sulit dan rumit bagi rata-rata kader.

Tetapi sebagaimana “kaidah” diawal tulisan ini, betapapun bagus dan lengkapnya manhaj atau idarah yang dimiliki, tak akan berarti apa-apa jika tak ada yang mampu dan mau mengaplikasikannya. Jadi, suka tidak suka kita harus kembali kepada pentingnya unsur manusia (dalam konteks ini adalah Murabbi dan Mutarabbi) untuk membuat tarbiyah berjalan dengan baik.

Maka, upaya merevisi manhaj dan idarah harus diiringi dengan upaya penyiapan dan peningkatan kemampuan para Murabbi. Ini karena para Murabbi adalah “The man behind The Manhaj and The Idarah”. Lalu, siapa yang bertanggung jawab untuk menyelenggarakan program penyiapan dan peningkatan kemampuan para Murabbi? Ya, jawabannya adalah struktur yang memiliki program tersebut. Dan siapa yang berada di struktur itu? Manusia juga kan? Maka upaya yang harus dilakukan juga adalah meng up grade mereka yang berada di struktur tarbiyah hingga punya kemampuan dan kemauan melaksanakan program yang menjadi tanggung jawabnya.

Demikianlah persoalan ini akan saling terkait satu dengan lainnya. Tetapi pada intinya, faktor manusia (kader) senantiasa menjadi yang sangat signifikan mempengaruhi keberhasilan dakwah, bersama faktor tools lainnya tadi.

Tengoklah sejarah. Keberhasilan dakwah Rasulullah bisa dikatakan sangat didukung oleh dua faktor SDM, disamping tentu saja faktor bimbingan manhaj Alllah SWT. Faktor pertama adalah beliau sendiri sebagai SDM Murabbi yang handal, dan faktor kedua yang tak boleh diabaikan, adalah adanya SDM mutarabbi kader-kader yang berkualitas, yang dalam istilah Syaikh Sayyid Quthb disebut sebagai al-Jiil al-Qur’an al-Fariid (Generasi Qur’ani Yang Unik). Itulah Abu Bakr ash-Sidq, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Amr bin Yasir, Abdullah bin Mas’ud dan masih banyak lagi. Merekalah generasi shahabat Rasululllah SAW yang mempersembahkan hidup mati mereka demi tegaknya izzul Islam wal muslimin.

Jadi, jika ingin meraih kembali kemenangan dakwah, kita harus membenahi kader disemua jenjang dan lapisnya. Kader jajaran pimpinan, kader fungsionaris struktur, kader yang berada di lembaga legislatif atau eksekutif, kader kepala daerah, kader birokrat, kader profesional, kader Murabbi dan kader Mutarabbi, semuanya harus dikokohkan secara terus menerus tarbiyahnya. Konsekwensinya adalah program-program yang berorientasi pada pengokohan tarbiyah kader harus menjadi prioritas kita. Agar kader memiliki energi dahsyat untuk melakukan kerja-kerja dakwah. Agar Allah memberikan pertolongan- Nya. Maka dengan kekuatan kader dan pertolongan Allah, insya Allah dakwah ini akan mengembalikan izzul islam wal muslimin. Allahu Akbar!

Sumber : Al-Ikhwan

Rachmat Naimulloh

“Maka disebabkan rahmat Allah atasmu, kamu berlaku lemah lembut kepada mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkan mereka dan mohonkanlah ampun bagi mereka…”(QS. 3:159)

Saudaraku, Sejarah telah memaparkan pancaran pesona akhlaq Rasulullah dalam perjuangan dakwah beliau sebagai suri teladan bagi kita (QS. 33:21). Kemudian Allah SWT menguatkan dengan firman-Nya “wa innaka la’alaa khuluqin ‘azhiim. Dan sesungguhnya engkau memiliki akhlak yang mulia.”(QS. 68:4). Tentunya ini merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi kita. Rumusan nyata dan gamblang tentang model manusia terbaik. Maka siapa yang ingin berhasil dalam mengemban tugas dakwah sebagaimana Rasul, hendaklah mengikuti jejak langkah Rasulullah dan menerapkan akhlaq Rasulullah dalam segenap aktivitas kehidupannya.

Dulu sering kita jumpai keluhan-keluhan dan kekecewaan terhadap penanganan dakwah di kalangan para mutarobbi –binaan atau murid ngaji atau anggota tarbiyah-. Fenomena berjatuhannya para aktivis dakwah, ditambah lagi dengan ketidaksukaan mereka terhadap pola dakwah ternyata – menurut mereka – disebabkan karena seringnya mereka menerima perlakuan yang tidak bijaksana.

Jawaban sederhana dari permasalahan di atas boleh jadi karena ketidak utuhan kita dalam meneladani Rasul atau bahkan mungkin karena kita belum mampu menanamkan akhlaq Rasul pada diri mereka. Akibatnya kita sering tidak sabar dan tidak bijaksana menyikapi mereka, sementara merekapun terlalu mudah tersinggung dan cengeng menyikapi teguran dan nasihat yang mereka anggap sebagai pengekang kebebasan. Komunikasi yang tidak sehat ini sebenarnya bisa diatasi dengan menyadari sepenuh hati akan begitu pentingnya penanaman dan penerapan akhlaq Rasulullah dalam berbagai pendekatan dakwah. Ditinjau dari segi juru dakwah, keinginan meluruskan, teguran, penugasan, sindiran dan sebagainya sebenarnya dapat dikemas dengan akhlaq. Begitupun dari segi mad’u –peserta dakwah atau yang didakwahi- ; ketidakpuasan, ketersinggungan, perasaan terkekang dan kejenuhan juga dapat diredam dengan akhlaq. Akhlaq menuntun kepada kemampuan untuk saling menjaga perasaan, saling memaklumi kesalahan dan mengantarkan kepada penyelesaian terbaik.

Banyak murabbi –pembina atau yang mentarbiyah- yang dikecewakan dan ditinggalkan binaaanya, tapi dia mampu mengemas luka itu dengan empati dan terus mendoakan kebaikan bagi binaannya. Bahkan diiringi harapan suatu saat Allah swt. mengembalikan binaannya dalam aktvitas dakwah, walaupun mungkin bukan dalam penanganannya. “Mungkin dengan saya tidak cocok, tapi semoga dengan murabbi lain cocok”. Ada mutarabbi yang diperlakukan tidak bijaksana oleh murabbinya namun akhlaq menuntunnya untuk mengerti dan menyadari bahwa murabbinya bukan nabi, sehingga dia tidak dendam dan menjelek-jelekkan murabbinya, melainkan tetap merasa bahwa murabbi dengan segala kekurangannya telah berjasa banyak padanya. Dia tidak membenci dakwah meskipun dia dikecewakan oleh seorang aktivis dakwah.

Di antara nilai-nilai akhlaq yang semuanya mesti kita tanamkan dalam diri kita masing-masing adalah dua nilai yang cukup relevan dengan kelancaran dakwah, yaitu kelembutan dan rendah hati.

Kelembutan adalah perpaduan hati, ucapan dan perbuatan dalam upaya menyayangi, menjaga perasaan, melunakkan dan memperbaiki orang lain. Kelembutan adalah kebersihan hati dan keindahan penyajian yang diwujudkan dalam komunikasi lisan maupun badan. Bukanlah kelembutan bila ucapannya lembut tapi isinya penuh dengan kata-kata kasar menyakitkan (nyelekit). Bukan pula kelembutan bila menyampaikan kebenaran tapi dengan caci maki dan bentakan.

Berwajah manis penuh senyum, memilih pemakaian kata yang benar dan pas (qaulan sadidan), memaafkan, memaklumi, penuh perhatian, penuh kasih sayang adalah tampilan kelembutan. Wajah sinis, penuh sindiran yang terkadang tanpa tabayyun, buruk sangka, ghibah, mendendam, emosional merupakan kebalikan dari sifat kelembutan.

Rendah hati merupakan perpaduan hati, ucapan dan perbuatan dalam upaya mendekatkan atau mengakrabkan, melunakkan keangkuhan, menumbuhkan kepercayaan, membawa keharmonisan dan mengikis kekakuan. Angkuh, sok pintar dan hebat, merasa paling berjasa, merasa levelnya lebih tinggi, minta dihormati, enggan menegur atau menyapa lebih dulu, tidak mau diperintah, sulit ditemui atau dimintai tolong dengan alasan birokratis, menganggap remeh, cuek dan antipati merupakan lawan dari rendah hati. Allah swt. berfirman dalam surah Asy Syu’araa ayat 215 “Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang beriman yang mengikuti kamu.”

Bila Rasulullah saw. saja dengan berbagai pesona dan kelebihannya diperintah untuk tawadhu (dan Rasul telah menjalankan perintah itu), tentulah kita yang apa adanya ini harus lebih rendah hati. Rendah hati terhadap murabbi, rendah hati terhadap mutarabbi dan rendah hati terhadap seluruh orang-orang beriman menunjukkan penghormatan kita pada Rasul dan pada kebenaran Al-Qur’an. Sebaliknya, keangkuhan dan perasaan lebih dari orang lain menandakan masih jauhnya kita dari Al-Qur’an dan Hadist.

Saudaraku, Marilah kita lebih mengaplikasikan apa-apa yang sudah kita ketahui. Betapa pemahaman kita tentang pentingnya akhlak dalam mengantarkan pada kesuksesan dakwah mungkin sudah cukup mumpuni. Namun tinggal bagaimana kita terus meningkatkan penerapan nilai-nilai akhlaq itu dalam kehidupan kita sehari-hari, khususnya dalam mengemban tugas dakwah. Telah dan akan terus terbukti bahwa sambutan masyarakat terhadap dakwah adalah di antaranya karena pesona akhlaq kita, kelembutan kita, memaklumi, mengingatkan dan meluruskan mereka dan kerendahhatian kita untuk terus bersabar mendekati dan menemani hari-hari mereka dengan dakwah kita. Dalam konteks khusus pun demikian, betapa kelembutan dan kerendahhatian ternyata lebih melanggengkan atau mengawetkan binaan-binaan kita untuk terus berdakwah bersama kita.

Saudaraku, Hendaknya dari hari ke hari kita terus mengevaluasi diri, membenahi akhlaq kita dan memantaskan diri (sepantas-pantasnya) sebagai seorang juru dakwah. Memang kita manusia biasa yang penuh salah dan kekurangan, namun janganlah itu menjadi penghalang kita untuk bermujahadah diri menuju kepada kedewasaan sejati. Masa lalu yang kasar dan angkuh hendaklah segera pupus dari diri kita. Kita mulai membiasakan diri untuk lembut di tengah keluarga, di antara aktivis dakwah hingga ke masyarakat luas. Kita mesti melatih kerendahhatian di tengah murid-murid kita, dengan sesama aktivis, pada murabbi kita hingga ke seluruh masyarakat. Dan pada akhirnya nanti insya Allah kita dapatkan keberhasilan dakwah Rasulullah terulang kembali, lewat hati, ucapan dan perbuatan kita yang telah diwarnai nilai-nilai akhlaq.

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah mereka ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah dengan cara yang baik pula. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dialah yang mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS 16:125).
Allahu a’lam.

Sumber : Dakwatuna

Rachmat Naimulloh

عن عبد الله بن زيد أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لما فتح حنينا قسم الغنائم فأعطى المؤلفة قلوبهم فبلغه أن الأنصار يحبون أن يصيبوا ما أصاب الناس فقام رسول الله صلى الله عليه وسلم فخطبهم فحمد الله وأثنى عليه ثم قال يا معشر الأنصار ألم أجدكم ضلالا فهداكم الله بي وعالة فأغناكم الله بي ومتفرقين فجمعكم الله بي ويقولون الله ورسوله أمن (رواه مسلم
Dari Abdullah Bin Zaid, bahwa Rasulullah saw., saat menaklukkan Hunain, membagi-bagikan ganimah (harta pampasan perang). Beliau memberi orang-orang yang hatinya sedang dijinakkan (muallafatu qulubuhum). Lalu sampai (berita) kepada beliau bahwa orang-orang Anshar pun ingin memperoleh apa yang diperoleh orang lain. Maka bangkitlah Rasulullah saw. berkhutbah seraya memuji dan menyanjung Allah lalu mengatakan, “Wahai segenap orang Anshar, bukankah dahulu aku menemukan kalian dalam keadaan tersesat lalu Allah memberi petunjuk kepada kalian dengan perantaraanku; kalian papa lalu Allah memberi kalian kecukupan dengan perantaraanku; kalian terpecah-belah lalu Allah mempersatukan kalian dengan perantaraanku?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nyalah yang paling banyak jasanya.” (Shahih Muslim juz II: 738)

Kemenangan yang diraih dalam perjuangan dapat menggoda sebagian orang untuk mengklaim –baik secara eksplisit maupun implisit– bahwa dirinyalah yang paling berjasa untuk kemenangan itu. Atau, kalaupun bukan merasa yang paling berjasa, paling tidak mengklaim bahwa dirinya berada dalam jajaran orang-orang berjasa. Dan karenanya, jama’ah dakwah diuntungkan dan berhutang jasa terhadap dirinya. Dalam perasaannya, wajar –bahkan ada yang menganggap harus– bila jam’ah dakwah memberikan kompensasi-kompensasi atas perjuangannya itu.

Tampaknya perasaan semacam itu manusiawi. Buktinya hal itu pernah pula terjadi pada masyarakat Islam terbaik yakni generasi sahabat Rasulullah saw. Hadits yang tertulis di atas adalah bagian dari nasihat yang disampaikan Rasulullah saw. kepada kaum Anshar. Secara lebih lengkap, Ibnu Hisyam dalam kitab sirahnya mencatat sebagai berikut:

Berawal dari cara Rasulullah saw. membagi-bagikan ganimah (harta rampasan perang) Hunain. Beliau membagi justru kepada orang-orang yang baru masuk Islam pada saat penaklukan Makkah (Fathu Makkah), yang notabene belum banyak perngorbanannya. Bahkan pada perang Hunain itu justru merekalah yang pertama lari tunggang-langgang saat mendapat gempuran awal dari musuh. Sedangkan orang-orang yang sudah sejak awal turut berjuang dan malang-melintang dalam kancah jihad, kaum Anshar, tidak mendapatkan sedikit pun dari ganimah itu. Sampai-sampai seseorang dari kalangan Anshar berkata kepada sesama mereka, “Sekarang Rasulullah saw. sudah bertemu dengan kaumnya.”

Desas-desus itu akhirnya sampai kepada Rasulullah saw. Beliau kemudian meminta pimpinan mereka, Sa’ad Bin Ubadah untuk mengumpulkan seluruh kaum Anshar itu di satu tempat. Setelah berkumpul, Rasulullah saw. datang untuk menasihati mereka. “Apa desas-desus yang berkembang di tengah-tengah kalian? Apa perasaan-perasaan yang ada di hati kalian terhadapku?” kata Rasulullah membuka khutbah, setelah bertahmid dan menyanjung Allah swt. “Bukankah aku datang kepada kalian dalam keadaan kalian tersesat lalu Allah memberi kalian petunjuk? Kalian miskin lalu Allah memberi kalian kecukupan? Kalian bermusuhan lalu Allah memadukan hati kalian?” Mereka mengatakan, “Benar, Allah dan Rasul-Nyalah yang paling berjasa dan paling utama.” Rasulullah saw. melanjutkan, “Wahai kaum Anshar, mengapa kalian tidak menjawabku?” Mereka menjawab, “Ya Rasulullah, dengan apa kami menjawab engkau? Allah dan Rasul-Nyalah yang paling berjasa dan paling utama.” Rasulullah saw. mengatakan, “Demi Allah, kalau kalian mau pasti kalian mengatakan –dan kalian pasti berkata jujur dan dapat dipercaya: ‘Engkau datang kepada kami, wahai Rasulullah, dalam keadaan didustakan lalu kami mempercayai engkau. Engkau datang dalam keadaan dihinakan lalu kami membela engkau. Engkau datang kepada kami dalam keadaan terusir lalu kami melindungi engkau. Engkau datang kepada kami dalam keadaan sengsara lalu kami membantu engkau’. Wahai kaum Anshar, apakah hati kalian lebih mencintai kemilau dunia yang dengannya aku menjinakkan hati sebagian orang agar teguh dalam Islam padahal aku mengandalkan kalian pada keislaman kalian?” Dan pada akhirnya kaum Anshar menyadari kekeliruan mereka dalam memposisikan diri mereka dan memandang Rasulullah saw. Mereka menangis sejadi-jadinya hingga janggut-janggut mereka basah dengan air mata seraya mengatakan, “Kami puas dengan Rasulullah saw. sebagai bagian kami.”

Rasulullah saw. mengingatkan kepada kita bahwa manakala kita mendapat hidayah Allah swt. untuk masuk dalam barisan Islam, menjadi prajurit Allah, lalu melakukan perjuangan dan pengorbanan untuk Islam, maka sesungguhnya itu bukanlah jasa kita untuk perjuangan Islam. Melainkan justru jasa dan karunia Allah kepada kita sekalian. Tanpa hidayah Allah itu kita hanya akan menjadi manusia dengan kualitas benda mati semacam kayu (khusyubum-musannadah), bahkan bagaikan binatang ternak (kal-an’am). Dan tanpa terlibat dalam perjuangan, kita hanya akan menjadi orang-orang yang tidak punya apa pun untuk menjawab pertanyaan Allah swt. saat kita menghadap-Nya: apa yang telah kau lakukan di dunia?

Sungguh, perjuangan kita untuk menegakkan Islam di muka bumi ini sama sekali bukan jasa untuk Allah swt. Karena Dia, tanpa bantuan manusia, mampu menegakkan Islam dengan tangan-Nya sendiri. Dan Allah tidak mendapat keuntungan sedikit pun dari ketaatan manusia. Sebaliknya Dia juga tidak rugi sedikit pun bila seluruh manusia ingkar pada-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak membutuhkan) sekalian alam. Dan firman-Nya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (Adz-Dzariyaat: 56-58)

Bukan pula perjuangan kita untuk membela dan menguntungkan Rasulullah saw. Karena, pertama kita sudah jauh dari masa hidup Rasulullah saw. Dan kedua, para sahabat yang nyata-nyata terlibat dalam perjuangan dan pengorbanan bersama Rasulullah saw. saja pun hakikatnya bukan membela Rasulullah saw. Karena tanpa bantuan kaum Muslimin pun Rasulullah saw. sudah nyata-nyata dibela oleh Allah swt. Kepada para sahabat yang habis-habisan membela dan berjuang untuk Islam bersama Rasulullah saw. itu Allah swt. berfirman: “Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad), maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Makkah) mengeluarkannya (dari Makkah) sedang dia salah seseorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah berduka cita, sesungguhya Allah bersama kita”. Maka Allah menurunkan ketenangan kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (At-Taubah: 40)

Lalu, apakah perjuangan dan pengorbanan kita menguntungkan Islam? Islam tanpa kita, akan ada orang lain yang memperjuangkannya. Allah swt. menegaskan hal itu dengan ayat-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Al-Maidah: 54)

Rasulullah saw. pun bersabda, “Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang menegakkan kebenaran tanpa terganggu oleh orang yang menghinakan dan menentang mereka, hingga datang kemenangan dari Allah dan mereka tetap dalam keadaan demikian.” (Muslim)

Jadi harus kita sadari, sesungguhnya segala yang kita lakukan dalam perjuangan dengan segala macam bentuk pengorbanan adalah jasa kita untuk diri kita sendiri. Untuk diri kita saat menghadap Allah swt. Sebab, setiap kita hanya akan memperoleh apa yang kita lakukan di dunia. “Dan seseorang tidak akan memperoleh selain dari apa yang telah dia usahakan.” Iman, hijrah, jihad dengan harta dan jiwa, itulah yang akan menghantarkan kita menjadi orang yang sukses sejati, sebagaimana yang Allah jelaskan: “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan.” (At-Taubah: 20). Allahu a’lam.

Sumber : Dakwatuna

Rachmat Naimulloh

Makna ikhtilaf, khilaf dan ilmu khilaf
Ikhtilaf adalah jalan setiap orang yang berbeda dengan orang lain baik dari sikap dan ucapannya. Adapun khilaf cakupannya lebih umum dari sekadar berbeda, karena setiap yang berbeda pasti saling berseberangan/berselisih, sedangkan perselisihan dan perbedaan yang terjadi di antara sebagian manusia dalam ucapan mereka kadang dapat mengakibatkan pertikaian, maka di ambillah kata tersebut dengan pengertian pertikaian dan perdebatan, sebagaimana Allah SWT berfirman: (Maryam:37), (Hud:118), (Adz-Dzariyat:8), (Yunus:93)
Dari sini dapat kita simpulkan bahwa kalimat Khilaf dan ikhtilaf berarti perbedaan yang mutlak dalam ucapan, pendapat, keadaan, gerakan atau sikap. Adapun yang dipahami oleh sebagian pakar ilmu khilaf adalah ilmu yang dapat menjaga dan melestarikan berbagai perkara yang telah diambil intisarinya oleh seorang imam dari para imam yang lainnya, dan menghilangkan sesuatu yang bertentangan tanpa bersandarkan pada dalil khusus, karena kalau masih bergantung pada dalil tertentu, dan mengambil dalil dengannya maka disebut mujtahid dan ahli usul fiqih. Semestinya dalam perbedaan pendapat pembahasannya bukan pada masalah dalil-dalil fiqih namun cukup berpegang pada ucapan imamnya karena adanya permasalahan-permasalahan hukum secara global sebagaimana yang diduga olehnya. Hal ini cukup baginya untuk menetapkan hukum, sebagaimana ucapan imam sebagai hujah baginya guna menghilangkan/membatalkan hukum yang bertentangan seperti yang telah dilakukan oleh imamnya.

Faedah adanya perbedaan
  1. Jika niatnya benar akan memberikan wawasan dan pengetahuan tentang beberapa kemungkinan yang bisa jadi tidak membutuhkan dalil dilihat dari berbagai segi dan arahnya.
  2. Perbedaan pendapat dapat melatih ideologi dan akal, memberikan pencerahan dalam berpendapat dan membuka wawasan untuk mencapai berbagai kemungkinan yang diterima oleh akal.
  3. Terbukanya berbagai solusi dalam menyelesaikan suatu masalah yang terjadi sehingga tercapai solusi yang tepat terhadap situasi dan kondisi, sehingga mendapatkan kemudahan dalam beragama, dimana setiap manusia pasti berinteraksi dengannya dalam kehidupan mereka.
Pembagian khilaf dilihat dari motivasinya
1. Khilaf yang dipenuhi dengan hawa nafsu
Boleh jadi perbedaan pendapat lahir dari keinginan guna mewujudkan tujuan pribadi atau kesenangan individu. Boleh jadi juga terjadi karena dorongan dan keinginan menampakkan pemahaman, keilmuan dan wawasan. Bagian pertama merupakan khilaf yang tercela dengan berbagai bentuk dan ragamnya, karena dorongan hawa nafsu lebih dominan atas kebenaran sedangkan kebanyakan hawa nafsu jarang mendatangkan kebaikan dan merupakan bisikan setan yang dapat menjerumuskan pada kekufuran. lihat firman Allah (Al-Baqarah:87), sebagaimana hawa nafsu dapat menyimpangkan keadilan dan menjerumuskan pada kezhaliman, lihat (An-Nisa:135), karena hawa nafsu orang-orang yang sesat menjadi lebih sesat dan menyimpang, lihat (Al-An’am:56), hawa nafsu juga berseberangan dan bertolak belakang dengan ilmu, pensiun kebenaran, pengarah kerusakan dan kesesatan, lihat (Shad:26), (Al-Mu’minun:71) dan (Al-An’am:116)

Adapun pembagian hawa nafsu bermacam-macam sebagaimana sumbernya juga beragam, namun jika keseluruhannya tertuju dan kembali pada “Hawa nafsu dan kecintaan pribadi” maka hal tersebut akan menumbuhkan banyak kesalahan dan penyimpangan, dan manusia tidak akan terselamatkan darinya sehingga dirinya selalu dihiasi dari menyimpang pada kebenaran dan membawanya pada kesesatan sampai pada akhirnya kebenaran menjadi bathil dan ke bathil menjadi benar, na’udzubillah min dzalik.

Guna mengetahui dan menyingkap pengaruh hawa nafsu terhadap ideologi ada beberapa cara yang kita ringkas dalam dua sisi:
  1. Sisi luar, yaitu dengan melihat perbedaan yang terjadi selalu bertentangan dengan wahyu Allah yang termaktub dalam Al-Quran dan sunnah Rasulullah saw, dan tidak tampak dari wajah yang berbeda pendapat keinginan menampakkan kebenaran tapi justru jauh dan bertentangan dengan Kitabullah dan sunnah. Atau juga dengan melihat bahwa perbedaan yang terjadi berbenturan dengan akal sehat dan diterima oleh setiap insan, seperti ideologi yang mengajak pada menyembah kepada selain Allah, bertahkim pada selain syariat Allah, membolehkan zina, dusta atau omong kosong yang tidak mungkin hal ini terjadi kecuali bersumber dari hawa nafsu.
  2. Sisi dalam diri; dengan menelitinya bahwa ideologi yang dilontarkannya merupakan hasil perenungan dan tadabbur, namun jika tidak demikian, dan dilakukan dengan serampangan, tidak memiliki ketetapan yang pasti, selalu was-was, maka dapat dipastikan hal tersebut bersumber dari hawa nafsu.

2. Khilaf yang dipenuhi kebenaran
Khilaf bisa terjadi karena adanya dorongan yang benar, ilmu dan akal. Perbedaan terhadap penentang keimanan, orang-orang kafir, syirik dan munafik merupakan hal yang wajar bahkan merupakan kewajiban yang harus ditegakkan dimana seorang muslim dituntut untuk menghindar darinya dan berusaha menghilangkan dan menghancurkannya. Begitu pun perbedaan antara muslim dengan penganut kepercayaan yang menyimpang dan sesat seperti Yahudi, Nasrani, Atheis dan Komunis, namun perbedaan terhadap mereka tidak menghalanginya untuk menghancurkan dan memberantas nya dengan menyeru mereka masuk kepada agama Allah.

3. Khilaf antara terpuji dan tercela
Yaitu perbedaan yang terjadi pada masalah furu’ (cabang) dalam bidang fiqh (hukum), yang mana di dalamnya terdapat berbagai kemungkinan yang satu dengan lainnya saling memiliki kekuatan dalil dan sebab-sebabnya. Seperti perbedaan ulama pada masalah batalnya wudhu dari darah yang keluar karena luka dan muntah yang disengaja, perbedaan mereka pada masalah bacaan di belakang imam, membaca basmalah sebelum al-fatihah, menjaharkan (mengeraskan) kalimat “amin”, dan yang lainnya. Perbedaan ini bisa saja terjadi karena dorongan hawa nafsu dan bercampurnya dengan keimanan dan hawa nafsu, keilmuan dengan zhan (prasangka), Ar-rajih (dalil yang kuat) dengan marjuh (dalil yang lemah), yang diterima dengan yang tertolak oleh akal, maka hal tersebut tidak bisa ditanggulangi kecuali dengan memberikan kaidah-kaidah yang menjadi sandaran dalam menyikapi perbedaan, dhawabith (standar) yang menuntunnya, adab-adabnya, karena jika tidak demikian maka terjadi perpecahan, pertikaian dan permusuhan, sehingga kedua orang yang saling berbeda menjadi hancur dan jatuh dari derajat taqwa kepada hawa nafsu yang hina dan durjana, terjadi kesimpangsiuran dan terkuasai oleh setan.

Pendapat para ulama tentang perbedaan pendapat
Dari keterangan di atas kita bisa lihat makna, maksud dan tujuan khilaf dan juga macam-macamnya, dan para ulama banyak memberikan peringatan akan terjadinya perkhilafan dari berbagai segi dan macamnya dan menegaskan untuk menjauhinya. Imam Ibnu Mas’ud berkata, “khilaf adalah perbuatan tercela”. As-Subki berkata: sesungguhnya rahmat itu akan turun selagi tidak ada perkhilafan, seperti firman Allah (Al-Baqarah:253) dan sunnah Rasulullah saw, “Sesungguhnya Bani Israel binasa karena banyaknya pertanyaan dan perkhilafan terhadap nabi mereka”. Dan ayat-ayat begitu pun hadits-hadits banyak menegaskan akan tercelanya perkhilafan.

Dan imam As-Subki mengklasifikasi perkhilafan yang ketiga antara terpuji dan tercela, beliau membaginya pada tiga bagian:
  1. Perkhilafan pada permasalahan usul (dasar dan pokok), yaitu permasalahan yang telah diterapkan Al-Quran, dan tidak diragukan lagi bahwa hal ini adalah bid’ah dan sesat.
  2. Perkhilafan dalam bertukar pendapat dan peperangan, yang demikian adalah haram, karena dapat mengakibatkan penghapusan sisi kemaslahatan.
  3. Perkhilafan pada permasalahan furu’ (cabang) dalam suatu hukum, seperti perkhilafan dalam masalah halal dan haram, dan yang lainnya. Dan yang perlu diperhatikan bahwa dalam masalah furu’ kesepakatan yang diambil adalah lebih baik daripada mempertahankan perbedaan.

Dan untuk mengetahui bahaya yang ditimbulkan dalam khilaf dapat kita lihat kisah nabi Harun AS yang mana beliau menganggap bahwa perkhilafan merupakan bahaya laten yang dapat memecah belah persatuan dan lebih berbahaya daripada menyembah berhala. Saat Samiri mengelabui kaum nabi Musa dengan membuat sapi dari emas sambil berkata kepada mereka, “Inilah Tuhan kalian dan Tuhan Musa” (Thoha:88) beliau tidak bereaksi sambil menunggu saudaranya nabi Musa, dan ketika nabi Musa sampai lalu melihat kaumnya bersujud dan menyembah sapi langsung menuju kepada saudaranya sambil menunjukkan wajah yang marah, namun saudaranya tidak berkata apa-apa kecuali, “Wahai anak ibu, jangan engkau jambak janggutku dan kepalaku, sesungguhnya aku khawatir engkau akan menuduhku telah memecah belah antara Bani Israel, sedang engkau tidak mau mendengar ucapanku…” (Thoha:94) beliau menjadikan kekhawatiran terjadinya perpecahan dan perbedaan sebagai dalil dan alasan untuk tidak bertindak keras dalam mengingkari penyimpangan Bani Israel, namun justru memisahkan diri dari mereka saat beliau menyadari bahwa peringatan tidak berguna bagi mereka.

Sumber : Dakwatuna

Rachmat Naimulloh

Dakwah artinya mengajak, tapi mengajak tanpa dibarengi contoh, sulit diterima. Sebab meniru adalah sifat dan karakter manusia. Dalam suatu pertemuan atau ceramah umum, dilakukan permainan rilek uji kepatuhan jamaah. Seorang ustadz mengatakan, "Saudara-saudara, silakan perhatikan dan ikuti komando saya! Letakkan tangan kanan di kepala!" Dengan komando perintah dan contoh tangan tuan guru di kepala, semua jamaah dengan sertamerta menirunya. Kemudian mengomando lagi dengan contoh seraya mengatakan, "Pegang telinga yang kanan!" Para jamaah pun kompak mengikutinya. Namun, ketika sang ustadz mengatakan, "Pegang hidung dengan tangan kiri!" sementara tangan sang ustadz tersebut masih di telinga, mayoritas tangan jamaah masih tetap di telinga mereka masing-masing karena melihat contoh dari sang ustadz.

Contoh di atas menunjukkan betapa pentingnya ketauladanan di tengah masyarakat. Oleh karena itu, Allah swt. dengan tegas mempersonifikasi Rasulullah saw sebagai uswah hasanah (suri tauladan yang baik) agar menjadi contoh nyata yang dapat ditiru oleh masyarakat dan kaum muslimin. Dan dengan demikian, cara dakwah Rasulullah saw dikagumi oleh kawan maupun lawan.

Di zaman seperti sekarang ini sangat sulit mendapatkan uswah hasanah yang sempurna yang mencerminkan ilmu dan amal keislaman. Padahal di tingkat bawah, masyarakat tidak dapat mengetahui apa dalil dan bagaimana ajaran Islam yang sebenarnya kecuali apa-apa yang didengar atau dilakukan oleh kiyai atau tokoh agama. Oleh karena itu, perlu ada usaha pengkaderan tokoh agama yang berpredikat uswah hasanah yang keislamannya tidak hanya pada ucapan belaka, meskipun ilmu yang dimilikinya sebatas hal-hal yang mendasar.

Di kalangan umum, dakwah sering dipahami hanya sebagai kegiatan menyampaikan pesan-pesan agama. Hal itu tidak salah, tapi yang menjadi masalah, sejauh mana target-target dakwah dapat diraih. Kalau kerja dakwah ini dianggap cukup ketika banyak da’i yang menyampaikan pesan agama tanpa disertai adanya target-target yang harus dicapai maka dakwah seperti ini tidak akan banyak membawa perubahan di tingkat sosial, politik, budaya, dan pendidikan. Oleh karena itu, perlu adanya perubahan paradigma dakwah, disamping mempersiapkan pelaku-pelaku dakwah kredibel.

Terminology dakwah yang perlu ditanamkan di kalangan para da’i adalah "mengubah keadaan individu ataupun komunitas masyarakat dari keadaan tidak baik menjadi baik." Kondisi tidak baik dilihat dari segala sisi: dari sisi kepahaman agama dan pengamalannya, sisi kondisi kehidupan sosial masyarakat, kesadaran pertanggung jawaban atas prilakunya di masyarakat, kesadaran akan perlunya perbaikan tatanan sosial, perbaikan sistem pemerintahan, dan perbaikan tata negara agar menjadi pelaku kehidupan yang bertanggung jawab.

Semua item terminologi tersebut memerlukan kerja keras dari para pelaku dakwah disamping perlu adanya panduan kerja dakwah yang mengacu kepada target-target yang diprogramkan. Hal ini telah dicanangkan oleh para aktifis dakwah dengan sistem tarbiyah islamiyah. Tarbiyah islamiyah bukan sekedar kegiatan dakwah yang memberi kecerdasan kepada masyarakat dalam masalah-masalah keislaman, melainkan suatu sistem kerja dakwah untuk menciptakan mad'u (sasaran dakwah) yang memiliki integritas dengan ajaran Islam. Dari integritas kepribadian terhadap Islam, segala potinsi yang dimiliki oleh individu akan dapat dieksploitasi untuk tegaknya nilai-nilai keislaman. Oleh karena itu, tarbiyah islamiyah tidak memaksakan seorang dokter, insinyur, ekonom, dan lain sebagainya, harus mampu membaca kitab kuning (kitab berbahasa Arab yang tidak diberi tanda baca), melainkan mereka dilatih untuk memahami dunianya masing-masing, dilihat dari kacamata Islam untuk menerapkan nilai-nilai keislaman di bidangnya.

Dalam hal ini, kerja da’wah profesional bertujuan membangun kredibilitas personal yang handal pada tiga titik esensial:
  1. Kredibilitas Moral, yaitu menciptakan individu yang ditarbiyah memiliki komitmen nilai keislaman yang berkaitan dengan pertanggung jawaban atas segala perbuatan di hadapan Allah SWT. Hal ini dikenal dengan kesalehan individu yang disimbolkan dengan ikon “Bersih”.
  2. Kredibilitas Sosial, yaitu menciptakan individu yang memiliki kepekaan sosial sehingga perjuangan hidup yang ditekuninya bukan sekedar untuk memuaskan ambisi kepentingan pribadi atau keluarga yang berlandaskan kepuasan emosional, melainkan untuk menyebarkan dan mendtribusikan nilai kesalehan di tengah-tengah komunitas umat sesuai kemampuan potensi diri. Hal ini dikenal dengan kesalehan sosial yang disimbulkan dengan ikon “Peduli”.
  3. Kredibilitas Profesional, yaitu menciptakan kader tangguh yang mempu melakukan tugas dengan penuh kecermatan, ketekunan dan pertanggung-jawaban. Untuk hal ini diperlukan core competence management and strategic thingking (penyatuan kemampuan manajerial dan strategi berpikir) lewat latihan-latihan. Yang ini kita namai kesalehan profesional dan disimbolkan dengan ikon “Profesional”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mensinyalir masalah ini dalam sebuah sabdanya:
إن اللهَ تعالى يُحِبُ إذاَ عَمِلَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُتْقِنَهُ
“Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang melakukan sesuatu dengan cermat dan teliti.”

Sumber : PIP Arab Saudi

Rachmat Naimulloh
Postingan Lama Beranda

Pencarian

    Loading...
  • Buku Tamu
  • Komentar
  • Kategori
  • Arsip
  • Februari (2)
  • Februari (2)
  • Januari (1)
  • Oktober (1)
  • September (2)
  • Agustus (6)
  • Juli (8)
  • Juni (7)
  • Mei (7)
  • April (8)
  • Maret (6)
  • Februari (9)
  • Januari (5)
  • Desember (12)
  • November (8)
  • Oktober (16)
  • September (11)
  • Agustus (16)
  • Juli (14)
  • Juni (11)
  • Mei (9)
  • April (13)
  • Maret (26)
  • Februari (22)
  • Januari (27)
  • Desember (13)
  • November (9)
  • Oktober (12)
  • September (10)
  • Agustus (7)
  • Juli (12)
  • Juni (23)
  • Mei (9)

Sahabat

    Follow this blog



    Personal Blogs
    Display Pagerank
    blog-indonesia.com
    Internet sehat


smadav antivirus indonesia
Topblogs @ iLuvislam



Designed by Simplex Design | Modified by Rachmat Naimulloh